Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
kamar 05


__ADS_3

setelah makan bersama selesai, Adinda dan Satria menuju kamar untuk beristirahat.


"sudah kenyang kan?." Satria menatap Adinda.


"sudah Mas, makanan yang mama buat itu lezat nya bukan main ya." Adinda tersenyum senang sambil mengelus perutnya.


"yasudah kalau begitu kamu istirahat ya, tadi kan selama diperjalanan kamu memangku Arkan, Mas tidak mau kamu kelelahan." ucap Satria mencium kening istrinya kemudian berbaring di samping Adinda.


waktu Satria sedang menonton televisi sambil berbaring, Adinda mendapati sebuah pesan di ponselnya.


"Adinda, aku ingin bicara jujur denganmu." begitu yang tertulis dilayar ponsel.


"Bryan? mau apa lagi dia? tidak puas kah menganggu ku?." gumam Adinda didalam hati.


"katakan sekarang! tidak perlu basa-basi." balas Adinda


"apa kau tahu kalau Selin sedang hamil sekarang?." tulisan itu membuat Adinda berpikir.


"tidak, Jonatan bilang kalau Selin tidak hamil, bagaimana kau tahu tentang itu Bryan?!." Adinda terus mengetik tanpa henti.


"aku tahu karena anak yang dikandung Selin adalah anakku, aku menyesal Adinda! tolong bantu aku, kala itu aku mabuk dan mengklaim dirinya sebagai kamu, kita bertemu di bar malam itu." seketika jantung Adinda berpacu dua kali lebih cepat, dia melirik Satria yang masih anteng menonton televisi.


"apa?!! jadi Selin benar-benar hamil? tapi apakah itu sungguhan? aku harus memastikan nya." kata Adinda.


Adinda buru-buru bangun dari kasur dan ingin pergi keluar kamar.


"hei! mau kemana?." Satria menarik istrinya dengan bingung.


"Mas, aku harus bicara sama kak Selin sebentar." Adinda melepas tangan suaminya lalu pergi.


"kak Selin, bisakah kita bicara?." Adinda mengajak Selin lalu Selin setuju.


mereka berdua kini duduk di taman belakang, Adinda meraih tangan wanita didepan nya perlahan-lahan.

__ADS_1


"Kak? apa benar kamu hamil?." Selin sangat terkejut.


"a-apa maksud kamu Adinda?! kamu menuduh aku?." jawaban Selin semakin membuat Adinda yakin kalau dia benar-benar hamil.


karena bagaimana bisa sebuah kehamilan dianggap tuduhan, jika Jonatan pelakunya.


"kak, kalau kak Selin mau jujur sama aku, aku bisa bantu kamu mencari tahu siapa pelakunya." mendengar itu, Selin segera menampar Adinda sekeras-kerasnya.


"cukup! kau tidak tahu apapun tentang ini! aku tidak hamil!!!!." Selin pergi meninggalkan Adinda, lalu Adinda berteriak.


"Bryan! Bryan pelakunya!. Adinda pergi dan kembali kedalam kamar, Satria melihat wajah istrinya yang merah, kemudian cepat-cepat menghampiri Adinda.


"sayang! ada apa? wajahmu kenapa begini?." Satria panik, ia mengelus wajah itu dengan lembut.


"aku baik-baik saja ko Mas, t-tadi aku menepuk pipiku sendiri karena mengira ada nyamuk." Adinda tersenyum kaku lalu mengajak suaminya tidur di ranjang.


Selin syok! dia bingung bagaimana Adinda bisa tahu kalau dirinya hamil, apa lagi Adinda tahu siapa pelaku dibalik kehamilan nya, padahal Selin saja tidak mengetahui akan hal itu.


dengan rasa penasaran Selin segera meminta Bryan untuk menemuinya di suatu tempat.


"apa yang kamu katakan pada Adinda?! kau sudah berjanji kan untuk merahasiakan ini?!." ucap Selin menatap Bryan sedih.


