Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
aksi bunuh diri


__ADS_3

"Siapa yang menelepon malam-malam seperti ini?!." suara Jonatan membuat tubuh Selin gemetar.


"B-bukan apa-apa ko sayang, ayo kita tidur, Selina juga sudah terlelap, jangan sampai suara kita berdua menganggu ketenangan nya." ucap Selin, lalu Jonatan pun meraih pinggang istrinya kemudian tidur di atas ranjang dengan saling berpelukan.


besok nya, Jonatan dan Selin pamit kepada Tania untuk pindah ke luar negri.


"Kenapa mendadak sekali? apa kamu baik-baik saja Selin?." tanya Tania.


"Aku baik-baik saja ko Ma, jangan khawatir, kami pasti akan berkunjung kesini sebisa mungkin." Selin tersenyum lalu mencium Tania.


"Ma.. aku, Selin, dan juga Selina pamit dulu ya, jaga diri Mama baik-baik, Satria mungkin tidak akan bisa kesini setiap hari, tapi aku yakin dia pasti mengusahakan segalanya untukmu." Kata Jonatan.


"Iya nak, hati-hati dijalan ya, Mama pasti merindukan kalian semua, terutama kamu Selina." Tania berlutut dihadapan Selina sambil mengelus wajahnya.


"Nenek, sampai jumpa lagi ya, aku sangat merindukan nenek nanti." Kata Selina.


"Ini permen untukmu, makan lah jika kau merasa sedih." Tania memberikan tiga permen ke Selina.


Setibanya mereka di bandara, tiba-tiba saja seorang laki-laki menarik tubuh Selin sampai mereka terasa begitu dekat.


"B-Bryan?!." Selin tercengang.


"Aku sudah bilang ceraikan suamimu itu!!!! aku akan bertanggung jawab!!." Ucap Bryan, wajahnya sangat tampan ketika dia memakai topi.


"Tidak! aku tidak bisa! aku cinta padanya!." Kata Selin.


"Apa-apaan kamu?!!." Jonatan menghampiri Selin dan Bryan.


"S-sayang?! kita harus pergi sekarang! pesawatnya akan berangkat!." Selin menarik lengan Jonatan, namun Bryan marah.


"Istri yang kamu cintai ini telah mengandung anakku." Bryan berkata dengan dingin, Selin syok! dia tidak terima Bryan mengatakan kebenaran itu, begitu juga Jonatan, dia sangat marah!


"Apa maksudmu!!!! siapa kau?!." Jonatan memelototi Bryan dengan tajam dan meninjunya.


"Aku menyatakan kebenaran, kalau kau tidak percaya maka periksa saja istrimu sekarang juga ke rumah sakit!." Selin menampar Bryan.


"Kurang ajar kamu! bisa-bisanya mengaku kalau aku sedang hamil anak mu! jelas-jelas aku tidak hamil!!!." Kata Selin.


"Kita ke rumah sakit sekarang!." Jonatan menyeret Selin menuju rumah sakit terdekat, lalu memeriksa nya di dalam ruangan.


"jadi bagaimana hasilnya?." Tanya Jonatan.


"Hasilnya terbukti kalau Nona Selin benar-benar hamil Tuan." Ucapan itu membuat Jonatan syok! dia menatap Selin tidak percaya, lalu meninju dinding diluar.


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya." Kata Selin.


"Diam! kau pembohong!!!! aku benci istri yang pembohong!!! dulu kau menuduh Adinda menggodaku! kau bilang kalau aku masih mencintainya! tapi sekarang? jelas-jelas kau yang mencintai orang lain! bahkan kau dihamili oleh bajingan itu!!!." Jonatan tak bisa menahan amarahnya, Selina hanya diam dan menangis ketika mendengar kedua orang tuanya bertengkar kemudian memakan permen yang diberikan oleh Tania sebelum pergi.


"Jonatan, a-aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu." Selin menangis sambil berlutut dihadapan suaminya, tanpa rasa kasihan pun Jonatan menendang tangan Selin yang sedang memegangi kakinya dengan kuat, lalu Jonatan pun pergi.


"Jonatan!!!! jangan tinggalkan aku!." Selin berteriak sambil berusaha mengejar, namun Bryan menangkap tubuh Selin dan memeluknya.


"Hei, jangan takut, kau masih bisa bersamaku jika Jonatan ingin pergi dari hidupmu." Ucap Bryan.


"Tidak semudah itu Bryan! aku mencintai suamiku! aku tidak mau kehilangan nya!." Selin menangis kencang dan melepaskan diri dari pelukan Bryan, ia mengejar Jonatan ke loby dan mendapati suaminya sedang bersedih.


