
"Terimakasih sudah mengantarku pulang." Rain tersenyum pada Arkan.
"Untuk apa berterimakasih ? ini tanggung jawabku." Ia mengusap kepala Rain.
"Aku minta maaf." Rain menunduk.
"Maaf ? untuk apa ?." Arkan mengernyit.
"Karena aku pesta Adikmu jadi berantakan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk..." Belum selesai bicara, Arkan menempelkan jari telunjuknya dibibir Rain.
"Tidak perlu merasa bersalah, lupakan saja. Bagaimana keadaanmu dirumah ini ? nyaman ?." Tanya Arkan.
"Sangat nyaman, kau jangan khawatir. Rubby selalu menjagaku dengan baik." Rain tersenyum.
"Kau yakin ? sepertinya aku melihat kalian berdua menjadi asing malam ini." Arkan memastikan.
"Entahlah, hanya saja Rubby seperti tak menyukai bila aku berada didekatmu." Mendengar perkataan Rain, Arkan terkejut.
"Kenapa begitu ? aku berpikir kalau dia akan mensupport apapun yang kau jalani, tapi ternyata tidak." Rain tertawa kecil.
"Jangan kesal begitu, sekarang pulanglah dan beristirahat." Ia memegang tangan Arkan sebagai tanda perpisahannya malam ini.
"Hanya pegang tangan ?." Arkan cemberut.
"Memangnya apa ?." Wajah Rain berkerut.
"Ini dong." Arkan menunjuk pipinya sambil tersenyum manis.
"Tidak mau." Rain menolak untuk mencium pria didepannya kali ini.
"Baik, aku tidak akan pulang." Rain mencubit hidung Arkan dan mendorongnya agar cepat menuju mobil.
"Cepat pulang, ini sudah malam. Aku tak mau ada hal buruk terjadi padamu." Rain memaksa pria itu berjalan terus.
"Kalau kau menolak, pasti hal buruk bisa saja terjadi." Ucapnya menakuti Rain.
"Jangan sembarangan kalau bicara !." Rain mencubit perut Arkan sampai dia meringis kesakitan, lalu mencium pipinya.
"Hati-hati dijalan." Arkan tersenyum, senang sekali.
"Selamat malam." Arkan mencium kening Rain dan pergi.
"Menghapus semua tentangmu memang bukan hal yang mudah, tapi dengan Arkan disampingku semuanya pasti akan segera terselesaikan." Rain menjatuhkan sedikit air mata, menghapusnya lalu masuk kedalam rumah.
"Aku yakin, pasti Rain mengalami hubungan yang berat dengan pria sebelumnya. Tapi siapa dia ? aku harus mencari tahu dan mengajaknya bekerja sama." Rubby mengepalkan tangan dari kejauhan.
...
"Aku lihat rumah Rain sudah lama kosong, kemana dia ?." Ucap Leonard frustasi.
Disekeliling kamar Leonard, masih terlihat jelas foto-foto cantik yang terpajang disana.
Leonard memegang salah satu bingkai, matanya meredup melihat betapa mesranya mereka dulu.
Rain memeluk Leonard, bahkan mencium pipinya.
"Kalau saja kau tidak menolak keinginanku untuk melakukan hal itu bersama, aku tidak akan pernah membuatmu sakit." Ucap Leonard.
"Aku sangat merasa bersalah saat pisau ini mengenai tubuhmu, tapi kau tetap saja tidak mendengarkan permintaanku." Leonard mengacak rambutnya.
Setibanya Arkan dirumah, dia melihat ada tali yang tersangkut pada balkon kamar Adiknya.
cepat-cepat dia mengecek keberadaan Agatha.
"Keterlaluan ! anak itu pergi dimalam hari begini !." Arkan mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Agatha.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.'
"Aku bahkan sudah bisa menebak dengan siapa Agatha pergi ! Greg ? kau tunggu pembalasanku." Arkan mengepalkan tinju kemudian memasuki kamarnya.
Keesokan hari, Agatha terbangun seraya melihat sekelilingnya, ia terkejut karena ternyata hari sudah siang.
"Greg !." Ucap Agatha, menoleh ke samping dan melihat Greg masih tertidur pulas diatas sofa.
"Oh yaampun, apa kau sangat lelah ?." Agatha beranjak dari tempat tidur kemudian mendekati pria tersebut.
"Greg, maaf tapi aku harus pulang. Kita tidak bisa terlalu lama berdua disini." Agatha memegang punggung tangan Greg kemudian menciumnya.
"Aku akan mengabarimu ketika sampai dirumah, janji." Ia tersenyum lalu keluar dari tempat itu.
"Aku tidak begitu ingat jalanan disini, tapi pasti supir taksi bisa mengantarku sampai kerumah." Agatha memesan taksi online.
Setibanya taksi disana, ia pun masuk kedalam.
__ADS_1
"Sesuai dengan tujuan lokasi saya Pak." Ucap Agatha.
