Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Syok


__ADS_3

"Apa yang terjadi padamu ?." Arkan mendekati Rain, lalu melihat wajahnya yang pucat.


"Tuan, aku sudah memanggil Dokter kemari sebelum kau datang, namun Dokter itu berkata bahwa Rain mengalami syok berat, jika kejadian seperti ini terulang lagi maka Rain akan trauma berkepanjangan." Penjelasan Rubby membuat Arkan mengernyit.


"Sebenarnya kenapa ?." Gumam Arkan.


***


"Kenapa akhir-akhir ini Leonard jarang sekali dirumah, kemana dia ?!." Kata Greg.


BRAKKKK !!!! Suara pintu terbuka keras.


"Leonard ! apa-apaan kau !." Greg menarik kerah Adiknya.


"T-tidak ! a-aku hanya.."


"Hanya apa ?!." Greg memelototi Leonard.


"Hanya lelah, tadi pagi aku keluar untuk berlari santai, tapi saat ingin kembali pulang, ada anjing yang mengejarku." Ucap Leonard.


"Anjing ? apa kau yakin ? aku rasa anjing pun tak akan selera memangsa manusia sepertimu." Greg melepaskan kerah Leonard, pria itu segera berlari menuju kamarnya.


"Dasar gila !." Greg.


.


.


.


.


Rain mulai tersadar, lalu pertama kali wajah yang dia lihat adalah Arkan.


"Jangan ! pergi ! pergi kamu ! jangan dekati aku !." Teriak Rain ketakutan.


"Hei ! Rain ! Rain, aku tidak akan melukaimu. Ini aku, kau ingat ?." Rain menatap Arkan dengan teliti lalu menangis kencang.


"Dia datang lagi ! dia menyakitiku." Ucap Rain berderai air mata.


"Apa yang dia lakukan padamu ?." Arkan bertanya selembut mungkin, ia juga tak lupa memberi Rain air hangat agar merasa lebih tenang.


"D-dia, dia tidur disampingku. Saat aku terbangun, aku melihat wajahnya, la-lalu dia murka saat mendengar perkataan ku. Dia menekanku ke dinding, dan menciumku dengan paksa. Aku sangat takut." Tangan Rain bergetar, Arkan segera memegangnya dan bertanya sekali lagi.


"Lalu kenapa bajumu menjadi seperti ini ?." Kata Arkan.


"Dia merobeknya, dia membantingku ke ranjang, dia ingin memakanku !." Rain menangis tersedu-sedu, kemudian Arkan memeluknya.


"Sudah kubilang hubungi aku jika terjadi hal buruk, kau sendirian Rain, tidak ada yang bisa mencegahnya untuk menyakitimu." Arkan membelai lembut kepala Rain.


"A-aku sangat takut." Rubby merasa sedang menonton drama seperti di film-film pada umumnya.


Disatu sisi ia merasa kasihan, dan disisi lain ia merasa marah.


"Rain, kau tidak boleh mengambil hatinya." Kata Rubby dalam hati.


"Tinggalkan rumah ini, kau aman bersamaku." Ucap Arkan.


"Tuan, tapi apa baik jika wanita tinggal bersama pria dalam satu atap sementara mereka belum menikah ?." Kata Rubby, Laos khawatir ucapan saudaranya membuat Arkan tersinggung.


"Rubby, jika Tuan Arkan ingin mengamankan temanmu, maka biarkanlah dia, aku yakin temanmu akan selalu baik-baik saja." Kata Laos.


"Lalu apa menurutmu aku harus menikahinya agar bisa mengajaknya pergi bersamaku ?." Rubby semakin terkejut.


"Tidak Tuan, bukan begitu." Rubby takut jika Arkan benar-benar akan menikahi Rain demi membuatnya merasa aman.


"Kalau begitu jangan ikut campur, aku akan mencari siapa orang yang tega menyakiti wanita ini." Mata Arkan terlihat garang dan penuh amarah.


"Tuan, apa tidak sebaiknya Rain tinggal bersamaku, kami berteman sudah lama, jadi aku berhak khawatir padanya." Kata Rubby gugup.


"Memangnya kau bisa menjamin keselamatan Rain ?." Rubby terdiam.


"Rubby, apa yang kau katakan itu benar, kita berteman sudah lama, jadi jika aku harus meninggalkan rumah ini, maka aku akan ikut bersamamu." Jawaban Rain membuat Rubby tersenyum cerah.


"Rain, ini adalah pilihanmu dan aku tidak akan ikut serta apabila sesuatu yang buruk terjadi lagi." Arkan pergi meninggalkan ketiganya yang diam membisu.


"Rubby, kau terlalu lancang untuk membantah seorang Arkan." Laos marah.


"Aku berhak mengkhawatirkan temanku, lagi pula Tuan Arkan bukan siapa-siapa bagi Rain." Ucap Rubby.


Laos pun pergi menyusul Arkan diluar.


Sementara itu, Greg pergi menggunakan mobilnya untuk mencari angin diluar, dan kebetulan tak sengaja melihat Agatha yang sedang bermain balon disebuah taman kota.


"Wanita itu." Greg tersenyum, kemudian menuruni mobil.

