
keesokan, Satria dan Arkan sudah bangun dan mandi, mereka tinggal menunggu Adinda yang masih terlelap dalam tidur nya.
"ayah? apakah bunda akan ikut bersama kita ke taman?." tanya Arkan
"tentu saja, bunda akan ikut bersama kita, tapi kamu mau kan tunggu ayah sebentar?." ucap Satria berlutut ke arah bocah kecil itu, segera saja Arkan mengangguk dan tersenyum
"aku akan menunggu ayah disini." balas Arkan, ia langsung duduk di sofa ruang santai untuk menunggu Satria, sementara Satria mengambil buah apel dan memberikan nya pada Arkan
"makan dulu apelnya, ayah akan membangunkan bunda." kata Satria di anggukkan putra kecilnya, Satria berjalan menuju kamar kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku nya
"sayang, bangun lah, Arkan sudah menunggumu." kata Satria membelai lembut wajah itu, merasa terusik Adinda segera membuka mata perlahan-lahan dan melihat wajah tampan suaminya, kemudian matanya melirik ke sebuah kotak
"kau bawa apa mas?." tanya Adinda berkedip-kedip
"lihat, aku membelikan cincin ini untukmu." ucap Satria, ia duduk di samping istrinya dan memperlihatkan benda berkilauan itu
"wah, kau membelinya untuk ku? sungguh?." mata Adinda berbinar, jari-jari tangan nya bergerak hendak mengambil cincin itu tetapi Satria langsung menarik kotaknya.
"hmm?." alis Adinda berkerut, sebelum akhirnya dia menanyakan keberadaan Arkan
"oh ya ampun! aku lupa kalau hari ini aku akan mengajak Arkan pergi! dimana dia mas?! dimana anak kita?." tanya Adinda, ia berdiri untuk pergi mencari Arkan, lalu Satria menggenggam tangan nya dan menarik wanita itu
"jangan khawatir, Arkan sudah mandi dan berpakaian rapih, jadi tinggal dirimu saja yang harus merapihkan diri." Satria membelai rambut itu, dan mengusap kepalanya
"mandi lah, aku akan menunggumu didepan." ucap Satria lagi
setelah beberapa menit, Adinda sudah rapih, wajahnya di rias dengan sedikit makeup yang natural, dress yang dipakai juga membuat dirinya tampak lebih menawan, belum lagi ditambah oleh rambut coklat panjang tergerai.
semuanya terlihat sangat sempurna, dia benar-benar cantik.
"mas, aku udah siap." kata Adinda, ia melirik ke arah Arkan yang sedang duduk sambil mengayun kakinya di atas sofa, anak itu juga sedang memakan sebuah apel ditangan nya.
"sayang, kau tampan sekali." kata Adinda berlutut dihadapan putra nya
"terimakasih bunda, kau juga sangat cantik hari ini, bisakah kita berangkat sekarang? aku tidak sabar untuk bermain di taman." pinta Arkan, dengan mantap Adinda menggendong buah hatinya dan berjalan keluar apartemen
"ayo mas, kita jalan sekarang." ucap Adinda
selama diperjalanan, Arkan mengobrol dengan Adinda, ia membicarakan tentang ketidak sabaran nya untuk segera bermain di taman yang dia inginkan, Adinda hanya menjawab dengan senang karena baru kali ini dia melihat banyak sekali kegembiraan di wajah Arkan.
__ADS_1
"bunda, aku mau itu." Arkan menunjuk ke arah tepi jalan, sepertinya yang dia maksud adalah balon gas, sejenak Adinda melirik Satria kemudian segera kembali menatap Arkan.
"kamu mau itu nak?." tanya Adinda lembut, lalu Arkan mengangguk
"sayang, kita beli balon nya nanti aja ya, di taman." ucap Satria, namun Arkan menolak dan terus memohon kepada ibunya untuk membelikan balon itu
"bunda, bunda dengar aku kan?." kata Arkan, bocah itu terus memegang tangan Adinda dan memohon
"mas hentikan mobil nya." pinta Adinda, tanpa bisa berbuat apapun, Satria menghentikan mobil tersebut.
"sayang! biar aku yang turun." kata Satria, kemudian dia keluar dari dalam mobil dan membeli balon yang diinginkan putra kecil nya.
"pak, saya beli balon ini satu." pinta Satria
"syukurlah, akhirnya ada yang membeli balonku." ucap pak tua itu
"memang dari tadi tidak ada yang membeli balon mu pak?." alisnya mengerut, tatapan nya serius
"belum nak, saya setiap hari jualan di sini, malah kadang sampai malam tetapi hanya dapat sedikit." balas pak tua, rambutnya memudar, bahkan tubuhnya mengendur, seharusnya dia tak perlu lagi berjualan seperti sekarang, karena ini adalah waktu dimana dia seharusnya beristirahat dalam rumah.
"ini nak balon nya, pasti ini untuk anakmu ya? karena kamu adalah pembeli pertama saya hari ini, terimalah hadiah kecil dari saya, walaupun tidak seberapa tapi saya harap anak kamu menyukai nya." bapak tua itu tersenyum dan memberikan kotak yang berisi lampu tidur, ukuran nya mini namun sangat unik ketika dilihat.
