Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Berhasil


__ADS_3


"Tuan, dia pasti orang yang pintar karena meletakkan benda ini agar bisa memantulkan cahaya. Dengan begitu akan mendapat pertolongan." Kata orang-orang dikapal tersebut.


"Dan aku rasa mereka semua bodoh karena tak bisa menemukan Jeremy dalam waktu cepat." Arkan mengambil berlian itu dari tangan bawahannya.


"Denyutnya masih ada !." Pekik orang yang mengecek kondisi Jeremy.


...


Zheng menunggu ditempat berkumpulnya para korban, sampai tiba-tiba ia melihat Arkan turun dari sebuah kapal.


"Apa dia sengaja terjun langsung untuk mencari Jeremy sendiri ?." Gumamnya.


"Ada korban selamat !!!! Cepat !." Bawahan Arkan berteriak sehingga membuat orang-orang geger berdatangan demi melihat wajah korban.


"Tuan, apa anda menemukan Jeremy ?." Zheng bertanya dengan sopan.


"Aku menemukannya." Jawab Arkan.


"Sungguh ?!!!! Apa ini benar ?!." Arkan menunjuk kantung korban yang sletingnya terbuka dibagian kepala.


Zheng segera berlari menghampiri apa yang Arkan maksud.


"JEREMY ! APA KAU MASIH HIDUP ?!." Zheng memeriksa, lalu tubuh Jeremy segera ditindak lanjuti oleh pihak terkait.


"Kau uruslah dia, aku harus pulang untuk memberitahu soal ini pada Adikku." Ucap Arkan.


"Nona Agatha disini. Tepatnya didalam mobil saya, sebelah sana." Arkan terkejut lalu berlari mencari mobil itu.


DUG..DUG


"Hem." Agatha membuka matanya lalu melihat wajah Arkan.


"Kakak ?." Ia membuka pintu mobil dan keluar.


"Sejak kapan kau disini ? Beraninya datang !." Arkan menyentil telinga Agatha sampai wanita itu menekuk wajahnya.


"Aku harus tahu bagaimana kondisi Jeremy, dia janji akan pulang." Jawabnya sedih.


"Ini." Arkan memberikan sebuah cincin berlian yang begitu menyilaukan mata.


"Cincin ? Untuk apa ?." Tanya Agatha bingung, ia melihat cincin itu dari segala arah dan melihat sebuah insial dibalik ringnya.


"AJ ?." Ia bahkan mencoba untuk memakainya tanpa menyadari sesuatu.


"Aku menemukan itu." Kata Arkan.


"Sebetulnya Kakak hebat karena beruntung menemukan cincin ini, tapi aku sama sekali tidak merasa senang karena Jeremy belum kembali." Agatha melepasnya lagi.


"Aku menemukan cincin itu tepat disebelah Jeremy." Mendengarnya saja membuat Agatha mendongak.


"D-dimana ?!!!! Katakan sekali lagi ?!." Ucap Agatha keras.


"Disebelah Jeremy." Agatha langsung menarik kerah Kakaknya dan bertanya lantang.


"Beritahu aku apa kau sudah menemukan dia ?!." Melihat Agatha begitu antusias, ia langsung mengangguk.


Agatha reflek menjatuhkan cincinnya dan berlari ketempat dimana para korban berkumpul.

__ADS_1


"Permisi ! Permisi aku harus kesana !." Ucap Agatha menyalip semua orang yang menghalangi jalannya.


"Permisi ! Beri aku jalan !." Hingga tiba dibarisan paling depan, ia benar-benar melihat wajah Jeremy dibalik kerumunan.


"Bu ! Anda dilarang untuk kesana !." Kata petugas kepolisian.


"Itu suamiku ! Aku berhak melihatnya !." Kata Agatha memaksa.


"Para dokter sedang menangani korban dengan serius, karena ini akan mempengaruhi nyawanya. Jadi tolong mundur dan ikuti peraturan kami." Saat Agatha hendak melawan polisi itu, Zheng menariknya dari belakang.


"Nona, anda harus mengerti cara bicara manusia." Ucap Zheng.


"Apa kau pikir aku ini hewan ?! Hah ?! Kau tahu kalau aku sangat menunggunya ?! Aku hanya ingin melihat !!." Agatha memarahi Zheng.


"Bukan hanya anda yang menunggu, tapi saya juga." Zheng menahan Agatha kuat.


"Kau benar-benar keterlaluan !." Agatha kesal sampai hampir menangis.


Tak lama setelahnya, semua korban yang masih hidup segera dibawa kerumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.


.


.


.


.


TIGA HARI BERLALU,


"Sayang, apa kau tidak bosan tidur terus menerus ?." Agatha menunggu tepat disebelah ranjang.


Tidak pernah sekalipun berhenti menangis setiap harinya, entahlah perasaan seperti apa yang dia alami.


"Aku juga berharap begitu, dia tidak boleh berlama-lama disini." Kata Agatha.


"Sebaiknya kau pulang dulu, sudah tiga hari kau tidur disini menemani suamimu, kau juga butuh waktu istirahat." Arkan memegang bahu Adiknya dengan lembut.


"Aku tidak akan meninggalkan Jeremy kemanapun, aku mau disini bersamanya." Agatha kekeh tak ingin pulang.


"Nona, saya akan menjaga Jeremy sepanjang waktu, memastikan keadaannya dan memberi kabar kepada anda secara berkala. Sebaiknya anda pulang, tubuh anda sangat lelah." Ucap Zheng.


"Kau selalu mengaturku, aku tidak suka." Jawab Agatha menggerutu.