"Sayang, aku minta maaf, aku akan gugurkan kandungan ini demi mendapatkan maaf darimu." Selin memegang tangan suaminya.


"Jika kamu membunuh bayi yang kamu kandung, itu akan membuatku berpikir bahwa kau bukan cuma pembohong, melainkan kau juga seorang pembunuh." Perkataan Jonatan membuat hati Selin sakit.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana Jonatan? katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya?." Kata Selin.


"Tidak perlu menebus, aku akan mengurus surat perceraian kita, ini semua salahmu, jadi aku akan mengambil alih hak asuh Selina nanti!." Selin sangat syok, dan terjatuh tanpa daya di hadapan Jonatan.


"A-apa kau tidak mencintaiku lagi Jonatan?." Kata Selin menangis.


"Cinta? cinta kau bilang?! kau tahu bahkan aku sangat mencintaimu tapi kau dengan teganya bermain gila bersama pria lain!." Jonatan membentak-bentak Selin.


"Baik, kalau kau ingin menceraikan aku lebih baik aku mati saja, tidak ada guna nya aku hidup tanpa kamu dan Selina." Ucap Selin.


"Kau sedang mengancam ku?." Jonatan menatap sinis, tapi Selin tak perduli dan bergegas pergi.


Selin menaiki lift untuk menuju lantai paling atas, dia menaiki tangga sedikit lagi untuk mencapai atas gedung tersebut.


"Aku sama sekali tidak main-main Jonatan, semuanya akan berakhir." Selin berjalan di atas gedung itu perlahan-lahan dan berdiri dipinggir sambil melihat ke bawah.


"Aku tidak perduli kalau aku harus mati dibawah sana, buat apa juga aku hidup tanpamu." Gumam Selin.


semua orang yang ada di luar rumah sakit berteriak saat melihat Selin berdiri di atas sana dengan pandangan kosong.


Bryan melihat kejadian itu dan langsung panik.


"Selin! hentikan aksi bodoh mu!!!!." Bryan berlari menaiki lift untuk menyusul Selin, seketika Jonatan keluar dari dalam loby mengendarai mobil dan melihat keramaian didepan nya.


"Ada apa?." Gumam Jonatan, ia melihat putri nya menangis ditengah keramaian, Jonatan segera turun dan menghampiri Selina.


"Sayang?? kamu sedang apa? dimana Mama?." Tanya Jonatan. Selina langsung menunjuk ke atas dan Jonatan melihat istrinya berdiri di sana.


"Selin!." Hati Jonatan bergetar hebat, semua rasa marah, cemas, dan khawatir nya bercampur menjadi satu.


saat Bryan ingin menangkap Selin dari atas, wanita itu sudah lebih dulu terjun dari ketinggian.


BRAAAKKK!


Semua orang terkejut dan menutupi matanya, lalu ketika semua orang membuka mata, mereka merasa lega sebab Jonatan berhasil menangkap Selin.


tubuh Jonatan sedikit terluka karena sehabis Selin jatuh kedalam pelukan nya, mereka berdua terlempar ke belakang.


"Aaarghh!." Jonatan memeluk Selin sambil memejamkan mata akibat kesakitan.


"Mama! Papa!." Ucap Selina.


"Untuk apa kau menolongku?!! hah?!." Selin mendorong Jonatan.


"Hei Selin! kau benar-benar nekat!!! ingat, kau sedang hamil!! jika kau melakukan hal bodoh seperti tadi, itu bukan hanya membahayakan dirimu, tapi juga membahayakan bayi didalam kandungan mu!!!!." Jonatan emosi.


"Memang lebih baik begitu! aku harusnya mati Jonatan!! aku ini wanita yang tidak pantas hidup!! aku telah hamil dengan pria lain!!!!!!." Semua orang bingung menatap pasangan suami istri tersebut dengan cara marah atau sedih.


"Selin, jangan lakukan itu lagi." Kata Jonatan.


"Aku akan menghilangkan nyawaku lebih dulu dari pada aku harus menerima kenyataan bahwa kamu bukan milik ku lagi nanti." Ucap Selin menangis.


"Aku sangat mencintaimu Selin, aku tidak mau kau dalam bahaya seperti itu, tolong, tolong jangan lakukan lagi." Jonatan meraih pinggang istrinya dan memeluk Selin di hadapan semua orang.


"Jangan ceraikan aku Jonatan, a-aku..." Selin tak mampu berkata-kata.


