
1hari kemudian
Tio Anggara menyebarkan beberapa pasukan untuk mencari keberadaan Adinda.
"cari menantu ku di seluruh kota dan negri, pastikan keadaan nya baik baik saja, bawa dia kesini dan menghadap pada ku." perintah Tio
"baik tuan." jawab para pasukan itu dengan kompak
💦
di kediaman Anggara, terlihat Satria dengan wajah datarnya, ia berdiri dibalik balkon kamar.
Selin memasuki kamar itu secara tiba tiba, karena sudah diketuk berapa kali tapi tidak ada jawaban.
"Satria?." ucap Selin memegang pundak sepupunya itu
"oh, ya? mengapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk?." tanya Satria seraya kaget
"aku sudah mengetuk nya tapi kau tidak menjawab ku."
"seperti itu ya."
"Satria? kau belum makan dari semalam, aku khawatir jika kau sakit."
"aku tidak apa apa."
"aku mengerti posisi mu, tapi jangan seperti ini, jika istri mu tahu mungkin dia akan sedih."
"Selin? kau ini seorang perempuan, sama seperti istriku, jika dia meninggalkan ku seperti ini, apakah itu tanda bahwa dia sudah tidak mencintai ku lagi?." tanya Satria frustasi
"dengarkan aku ya, Adinda sangat mencintai mu, dia pergi karena ingin dirimu berubah, kau harus menjadi suami yang lebih baik lagi untuknya, apalagi kamu akan punya anak." Selin mencoba meyakinkan Satria
"aku harus berubah seperti apa?."
"kau hapus cinta mu pada Sheira, pikirkan perasaan istrimu dan kandungan nya."
"aku tidak lagi mencintai Sheira, aku hanya merindukan nya, dengan kejadian ini membuat aku berpikir bahwa aku hanya mencintai istriku."
Selin hanya tersenyum, dia percaya dengan ucapan Satria, karena memang kelihatan dari wajahnya kalau dia tidak lagi berbohong.
tring..tring..
__ADS_1
ponsel Selin berbunyi
"halo??."
"halo manis, apa kabar?."
"lho? Jonatan? mau apa kamu?."
"aku ingin bertemu dengan mu."
"buat apa Jonatan? aku sedang sibuk."
"sibuk apa? memang tidak boleh kalau aku merindukan mu?."
"bukan begitu tapi keadaan keluarga ku sedang tidak baik."
"ada apa Selin? jika kau ada masalah ceritakan pada ku, siapa tau aku bisa membantu."
"tapi.."
"kita bertemu di restoran biasa, aku akan menunggu mu disana."
"baik."
"Satria? sepertinya aku harus pergi, kau tak apa kan?." ucap Selin
"tidak masalah, pergi lah." balas Satria
"ya sudah aku pergi dulu, kau jangan lupakan makan."
Selin mengambil tas dikamar nya lalu pergi menggunakan mobil, ia menuju ke tempat dimana dirinya diajak makan bersama oleh Jonatan.
Satria berusaha menghubungi istrinya lagi, tapi hasilnya selalu nihil.
kemudian dia menghubungi Farel
tut..tut
"halo tuan?."
"bagaimana istriku? kau sudah menemukan nya?."
__ADS_1
"maaf tuan, saya belum bisa menemukan nona Adinda."
"bodoh!!."
**
sesampai nya Selin di restoran, ia melihat bahwa Jonatan sudah duduk menunggunya.
"hei manis, sini duduk, kau mau pesan apa?." tanya Jonatan
"aku pesan latte saja."
"hanya itu?."
"ya."
Jonatan memanggil pelayan agar membuatkan minuman yang dipesan oleh Selin
"buatkan latte sekarang." pinta nya
"baik tuan mohon ditunggu sebentar." ucap pelayan itu
kemudian pelayan itu pergi dari hadapan mereka.
"jadi sebenarnya ada masalah apa?." kata Jonatan menatap Selin
Selin berusaha menceritakan semuanya pada Jonatan, namun dia tidak menyebutkan siapa yang dimaksud nya.
"wow, jadi istri sepupu mu pergi meninggalkan rumah? karena suaminya membuat kesalahan?."
"iya, dan aku benar benar bingung bagaimana harus menemukan nya."
"lalu bagaimana dengan sepupu mu?."
"aku tidak bisa menjelaskan nya, saat ini dia begitu sedih dengan kepergian istrinya, dia sangat menyesali apa yang dia buat."
"kasihan sekali, semoga saja dia cepat kembali." ucap Jonatan tersenyum
"terimakasih."
tidak lama pelayan itu datang membawakan latte
__ADS_1
"silahkan nona, tuan, di nikmati minuman nya." kata pelayan itu