"terimakasih nak, terimakasih banyak, saya akan mendoakan dirimu dan keluargamu untuk selalu ada dalam lindungan tuhan." kata bapak tua itu lagi, sudut matanya basah karena ia menangis bahagia
"sudah pak, jangan bersedih, lebih baik kau pulang, istirahatkan tubuhmu, pasti kau sangat lelah sepanjang hari, temui istrimu di rumah." Satria memegang bahu bapak tua itu dan menepuknya beberapa kali, lalu ia kembali ke dalam mobil
"ini balon yang kamu inginkan." kata Satria memberikan balon itu pada putra nya
"ayah! terimakasih!." Arkan berteriak senang dan mencium pipi ayahnya, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di taman yang Arkan inginkan
"bunda ayo ikut aku." ajak Arkan menggandeng ibunya, ia meminta Adinda duduk disebuah ayunan dan dia mengayunkan nya pelan-pelan
"hei nak, harusnya kamu yang duduk disini, lalu bunda akan mengayunkan nya." kata Adinda, tetapi Arkan hanya tertawa, ia terlalu sibuk mengayunkan ayunan itu, sampai-sampai balon nya terlepas dari genggaman mungilnya, setelah Arkan menyadari hal itu ia berlari pelan mengejar balon tersebut.
"Arkan! Arkan!." teriak Adinda memanggil namanya, ia panik dan berlari mengikuti Arkan, balon itu terbang ke arah jalan raya, Adinda khawatir Arkan akan mengejarnya ke sana, dia terus berlari sambil berteriak, namun Arkan tak mendengar suaranya sekalipun.
pada saat yang bersamaan, sebuah mobil melaju dengan sangat kencang, dan Arkan berlari ke tengah jalan, ketika mobil tersebut hendak menabrak putra kesayangan nya, ia berlari berusaha menangkap bocah kecil itu tetapi seseorang dari belakang menahan nya.
"jangan! itu bahaya!." kata orang itu, Adinda bersikeras untuk menepis tangan orang tersebut namun tak bisa, ia hanya memejamkan mata sambil berdoa demi keselamatan putranya, dan menangis.
"Arkan..." gumam nya kecil, ketika suasana mulai terasa hening Adinda memaksa untuk membuka matanya, alangkah terkejutnya saat dia melihat Arkan digendong oleh seseorang menuju ke arahnya
__ADS_1
"Arkan!." teriak Adinda, ia segera menggendong anak itu lalu mengelus kepalanya, memeluknya dengan erat dan mencium keningnya berulang-ulang
"bunda takut nak, bunda tidak mau kehilangan kamu." kata Adinda menangis, pelukan nya mengencang, jantungnya berdebar-debar seolah ingin lepas dari tempatnya
"anak mu akan baik-baik saja selama dia memiliki ibu sebaik dirimu." suara seseorang mengejutkan Adinda lagi, ia membuka mata dan melihat laki-laki yang tak asing dimatanya
"Bryan?!." gumam Adinda
"bunda, om ini yang menolong aku tadi." ucap Arkan polos, Bryan hanya tersenyum dan mengacak kepala anak itu
"lain kali kau harus berhati-hati, tidak boleh bermain sembarangan, apalagi sampai ke jalan raya, terlalu bahaya untukmu anak kecil." ucap Bryan lembut
"kenapa kamu ada disini?." tanya Adinda, mata wanita itu masih basah, tangan nya gemetar saat memeluk Arkan seolah dia akan kehilangan anak itu selamanya, Bryan mengulurkan tangan dan menghapus air mata itu di wajah cantik Adinda.
"aku tidak sengaja melihat anak ini berlari ke tengah jalan, kantorku dekat sini, kau tidak lupa kan? dan kebetulan aku habis makan di restoran sebelah sana." jelas Bryan
"terimakasih sudah menolong anak ku, lain kali aku akan membalas kebaikan mu." ucap Adinda, ia bergegas ingin pergi tetapi Bryan menahan nya
"aku tidak akan meminta apapun darimu, hanya saja aku ingin kau tidak membenciku seperti ini." kata Bryan, wajahnya menggelap saat dia mengatakan hal itu, jelas kalau Bryan sangat sedih ketika membahas soal kebencian Adinda
"aku sama sekali tidak membencimu, tapi aku harap kau tau tentang batas, aku adalah istri orang, dan aku tidak mau berbicara panjang lebar tentang hal ini di depan anak ku." jawab Adinda kemudian pergi meninggalkan Bryan yang diam terpaku, hatinya sakit, terasa seperti tertusuk ribuan anak panah.
"Adinda!." kata Satria berteriak dari jauh.
"ayah!." panggil Arkan melambaikan tangan kepada ayah nya, Satria segera berlari ke arah mereka dan melihat sang istri seperti habis menangis
"kamu kenapa? apa yang terjadi?." kata Satria menjatuhkan minuman nya lalu mengusap sudut mata wanita itu dengan jari tangan nya, sebelum Arkan mengajak Adinda bermain ayunan, Arkan meminta ayah nya membelikan minum, dia berkata bahwa akan menunggu ayahnya di ayunan, namun ketika Satria kembali, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Arkan maupun istrinya di sana.
"Arkan hampir tertabrak mobil." jawab Adinda gugup, wajahnya lesu dan pucat
"apa?! kenapa bisa?! siapa yang ingin menabraknya?!." Satria segera mengecek tubuh bocah kecil itu, tapi sepertinya dia tak menemukan luka satupun ditubuh anak nya
"aku tidak tahu siapa yang ingin menabraknya barusan, aku minta maaf karena lalai menjaga Arkan." ucap Adinda, wajah cantik itu tertunduk, air mata nya kembali mengalir, Satria menyadari tangan istrinya yang gemetar, tubuhnya yang dingin dan wajah nya yang pucat
"bunda, aku minta maaf, semua ini salahku." kata Arkan, ia memegang wajah ibunya dan menghapus air mata itu, ia mencium pipi Adinda dan mengatakan maaf lagi
"sayang, kau baik-baik saja?." tanya Satria, ia langsung mengambil Arkan dari pelukan sang istri
"Adinda, jawab mas." Satria memegang bahu istrinya, seketika Adinda jatuh dan pingsan
"Adinda! Adinda!."
__ADS_1