
Satria menghubungi seseorang sambil berkendara, wajah dingin nya kali ini sangat mampu jika membuat para lawan gemetar ketakutan.
"tutup semua bandara kota ini!." ucap Satria menugaskan seseorang, kemudian orang itu setuju dan langsung melaksanakan tugasnya.
waktu Bryan sampai di bandara, dia membawa Adinda masuk ke dalam, namun saat dia berada ditengah-tengah suasana yang mulai berubah dirinya merasa lebih aneh, ia jalan terburu-buru untuk segera terbang sekarang juga.
"maaf tuan, bandara ini sudah ditutup." ucap seseorang sambil menghentikan Bryan, kini alisnya mengerut dan menatap orang dihadapan nya dengan bingung
"sejak kapan?! aku memiliki hak untuk masuk ke sana! kami akan pergi." ucap Bryan, ia sedikit cekcok pada orang-orang kiriman Satria, ketika dia hendak menerobos masuk, suara menggelar terdengar di telinga mereka.
"berhenti!." Bryan menoleh dan melihat Satria berdiri dengan gagah, wajah nya gelap, amarah nya tak terkendali seperti api yang tertiup angin.
"jangan mendekat! Adinda adalah milikku!." kata Bryan, ia menatap Satria dengan jijik
"brengsek! beraninya kau mencoba membawa kabur istriku! sudah kubilang jangan macam-macam, tapi kau malah memilih untuk menggali lubang kubur mu sendiri!." Satria murka, ia memberi kode pada anggota suruhan nya untuk menahan Bryan, setalah Bryan tak bisa berkutik, Satria berjalan ke arah nya dengan sempurna.
ia menarik istrinya perlahan-lahan dari gendongan bajingan itu, Satria membelai rambut dan wajah cantik istrinya sebelum tersenyum.
"jangan khawatir sayang, aku akan mati-matian melindungi mu dari orang-orang bejat seperti dia." ucapan Satria sangat halus dan lembut ketika berkata pada Adinda yang masih tertidur. kemudian dia berbalik dan meletakkan Adinda di sofa, lalu Satria mengambil sebuah benda dari sakunya, pria yang murka itu segera berjalan menghampiri Bryan dengan tatapan iblis nya.
"rupanya kau bosan hidup Bryan." gumam Satria, dia mengacak rambut Bryan dengan jari-jarinya, dan meninju perut itu berulang-ulang kali sampai Bryan merasa kesakitan, Satria juga mencekik leher pria dihadapan sehingga Bryan kesulitan bernafas.
"kalau kau mengikuti perkataan ku untuk tidak macam-macam, kau pasti masih bisa melihat matahari besok, apa kau tak mau menikmati hidupmu dengan tenang Bryan? kau tidak mau menemukan cinta sejati mu? kau lebih memilih wanita yang jelas-jelas sudah mempunyai suami dan anak?." Satria terus melemparkan ucapan-ucapan itu kepada Bryan yang sudah babak belur
"bahkan sampai aku mati, aku hanya mencintai istrimu!." Bryan masih memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu disaat seperti ini.
__ADS_1
"sungguh pria yang malang, kau tahu? betapa sangat menjijikan nya kamu saat ini? kau membius istriku lalu membawanya kemari untuk tinggal bersamamu diluar negri, kau bisa saja berpikir bahwa aku orang bodoh yang bisa kamu permainkan, namun nyatanya tidak semudah itu Bryan, akulah yang menutup bandara ini, aku tidak mungkin membiarkan istriku dibawa oleh bajingan seperti mu, aku sangat mencintainya, aku peduli pada kebahagiaan nya, dan kamu! sepertinya aku tak perlu memperingatkan lagi untuk segera membuang jauh-jauh rasa cinta itu!!!." Satria sangat marah ketika mengucapkan kata-kata terakhir tersebut, ia langsung menodongkan pistol itu tepat di kepala Bryan.
"jangan harap aku akan menghapus cinta ini, Adinda adalah wanita yang baik, dia tidak pantas berdampingan dengan mu yang seperti iblis!." mendengar hal itu Satria tertawa dan hendak menekan pistol tersebut, sedikit lagi peluru itu akan keluar dan menembus kepala Bryan.
dari kejauhan, Tari berlari sekuat tenaga, nafasnya sangat terdengar naik turun, lalu ia memegang tangan Satria dengan susah payah untuk menghindari peluru itu.
DORRRRR!
suara yang sangat keras dan nyaring melintas ditelinga mereka semua, Bryan pikir dia sudah mati, namun waktu matanya terbuka dia begitu terkejut melihat Tari berusaha menyelamatkan nya dari kematian.
ternyata peluru itu mengenai sebuah kaca hingga kaca itu pecah berkeping-keping.