"Aku janji! aku tidak akan menceraikan mu! kalaupun kau hamil dengan pria lain, aku akan belajar menerimanya, aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri, tapi kau harus menjauhi pria itu." Pinta Jonatan, cepat-cepat Selin mengangguk dan mengeratkan pelukan tersebut.


jika Jonatan terlambat satu detik saja, maka Selin akan mati berlumuran darah ditempat ini.

__ADS_1


Di tempat lain,


Adinda mencari suaminya di ruang tamu.


"Mas, kamu sedang apa?." Tanya Adinda.


"Oh, aku hanya membaca buku ini." Satria meletakkan bukunya dan menghampiri istri tercinta.


"Ada apa sayang?." Satria mengelus kepala Adinda dan berkata dengan lembut.


"Hmm, aku sangat ingin memakan manisan, bisakah kau membelikan nya untukku?." Melihat wajah Adinda penuh harap, Satria segera mengangguk dan mencium kening wanita dihadapan nya.


"Apapun akan aku berikan untukmu sayang, tunggu disini, aku akan membelinya sebentar." Satria keluar untuk mencari manisan tersebut.


...


ia membeli tiga kantung manisan dan pulang ke rumah William.


"Sayang? ini manisan nya." Ucap Satria, Adinda segera menghampiri suaminya yang tampan dan memakan manisan itu.


Satria tersenyum senang seraya mengusap perut sang istri dengan sangat lembut.


"Kamu ini ada-ada saja ya keinginan nya, Ayah sudah tidak sabar menanti kehadiranmu." Ucap Satria.


"Mas, minggu depan adalah jadwal aku cek kandungan, kau akan menemaniku kan?." Adinda sangat manja dan duduk dipangkuan Satria.


"Iya sayang, Mas pasti temani kamu untuk cek kandungan, mana mungkin membiarkan mu pergi sendiri? bisa-bisa pria mata keranjang mencoba mendekati istriku yang cantik jelita ini." Satria menggoda Adinda.


"Ih Mas! jangan gitu dong, mana ada pria yang ingin menggoda wanita hamil sepertiku." Balas Adinda tersenyum kecil.


"Kamu pikir dengan kamu hamil tidak ada pria yang akan menggoda mu, begitu? istri Mas ini kan wanita paling cantik, jadi pastinya sudah banyak pria yang menganggu kamu tanpa disadari." Ucap Satria.


"Ahh Mas! perutku terasa keram!." Adinda menjerit seketika, hal itu membuat Satria kaget dan langsung mengusap-usap perut istrinya yang sudah tidak rata lagi.


"Sayang, jangan membuat Bunda mu ini kesakitan ya, kasihan." Tepat disaat Satria mengatakan itu, tiba-tiba perut Adinda terasa jauh lebih baik.


"Kamu bisa aja deh Mas, perutku sudah tidak keram lagi, aneh ya hehehe." Melihat Adinda tertawa dengan perlakuan nya barusan, Satria menjadi terasa lega.


"Aku senang kalau kamu begini, ya sudah habiskan manisan nya." Adinda mengangkat tiga kantung manisan yang sudah kosong tersebut ke hadapan suaminya.


"Ya ampun Adinda, kamu benar-benar menghabiskan nya? Mas tidak diberikan satu pun?." Satria menatap Adinda dengan mata membulat.


"Maaf ya Mas, habisnya enak banget." Kata Adinda tersenyum kekanak-kanakan.


Satria menggendong Adinda pergi menuju kamar, kemudian meletakkan tubuhnya di atas kasur.


Adinda menyalakan televisi kemudian bersandar di bantal. Diam-diam Satria mendekati wajah istrinya dan mencium bibir bak cherry wanita itu.


"Hayo! kalian sedang apa?!." Suara Angeline membuat keduanya tercengang dan menghentikan ciuman tersebut.


"Anak kecil! main masuk-masuk saja tanpa ketuk pintu." Kata Satria.


"Maaf kak, habisnya aku sudah ketuk tapi kalian tidak mendengar." Kata Angeline.


"Kamu baru pulang? Mommy gimana?." Tanya Adinda.


"Dad yang menjaga Mommy di rumah sakit, oh ya kak, ini buah untuk mu, Mom memintaku untuk membelikan nya." Adinda tersenyum hangat dan memeluk Angeline.


"Terimakasih ya, aku pasti akan menjenguk Mommy lagi." Setelah itu Angeline pun keluar, kemudian Satria kembali mencium Adinda tanpa henti.

__ADS_1


__ADS_2