"Kalau anda sakit, apa itu tidak akan membuat Jeremy khawatir ? Dia akan mencubit hidung anda seratus kali karena lalai menjaga diri." Sebut Zheng.


"Kamu yang lalai ! Bukan saya ! Sudahlah, aku muak denganmu, aku pulang sekarang ! Dan ingat ? Jangan sampai kau tidak memberiku kabar atau aku akan mencabik-cabik dagingmu." Arkan hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Adiknya ini.


"Baik, cabik saja kalau saya lupa." Zheng membuang muka.


Setelah drama yang panjang, Agatha menurut untuk istirahat dirumah.


KREKKK..


"Saya kan sudah bilang untuk..."


"Marry ? Mau apa kau ?." Kata Zheng.


"Jangan bertanya ! Aku tidak mau cari keributan disini, aku hanya ingin bertemu Jeremy." Marry meletakkan tasnya dan memegang tangan Jeremy.

__ADS_1


"Sayang, kapan kau akan sadar ? Aku sungguh senang karena kau selamat." Ucap Marry berlaga perduli.


"Cih, memalukan !." Zheng bergumam.


"Apanya memalukan ?!." Marry melotot.


"Jeremy dirawat sudah tiga hari ! Dan kau baru datang sekarang dengan memasang wajah sok perduli itu ? Cinta apanya !." Zheng kesal.


"Kau diam ! Aku baru sempat kesini karena banyak urusan penting, beda dengan si ****** itu ! Aku ini model !." Jawab Marry.


"Apa yang lebih penting dari orang yang kau cinta ? Dasar gila." Zheng benar-benar muak melihat wajah Marry itu.


"Bedebah ! Kau selalu saja mencari ribut padaku ! Apa kau mau aku lempar dengan sepatu ?!." Zheng terdiam, kemudian Marry mencium kening Jeremy.


"Kau tidak waras ! Aku akan hubungi security untuk mengusir orang sepertimu." Zheng menelepon security rumah sakit, sebelum mereka datang Marry sudah pergi lebih dulu.


"Aku tidak bisa membiarkan Marry bertemu terus menerus dengan Jeremy. Dia bukan lagi siapa-siapa, dan tidak sepantasnya mendekati Jeremy." Ucap Zheng.


Dikediaman Anggara, saat Arkan ingin melewati gerbang utama ia justru melihat Greg yang sedang tertidur dipinggir gerbang.


"Mau apa si brengsek itu ?." Arkan keluar dari dalam mobil diikuti oleh Adiknya.


"Greg.." Sebut Agatha.


"Bangun kau ! Siapa yang mengizinkanmu tidur disini ?!." Kata Arkan marah.


"Kak sabar, jangan marah-marah terus padanya, kita belum tahu kenapa dia disini." Balas Agatha sambil memegangi lengan Arkan.


"Agatha ?!." Greg terbangun dan segera menyentuh tangan Agatha, hal itu membuat Arkan dengan reflek menepisnya.


"Jangan lagi menyentuhnya, cepat pergi dari sini." Arkan menunjuk arah jalan.


"Selamat siang Tuan ! Maaf, saya sudah berusaha mengusir pria ini tapi dia bersikeras untuk tidur semalaman menunggu Nona Agatha." Ucap satpam penjaga gerbang.


"Benar itu Greg ? Aku heran, mau apa kau ini sebenarnya." Tanya Arkan menatap jengkel.


"Agatha, aku tahu kau sedang berduka kan ? Aku kesini untuk menenangkan hatimu, aku menunggumu semalaman." Greg memegang tangan Agatha begitu lembut.


"Greg aku bilang kemarin untuk terakhir kalinya kalau kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, aku tak mau bertemu denganmu terus menerus." Agatha melepas tangan Greg.


"Apa maksudmu ? kau mencintaiku kan ? Begitu juga aku yang mencintaimu, jika Jeremy tidak bisa ditemukan maka aku akan menikahimu, menjagamu seumur hidup." Arkan yang mendengarnya langsung terkejut.


"Hei ! Apa yang kau bicarakan ?!." Kata Arkan.


"Jadi kau berpikir kalau suamiku tak akan kembali ? Huh, Greg selama ini aku menilaimu terlalu jauh." Agatha sedih.


"Agatha, justru itu cara semesta menyatukan kita ! Dia membuat Jeremy hilang karena tau aku lebih pantas." Arkan tertawa kecil sambil menunjuk kening Greg.


"Kau sudah gila ya ?." Sebutnya.


"Jeremy tidak hilang, tiga hari lalu dia berhasil ditemukan dan aku menjaganya setiap hari dirumah sakit." Jawaban Agatha membuat Greg terdiam.


"Maksudmu Jeremy selamat ?!." Katanya tak percaya.


"Sepertinya kau ingin sekali Jeremy mati ?." Agatha menatap Greg marah.


"B-bukan begitu, maksudku adalah..."


"Sudahlah Greg, semakin kau mengejarku semakin cepat juga aku berlari. Karena aku tak mau menyia-nyiakan waktu hingga kesempatan dimana aku bisa hidup dicintai oleh suamiku seperti sekarang." Agatha hendak pergi meninggalkan Greg masuk kedalam, namun pria itu tetap menggenggam tangannya erat.

__ADS_1


"Secepat ini kau berhasil melupakan aku ? bahkan tidak ada lagi sedikitpun yang tersisa ?." Rasanya masih sakit mendengar pertanyaan yang padahal dia sendiri tau jawabannya, namun Agatha berusaha keras untuk tidak perduli akan hal itu.


"Ya, dan aku berhasil mencintai Jeremy. Kecelakaannya kemarin membuatku sadar betapa berharganya dia dihidupku."


__ADS_2