
kemudian saat malam tiba Adinda tidak sengaja melihat Satria merapikan sepasang baju untuk di masukan nya ke dalam tas
mau apa dia bawa bawa pakaian dan tas? apa ada kerjaan mendadak keluar kota?. pikir Adinda lagi
Satria mengambil sesuatu dari laci kecil yg selalu ia kunci, Adinda sangat terkejut melihat suaminya memasukan sebuah senjata ke dalam tas nya yaitu pistol.
"sebenarnya dia ingin apa?? kenapa harus membawa senjata segala? dan apa Adinda yang dulu tidak marah mengetahui suaminya memiliki benda seperti itu? atau justru aku tidak tahu?." gumam Adinda pelan, setelah itu Adinda pergi menjauhi kamar agar Satria tidak mencurigai kehadiran nya
selang 30menit kemudian
"mau kemana?." tanya Adinda
"ada urusan mendadak, kenapa sayang?." balas Satria
"urusan mendadak dimana?? kenapa malam malam? apa tidak bisa besok saja???." kata Adinda serius
"tidak bisa, hal ini harus aku tangani sekarang juga, lagi pula sejak kapan kau berbicara seolah melarang ku pergi? hahaha istriku ini lucu ya, apa jangan jangan kau rindu pada ku?." ucap Satria berpura pura
"ya sudah lah, kau pergi saja, aku malas dibilang merindukan mu, jujur saja rasa itu tidak ada sama sekali di hati ku." balas Adinda sinis
"bagaimana tidak ada, bahkan ingatan kau saja belum pulih sayang, jika ingatan mu kembali maka kau akan selalu merindukan ku setiap saat." kata Satria pada istrinya yang tak perduli dengan ucapan nya
"aku sayang sama kamu, ya udah aku pergi ya sayang." Satria mengecup kening Adinda dan beranjak pergi
Adinda benar benar ingin tahu kemana suaminya itu pergi, ia meminta kepala pelayan di rumah untuk menjaga Arkan tidur sebentar, karena Adinda harus mengikuti jejak suaminya.
__ADS_1
"aku titip Arkan ya." kata Adinda
"baik nona." balas pelayan itu
diluar Adinda mengendap ngendap mengikuti suaminya yg ingin memasuki mobil, lalu ketika mobil itu telah melaju, Adinda segera memanggil taksi di tepi jalan untuk mengikuti arah mobil suaminya tersebut
"tolong ikuti mobil di depan, jangan sampai kita kehilangan jejaknya." pinta Adinda
"siap nona." jawab supir taksi
selang 1jam kemudian Adinda sampai di sebuah lahan kosong yg luas, tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah villa yang besar.
"ngapain Satria kesini?." gumam Adinda
Satria menghentikan mobilnya dan keluar menuju lahan kosong itu, ia tidak membawa tas nya tetapi ia membawa senjata tersebut dibalik jaket yg ia kenakan.
ya tuhan apa yg dia lakukan????. batin Adinda terus bertanya tanya
"datang juga kau? aku pikir kau pengecut." ucap Reno dengan tawa ejek
"banyak omong kau!!." Satria melayangkan tinjuan nya dengan sangat keras di wajah Reno
bukkkk.
"argh, santai bro, jangan buru buru." kata Reno
__ADS_1
"santai? hh, aku tidak bisa santai jika untuk menghabisi mu! kau tidak layak hidup, kau lebih baik mati, tepatnya mati ditangan ku!!." Satria memukuli Reno dengan kekuatan yg begitu hebat, sampai sampai Reno sering sekali kehilangan kendali untuk membalas perbuatan Satria
"cuma segitu kemampuan mu?." kata Satria
"jangan meremehkan ku!." Reno memajukan tubuhnya dan meninju Satria, kini sudut bibir Satria sedikit terluka
"********!!!! lihat saja kau!!." Satria mengenakan kekuatan terbesarnya untuk meninju Reno habis habisan, saat Reno mulai terkapar lemah seraya memegangi wajahnya yg kini penuh memar memar ia berkata
"Adinda tidak pantas memiliki suami seperti dirimu, dia lebih pantas ada di sisiku, bukan kah begitu? apalagi kemarin aku sempat meniduri nya, hhh masih saja kau pertahankan istri kotor mu itu, aku sarankan lebih baik kau buang dia, bagaimana jika nanti dia mengandung anak ku? hahahaha kau harus siap terima kenyataan dan hancur di pelukan nya." jelas Reno, hal itu membuat Satria benar benar muak dan murka, ia mengeluarkan senjata dibalik jaketnya dan diarahkan pada Reno
"KAU PANTAS MATI!!!!! BRENGSEK!." Satria menembakkan pistol tersebut dan mengenai kaki Reno, Reno berusaha berlari menjauhkan dirinya dari Satria
sialan! benar benar laki laki sialan, dia sudah gila. pikir Reno dalam hatinya, ia berlari terus menerus, suara tembakan itupun masih terdengar kencang di telinga Reno, hal itu mengartikan bahwa Satria mengejar Reno
"aku tidak boleh mati ditangan nya! aku harus bisa lari dari sini." gumam Reno
disisi lain Adinda melihat kejadian tersebut, syok benar benar syok, walaupun ia tidak dapat mendengar apa yg dibicarakan Satria dan Reno tapi ia tetap tak menyangka ternyata laki laki yg dianggapnya baik namun sama jahatnya dengan Reno, ia melihat Satria mencoba untuk membunuh Reno dengan senjata api nya, perasaan Adinda kini benar benar hancur, ia tak tau kenapa hatinya begitu sakit melihat Satria berlaku seperti itu.
Adinda berlari menuju taksi dengan air mata yang menetes dengan sendirinya.
kenapa? kenapa aku menangis?? harusnya aku biasa saja, aku bahkan tidak mengenali sifat asli nya dia, aku baru saja ikut bersama nya dalam waktu singkat, tp kenapa rasanya sesedih ini??. pikir Adinda
"nona? kita sudah selesai??." tanya supir taksi
__ADS_1
"sudah pak, kita balik lagi ke tempat awal." ucap Adinda seraya menghapus airmata nya