
"Kalau kau bersikeras menolak ku, maka tidak apa-apa, tapi aku berjanji untuk selalu ada disaat kamu sedih sampai kapanpun." Gumam Bryan.
Setibanya di kediaman Anggara, Satria menunggu Adinda didepan pintu. sementara Adinda sudah menyadari keberadaan suaminya.
"Sayang? aku menunggumu dari tadi." Kata Satria.
"Apa ada yang penting Mas? kalau iya lebih baik bicara didalam." Sahut Adinda tanpa menoleh kearah nya sedikit pun.
"Hei! hei! sayang, Mas bisa jelaskan semuanya, tolong dengarkan Mas ya?." Ucap Satria menarik tangan itu.
"Lepaskan tanganku Mas, aku bilang kita bicara didalam." Jawab Adinda.
Di dalam Satria menceritakan semuanya, dari hal yang paling kecil pun diberitahu kepada Adinda.
"Aku bersumpah hanya ingin membantunya, aku tidak mungkin kembali dengan Sheira, kau percaya padaku kan? lagi pula Sheira sangat mencintai Adi, dia tak mungkin punya rencana buruk terhadap kita." Jelas Satria.
"Kalau aku memilih pria lain, apa Mas akan marah?." Pertanyaan itu membuat Satria diam dan memperhatikan istrinya lebih lekat.
"Kau sangat cemburu ya sehingga seperti ini?." Kata Satria.
"Kemarin disaat aku hampir pingsan di pelukan orang lain, kau malah mengira aku ada hubungan lebih dengan nya, tapi kau dan Sheira... aku sama sekali tidak boleh berpikir hal aneh tentang itu." Adinda mengusap wajahnya sendiri yang sudah basah karena bulir bening itu menetes.
"Adinda? Mas minta maaf, Mas tau ini salah, Mas akan membatalkan rencana Mas untuk membantu Sheira." Kata Satria.
"Tidak perlu lakukan itu, jika ingin membantu seseorang jangan pernah melakukan nya setengah-setengah." Jawab Adinda, ia bangkit dari sofa hendak pergi, tetapi Satria memeluk nya dari belakang.
Pria itu mengendus-endus tubuh istrinya yang terdapat aroma parfum berbeda.
"Kau habis dari mana? kenapa tubuhmu sangat bau parfum pria?." Tanya Satria mengerutkan alis.
"Aku habis menunggang kuda bersama Bryan." Balas Adinda.
"Apa?! kenapa kau menunggang kuda bersama pria itu?." Tanya Satria dengan emosi tak terkontrol.
"Kenapa juga kamu harus berbaik hati dengan wanita yang telah mati-matian merebut hatimu dariku?." Kata Adinda.
"S-sayang, maaf, aku hanya mencintai kamu." Satria melembutkan sikapnya lagi sambil memeluk tubuh itu kembali.
"Aku maafkan kamu." Adinda melepas pelukan suaminya dan pergi ke kamar.
Satria segera menyusul dan mengunci tubuh Adinda agar tidak bisa bergerak lebih banyak lagi.
__ADS_1
"Mas! singkirkan tanganmu! jangan tahan aku seperti ini." Ucap Adinda.
Satria mendekati wajah Adinda dan mencium bibirnya dengan sangat mesra dan lembut, ia juga memegang bahu istrinya dan menempelkan jari-jari itu dileher mulus Adinda.
"M-mas?!." Adinda memukul-mukul tubuh kekar itu, namun Satria sama sekali tak memperdulikan nya, dia hanya ingin tenggelam didalam percintaan panas tersebut.
"Hmmphh!." Adinda menggigit bibir Satria sampai bibir pria itu mengeluarkan sedikit darah, tetap saja hal itu tak mampu menggoyahkan hasrat suaminya yang dalam.
"Sayang, maaf." Kata Satria melepaskan ciuman itu, Adinda hanya memalingkan wajah dan menunduk.
"Apa kau punya niat untuk kembali lagi dengan Sheira?." Tanya Adinda membuat Satria terkejut.
"Kamu benar-benar berpikir begitu sayang? aku sama sekali tidak ada niat untuk kembali dengan nya, aku hanya ingin membantu." Ucap Satria.
"Membantu? walaupun dia dengan kejam menyiksa dan menyakiti aku?." Kata Adinda lagi.
"Mas harus apa agar kamu percaya?." Satria menangkup wajah istrinya yang imut itu.
"Jangan pernah berhubungan tentang apapun lagi dengan Sheira, aku memang terdengar egois, tapi..." Air matanya menggenang seketika, pria dihadapan nya kini pun benar-benar merasa bersalah.
"Mas tidak akan datang ke sana, Mas juga tidak akan berhubungan apapun lagi dengan wanita itu." Kata Satria.
