
ketika malam, Satria membaringkan tubuh dan memeluk istrinya seperti biasa
"sayang? aku ingin terus seperti ini dengan mu." ucap suaminya
"tentu saja."
lalu mereka memejam kan mata dan tertidur.
pagi pagi sekali Adinda bangun, ia membasuh wajah nya dan bergegas ke dapur.
"selamat pagi nona, anda butuh apa?." tanya Desi
"hari ini aku aja yang masak." pinta Adinda
"perlu dibantu nona?."
"nanti tolong bangunkan saja Satria dikamar dan suruh dia mandi saat saya sudah selesai masak."
"baik nona."
15menit kemudian, semua masakan sudah disiapkan oleh Adinda, dia juga menata nya di atas meja makan, tak lama Tania Anggara keluar dari kamarnya karena mencium aroma masakan.
"pagi ma." ucap Adinda tersenyum
"pagi sayang, ini semua kamu yang masak?." tanya Tania Anggara
"iya ma ini aku yang masak, nanti kita makan sama sama."
"wah ga salah ya selama ini mama pilih kamu untuk menjadi istri Satria, udah cantik, pinter masak, pinter kerja, baik pula."
"hehehe mama jangan muji aku kaya gitu dong, kan malu jadinya."
di ruang atas Desi sedang membangunkan Satria
tok..tok
"tuan? nona sudah menunggu anda diruang makan." ucap Desi
"tuan sudah bangun atau belum?." kata nya lagi
Desi segera membuka pintu kamar Satria dan membangunkan nya
"tuan bangun tuan."
Satria membuka matanya perlahan kemudian terkejut saat meraba kasur sebelahnya
"istri ku mana?!." tanya Satria
"tuan, nona Adinda menunggu anda di ruang makan, ia menyuruh anda untuk segera mandi."
Satria menghela nafas lega.
ternyata istriku sudah dimeja makan, aku pikir dia akan pergi lagi meninggalkan ku. batin Satria
dia beranjak dari kasur nya dan mandi, setelah itu menemui sang istri
"pagi istriku." ucap Satria seraya mencium kening istrinya
"ehm.. udah bisa senyum rupanya?." ledek Selin
"iya ya kemarin ada yang kehilangan." balas Tania
dengan cepat Satria meraih pinggang istrinya dan melingkarkan kedua tangan nya disana.
"aku ga akan biarin istri ku pergi lagi." kata Satria dengan senyum percaya diri nya
__ADS_1
"hahaha aku percaya." jawab Selin
"sudah sudah, ayo cepat makan, papa sudah lapar sekali." ucap Tio Anggara
yang lain hanya ikut tertawa mendengar perkataan nya.
setelah makan selesai, Adinda mengambilkan tas dan juga dasi untuk suaminya
"kau harus ikut aku ke kantor." pinta Satria
"lho? aku kan belum mandi, di rumah saja ya." jawab Adinda
"tidak, kau harus ikut aku ke kantor, mandilah.. aku menunggu mu disini."
"hemm baiklah kalau begitu aku mandi dulu, ma, pa, kak Selin, aku permisi duluan ya."
"oh iya nak." ucap Tio dan Tania bersamaan, lalu Selin hanya mengangguk tersenyum
tidak lama kemudian Adinda selesai mandi, ia bersiap untuk mendampingi suaminya ke kantor.
"sayang, aku sudah selesai." kata Adinda
Satria langsung menggandeng tangan istri nya lalu menuju mobil
"aku berangkat." kata Satria pamit pada keluarga nya
"hati hati nak, jagain istrimu." ucap Tania
diperjalanan..
Satria menyetir seraya melihat Adinda terus menerus
"kenapa sih lihatin aku terus?." tanya istrinya
"kau sedang gombal atau bagaimana ?."
"aku serius, kau cantik."
"memang benar sih aku cantik, kalau tidak mana mungkin kamu mau menikah dengan ku hahaha."
Satria mengelus pucuk kepala istrinya.
sesampainya di kantor, terlihat semua karyawan menyambut kedatangan Satria dan juga istrinya, terutama Farel.
