Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
apartemen


__ADS_3

besoknya, Adinda bangun dan melihat Satria menatap wajahnya dengan penuh kasih.


"k-kamu sudah bangun mas?." tanya Adinda


"sudah, bagaimana tidurmu? nyenyak?." ucap Satria lembut


"kenapa kamu ada disini? memangnya kamu tidak ke kantor?." tanya Adinda lagi


"semalam aku bilang apa? mas akan menemani kamu sampai kamu terbangun nanti." ucap Satria tersenyum hangat, kedua matanya dipenuhi dengan kelembutan dan rasa cinta yang dalam


"aku..." baru saja Adinda ingin berbicara, tiba-tiba dibawah terdengar suara keributan


"cukup ya Jonatan! semalam sudah jelas kalau kamu menggoda Adinda di sofa ini!." kata Selin


"a-aku bersumpah! kalau semua itu terjadi tanpa disengaja, aku meminum alkohol terlalu banyak sampai tidak bisa membedakan mana dirimu dan mana bukan." ucap Jonatan


"kau jahat! kau tega mengkhianati ku!!!." kata Selin berteriak


"aku sangat lelah kalau kau terus seperti ini, berulang kali aku menjelaskan nya padamu kalau aku benar-benar tidak sengaja, itu adalah pengaruh alkohol." kata Jonatan


"aku akan beri pelajaran pada siapapun yang berani mendekatimu!." kata Selin sadis


"Selin hentikan! kau jangan gila! kenapa kau berubah seperti ini?!." tanya Jonatan linglung


"diam!." satu kata yang dikeluarkan oleh Satria berhasil membuat keduanya diam


"Selin cukup! kau jangan terus menerus membuat masalah! dan kau Jonatan?! berani-berani nya kau semalam menggoda istriku?! lihat saja, aku tak akan membiarkan mu lolos walaupun semuanya berada dibawah pengaruh alkohol." kata Satria


"ya ampun kenapa kalian selalu saja bertengkar?." ucap Tania Anggara, ia mendengar semua pertengkaran ini dari semalam


"Jonatan mengkhianati ku! dengan Adinda!." kata Selin


"Selin, tidak mungkin Adinda melakukan itu, mama mengurusnya dari kecil, dan mama tahu betul isi kepala Adinda." ucap Tania membela menantunya


"mama tidak percaya padaku?! hah? aku benar-benar melihat semua itu dengan mata kepalaku sendiri, Jonatan mencium Adinda dihadapan ku!!!!." teriak Selin, Tania sangat pusing dan hampir terjatuh akibat stres karena mendengar keributan terus menerus


"mama?!." teriak Adinda ingin menolong Tania namun Selin berlari dan mendorong Adinda hingga terpentok meja kayu yang tak jauh dari sana.


karena panik, Adinda memegangi perutnya untuk usaha melindungi bayi mereka, sementara Satria berlari ke sang istri berusaha menangkap, sayang sekali Adinda tetap jatuh, tapi untungnya hanya tangan wanita mungil itu yang terpentok ujung meja.


"awh!." gumam Adinda kesakitan


"SELIN?!!!!!!!!." teriak Satria marah besar, ia mengejar Selin dan menariknya kasar, Satria membenturkan tubuh Selin ke dinding, dan menekan dagunya


"jika sekali lagi kau menyakiti istriku, lebih baik kau pergi dari rumah ini!!!!!." nada keras itu keluar langsung dari mulut Satria, Selin gemetar ketakutan dan menunduk dengan tangis. tak lama ia berlari ke kamar dan mengunci pintunya.

__ADS_1


"lebih baik kamu tolong mama, aku masih bisa menolong diriku sendiri." kata Adinda, saat Satria bingung ingin menolong siapa duluan, Jonatan dengan siap langsung menopang tubuh Tania ke dalam kamar


"lebih baik kita ke dokter!." kata Satria cemas


"tidak mas, tidak usah, aku baik-baik saja, tidak perlu ke dokter." kata Adinda pelan


"aku tidak mau kau dan bayi kita dalam bahaya." balas Satria


"jangan terlalu memanjakan aku, sebaiknya kita ke kamar saja." kata Adinda dibantu berdiri oleh Satria dan pergi ke kamar


"aku tidak mengerti lagi mengapa Selin bisa menjadi seperti sekarang." kata Satria


"entah lah, mungkin kak Selin terlalu banyak memikirkan sesuatu hingga dia kehilangan kendali." jawab Adinda


"sebaiknya kita pindah ke apartemen, di sana jauh lebih nyaman untukmu, aku dengar dokter bilang kalau orang yang sedang hamil harus hidup dengan damai, sementara di rumah ini kamu tidak mendapatkan kedamaian itu." kata Satria


"tapi bagaimana dengan mama?." kata Adinda mengerutkan kening


"banyak pelayan yang bisa mengurus mama disini, aku akan menyiapkan pakaian Arkan, kita pergi siang ini." ucap Satria


siang-siangnya Adinda dan Satria berpamitan dengan Tania, lalu meminta nya untuk selalu menjaga diri, mereka berjanji untuk sering datang berkunjung.


"hati-hati dijalan ya nak, jaga istrimu dan cucuku." ucap Tania pada Satria


30menit berlalu, Adinda sampai disebuah apartemen mewah milik suaminya, ia turun seraya menggendong Arkan yang tertidur pulas di pelukan nya.


