
"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu ?." Ucap Farel di sebrang telepon.
"Farel, aku minta untuk cari tahu siapa pelaku perampokan tadi, beritahu aku berapa banyak orang mereka, dan kirimkan foto wajahnya yang paling jelas." Perintah Satria.
"Apa yang akan anda lakukan Tuan ?." Tanya nya.
"Aku akan mencari mereka, bahkan jika mereka lari sampai ke ujung neraka." Satria mengepalkan tinjunya dengan wajah gelap.
"Ini akan terlalu beresiko untuk anda, katakan saja jika anda perlu bantuan, saya akan mengerahkan bawahan Anggara atas perintah Tuan." Ucap Farel.
"Baik, aku tunggu secepatnya." Satria berbalik dan melihat Adinda yang terus mengigau sampai seluruh tubuhnya dipenuhi oleh keringat.
"Di ruangan yang dingin pun kau masih berkeringat seperti ini." Ia mengusap kening Adinda dan berusaha lagi untuk membuat wanita itu jauh lebih tenang.
"Jangan takut sayang, aku disini, aku bersamamu." Ucap Satria seraya menarik tangan Adinda agar memeluknya.
Besoknya, pagi-pagi buta Satria terbangun karena ia pikir harus berangkat bekerja, namun saat ia hendak berdiri dari kasur, dirinya tak sengaja memegang tangan Adinda yang ternyata lumayan panas.
"Apa istriku demam ?!." Satria mengecek kening tersebut, lalu menyadari kalau suhu tubuh Adinda memang sedang panas tinggi.
"Dokter ! aku harus hubungi Dokter !." Satria mencari ponselnya dan meminta Dokter untuk datang.
Tak lama kemudian Selin menghampiri kamar itu, dan bertanya kepada Satria.
"Apa yang terjadi ? Dokter sudah sampai." Kata Selin.
"Istriku demam, aku ingin Dokter itu mengecek keadaan Adinda." Balas Satria.
"Selamat pagi Tuan, izinkan saya untuk memeriksa Nona Adinda." Kata Dokter.
"Satria ? apa yang terjadi ? kenapa Dokter memeriksa Adinda ?." Tania datang dan bertanya kepada putranya tiba-tiba.
"Tidak apa-apa Ma, Adinda hanya demam, kau tak perlu cemas." Jawab Putranya.
"Kenapa bisa demam ? bukan kah kemarin istrimu baik-baik saja ? Mama sangat khawatir." Tania menyatukan kedua tangan nya sambil mencium tangan itu sendiri.
"Ma, untuk kali ini biar aku yang mengantar Mama ke makam Papa, aku akan bekerja di rumah, maaf ya Ma kalau Adinda belum bisa menepati janjinya." Ucap Satria.
"Nak, tidak hari ini pun tidak apa-apa, Mama mengerti kok."
"Aku harus mengantar Mama hari ini, jika tidak, mungkin aku akan membenci diriku sendiri karena tidak mengerti apa yang Mama rasakan sejak lama." Satria memegang tangan Mama nya.
"Tuan, saya sudah selesai memeriksanya." Kata Dokter.
"Bagaimana ? apa kondisinya sangat buruk ?." Ia menatap sang Dokter dengan sangat serius, kemudian Dokter itu menjawab.
"Demam pada Nona masih dapat kita atasi, namun saya menemukan adanya rasa tertekan pada istri anda, apakah beliau sempat mengalami hal-hal yang membuatnya jadi syok ?." Ucap Dokter.
"Benar Dok, istri saya memang habis mengalami hal-hal yang tidak di duga, apa ada obat untuk membuatnya sedikit jauh lebih tenang ? semalam saya melihat dirinya tidur dengan mengigau sampai gelisah, saya sangat khawatir." Kata Satria.
__ADS_1
"Tenang Tuan, saya sudah menyiapkan resep obatnya, silahkan anda menebusnya di toko obat." Dokter itu menyerahkan selembar kertas.
"Ah ya, kalau begitu terimakasih." Satria menjabat tangan sang Dokter dan tersenyum sopan.
"Sama-sama Tuan, semoga Nona lekas sembuh, saya permisi." Secara bersamaan, Satria pun ikut keluar dengan dokter karena ingin menebus obat untuk istrinya.
"Tunggu !." Tania menahan Satria untuk pergi.
"Ada apa Ma ?."
"Hal yang tidak diduga ? apa maksudmu ? apa yang terjadi pada Adinda ?." Tania Anggara mengerutkan alis dan bertanya serius.
"T-tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir." Pria didepan nya berusaha tersenyum.
"Mama tunggu sampai Adinda sendiri yang bercerita." Ia pergi meninggalkan Satria yang diam membisu.
"Hei, memangnya ada apa dengan Adinda ? kenapa kau menyebutnya hal yang tidak diduga ? beritahu aku." Kata Selin.
"Berhenti untuk bertanya, kau tidak harus tahu apa yang terjadi, ini urusanku dan istriku." Satria segera pergi.
"Manusia macam apa dia ?! mentang-mentang urusan keluarga sampai aku saja terlihat tidak berhak untuk mengetahuinya, kita ini kan keluarga juga !." Wanita itu melipat kedua tangan didepan dada dan mendengus kesal.
"Bunda..." Arkan berjalan ke arah Selin sambil melihat ke beberapa arah.
"Arkan, kau sudah bangun ya ? apa kau lapar ?." Selin membungkuk dan bertanya dengan lembut.
"Bunda, ada apa dengan bunda ?." Anak kecil itu bertanya dengan sedih.
"Tante, ah maksudku Mama Selin, dimana Ayah ?." Tanya nya lagi.