__ADS_1


"Bukankah tak sengaja bertemu lebih dari satu kali itu dinamakan jodoh ?." Suara Greg membuat Agatha terkejut sehingga balon sabun ditangan nya tumpah ke tanah.


"Kau gila ya ?! dasar tidak waras." Agatha melihat tangan nya yang basah dan licin, kemudian hendak mengelapnya pakai daun.


"Jangan cabut daun nya." Ucap Greg, Agatha tak menghiraukan sehingga Greg memegang tangan Agatha.


"Menjauh atau aku akan meneriakimu seperti maling ?!." Agatha mengancam.


"Kau punya mata ? kalau iya coba baca tulisan ini." Agatha melirik jari telunjuk Greg yang mengarah ke papan ditepi kursi.


"Dilarang mencabut tanaman, karena itu merusak alam." Sebut Agatha.


"Betul, kau ingin merusaknya ya ? mau aku beritahu ke penjaga taman ini ?." Ucap Greg membuat Agatha kesal.


"Setiap kali bertemu denganmu aku selalu merasa sial !." Agatha hendak pergi, lalu entah kenapa high heels yang dia pakai disebelah kanan patah.


"Uwaaaaah." Hampir terjatuh tetapi Greg dengan sigap menangkapnya.


Agatha menatap Greg tanpa berkedip, lalu menyeimbangkan diri dan mendorong Greg.


"Kau ini benar-benar ! lihat saja, akan aku buktikan ucapan ku. Tolooo...." Agatha hampir berteriak, namun Greg menutup mulutnya keras-keras.


"Eemmmmhhh !." Agatha menginjak kaki Greg dengan high heels sebelah kirinya.


"Aaargh ! kau gila !." Greg merintih kesakitan.


"Jangan macam-macam padaku." Agatha meledek Greg dengan cara menjulurkan lidahnya, tetapi siapa sangka ia malah terjatuh karena terpeleset akibat sabun yang tumpah ditanah.


"Aaawh." Greg terkejut melihat Agatha sudah duduk ditanah, selanjutnya dia tertawa lepas.


"Hahahahahaha ! itu karma !." Kata Greg.


"Sakit sekali." Agatha memegangi bokongnya.


"Perlu bantuan ?." Tanya Greg memiringkan kepalanya.


"Pergi kau ! dasar gila." Agatha kesal, lalu Greg berpura-pura pergi.


sekiranya sepuluh langkah, ia menatap Agatha kembali, namun wanita itu tak kunjung berdiri.


"Apa dia terluka ?." Gumam Greg.


"Aku benar-benar tak bisa bangun, sakit." Agatha meringis kesakitan.


"Ayo, biar kubantu." Greg menggendong Agatha dan duduk diatas kursi.


"Kenapa matamu berair ?." Tanya Greg sok polos, Agatha hanya diam.


"Aku harus hubungi Kakakku." Agatha hendak mengambil ponsel lalu Greg berusaha mencegahnya.


"Jangan hubungi dia, kau harus bisa mandiri." Ucap Greg.


"Jangan mengatur ! bagaimana kalau aku lumpuh ?! apa kau akan bertanggung jawab ?!!!!." Agatha meneriaki.


"Kenapa berpikir seperti itu ? kau pasti baik-baik saja." Menjawab dengan tenang.


"Ini sangat sakit, aku tidak pernah jatuh sebelumnya." Agatha mulai menangis, seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.


"Ya ampun kasihan sekali bayi besar, ibu-ibu bapak-bapak sekalian, barang siapa yang kehilangan anak, mungkin saja wanita ini salah satu dari buah hati kalian yang selama ini dicari-cari." Ucapan Greg membuat Agatha ingin marah tetapi tertawa kecil.


"Bodoh ! memangnya aku ini bocah." Kata Agatha.


"Dimana yang sakit ?." Tanya Greg lembut.


"Sebelah sini, aku tidak bisa berdiri, sakit sekali." Agatha.


"Ikut aku." Segera menggendong Agatha kemudian menuju mobilnya.


"Mau apa ?! mobilku disana !." Kata Agatha.


"Mobilmu urusanku, kita ke Dokter sekarang." Greg memasukkan Agatha kedalam mobil, lalu ia menyetir dengan kecepatan rendah.


"Aku tidak perlu ke Dokter." Wanita itu menolak.


"Justru kita kesana supaya rasa sakitmu terobati." Greg menatap Agatha selembut Kakaknya.


"Ini semua karenamu tau ! pokonya aku tidak mau ke Dokter ! kalau mau memaksa aku akan lompat." Terkejut mendengar perkataan Agatha, Greg pun menghentikan mobil lalu mengambil kotak P3K.


"Aku obati disini." Mata Agatha melotot, bahkan hampir saja keluar.


"Apa katamu !." Greg menghela nafas.


"Aku janji tidak akan macam-macam." Greg mengangkat kedua tangannya.


"Tidak perlu ! aku hanya ingin pulang." Kata Agatha ngotot.

__ADS_1


"Pulang ? lalu mengadu pada Kakakmu ? 'Kak aku jatuh ditaman karena tumpahan balon sabunku sendiri' begitu ?." Agatha kesal lalu menggigit tangan Greg.


