
"Zheng, bagaimana kabarmu ?." Jeremy tersenyum melihat wajah orang kepercayaannya itu.
Sampai-sampai Zheng tak perduli akan pertanyaannya, justru memeluk Jeremy sangat erat.
"Ugh !."
"Zheng ! Suamiku belum membaik, jangan dekap dia !." Agatha menarik tangan Zheng lalu memelototinya.
"Ah maafkan saya Nona ! Saya sangat bahagia melihat Tuan Jeremy sudah kembali bangun." Zheng tersenyum hingga hampir menangis.
"Terimakasih atas bantuanmu karena sudah menjaga Agatha dengan baik." Ucap Jeremy menepuk bahu Zheng.
"Jangan bicara begitu, sudah sepantasnya aku membantumu, baik dalam hal pekerjaan ataupun pribadi." Zheng sekali lagi memeluk Jeremy.
"Bagaimana kondisi perusahaan ? Apa semuanya baik ?." Tanya Jeremy.
"Sayang, kau kan masih sakit, tolong jangan bahas soal perusahaan dulu." Agatha memegang tangan Jeremy seperti memohon.
"Aku ingin mendengar panggilan itu setiap hari." Balas Jeremy senang.
"Aku pasti mengabulkannya, mau makan ? Akan ku buatkan bubur." Tanya Agatha.
"Jangan, kau pasti lelah menjagaku sepanjang hari disini, biar Zheng saja yang membawakan aku bubur." Ucap Jeremy melarang.
"Benar Nona, saya akan membawakan bubur hangat untuk Tuan Jeremy, mohon tunggu sebentar." Zheng segera berbalik dan pergi.
"Bagaimana harimu ?." Jeremy bertanya sangat lembut.
"Mengapa kau bertanya ? hariku benar-benar buruk. Sampai tak bisa berhenti memikirkanmu sedetik saja." Jawab Agatha.
"Kau begitu khawatir ya ? Hu sayang sekalii aku padamu." Jeremy mencium seluruh wajah Agatha tanpa henti.
"Sayang, apa boleh aku meminta sesuatu ?." Kata Agatha.
"Tentu saja, kau mau apa ?." Jeremy menatap serius.
"Saat kau diperbolehkan pulang, sebaiknya kita tak usah kerumahmu dulu." Bingung dengan permintaan istrinya, dengan cepat Jeremy menanyakan hal tersebut.
"Kenapa ? Kau tidak nyaman berada disana ?." Katanya.
'Sangat sulit dijelaskan, Jeremy pasti akan terganggu dengan kehadiran Adiknya itu. Apalagi hubungannya tidak begitu baik, aku tak mau melihat suamiku bertengkar. Saat ini, kesehatannya lah yang lebih penting.'
"Ko diam ?." Jeremy memandangi Agatha lebih serius lagi.
"Em, bukannya kita belum pernah bulan madu setelah menikah ? Aku rasa kita harus menghabiskan waktu lebih banyak berdua." Agatha terlihat gugup.
"Bulan madu ? sebenarnya boleh saja, aku juga senang dengan permintaanmu. Tapi kau tidak lupa kan kalau kita sudah bersentuhan langsung pada hari itu ?." Ucap Jeremy sambil meledek.
"Kau senang ya melihat wajahku merah seperti tomat ?." Balas Agatha.
__ADS_1
"Kau ingin punya anak berapa ?." Jeremy tertawa kecil.
"Ah itu, lupakan saja. Aku belum benar-benar memikirkan soal anak. Usiaku masih sangat muda, kau tahu kan ?." Agatha memalingkan wajah.
"Benar juga, bagaimana aku bisa membiarkan anak kecil sepertimu mempunyai bayi." Lagi-lagi ia tertawa.
"Beraninya kau ?!." Agatha memelototi Jeremy tanpa perasaan.
"Aku akan membawamu ke mansion, percaya atau tidak, saat pertama kali kau masuk kedalamnya, kau akan mendadak jatuh cinta pada tempat itu." Ucap Jeremy yakin.
"Benarkah ? Sepertinya aku belum tahu semuanya tentangmu, bolehkah aku menyelam lebih dalam ?." Agatha tersenyum.
"Tentu saja, kau akan segera mengetahui semua tentangku suatu hari." Jeremy mengusap kepala Agatha.
Tring..tringg
Terdengar suara panggilan masuk,
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Agatha keluar ruangan sambil membawa ponselnya dari dalam tas.
Ia tak menyadari kalau suatu benda terjatuh dari dalam, hingga membuat mata Jeremy melihatnya dengan jelas.
"Halo Kak ?." Kata Agatha.
"Bagaimana kondisi Jeremy ? Apa sudah ada perubahan ?." Tanya Arkan dari sebrang telepon.
"Kau serius ? Syukurlah, aku akan segera kesana bersama Rain." Balas Arkan.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian disini. Hati-hati ya !." Agatha mematikan panggilan kemudian kembali masuk kedalam ruangan.
"Jeremy ?." Agatha terkejut melihat suaminya yang sudah berdiri ditepi ranjang.