"Baik Bu." Supir taksi melajukan mobil, suasana terasa hening karena Agatha tak berbicara sepatah katapun.
Ditengah perjalanan, taksi yang dinaikinya mengalami masalah.
"Kenapa berhenti disini ?." Tanya Agatha.
"Maaf Bu, sepertinya mobil saya berada dalam masalah." Supir taksi keluar lalu mengecek keseluruhan mobilnya.
Agatha juga ikut keluar untuk memastikan masalah apa yang dialami.
"Kenapa ? apa bensin nya habis ?." Supir itu menggeleng.
"Mobil saya mengalami pecah ban, dan kebetulan tidak membawa cadangan saat ini. Maaf Bu, tapi sebaiknya anda mencari taksi lain." Supir itu menunduk kemudian masuk pergi untuk menghubungi seseorang.
"Entah dimana aku berada, baiklah kita cari taksi selanjutnya." Agatha mencoba pesan taksi lain dari aplikasinya.
Dua puluh menit menunggu, taksi belum juga tiba.
"Lama sekali sih, apa dia tidak tahu disini panas ?! aku lihat jelas kok lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat ini." Agatha kesal.
Wanita berpakaian piyama tersebut kini masih menunggu dipinggir jalan besar.
banyak sekali mobil yang melaju didepannya.
"Benar-benar menyebalkan, kemana sih dia ?." Agatha berusaha menghubungi supir taksi namun tidak ada jawaban.
Setelah hampir lelah menunggu, ponselnya berbunyi.
"Halo ?." Ucap supir taksi.
"Anda dimana ? saya sudah lelah menunggu." Jawab Agatha.
"Mohon maaf Bu, saya ada disebrang jalan. Bisakah Ibu menuju kemari ? karena putaran didepan sangat jauh, dan bisa membuat Ibu menunggu lebih lama." Agatha terkejut, ia melirik sebelah kanan nya dan memang tidak terlihat adanya putaran jalan.
"Oke baik, saya kesana." Agatha mematikan ponsel dan menyebrang jalan.
Tiba-tiba saja ada salah satu mobil melaju dengan sangat cepat, hingga tak sengaja menabrak Agatha.
"Aaaaaaakh !." Wanita itu beteriak.
BRUGHHH.
dirinya terjatuh, semua orang meneriaki pemilik mobil.
Ada darah yang mengalir dikening Agatha, kemudian ia menggendongnya dan dimasukkan kedalam mobil.
"Fran, aku menabrak seseorang. Nanti akan ku hubungi lagi." Pria itu mematikan ponsel lalu melaju kencang menuju rumah sakit.
[ Grand hospital ]
"Dok, tolong wanita ini. Dia korban kecelakaan." Ucapnya.
"Minggir, ada korban kecelakaan !." Para medis berlari cepat membantu pria yang membawa Agatha.
"Tuan, tolong diisi terlebih dahulu formulirnya." Ucap suster.
"Baik." Setelah selesai mengisi, suster menyarankan pria didepannya untuk menunggu didepan ruangan tempat Agatha diperiksa.
"Ini semua salahmu Fran, jika saja kau tidak menghubungiku tadi, aku pasti sudah sampai diperusahaan." Dirinya kebingungan, harus kembali ke perusahaan atau menunggu kabar dari wanita itu.
Ceklek, pintu ruangan terbuka.
"Tuan, apa anda keluarganya ?." Kata Dokter.
"Bukan, tapi saya yang akan mewakili keluarganya." Jawab sang pria.
"Baik, untungnya benturan dikepala pasien tidak terlalu parah, sehingga tidak menyebabkan hal yang fatal. Namun jika beliau tersadar ada kemungkinan kepalanya akan mengalami sakit yang luar biasa." Ucap Dokter.
"Apa wanita itu sudah sadar ?." Tanya nya.
"Belum, jika anda ingin melihatnya silahkan. Saya permisi." Dokter itu pergi.
Tring..tring
"Halo ?." Ucap suara wanita disebrang telepon.
"Ada apa menghubungiku ?." Jawab si pria.
"Jeremy, kenapa kau sangat sulit aku hubungi ? aku sudah tiba di kantor, tapi Fran tidak mengatakan apapun padaku. Kau dimana ?." Ucap wanita.
"Untuk apa kau ke kantor ? bukannya sudah aku katakan tidak perlu datang hari ini, aku sangat sibuk." Sahut Jeremy.
__ADS_1
"Sibuk apa ? semua karyawan mengatakan kalau hari ini kau tidak hadir diacara meeting penting. Klien besar kau tolak begitu saja, ada apa sayang ? kau tidak biasanya begini." Kata wanita tersebut.
"Marry, sebaiknya kau tak perlu ikut campur terlalu jauh dalam pekerjaanku. Aku tidak hadir karena aku punya alasan." Jeremy menutup telepon dengan tegas.
"Sayang ? kau mematikan teleponnya ? sial !." Marry kesal dan meletakkan rantang makanan dimeja direktur.