Adinda merasa sedikit lega, hingga akhirnya memeluk Satria, ia menempelkan kepala nya di dada sang suami kemudian menggapai wajah Satria dengan jari-jari kecilnya.
"Maaf sayang, Mas bukan nya tidak memperhatikan keberadaan mu, sudah, tidak perlu dibahas lagi ya, anggap saja masalah ini selesai." Balas Satria.
...
"Aku lihat sepertinya Satria dan Adinda sedang ada masalah." Kata Jonatan.
"Kau begitu memperhatikan mereka." Ucap Selin.
"Bukan seperti itu, tapi wajah Adinda sangat dingin sepulang dia pergi tadi, apa Satria melakukan kesalahan?." Tanya nya.
"Melakukan atau tidak, aku tidak perduli. Satria itu memang terbiasa mencari masalah sama istri, sering sekali dia membuat Adinda marah, padahal Adinda wanita yang terkenal baik dan sabar, jika wajahnya sampai dingin begitu artinya Satria melakukan kesalahan yang tak termaafkan." Kata Selin.
"Kalau aku menjadi suami nya Adinda, aku pasti menjaga wanita itu dengan baik." Kata Jonatan menggoda Selin.
"Hei! dasar bodoh! bisa-bisanya kau mengatakan itu didepan wajahku?!." Selin memukul-mukuli bahu suaminya, Jonatan hanya tertawa geli sambil memeluk pinggang Selin dan mencium wajahnya berkali-kali.
"Aku bercanda sayang, mana mungkin aku berpaling dari wanita berwujud bidadari seperti kamu." Ucap Jonatan.
__ADS_1
"Jonatan! kamu senang ya menggodaku?!." Selin melempar bantal ke arah Jonatan sampai suaminya itu berlari keluar kamar.
"Awas kamu ya!." Selin mengejar pria itu, ketika sedang berlari ke depan pintu kamar tiba-tiba saja kedua pasangan konyol itu terdiam.
Mereka melihat Satria dan Adinda berjalan dari arah dapur dengan begitu mesranya.
"Bukan kah kau bilang mereka sedang bertengkar?!." Bisik Selin pelan.
"Y-ya, kurasa begitu, tapi? apa itu prank?." Jonatan balas membisik.
"Konyol!!! mana ada prank!!!." Selin kesal.
"Apanya yang prank?." Tanya Satria melirik ke arah Selin.
"Kalian sedang membicarakan apa?." Sahut Adinda.
"T-tidak! ini! Jonatan habis bicarakan tentang teman nya yang sangat bodoh itu! hahaha! m-maaf ya kalau menggangu kalian, ayo sayang kita masuk lagi." Selin menarik tangan suaminya dan menyeret kedalam.
"I-iya ayo masuk." Jawab Jonatan.
"Aku rasa ada yang aneh dengan mereka berdua, apa mereka habis bertengkar ya Mas?." Kata Adinda.
"Entahlah, jangan pikirkan mereka, ayo sini duduk, Mas akan ambilkan buah nya." Pinta Satria.
"Aku juga tadi sempat makan buah lho Mas waktu menunggang kuda dengan Bryan." Ucap Adinda.
"Huh, jadi kalian sangat menikmati waktu berdua ya? sampai-sampai makan buah bersama." Satria berbicara tetapi tetap fokus mengupas buah tersebut.
"Tidak juga sih, aku cuma senang karena ternyata Bryan sedikit bisa diandalkan saat aku sedih." Adinda tersenyum kecil, sengaja mengatakan itu agar suaminya juga merasakan hal yang sama.
"Ya, ya baiklah. Aku mungkin harus lebih berhati-hati setelah ini, istriku bisa saja jatuh cinta dengan pria yang mengejar-ngejarnya sejak dulu karena aku bodoh menyikapinya." Kata Satria.
"Iya Mas, aku rasa kau memang harus berhati-hati, bagaimana kalau tiba-tiba istrimu yang cantik dan mungil ini direbut oleh pria lain? kau pasti sangat marah kan? hmmm, kau harus memperhatikan istrimu juga." Jawab Adinda.
"Dasar gadis nakal! bisa-bisanya kamu berkata seperti itu?! biar aku cubit hidung nya." Satria meletakkan buah yang ia pegang dan mencubit hidung sang istri.
"Aaah! sakit tau Mas!." Kata Adinda kesal, namun ia tertawa geli setelah itu.
"Bayi, kapan kau lahir? Ayah tidak sabar!." Ucap Satria mengelus perut Adinda lembut.
"Tidak sabar dalam soal apa? jangan-jangan..." Adinda menatap mata Satria dengan cermat lalu tertawa lagi.
__ADS_1
"Dasar gadis mesum! akan aku beri pelajaran setelah bayi ini lahir." Satria mendekatkan wajah nya ke arah Adinda dengan memandang penuh keyakinan.