Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
topiku hancur


__ADS_3

Satria pun segera mengikuti Adinda menuju kamar putra kesayangan nya.


"Sayang..." Adinda membuka pintu kemudian melihat Arkan sedang menangis tersedu-sedu.


"Bunda!! hikk...hikss." Bocah kecil itu langsung berlari memeluk Bunda nya.


"Hei nak, ada apa? cerita dong sama Bunda, jangan menangis begini ah nanti tampan nya hilang lho." Kata Adinda merayu putra kecilnya.


"Topiku Bunda! topiku hancur!." Balas Arkan kembali menangis.


"Kenapa bisa hancur? sudah-sudah tidak masalah, Ayah masih memiliki satu lagi." Sahut Satria.


"Yang benar Ayah?!." Seketika kedua bola mata Arkan berbinar, kemudian menghapus tangisnya.


"Benar, mana mungkin Ayah bohong." Satria mengulurkan tangan untuk meraih tubuh mungil tersebut, seperti magnet dengan cepat Arkan berlari ke arah Satria dan melompat ke dalam pelukan nya.


"Ayah memang terbaik! ayo cepat tunjukan dimana topi itu! aku janji akan menjaganya." Ucap Arkan tak sabar.


"Topi nya ada di kamar Ayah dan Bunda, kita ke sana ya."


...


"Selina! kamu tidak dengar Mama bicara ya?!." Nada tinggi itu terdengar menakutkan dan langsung menembus hati Selina.


"Selin, jangan terlalu keras seperti itu padanya." Kata Jonatan.


"Ya kalau tidak mau aku keras begini harusnya dia ngerti dong, dari tadi aku bicara baik-baik dengan anak itu, tapi dia seolah tak mendengarkan ucapan ku." Balas Selin.


"Mama, kenapa sih Mama tidak seperti Bunda? Bunda itu baik, lembut, dan sayang sama aku." Kata Selina dengan mata berlinang.


"Apa kamu bilang? kenapa tiba-tiba membandingkan Mama dengan Bunda?! Mama yang susah payah melahirkan mu, tapi justru kamu lebih dekat dan akrab pada Bunda." Ucap Selin.


"Selin sudah! Selina masih kecil, jangan dimarahi terus dong." Jonatan meraih tubuh Selina dan memeluknya, sementara Selina menangis kencang.


"Jangan manja Selina! kamu itu jadi wanita tidak boleh cengeng! Mama tidak suka! cepat hapus air matamu, dan jangan pernah banding-bandingkan lagi antara Mama dan Bunda! paham." Selin menegaskan sekali lagi.


Selina menghapus tangisnya dan melepaskan diri dari pelukan Jonatan, ia berlari menuju kamar Adinda.


"Selina! mau kemana kamu?!." Panggil Selin.


"Kamu itu harusnya ngerti dong! dia anak kecil! tidak mungkin Selina begini kalau dari awal kamu perduli padanya." Jonatan memarahi istrinya.


"Bunda!!!." Selina masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk Adinda.

__ADS_1


"Eh? Selina? kamu kenapa menangis?." Tanya Arkan bingung.


"Lho anak Bunda yang satu ini kenapa?." Adinda membelai rambut Selina dan menghapus air mata di wajah kecil itu.


"Mama jahat Bunda, Mama memarahiku." Kata Selina.


"Keterlaluan Selin! dia tidak bosan ya marah-marah dengan Selina!." Satria kesal.


"Mama bicara apa nak sama kamu? kok sampai sedih sekali begini?." Tanya Adinda.


"Mama tidak sayang padaku, dia hanya mencintai Papa." Kata Selina.


"Tunggu disini, akan aku marahi Mamamu itu!." Satria hendak berdiri untuk mendatangi Selin di kamarnya.


"Mas! jangan! tidak perlu memarahi Kak Selin sekarang, dia pasti tidak akan terima dengan sikapmu, lain kali saja disaat dia sudah mulai tenang." Adinda menahan suaminya agar tidak memarahi Selin.


"Sementara ini Selina di kamar Bunda saja ya, tapi nanti Selina harus kembali ke kamar Mama, kalau mau jadi anak yang baik, Selina juga harus minta maaf sama Mama." Ucap Adinda tersenyum ramah.


"Bisakah Bunda menjadi ibuku selamanya? aku sangat mencintai Papa tapi aku tidak menyukai Mama yang sekarang." Kata Selina polos, seketika Satria mengerutkan alis dan menghela nafas.


"Sayang, Bunda akan menjadi ibu Selina selamanya, ingat itu ya? dan Selina tidak boleh menjauh dari Mama, bagaimanapun Selina tetap anak Mama Selin, sudah ya jangan sedih." Adinda memeluk Selina.


"Jangan sedih Selina, ayo kita bermain saja." Arkan mengajak Selina bermain agar tidak sedih.