"Aku lihat suasana hatimu sedang tidak baik." Ucap Leonard pada Marry.
"Aku jauh jauh datang ke kantor untuk membawakan makanan tapi Jeremy malah sibuk dengan hal lain !." Jawab Marry.
"Jangan marah begitu, Jeremy pasti punya alasan kenapa dia tidak ada dikantor hari ini, kau tau ? dia pria yang sangat menyayangimu kan ?." Kata Leonard.
"Benar, aku sangat berlebihan jika marah padanya." Marry tersenyum.
.
.
.
"G-greg ?." Agatha membuka mata sambil menyebut nama Greg.
"Akhirnya kau sadar, sudah banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggumu disini." Ucap Jeremy.
"Siapa kau ?." Tanya Agatha, ia meringis kesakitan memegangi kepalanya.
"Tidak perlu tau siapa aku, lain kali kalau berjalan pakai mata." Agatha mengingat apa yang terjadi sebelum dia berada disini.
"Kau menabrakku ?!!." Agatha menatap mata Jeremy.
"Jangan katakan itu lagi." Jeremy menegaskan.
"Dimana ponselku ? aku harus menghubungi Greg." Agatha melihat sisi kanan dan kirinya.
"Ponselmu jatuh dijalan, dan aku tidak mengambilnya." Kata Jeremy.
"Kau tidak waras ! sudah menabrak, tidak mau tanggung jawab." Jeremy marah, dia mendekati Agatha dengan mata tajamnya.
"Kau dengarkan baik-baik ! jika aku tidak bertanggung jawab, lebih baik kau mati dari pada aku membuang waktu membawamu kerumah sakit ini. Kau tau ? aku mengalami kerugian ratusan milyar karena kau !." Agatha tak percaya, bisa-bisanya dia disalahkan dalam hal ini.
"Kau benar-benar gila ! mana mungkin ada pria sejahat ini." Agatha turun dari ranjang sambil memegangi kepalanya yang masih diperban.
"Hei mau kemana kau !." Jeremy menarik tangan Agatha.
"Lepas ! aku akan menghubungi polisi untuk menangkapmu." Agatha menarik kembali tangan nya dan berjalan lemah ke arah pintu.
"Dasar wanita keras kepala ! benar-benar membuatku gila." Jeremy mengacak rambutnya.
Agatha merasa seluruh ruangan sedang berputar, hingga dia terjatuh.
"Kau tidak akan kuat pergi dari sini." Jeremy menggendong Agatha untuk menaiki ranjangnya lagi.
"Dokter ! ada pria gila disini !." Teriak Agatha, Jeremy terkejut lalu menutup mulut wanita didepannya dengan satu tangan.
"Jangan gila kamu ! kalau aku tidak membawamu kesini, kau sudah mati !." Jeremy kesal.
"Lebih baik aku mati, dari pada aku harus bertemu pria sepertimu !." Perkataan itu sontak membuat Jeremy menarik Agatha dan mendorongnya ke arah jendela ruangan.
Agatha melihat betapa tingginya ruangan itu, Jeremy membuka jendela dan memegang tangan Agatha kuat-kuat.
"A-apa yang ingin kau lakukan ?." Agatha ketakutan.
"Kau ingin mati ? iyakan ?." Tanya Jeremy menantang.
"B-bukan begitu ! lepaskan !." Agatha mendadak gemetar, kepalanya juga terasa sakit.
"Ayo katakan lagi ! kalau ingin mati biar aku lempar kau kesana." Jeremy menakuti Agatha lagi dan lagi.
Wanita itu diam tak menjawab, merasakan betapa sakitnya kepala tersebut.
"Kenapa diam ? kau takut ?." Jeremy belum menyadari kalau Agatha lemas, mereka tidak menghadap satu sama lain.
Tiba-tiba Agatha hendak terjatuh ke arah depan jendela, Jeremy panik dan langsung menangkap tubuh itu dengan cara memeluknya dari belakang.
"Hei." Ia melingkarkan kedua tangan nya pada pinggang Agatha, sementara wanita itu pingsan hingga bersandar didepan dada Jeremy.
Angin berhembus kencang, membuat rambut Agatha berterbangan.
Jeremy memejamkan mata, menghirup aroma khas yang mirip seperti mendiang ibunya, dengan tangan masih memeluk erat.
"Wangi ini ?." Bertahun-tahun ia merindukan Ibunya, dan baru kali ini mencium aroma yang sama persis sehingga membuat Jeremy terbayang-bayang.
Setelah menyadari kalau wangi ini berasal dari Agatha, Jeremy segera memeriksa kondisinya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu ?!." Wajah Agatha memucat, keringat dingin keluar dari tubuhnya lalu Jeremy dengan cepat menidurkan Agatha diatas ranjang.
"Dokter !." Jeremy memanggil Dokter, suaranya terdengar keras seperti orang yang sedang ketakutan.