"ah nona, saya senang kau kembali." kata nya
"terimakasih."
"saya juga senang tuan sudah bisa datang ke perusahaan."
"kenapa? kau lelah menghadapi pekerjaan saya?." kata Satria meledek
"bukan begitu tuan.."
"hahaha aku bercanda."
Adinda dan Satria masuk ke dalam ruangan lalu duduk berdekatan.
selang berapa jam sekretaris Satria masuk dan memberitahu bahwa ada tamu
"permisi tuan, didepan ada seseorang katanya ada perlu sama tuan."
"siapa?." tanya Satria
"nona Lady Sheira tuan."
__ADS_1
Satria terkejut, ia takut dengan respon istrinya yang mungkin akan cemburu dan marah.
"kenapa muka mu begitu?." tanya Adinda
"a apa kau tidak marah sayang?." ucap Satria
"tentu saja tidak, jika dia ada perlu silahkan suruh masuk."
sekretaris Satria menyuruh Sheira masuk ke dalam ruangan
rupanya wanita ini sudah kembali. batin Sheira
"Satria? aku ada perlu sama kamu." katanya
"soal apa?."
"nanti aku jelaskan, tapi bisa kah istrimu keluar sebentar agar aku lebih mudah berbicara nya?." pinta Sheira
Satria melirik istrinya, takut jika Adinda tiba tiba sakit hati oleh ucapan Sheira
"kalau kau ada perlu ucapkan saja sekarang, tidak perlu menyuruh ku untuk keluar, kau tau posisi ku apa disini? aku adalah istri sah nya Satria Anggara, aku punya hak untuk menetap disini." kata Adinda dengan santai
"iya tapi ini sangat penting bahkan lebih penting dari apapun." balas Sheira
"mungkin maksud kamu penting dalam hal merebut suami orang hahaha." ucap Adinda
"jangan kurang ajar ya! disini kamu yang merebut Satria dari aku! aku lebih dulu kenal dia dibanding kamu!." kata Sheira mulai terbawa emosi
"cih percaya diri sekali kamu."
padahal jelas jelas aku dari kecil tinggal sama Satria. pikir Adinda
"kamu seneng kan bisa dapetin Satria? kamu seneng udah rebut hatinya dari aku?! kamu seneng udah bikin dia tergila gila sama kamu?! emang dasar kamu wanita murahan!!." Sheira mendorong Adinda hingga hampir saja terjatuh, Satria memegangi istrinya lalu memarahi Sheira
"jangan buat ulah di ruangan saya, apalagi mencoba menyakiti Adinda dan juga calon anak ku!!." kata Satria tegas
"maksud kamu apa? calon anak?." tanya Sheira
"kau tidak tahu, aku ini sedang hamil lho, Satria yang membuat nya 4bulan lalu." balas Adinda memanas manasi wanita itu
"benar benar kau!!!! bisa saja dia itu anak orang lain bukan anak Satria!!!." ucap Sheira
"sayang, lihat? dia menuduhku telah menodai pernikahan kita." kata Adinda manja pada suaminya
"cukup Sheira! jaga mulut mu!! kalau kau tidak ada keperluan maka cepat angkat kaki dari sini!." bentak Satria
"Satria, kau tega membentak ku? padahal dulu kau selalu berkata lembut agar tidak melukai hati ku?." Sheira sengaja menyedihkan wajah nya, berharap Satria perduli
Adinda menyadari kesengajaan wanita itu, ia membalasnya dengan bersikap lebih manja pada Satria
"sayang, aku ingin kamu mengusirnya pergi, anak kita sangat terganggu dengan keberadaan nya." balas Adinda mengelus elus perut nya
Satria mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi Farel
"Farel, ke ruangan ku sekarang." pinta Satria
"baik tuan."
3menit kemudian Farel mendatangi ruangan Satria
"bawa dia pergi dari sini, pastikan seluruh keamanan kantor melarang nya untuk datang lagi." kata Satria
"baik tuan, ayo nona ikut saya." Farel membawa Sheira keluar dari kantor tersebut
liat saja, aku akan hancurin kamu Adinda. ucap Sheira
__ADS_1