"aku sudah tidak tahan lagi, aku tidak bisa menahan semuanya seperti ini, aku akan mengatakan yang sejujurnya!." wajah mereka saling tatap, air mata sudah mengalir di wajah Selin.


"aku pria yang selama ini kamu cari, aku pelakunya!." Selin tercengang, ia segera menampar Bryan tanpa ragu-ragu.


"jangan main-main denganku! sedikit saja kau mencoba berbohong, aku pastikan kau akan menyesal!!!!." Selin mengira Bryan bercanda, namun wajahnya terlihat begitu serius.


"Selin, aku tahu kalau Jonatan sama sekali tidak pernah menyentuhmu! kalau kamu masih ingat, kita bertemu disebuah bar, lalu tidur dikamar 05." ucapan Bryan membuat Selin tambah terkejut, apa yang pria itu katakan memang benar! mereka tidur di kamar 05.


"apa buktinya?!!!." Selin bertanya sambil menarik kerah Bryan.


tiba-tiba Bryan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto, foto itu adalah Selin yang sedang tidur dibalut selimut tebal.

__ADS_1


"bukan cuma itu, aku juga sengaja membawa benda ini, agar suatu saat aku bisa mengatakan sejujurnya padamu." Bryan memberikan kunciran Selin berwarna merah serta ada gantungan beruang di sana.


hati Selin sakit, dia segera memegang kunciran itu seraya menangis.


"k-kau, kau benar-benar pelakunya!!!! bajingan!!!!." Selin memukul-mukuli tubuh Bryan, kemudian Bryan memeluknya erat.


"Selin tenang, aku akan bertanggung jawab, aku akan memberimu uang setiap hari untuk membiayai bayi itu." Selin marah, dia mendorong Bryan menjauh dan memaki pria itu.


"apanya yang tanggung jawab?!!! aku sudah punya suami Bryan! bagaimana mungkin kau bisa bertanggung jawab!!!!." Selin berteriak seperti orang yang kehilangan akal.


"ceraikan suamimu dan menikahlah denganku." kata Bryan, lagi-lagi Selin mendaratkan sebuah tamparan keras.


PLAKKK!


"gila!!! kamu gila Bryan!! aku sangat mencintai suamiku!!!!! aku tidak mau pisah dengan nya!." ucap Selin


"tapi apa kamu sudah siap menerima konsekuensi nya ketika Jonatan tahu bahwa bayi yang ada di perutmu adalah anak pria lain?." kata Bryan, hal itu membuat Selin kembali menangis kencang sehingga membuat dirinya kehilangan kesadaran.


Selin pingsan! Bryan langsung menggendong Selin dan dibawa ke rumah sakit.


"tolong wanita ini dok." ucap Bryan.


setelah beberapa saat, dokter itupun keluar dan berbicara dengan Bryan.


"Tuan, sebaiknya anda lebih memperhatikan keadaan istri anda lagi, dia benar-benar menanggung banyak sekali pikiran sehingga membuatnya drop sekarang, untung saja bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik." Bryan benar-benar bingung, dia tak tahu harus bagaimana.


"terimakasih dok, saya akan lebih perhatian lagi." dokter itupun pergi kemudian Bryan masuk ke dalam ruangan Selin.


Bryan menatap wajah Selin yang pucat, lalu mengelus rambutnya dengan hati-hati.


waktu Selin terbangun, dia kembali menangis lalu berkata seperti orang kesetanan.


"lebih baik aku bunuh saja bayi ini!!! dia tidak pantas berada didalam perutku!." Selin memukul-mukuli perutnya sendiri, Bryan tak bisa tinggal diam, dia segera menahan tangan Selin dan memeluknya lagi dan lagi.

__ADS_1


"Selin, aku mohon jangan seperti ini, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik, aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendiri." ucap Bryan


__ADS_2