"biar aku yang menggendong nya." pinta Satria mengambil Arkan dari bundanya, mereka masuk ke dalam dan langsung menuju kamar


Satria meletakkan Arkan di atas ranjang yang empuk dengan lembut, ia juga mencium pipi putra mungil itu.


"kau mau beristirahat?." tanya Satria


"Hmm, aku akan beristirahat nanti, sekarang aku ingin pergi masak." ucap Adinda


"aku akan membantumu." Satria melingkarkan tangan nya di pinggang sang istri dan berjalan menuju dapur


"kamu mau makan apa?." Adinda bertanya seraya menyiapkan bahan-bahan yang ada


"aku ingin sup, jangan pedas supaya Arkan dapat memakan nya." kata Satria


"baik, aku akan membuatkan nya, karena kau tadi bilang ingin membantuku, ini silahkan cuci sayuran nya, aku akan memotong daging disebelah sini." pinta Adinda


Satria segera mencuci sayuran itu, lalu ikut memotong beberapa wortel dan kentang.


"aku hampir selesai." ucap Satria, Adinda sudah lebih dulu menyelesaikan potongan daging, kemudian dia beralih memotong daun seledri, tanpa sengaja ia mengiris tangan nya karena terlalu terburu-buru.

__ADS_1


Satria panik dan langsung mengemut jari-jari mungil itu, sesudahnya dia menatap wajah Adinda yang menampakkan senyum malu, lalu Satria memakaikan plester ke tangan istrinya dan meniup dengan gemas.


"pria yang baik." kata Adinda tertawa kecil seraya mencubit hidung suaminya


"dilarang tertawa, dasar wanita nakal! sudah kubilang berapa kali kau harus hati-hati saat memasak." ucap Satria mencubit pipi istrinya lembut


"tidak masalah tanganku berdarah bahkan sampai ribuan kali, kalau sikapmu selalu semanis ini." balas Adinda menampakkan wajah kegembiraan


"sepertinya hanya kamu yang aneh, tangan berdarah bukan nya merasa sakit tapi malah merasa gembira." kata Satria menggaruk kepalanya yang tak gatal


"semua akan terasa sakit kalau kamu tega membiarkan aku terluka." jawaban Adinda cukup membuat Satria mengerti, kemudian dia mendekati istrinya dan membisikkan sebuah kalimat.


"aku tidak akan pernah membiarkan istriku terluka." Adinda terpana, hembusan nafas yang hangat begitu terasa ditelinga nya, sampai-sampai ia merasa jantungnya juga berpacu lebih cepat.


"kenapa? kau terpana dengan suamimu ini?." tanya Satria percaya diri, dia mengedipkan salah satu matanya dan tersenyum


"kau sangat bisa membuatku gila." sahut Adinda mencubit perut suaminya


"hahahaha." Satria tertawa melihat istrinya salah tingkah, lalu melanjutkan masakan mereka.


setelah masakan itu jadi, Adinda membawakan makanan-makanan tersebut ke atas meja di ruang makan, sementara Satria mengambil piring-piring untuk diletakkan juga ke atas meja.


"sepertinya Arkan masih tidur, lebih baik kita makan duluan, biar nanti aku yang akan menyuapi Arkan." kata Satria


"apa kau tidak ingin menyuapi istrimu yang cantik ini sayang?." tanya Adinda tersenyum menggoda


"siapa bilang, aku akan menyuapi mu kapanpun kau menginginkan nya." balas Satria, siang itu dia benar-benar menyuapi Adinda layaknya seorang anak kecil yang sedang makan dengan lahap.


"kau mau nambah sup nya?." tanya Satria, Adinda segera menggelengkan kepala dan kembali mengunyah makanan di mulutnya itu


saat makan siang sudah selesai, mereka berdua menduduki ruang santai seraya menonton televisi, Adinda menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, kemudian Satria mendekap Adinda dalam pelukan nya yang hangat.


"kabar duka tentang kematian Anderson yang belum lama ini memang selalu membuat para kerabat terdekat merasa kehilangan, belum lagi kekasih Anderson yang tiba-tiba datang ke makam nya menangis secara histeris, wanita itu belum mengungkapkan kenapa dirinya sangat merasa kehilangan Anderson, tetapi sahabat terdekatnya berkata bahwa wanita itu sedang hamil, sangat disayangkan jika ia benar-benar hamil oleh pria yang sudah tiada, bagaimana kehidupan wanita itu selanjutnya? apakah dia akan merawat anaknya sendirian?."


"wanita?! jadi Anderson mempunyai wanita? bahkan dia sedang hamil?." ucap Satria terkejut


"kasihan ya mas wanita itu, dia pasti sangat tertekan karena ayah dari bayinya telah tiada." gumam Adinda bersedih


"aku sama sekali tidak perduli akan hal itu, tapi itu artinya akan ada pembalasan jika mereka mengetahui penyebab kematian Anderson! alasan nya karena wanita itu! ya, benar!." gumam Satria berpikir keras


"kamu kenapa? ko jadi merasa khawatir gitu?." tanya Adinda, lalu Satria mencoba menenangkan pikiran nya dan berkata lembut pada sang istri


"aku tidak apa-apa, kau dengar aku ya sayang, kemanapun kau pergi, kau harus beritahu aku, aku akan selalu mengantarmu kemanapun kau mau." ucap Satria


"...."

__ADS_1


__ADS_2