"Dinda, sayang, sudahlah. tidak penting lagi kalau kita mengurusi mereka, ini kesalahan Selin, dan kau tidak perlu terlibat ke dalamnya, cukup kita perhatikan Arkan dan sayangi dia sepenuh hati, itu pasti bisa membuatnya bahagia dan senang." Ucap Satria.


"Hmm iya Mas, aku tau kok. tapi aku sedih aja kalau melihat Selina tidak akur dengan ibunya sendiri seperti sekarang, hatiku sangat sakit jika berjauhan dengan putraku, bagaimana dengan Kak Selin?." Kata Adinda.


"Aku semakin menjadi khawatir kalau kita terus menerus hidup bergabung dengan mereka kemudian akhirnya kamu terbebani, aku tidak mau kamu banyak berpikir, apalagi dengan keberadaan anak kedua kita membuatku semakin takut, dulu dokter sering berkata kamu tidak boleh lelah sedikit saja karena kandungan mu begitu rentan, dan aku tidak bisa membayangkan nya sekarang." Balas Satria.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga kandunganku, aku sudah berjanji akan menjadi ibu yang baik, iyakan? maka dari itu tak akan aku biarkan bayi kita berada dalam masalah." Adinda berusaha meyakinkan suaminya agar bisa mengurangi rasa kekhawatiran itu.


"Beristirahatlah, kau pasti sangat lelah karena belum sempat istirahat." Pinta Satria.


"Kau sama lelahnya denganku, maka kau juga harus beristirahat." Adinda menarik tubuh suaminya untuk segera berbaring di ranjang, entah sejak kapan mereka tiba-tiba tertidur begitu saja di kamar putra kecilnya.


...


"Bunda? ah Bunda dan Ayah sedang tidur disini." Arkan kembali keluar dan mendatangi kamar Nenek.


"Nenek, Bunda dan Ayah sedang tidur." Ucapnya.


"Oh ya? kalau begitu kamu tidak boleh menggangu mereka, jika mau tidur maka tidurlah disini ya sayang." Ucap Tania lembut kepada Arkan.

__ADS_1


"Baik Nenek!."


"Selina dimana?." Tanya Tania.


"Selina berada diruang tamu, aku tidak tahu kenapa dia enggan sekali masuk ke kamarnya Nek." Kata Arkan.


"Tunggu disini, Nenek akan menemui Selina sebentar." Tania berjalan keluar kamar dan melihat Selina duduk diruang tamu dengan wajah yang murung.


"Selina sayang, ada apa nak? kok cucu Nenek sedih begini?." Kata Tania.


"Nenek!." Selina menangis kemudian memeluk Tania.


"Apa kau habis dimarahi lagi sama Mama mu?." Ucapnya.


"Tidak, bisakah aku menjadi anak Bunda saja? aku tidak nyaman bersama Mama." Bagaimana bisa seorang anak kecil berkata bahwa dia tidak nyaman bersama ibu kandungnya.


"Lho? Selina kenapa? kok berpikir seperti itu?." Tania mengusap air mata di wajah sang cucu.


"Mama tidak sebaik Bunda." Gumam Selina.


"Selina, Mama buatin makanan kesukaanmu, sekaligus mau minta maaf karena tadi sudah marah." Selin tiba-tiba datang dengan anggun ke hadapan putrinya.


"Aku tidak mau makan, aku hanya ingin makan dengan Bunda, bukan Mama." Mendengar perkataan anaknya, Selin merasa sakit, namun dia tahu kenapa Selina menjadi seperti ini.


"Sayang, Mama minta maaf." Wajah Selin murung, ia mendekati Selina dan berusaha menggapai tangan nya, namun sayang sekali Selina menghindar, anak kecil itu berlari menjauh dari Selin.


"Selina!." Panggil wanita itu berteriak.


"Selina! dengarkan Mama! Mama hanya ingin meminta maaf padamu!." Ia berusaha mengejar Selina ke halaman belakang, tanpa dilihat ternyata ada sedikit genangan air dilantai bekas Arkan dan Selina bermain tadi, sehingga hal itu membuat bumil yang sedang berlari terpeleset hingga jatuh.


"Aaaaah!." Jeritan nya sangat keras, Selina menengok.


"Mama !." Teriaknya lagi.


"Selin!!!!!." Tania terkejut dan segera berlari hendak menolong.


"Suara apa itu?!." Satria segera melompat dari kasur karena khawatir putranya jatuh, saat keluar kamar ia justru melihat Selin tergeletak dilantai, itu bukan putranya.


"Selin?!." Dalam waktu yang sama, Jonatan dan Satria berlari menolong Selin.


"Selin!! bangun Selin!!." Kata Jonatan.


"Siapkan mobil, aku akan menggendongnya." Satria mengangkat tubuh Selin ke dalam pelukannya dan menuju ke depan.

__ADS_1


"Nenek! aku ikut!." Selina merengek pada Tania agar bisa ikut bersama Mama nya.


__ADS_2