"Arghhh !." Lagi-lagi dia kesakitan.


"Kau anggap aku ini anak dibawah umur ?! hah ?!." Agatha marah.


"Aku dengar kata orang jaman dulu, kalau terjatuh dan mengenai tulang punggung itu bisa mengalami kelumpuhan total jika tak segera diobati." Greg membuat Agatha semakin takut.


"Apa ?! benarkah ?!." Kata Agatha.


"Benar, karena itu menurut lah." Greg meminta Agatha menghadap ke arah jalan, kemudian ia mengolesi sesuatu ke bagian yang terasa sakit ditubuh Agatha.


"Aaaakh ! sakit tahu ! pelan-pelan dong !." Teriak Agatha.


Tok..tok..tok


"Greg, siapa itu ?!." Agatha terkejut, Greg membuka kaca mobilnya lalu mendengar apa yang dibicarakan oleh orang diluar.


"Kau berhenti sembarangan, terlebih ini bukan tempat mesum !." Ucap orang-orang.


"Maaf bapak-bapak, tapi saya tidak melakukan hal mesum sama sekali." Greg melepaskan obat oles dari tangan nya.


"Benar ! dia hanya sedang mengobati lukaku." Ucap Agatha.


"Apa yang dikatakan istri saya itu benar pak, mana mungkin pasangan suami istri melakukan mesum dipinggir jalan." Agatha memelototi Greg.


"Suami istri ? Halah yasudah cepat pergi, jika ingin melakukan itu maka lakukan saja malam hari dikamar kalian." Para gerombolan bapak-bapak itupun pergi.


"Kau bicara apa sih ! menyebutku istri tanpa persetujuanku." Agatha menyipitkan matanya.


"Kita terdesak." Greg tersenyum kecil lalu melajukan mobilnya kembali.


Setibanya dikediaman Anggara, Greg membantu Agatha berjalan masuk kedalam, dan terlihat kalau Adinda sedang santai menduduki sofa.


"Bunda." Panggil Agatha.


"Oh yaampun, apa yang terjadi ? kenapa kau pincang begini ?." Kata Adinda menghampiri anak nya sembari khawatir.


"Tante maaf, Agatha terjatuh karena aku tak sengaja menumpahkan balon sabun nya." Mendengar pengakuan Greg Agatha langsung membisu.


"Baguslah dia mengakui kesalahannya." Agatha bergumam dalam hati.


"Seharusnya kau lebih berhati-hati, dan siapa kau ? baru kali ini Agatha pulang bersama pria." Adinda menyipitkan mata.


"Perkenalkan, aku Greg Wilson." Greg menunduk sopan didepan Adinda.


"Greg Wilson ? apa kau pemilik perusahan baru itu ? yang belum lama berdiri tapi sudah meraih banyak sekali kemenangan ?." Satria datang dari belakang istrinya.


"Benar Om." Greg mengangguk.


"Om katamu ? selain tidak waras ternyata kau juga rabun ya ?." Agatha mengepalkan tangan nya keras-keras.


"Oh ya maaf, aku salah." Greg menunduk lagi kemudian memanggil Satria dengan sebutan Tuan.


"Maksudku Benar Tuan." Ucap Greg, Satria tertawa.


"Hahaha, jangan menganggap ucapan putriku ini serius, dia memang seperti itu. Kau sebagai laki-laki pasti tau kalau perempuan sangat sensitif terhadap hal-hal yang tidak disukainya." Ujar Satria menepuk pundak Greg.


"Dia memang sangat serius jika bicara padaku." Adinda menahan tawa karena mendengar jawaban Greg.


"Bunda, apanya yang lucu ?." Ucap Agatha.


"Sudah-sudah, sekarang lebih baik kalian duduk disofa, pelayan akan membawakan minum." Pinta Satria.


Greg kembali membantu Agatha duduk disofa, lalu pelayan meletakkan dua gelas minuman.


"Silahkan minumnya Tuan, Nona." Ujarnya, Satria dan Adinda pergi meninggalkan putrinya agar bisa menemani Greg mengobrol.


"Aku tak akan mengajakmu bicara sampai kau pulang." Kata Agatha memalingkan wajahnya kesal.


"Apa kau tidak bisa menahan rasa kesal itu sedikit saja ?." Greg melirik tajam.


"Tidak, saat melihat wajahmu aku selalu merasa kesal, jadi pergilah !." Agatha meletakkan kedua tangan didepan dada.


"Baru kali ini menemukan wanita setengah waras sepertimu." Greg menghela nafas panjang.


Brak !!!! suara pintu terbanting sangat keras.


"Astaga siapa yang buka pintu seperti itu ?." Setelah Greg menyelesaikan kalimat nya, muncul lah Arkan dibalik dinding besar.


"Kakak." Agatha hendak menghampiri Arkan namun ia menyadari betapa kesalnya raut wajah itu.


Arkan menghentikan langkah kakinya, ia menoleh dan melihat Greg dengan tatapan penuh amarah.


"Matilah kau." Bisik Agatha.

__ADS_1


__ADS_2