"Kau belum pulih, ayo berbaring lagi. Jangan terlalu memaksakan diri." Agatha hendak membantu pria itu untuk kembali berbaring, namun pria didepannya kini hanya memeluk tanpa bicara apapun.
"Hei, kenapa ? Kau ingin melakukan sesuatu ? Bicaralah." Agatha sama sekali kesulitan untuk melepas pelukan itu, lalu Jeremy mencium pipinya dan menyandarkan kepala dibahu Agatha.
"Apa Zheng gagal menjagamu ?." Suaranya gemetar, membuat Agatha sangat khawatir.
"Sayang, kau bicara apa ? Tolong jangan membuatku takut." Ia merasakan sensasi panas dari tubuh Jeremy.
"Kemana kau beberapa jam lalu ?." Jeremy melepas pelukannya.
"Aku dirumah, tidak kemana-mana. Ada apa ?." Agatha sedikit bergidik melihat ekspresi suaminya itu.
"Kau sakit ? tetapi kau diam tanpa bicara jujur padaku ?." Jeremy menunjukkan sebuah botol kecil yang berisi pil.
"Oh yatuhan." Agatha menghela nafas, rasanya ingin marah pada diri sendiri karena begitu bodoh telah membawa obat tersebut didalam tasnya.
"Jawab." Kata Jeremy.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu. Aku sama sekali..."
"Kau mengkhawatirkanku padahal dirimu sendiri tidak dalam kondisi baik, Agatha ?! Ada apa denganmu ?." Jeremy lagi-lagi memeluk Agatha.
"Jeremy, ayo bicara baik-baik. Tenanglah, oke ? Aku akan menjelaskannya." Jeremy menurut.
"Aku hanya sedikit kelelahan dan jatuh pingsan, lalu Zheng memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisiku tadi. Semuanya baik-baik saja." Jelas Agatha.
"Agatha, kau tahu aku ini siapa ?." Jeremy menatap serius.
"Kau suamiku, ayolah tidak usah khawatir begini." Agatha memegang tangan suaminya berusaha untuk menenangkan.
"Kau tidak bisa membodohiku, aku tau obat apa ini." Jeremy meletakkan obat tersebut diatas meja dekat tas.
"Katakan dengan jujur, aku mohon." Pinta Jeremy.
"Maafkan aku, aku cuma tidak mau kau berpikir terlalu berat. Aku ingin kondisimu jauh lebih baik." Agatha merasa bersalah.
"Aku lebih baik mati dari pada melihatmu menyembunyikan sesuatu yang penting !." Jeremy marah.
"Kau bicara apa ?!! Aku menunggu kepulanganmu sampai pagi ! Tapi kau tak kunjung datang !! Lalu seenaknya bilang lebih baik mati ?!." Agatha berteriak sambil menangis.
"Cepat katakan, kenapa kau bisa mengalami kepanikan seperti itu ?." Jeremy meraih pinggang Agatha sambil bicara dengan dingin ditelinganya barusan.
"A-aku.."
"Bicaralah, buktikan kalau aku ini benar suamimu." Entah mengapa rasanya berat saat ingin memberitahu kebenaran pada Jeremy, Agatha sangat takut bila suaminya nekat melakukan perkelahian.
"Aku- aku dikunci semalaman dikamar mandi. Lalu dengan tega Liam mematikan lampunya. Jeremy aku sangat takut saat itu, sampai tak berdaya lagi." Agatha sampai tak sadar jika air matanya mulai turun menghujani pipi.
"Liam ?! Brengsek ! Beraninya dia menyentuh istriku." Jeremy mengepalkan tangan, juga terlihat hendak melepas infusan yang terpasang ditangannya.
"Sayang ! Jangan, tolong tahan dirimu ! Lakukan ini demi aku ! Demi akuuuu !." Agatha berteriak.
"Kau dengar, aku tak akan membiarkan siapapun menyentuhmu ! Aku harus memberi Liam pelajaran ! Anak itu benar-benar tak tahu batas !!." Jeremy sangat marah, sampai Agatha tak mampu menahannya.
"Jeremy ! Kalau kau pergi, aku akan melompat !." Jeremy melihat Agatha mendobrak jendela ruangan dan mendekati diri disana.
'Sial ! Aku benar-benar tak bisa menahan emosi. Aku bahkan mengabaikan kekhawatiran istriku.' Jeremy menghela nafas sambil mengontrol emosinya perlahan.
"Tetap disana, aku tak akan pergi. Kau mengerti ? Ayo kemari." Jeremy mendekat dengan hati-hati.
Ia segera menarik Agatha untuk jatuh kedalam pelukannya.
"Kenapa kau sangat nekat ?! Ini bahaya ! Kau paham itu ?!." Agatha hanya menangis sesenggukan karena tak tahu harus berbuat apa selain mengancam dengan cara tersebut.
"Jeremy jangan lakukan itu ! Aku mohon padamu, pikirkan kondisimu baik-baik ! Aku mencintaimu !!!!!." Jeremy mendadak tersedak karena ucapan Agatha barusan. Sebelumnya dia tak pernah melihat wanita didepannya mengalami kekacauan seperti ini.
"Apa kau sungguh mencintaiku ?."
__ADS_1