"apa-apaan kau!." Satria menatap Tari dengan sangat marah, mata Tari memerah karena hampir menangis, ia berbicara dihadapan Satria dengan gugup
"k-kau boleh membunuh siapapun, termasuk aku, tapi jangan bunuh Bryan." ucap Tari, jantungnya berdetak sangat kencang, Bryan tercengang mendengar perkataan itu
"bawa wanita ini! dia mungkin ingin menggantikan nyawa pria itu untuk aku bunuh." Tari terkejut, melihat kegelapan di wajah Satria membuat nya jauh lebih takut dari apapun, ia belum mau mati, namun ia pasrah jika semua itu akan terjadi, yang terpenting Bryan masih hidup!
Satria menggendong istrinya menaiki mobil, saat dirinya hendak mencium bibir wanita itu, ia merasa sekujur tubuh istrinya habis dibanjiri oleh aroma parfum Bryan.
Biadap! pria itu bukan hanya ingin menculik Adinda, tetapi ia melahapnya juga, walaupun hanya mencium wanita itu tanpa henti, sama saja karena seharusnya ia tidak melakukan hal itu.
"kita harus pulang dan segera mandi, aku tidak mau tubuhmu meninggalkan aroma parfum pria lain selain aku!." Satria menginjak pedal gas nya menuju apartemen.
sesampainya di sana, ia pun menggendong Adinda memasuki kamar mandi, sepertinya Adinda masih dalam pengaruh bius itu.
__ADS_1
"sial! bajingan itu memberikan bius yang kuat terhadap istriku!." Satria bergumam dan segera membuka pakaian istrinya untuk mandi, setelah selesai ia memakaikan baju handuk lalu membaringkan Adinda di atas kasur yang empuk.
"kau hanya akan menjadi istriku, sampai kapanpun kau adalah milik ku Adinda." Satria membelai wajah istrinya lagi dan lagi, untung nya dia bertindak tepat waktu, kalau saja dia gagal mencegah Bryan pergi, mungkin sekarang ia tak bisa melihat istrinya berbaring dengan manis.
dua jam kemudian, Adinda terbangun, ia melihat sekeliling kamar dan menyadari kalau itu adalah kamar dia dan suaminya.
tak lama setelah sadar, Adinda mencium aroma yang familiar, ia melihat suaminya berjalan ke arah nya dengan gagah.
"kau sudah bangun sayang?." tanya Satria duduk di samping Adinda, tanpa menjawab pertanyaan itu, Adinda langsung melompat ke pelukan Satria.
"a-aku takut mas." gumam Adinda, kemudian Satria mengelus kepalanya lembut dan mengatakan "kau sudah aman bersamaku."
"dia tega sekali padaku, aku masih ingat dia memaksaku untuk meminum sebotol air, ketika aku hendak menghubungi mu dia justru mengambil ponselku dan menyimpan nya, saat di mobil dia juga mencium bibirku dengan paksa, aku takut." ucap Adinda, ia mengeluh kepada suaminya tentang apa yang terjadi ketika Satria pergi, nadanya terdengar sedikit manja membuat Satria gemas dan segera mencium nya
"gadis nakal sepertimu memang harus diberi pelajaran, sudah ku bilang dia bukan orang baik, tapi kau malah percaya begitu saja, sekarang berjanji padaku untuk tidak menemui dia lagi sampai kapanpun?." ucap Satria, matanya menatap Adinda serius
"hmm baik, aku berjanji untuk tidak menemui nya lagi sampai kapanpun. memangnya apa yang terjadi setelah aku pingsan?." pertanyaan itu membuat raut wajah Satria berubah seketika, lalu ia bercerita kepada istrinya dengan tangan terkepal
"dia benar-benar ingin melakukan nya?! apa dia segila itu mencintaiku?!." Adinda tercengang saat tahu dirinya ingin dibawa pergi keluar negri
"dia manusia tidak waras, jika bukan mana mungkin membawa lari istri orang." gumam Satria, lalu Adinda menempelkan bibirnya ke wajah laki-laki itu, merasakan ciuman itu mendarat dengan lembut, Satria langsung mendorongnya pelan dan mencium bibir bak cherry tersebut.
mereka terbaring di atas ranjang saling memeluk dan mencium.
"aku bahagia memiliki malaikat pelindung seperti dirimu." ucap Adinda tersenyum hangat
__ADS_1
"aku pun sama, sangat bahagia memiliki istri semungil dan secantik kamu." ucapan itu membuat wajah Adinda memerah, hatinya pun ikut berseri-seri ketika dipuji oleh suaminya.