Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Aku bukan perebut


__ADS_3

"Jeremy, aku akan tetap tidur dikamar sebelumnya." Kata Agatha.


"Aku mengerti, maaf kalau aku harus mengajakmu tinggal dirumah ini." Jeremy meminta Agatha untuk tinggal bersamanya.


"Kalau bisa jangan sampai ada yang tahu dulu tentang pernikahan kita." Agatha segera meninggalkan Jeremy yang diam mematung.


"Aku memang ingin hidup bersamamu, tapi bukan dengan pernikahan seperti ini." Ia menghela nafas dan menuju lift juga untuk naik ke kamarnya.


'Aku harap Greg bisa menemukan wanita lebih baik lagi.'


Agatha terus melamun padahal liftnya sudah terbuka.


"Nona, apa anda sakit ?." Tanya Kinan didepan Lift.


"Ah, em tidak. Aku hanya sedang berpikir sedikit." Agatha tersenyum kecil kemudian masuk kamar.


"Kalung ini benar-benar menandakan aku sebagai pasangan Jeremy." Agatha memegang kalungnya, lalu beralih melihat cincin dijari manis telah melingkar.


"Kau pasti bisa belajar mencintai suamimu." Agatha berbaring dan memejamkan matanya.


Malam ini seharusnya menjadi malam pertama bagi pernikahan mereka, namun keduanya tak memperdulikan soal itu. Bahkan tidur pun terpisah kamar.


"Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan Agatha. Apa dia baik-baik saja dengan pernikahan ini ?." Jeremy sangat khawatir, tak lepas memegangi cincin dijarinya.


"Sungguh aku bersumpah, akan membuat Agatha jatuh cinta padaku. Dan memutuskan hubungan bersama Marry." Setelah itu Jeremy pun tertidur.


Pagi harinya, Agatha mendapat pesan dari Leonard melalui Instagram.


"Kau menepati janjimu, bagus !." Tulisnya.


Membaca itu, Agatha tersenyum. Ia tahu kalau Greg sudah berada dirumahnya.


"Itu adalah bukti rasa sayangku padanya, tidak apa Agatha. Kau sudah melakukan yang terbaik." Ucapnya pada diri sendiri.


...


"Apa kau bilang ??!! jadi Agatha sudah menikah ?." Kata Rain ditelepon.


"Dia menyetujui permintaan Ayah, dan dia segera melaksanakan pernikahan itu." Jawab Arkan.


"Kau tahu apa yang sudah Agatha lakukan ?? dia mungkin menghancurkan masa depannya sendiri. Dia menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya." Rain bingung.


"Itu pilihannya Rain, aku tak bisa berbuat apapun kala itu." Arkan memijit keningnya perlahan.


"Itu bukan pilihan, aku sangat mengerti betapa beratnya menjadi Agatha. Dia harus memilih antara kelanjutan hidup kekasihnya atau masa depannya sendiri." Kata Rain.


"Sudahlah, aku harus berangkat ke kantor." Arkan menutup telepon, memikirkan ucapan Rain barusan.


'Bukan pilihan ?.'


***


Rubby menghubungi Leonard, untuk pura-pura menanyakan keadaannya.


[ Panggilan terhubung ]


"Bagaimana kabarmu ?." Kata Rubby.


"Tidak perlu basa basi." Leonard menjawab dengan dingin.

__ADS_1


"Kau terlalu keras padaku, bisa kita bertemu ?." Tanyanya.


"Aku sibuk." Leonard segera mematikan telepon.


[ Panggilan terputus ]


"Sial ! dia benar-benar meremehkan aku setelah apa yang dia dapatkan, brengsek !." Rubby mengepalkan tangan.


***


"Nona, anda ingin makan apa hari ini ?." Tanya Kinan.


"Tidak, hari ini aku akan masak sendiri." Kinan tercengang.


"T-tapi, nanti Tuan marah." Agatha tersenyum meyakinkan.


"Jeremy tidak akan marah, aku akan menjamin itu." Balasnya dianggukan oleh Kinan.


Agatha menguncir rambutnya kemudian turun ke lantai bawah menuju dapur.


Ia membuka kulkas lalu menemukan banyak sekali bahan-bahan makanan.


"Tapi aku kan belum tahu makanan apa yang disukai Jeremy." Katanya.


"Kau sedang apa ? aku mencarimu ke kamar." Suara Jeremy mengejutkan Agatha.


"Oh ini, aku mau masak." Melihat Agatha tersenyum manis, Jeremy menghela nafasnya.


"Padahal sudah kukatakan tidak usah repot-repot begini, ada banyak kok.."


"Sssttttt." Agatha menempelkan telunjuknya dibibir Jeremy sampai pria itu diam.


"Semua yang kau masak pasti aku makan." Kata Jeremy.


"Baik, bantu aku cuci sayuran." Mereka berdua bekerja sama untuk memasak sesuatu.


"Soal toko rotimu ?." Jeremy memandangi wanita yang hari ini sudah menjadi istrinya.


"Lupakan saja, aku tak akan mempunyai kesempatan untuk bisa mengelolanya lagi." Jawaban Agatha membuat Jeremy merasa bersalah.


