
"Sejak kapan kau melawan Ayahmu ? dengar sayang, selama kau hidup, jangan pernah membantah nya satu kali pun, kau harus menghormati orang tua." Perintah Adinda.
"Aku hanya tidak suka Ayah berbohong." Arkan menunduk.
"Memang apa yang Ayah lakukan sehingga membuatmu marah seperti ini ? kebohongan seperti apa yang membuat seorang anak melawan Ayahnya sendiri ?." Adinda memijat keningnya sedikit, Satria segera mendekati istrinya dan memegang bahu wanita itu.
"Jangan terlalu banyak ceramah, kau belum benar-benar pulih." Kata Satria.
"Sekarang minta maaf pada Ayahmu." Arkan mendongak, ia melihat wajah Bunda nya yang masih pucat dan diam tanpa melihat Satria.
"Arkan dengar Bunda ? kalau kau memang sayang pada Bunda, maka minta maaflah pada Ayahmu." Pinta Adinda.
"Ayah tidak berbohong, Bunda sakit bukan karena Ayah, kau harus tahu itu. sekarang cepat minta maaf atau Bunda akan meninggalkanmu sendirian." Terkejut mendengar perkataan Adinda, Arkan segera berlari ke Ayahnya dan meminta maaf.
"Maafkan aku Ayah, aku sudah membuat hatimu terluka." Sebuah tangan yang masih sama hangatnya mengusap kepala Arkan.
"Anak pintar, Ayah akan memaafkan mu asal kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi ?." Anak kecil yang tampan itu kemudian mengangguk dan memeluk Ayahnya.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi pada Ayah." Kata Satria.
"Aku mengerti, tidak akan lagi." Mereka pun segera kembali ke kamar dan melihat Selin yang terlihat cemas.
"Ah syukurlah, aku pikir kau tidak bisa menenangkan putramu." Ucap Selin.
"Mungkin sekarang aku masih bisa menenangkan hatinya, tapi jika dia sudah dewasa, aku mungkin akan kewalahan." Adinda tersenyum getir.
"Bunda, jangan sedih, aku janji akan nurut padamu sampai kapanpun." Kata Arkan memegang tangan Bunda nya.
"Kalau Arkan bohong, Ayah akan memberi perhitungan." Satria mencubit hidung putranya sehingga bocah kecil itu menjerit karena merasa dirinya sedang diledek.
"Jangan berisik, Adikmu sedang tidur." Ucap Selin.
"Untung saja Bundaku ini bukan Mama Selin." Arkan menoleh ke arah Selin dan mengejeknya.
"Memang kenapa ?." Tanya Adinda.
"Soalnya cantikan Bunda dari pada Mama Selin, hahaha." Satria menahan tawa.
__ADS_1
"Dasar payah ! dimata Selina, aku lebih cantik dari pada Bunda mu." Selin melipat kedua tangan nya, lalu Selina tiba-tiba saja datang.
"Apa ?! cantikan Bunda tuh dari pada Mama." Kata Selina, akhirnya tawa Satria pun meledak.
"Hahahaha ! lihat, anakmu saja bilang bahwa istriku lebih cantik kan ?." Ucap Satria.
"Tidak kok, Mama Selin juga cantik." Arkan mendekati Selin dan mencium pipinya.
"Jangan dipikirkan ya Kak, anak-anak hanya bercanda lho." Ucap Adinda tersenyum.
"Jangan khawatir, kalau aku jadi berpikir karena ulah anak-anak ini, maka aku akan memberinya hukuman." Selin mencubit hidung Arkan dan Selina secara bersamaan.
"Arkan, Selina, kalian main dulu diluar ya sama Mama Selin, Ayah harus bicara sama Bunda." Pinta Satria.
"Baik Ayah, kami keluar dulu ya, ayo Ma." Selina menggandeng Arkan dan Selin secara bersamaan.
setelah mereka semua keluar, Satria segera mendekati istrinya, ia memegang tangan itu dan menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf." Ucapnya.
"Untuk apa Mas ? kau sama sekali tidak berbuat salah padaku, atau tentang kemarahan Arkan tadi ?." Kata Adinda bingung.
"Mas, kamu tahu kenapa aku cinta kamu ?." Adinda menangkup wajah suaminya dan berusaha membuat Satria tidak bersedih lagi.
"Aku serius Adinda, tolong jangan bahas yang lain." Pria itu masih menangis.
"Aku serius kok, sekarang kamu jawab kenapa aku cinta sama kamu." Sesaat Satria berpikir, kemudian menjawabnya dengan asal.
"Karena aku tampan ?." Ujarnya.
"Hem, itu salah satunya, tapi ada lagi yang lain." Balas Adinda.
"Yang lain ? apa ?." Satria mendongak, menatap kedua mata Adinda sambil menunggu jawaban sebenarnya.