"Ayah sedang keluar sebentar, ayo kita ke kamar Selina ya, dia pasti sedang menonton televisi didalam kamarnya." Wanita itu membawa Arkan ke kamar Selina, kemudian membiarkan nya bermain.
"Arkan, Bunda sedang sakit ya ?." Ucap Selina, Arkan pun segera terdiam dan menatap wajah polos saudaranya.
"Bunda..." Selin menyadari betapa Arkan sangat sedih akan hal ini.
"Sayang, kau tidak usah cemas, Bunda pasti akan baik-baik saja, kau tahu kan Ayah Satria itu laki-laki yang hebat ? dia akan menyembuhkan Bunda mu dalam waktu dekat." Selin berusaha membuat Arkan tenang.
"Kalau Ayah hebat, kenapa dia membuat Bundaku sakit ?." Kata Arkan kesal.
"Lho, bukan begitu nak, Ayah tidak membuat Bunda mu sakit, justru Ayah akan menyembuhkan sakitnya." Kata Selin tersenyum.
"Mama Selin bohong ! aku dengar ketika kalian bicara ! aku punya telinga untuk mendengar semua pertengkaran di rumah ini." Arkan berlari keluar.
"Arkan ! Arkan tunggu Mama !." Selin mengejar anak kecil itu dengan rasa khawatir.
"Mama ! aku ikut !." Selina ikut berlari keluar.
Arkan bersembunyi dibawah meja dapur, ia meringkuk layaknya orang yang akan diterkam binatang buas.
__ADS_1
"Bunda, maafkan aku, kau pasti sangat sakit ya sampai semua orang begitu mengkhawatirkan mu." Pria kecil itu menangis.
"Arkan, sayang, kamu dimana ? bukan kah kita bisa bicarakan semua ini dengan baik ? ayo nak keluarlah." Bujuk Selin.
"Arkan, kita harus bertemu ! aku akan bicara padamu !." Selina memegang boneka di pelukan nya seraya mengoceh.
"Duh bagaimana ini, Arkan tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Selin cemas.
"Jonatan ! Jonatan bantu aku." Kata Selin menghampiri suaminya.
"Ada apa ?." Pria itu mengerutkan alis dan menatap wajah Selin.
"Arkan, Arkan sedang marah karena mengira bahwa Ayahnya yang membuat Adinda sakit, tolong beritahu dia bahwa ini semua tidak benar." Pinta Selin.
"Apa ? dimana dia ?." Jonatan segera mencari keberadaan Arkan, ia melihat kaki kecil dibawah kolong meja dapur, namun sengaja pura-pura untuk tidak mengetahuinya.
"Arkan, jika kamu berada di sini maka dengarkan aku bicara." Ucap Jonatan.
"Bunda mu akan baik-baik saja, percayalah, jika aku berbohong maka kau boleh menghukum ku dengan cara apapun itu." Kata Jonatan, Selin menginjak kaki suaminya dan bicara dengan kesal.
"Apa begitu caramu membujuk anak kecil ?! dasar payah !." Wanita tersebut mendorong Jonatan agar menjauh, kemudian Satria datang.
"Satria ! berhenti !." Pinta Selin.
"Apa lagi ? bisakah kau berhenti menggangguku satu kali saja ? ini darurat ! Adinda harus segera meminum obat yang aku bawa." Ucap Satria.
"Hei ! tutup mulutmu, ini tentang Arkan !." Kata Selin.
"Arkan ? ada apa ? dimana putraku ?." Tanya Satria.
"Dia marah dan bersembunyi di dapur ! dia bahkan membencimu, apa itu yang kau mau ?." Selin memelototi Satria.
"Marah ? kenapa ? kenapa dia marah ?." Satria segera menuju dapur dan melihat kebawah meja, ia segera menggendong Arkan dan bicara padanya, walaupun anak itu sering kali menolak dan berontak dari pelukan Ayah nya.
"Sayang, ada apa ? kenapa kau membenci Ayah ? apa Ayah membuat kesalahan padamu ?." Tanya Satria.
"Tidak padaku ! tapi dengan Bunda ! kau menyakiti Bundaku ! kau membuat Bunda sakit kan ?." Kata Arkan.
"Wah, siapa yang mengajarimu bicara dengan nada tinggi pada orang tua ? kau harus tahu, bahwa tidak ada seorang Ayah yang ingin menyakiti Ibu dari anak anak mereka, kau mengerti ?." Satria menjelaskan dengan lembut sekali.
"Bohong ! Ayah buktinya ! Ayah membuat Bunda sakit." Ucap Arkan.
"Ayah bersumpah bahwa datangnya penyakit untuk Bunda benar-benar diluar kendali Ayah, Ayah ingin Bunda sembuh, bukan kah kita sudah merencanakan banyak hal ? apa kau pikir Ayah akan menyakiti wanita yang Ayah cintai ? tidak sayang, tidak." Satria menggelengkan kepala dan menunduk.
"Kalau Ayah berbohong, aku akan pergi dari dunia ini, aku benci pembohong." Sahut bocah kecil itu.
"Arkan..." Suara Adinda membuat Arkan menoleh dan berlari ke dalam pelukan nya.
"Bunda !!! kau sudah sembuh ?." Tanya Arkan.
__ADS_1
"Apa yang baru saja kau katakan ? kau membuat Bunda dan Ayah sedih, apa kau mau meninggalkan Bunda ?." Adinda mengelus kepala Arkan dan menatapnya.
"Bunda, jangan bersedih, aku tidak bermaksud membuat Bunda sedih, a-aku , aku hanya kesal dengan Ayah." Balas Arkan.