"Kau seharusnya tidak melakukan ini." Agatha langsung menghentikan gerakan memotongnya.


"Kenapa kau selalu bicara begini ? bukankah kemarin seseorang baru saja mengatakan cinta padaku ?." Ucap Agatha.


"Aku tidak berharap untuk dibalas dengan cara seperti ini, apalagi membuat hatimu tersiksa." Jeremy terus memandangi Agatha tanpa henti.


"Jika kebersamaan bisa mengubah banyak hal, maka biarkan itu terjadi. Biarkan aku mencintaimu seiring berjalannya waktu." Agatha melanjutkan potongan sayurnya tadi.


"Apa yang akan kau katakan jika Greg kembali ?." Jeremy sangat khawatir Agatha akan pergi darinya.


"Aku sama sekali tidak berniat untuk bertemu lagi dengan Greg, dan aku akan mengubur semua kenangan itu." Tak terasa air mata jatuh tanpa permisi.


"Aku tidak tega melihatmu hancur, jika bersama Greg bisa membuatmu bahagia maka lakukanlah. Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun pada keluargamu." Ucap Jeremy.


"Kau terlalu baik Jeremy, membiarkan istrimu mencintai pria lain. Apa kau tidak takut kalau saja..."


Jeremy memeluknya, mencium keningnya.


"Aku sangat takut, jadi aku tak akan membiarkan Greg menyentuhmu. Karena hari ini kau seutuhnya milikku Agatha, hanya milikku." Jeremy benar-benar terlihat penuh kekhawatiran dan dikelilingi rasa takut.

__ADS_1


Bertahun-tahun menjalani hubungan dengan Marry, sama sekali tak pernah merasa begini.


"Jeremy ?!." Marry berteriak dari arah ruang tamu, sepertinya dia datang dan masuk begitu saja.


"S-siapa itu ?." Agatha melepas pelukan mereka.


"Kita harus sembunyi." Jeremy menggenggam tangan Agatha untuk sembunyi dikamar mandi.


"Jeremy ada apa ?! siapa yang datang ?." Kata Agatha.


"Akan ku jelaskan nanti." Jeremy mengunci pintu kamar mandi dan berdiam diri disana.


"Jeremy, kau dimana ?." Marry terus memanggil tanpa henti.


"Sayang ? aku datang loh." Marry masih mencari-cari.


"Sayang ?." Agatha semakin bingung.


"Apa pelayan menipuku ? dia bilang Jeremy sedang memasak bersama. Lalu dimana Vhera ?." Marry menelusuri dapur dan menuju pintu kamar mandi.


"Jeremy, apa kau didalam ?." Tanya Marry.


Tiba-tiba saja Agatha ingin bersin, spontan saja Jeremy langsung menutup mulut itu.


"Tolong tahan sebentar." Agatha memandangi suaminya penuh bertanya-tanya.


"Pintunya dikunci ? apa kamar mandinya rusak ? sepertinya Jeremy tak ada disini, tapi semua bahan-bahan makanan itu ?." Marry kembali ke ruang depan dan duduk manis disana.


"Ini maksudnya apa ?." Kata Agatha.


"Sebenarnya aku..."


"Kau punya wanita ??." Melihat ada sedikit kekecewaan dimata Agatha, Jeremy tak berani melanjutkan kata-katanya.


"Benar dia wanitamu ? jawab aku Jeremy." Agatha memaksa suaminya bicara.


"B-benar, dia wanitaku tapi kami sama sekali sudah tidak ada kecocokan." Jeremy sangat gugup.


"Pertama kenapa kau tidak jujur kalau memiliki pasangan ? kedua, kenapa kau bohongi aku ?!." Agatha kesal.


"Aku tidak berniat membohongimu, aku sama sekali tidak menduga pernikahan kita." Jeremy berusaha menjelaskan.


"Berapa lama kau berhubungan dengannya ?." Tanya Agatha.


"Beberapa tahun lalu, dan aku berjanji untuk menikahinya dalam waktu dekat." Mendengar itu lutut Agatha terasa lemas, dia mengacak rambutnya sendiri.


"Kenapa tidak katakan ?!!! kau membuat aku merebut seseorang yang sangat berharga darinya !." Kata Agatha.


"Hei tidak begitu, kau sama sekali tidak merebut apapun darinya, ini sudah ketentuan takdir Agatha." Balas Jeremy.


"Cukup ! kau harus menepati janjimu ! kau tidak bisa memainkan perasaannya." Agatha menekankan.


"Tapi aku mencintaimu Agatha." Wanita itu tertawa, memegang kepalanya seperti orang pusing.


"Cinta ? tidak Jeremy, kau tidak seharusnya mengatakan itu padaku. Kau sama saja mengkhianati wanitamu !." Terlihat istrinya sangat emosi.


"Dia bukan wanita yang baik, dia ingin menikah denganku karena harta !." Agatha sama sekali tak mau mendengarkan.


"Secepatnya kita harus cerai Jeremy, aku tidak mau menjadi wanita perebut !."

__ADS_1


__ADS_2