"Karena kau pria yang lembut, kau pria penyayang, tanpa itu mungkin saja aku tidak akan mencintaimu sedalam ini, aku tidak suka pria yang kasar, pria yang baiknya hanya sesaat, walaupun kau seringkali membuatku marah, tapi tetap saja kelembutan mu tak akan pernah mengubah rasa cintaku." Kata Adinda tersenyum.
"Dinda, ini sama sekali tidak ada hubungan nya dengan permohonan maaf ku, aku tidak mengerti lagi kenapa aku selalu gagal, saat kita menikah dulu, aku berjanji untuk siap menjagamu kapanpun dan dimana pun, tapi sekarang ?." Satria kembali menunduk dan merasa dirinya sangat menjijikan.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menemukan sikapmu yang seperti ini, kenapa Mas ? kamu masih bisa memegang tanganku, kapanpun yang kamu mau, kau tau kan ? itu artinya aku akan baik-baik saja, aku memang sangat ketakutan, tapi kau tidak bisa menyalahkan diri sendiri, tidak ada daun yang hijau sepanjang hari, akan ada masanya dia menguning bahkan menjadi coklat dan runtuh dari tangkai nya. Sayang aku mohon, jangan pernah jatuhkan air matamu lagi dihadapan ku, tolong." Wanita itu mendekatkan dirinya dan memeluk Satria dengan sangat lembut, suaminya justru semakin sedih dan membalas pelukan nya dengan erat.
"Aku bodoh, aku tidak bisa menjagamu dengan baik, aku menyia-nyiakan pemberian tuhan yang sangat tulus sepertimu, a-aku...maaf Adinda, maaf." Satria membelai rambut halus Adinda kemudian mencium keningnya.
"Kau harus tahu, bahwa tubuhku tidak terluka sedikitpun akibat insiden kemarin, kau tidak perlu khawatir, sekarang hapus air matamu, aku tidak suka Tuanku menangis hanya karena menyalahkan diri sendiri." Ia membantu menghapus air mata tersebut dan mengecup bibir suaminya satu kali.
"Lakukan lagi, lakukan lagi, aku merasa sedikit lebih tenang jika kau melakukan nya." Kata Satria.
"Akan aku lakukan lain kali, dengar ya, jangan pernah sakiti aku dengan cara mencintai wanita lain atau aku akan pergi membawa kedua anak kita, aku juga akan pastikan bahwa sampai nafasku berhenti, aku tidak akan mengizinkan anak-anak ku untuk bertemu denganmu, sedetik saja tidak akan." Satria tersenyum lalu memainkan rambut Adinda.
"Kau membuatku takut, aku tidak akan mencintai wanita lain selain kamu, percayalah."
Sore-sore nya, Tania Anggara datang menemui Adinda, sementara Satria sedang sibuk bertelepon dengan rekan bisnisnya.
"Sayang, apa keadaanmu sudah jauh lebih baik ?." Tanya wanita setengah paruh baya itu.
"Sudah Ma, maaf aku membuatmu khawatir, dan aku juga ingin minta maaf karena gagal mengantarmu ke makam Papa." Ucap Adinda.
"Tidak apa, Mama senang kamu sudah baikan, tapi bolehkah aku bertanya ?." Tania menatap wajah menantu nya.
"Mama boleh tanyakan apapun itu padaku." Ia memegang tangan Tania seraya tersenyum lembut.
"Apa yang terjadi ? apa yang anak Mama alami sampai dia menjadi syok dan ketakutan ? sayang, kami tidak pernah melihatmu setakut itu sebelumnya, tolong katakan." Tania memohon untuk diberitahu, namun Adinda diam.
"Adinda, bukankah kau selalu jujur pada Mama mu ini ? apa mungkin Mama sudah tidak ada artinya untukmu ?." Terlihat jelas sekali Tania ingin menangis, air mata nya sudah menggenang di pelupuk sana.
"Apa yang Mama katakan ? jangan bicara seperti itu, bagiku kau sangatlah berarti, kau yang merawat ku sampai aku bisa seperti sekarang." Sahut Adinda menoleh ke arah Tania.
"Kalau begitu katakan sebenarnya pada orang yang kau anggap sangat berarti ini." Balas Tania.
"Baiklah, aku akan ceritakan. Jadi pada saat aku sedang bermain dengan Arkan dan Mas Satria di mall, aku mendadak pergi ke toilet, kemudian Mas menawarkan diri untuk mengantarku, namun aku menolaknya, lalu aku pergi sen..." Belum sempat menjelaskan semuanya, Satria datang memanggil nama istrinya.
"Adinda, aku mau bicara." Tania menghela nafas dan mengangguk seperti tanda bahwa dia tidak apa-apa jika ditinggal.
"Ma, sebentar ya, aku harus bicara dengan suamiku dulu." Wanita itu pergi keluar kamar dan bertanya pada Satria.
"Bicara apa Mas ?." Satria terus menariknya sampai masuk kedalam ruang kerja.
__ADS_1
"Mas mau tanya satu hal sama kamu." Ucap Satria.
"Apa ?."