Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
jebakan


__ADS_3

"oh ayolah Selin, jangan selalu menyibukkan dirimu dengan ponsel itu." kata Jonatan


"memangnya kamu mau apa?." tanya Selin mengerutkan alis


"kau tahu tidak? baru saja aku melihat Adinda dan Satria berjalan ke arah kamar dengan leher yang penuh sekali kemerahan." kata Jonatan lagi


"a-apa?! maksudmu Satria dan istrinya mengalami alergi?." ucap Selin membelalakkan mata


"bukan begitu, maksud ku mereka habis meninggalkan tanda-tanda cinta di sana, sementara kita? mana pernah." balas Jonatan mendengus kesal


"oh sayang, jadi kau menginginkan nya? mari kita lakukan." jawab Selin mendekati Jonatan


di sisi lain, Adinda mulai membuka bajunya perlahan-lahan dan menyelam ke dalam bak besar itu, diikuti oleh Satria yang ikut masuk juga ke dalam sana.


"airnya lumayan dingin." ucap Adinda sedikit menggigil


"apakah aku perlu menggantinya dengan air hangat?." tanya Satria menatap istrinya namun Adinda menggelengkan kepala


"tidak perlu, aku tidak ingin berendam air hangat." jawab Adinda kemudian mereka mandi bersama dan keluar untuk memakai pakaian diruang ganti


"hei sebentar! jangan pakai baju itu." kata Satria


"memangnya kenapa? aku merasa nyaman pakai baju ini." sahut istrinya kemudian Satria memberi sebuah kotak


"bukalah dan pakai." pinta Satria, cepat-cepat Adinda membukanya dan melihat lingerie di dalam kotak itu


"m-maksudmu? aku harus memakai pakaian seperti ini?." tanya Adinda gugup, Satria segera mengangguk


"tapi kan mas kita bahkan belum makan malam, masa aku makan pakai baju ini sih." celoteh Adinda


"sudah, pakai saja, kita tidak usah makan malam dibawah, aku yang akan mengambilkan makanan mu." kata Satria


"t-tapi mas..."


"mas tidak mau mendengar penolakan, cepat pakai." kata Satria lagi seraya memelototi istrinya


"baiklah, aku akan memakainya untukmu." Adinda kembali ke ruang ganti dan memakai lingerie pemberian suaminya


"untuk apa dia menyuruhku memakai pakaian ini?!." gumam Adinda dalam hati


ketika Adinda sudah selesai berganti pakaian, ia segera keluar dari ruangan itu dan bertemu dengan suaminya yang sedang menunggu.


Satria terkejut dengan penampilan istrinya malam ini, dia terlihat cantik dan seksi, ditambah juga dengan kulitnya yang putih dan mulus, membuat Satria tergila-gila


"kau sangat mempesona." ucapnya, Adinda hanya tersenyum canggung lalu segera menaiki tempat tidur dan membalut tubuhnya dengan selimut


"sayang, kenapa kau malu memperlihatkan nya padaku?." tanya Satria menarik selimut itu


"mas, kau mau apa sebenarnya? aku malu berpakaian begini." kata Adinda, Satria menyandarkan kepala nya di dada Adinda, lalu tangan Satria keduanya melingkarkan di pinggang yang ramping itu. mau tidak mau Adinda memeluk suaminya yang sedang bersikap manja tersebut, ia juga mengelus kepala Satria dan berkata dengan lembut.


"kau menyukai penampilanku?." kata Adinda, Satria menatapnya dan mencium bibirnya, bau harum ditubuh Adinda adalah candu bagi Satria, ia tidak bisa menahan hasratnya jika terus berada diposisi itu.


"aku sangat menyukainya." sahut Satria tersenyum, ketika Satria sedang asik memeluk istrinya tiba-tiba dia mendengar suara perut Adinda.


krruuykkkk...kruyykkkk

__ADS_1


"a-aku..." Adinda berkata dengan gugup saat Satria kembali menatapnya


"kamu lapar? aku akan ambilkan makanan, tunggu sebentar." Satria membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga, ia mengambil sepiring makan dan segelas minum untuk wanitanya.


"biarkan aku menyuapi mu." pinta Satria, lalu ia mengulurkan sendok itu kedalam mulut Adinda


"kamu tidak makan?." tanya Adinda memperhatikan Satria


"aku akan makan nanti, kau lebih penting." jawabnya, Adinda hanya tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh suaminya.


keesokan hari, Satria bangun pagi-pagi untuk bergegas mandi, tetapi dia sudah melihat istrinya bangun lebih dulu.


"Adinda? apa kau tidak bangun terlalu cepat?." tanya Satria khawatir


"tidak mas, aku memang berniat bangun karena ingin menyiapkan pakaian kerjamu, oh iya, di bawah Desi juga sudah menyiapkan makanan, jadi kamu bisa makan lebih dulu." kata Adinda


"setelah ini mas mau kamu kembali tidur, aku tidak mau kamu kelelahan lagi kaya dulu." kata Satria mengelus kepala istrinya


"tapi kan mas, aku akan bangun setelah aku merasa cukup tidur." sahut Adinda


"yasudah, mas pergi mandi dulu, tapi ingat? kalau kamu lelah, kamu harus beristirahat, jika tidak mas akan sangat marah padamu." kata Satria kemudian pergi menuju kamar mandi


setelah mandinya selesai, ia segera berpakaian, begitupun Adinda yang langsung membantu memakaikan dasinya.


"kau harus makan mas." ucap Adinda


"mas akan makan di kantor, nanti kau temani mama makan ya." ucap Satria, lalu Adinda hanya diam dan memalingkan wajah nya.


menyadari ketidaksenangan sang istri, Satria segera memegang tangan nya dengan lembut.


"kau tidak makan?." tanya Satria mengerutkan alis


"tidak, aku akan makan bersama mama nanti, sekarang aku hanya ingin melihatmu makan sebelum berangkat bekerja." jawabnya


...


di kantor, Satria masuk ke dalam dengan pandangan lurus seperti biasanya.


"selamat pagi tuan." ucap Farel dengan nada sopan, Satria membalas ucapan nya dengan senyum.


di ruangan, Satria membuka laptop nya dan langsung mengetik, ia juga meminta beberapa laporan keuangan perusahaan.


"ini tuan." ucap Emily, Satria terus memperhatikan buku yang sedang ia pegang saat ini, ia tidak mau sampai ada yang terlewatkan.


"maaf tuan, apa anda sudah mengetahui pukul berapa anda menghadiri jadwal meeting besok?." tanya Emily


"pagi, jam tujuh saya akan datang." ucap Satria


siang-siangnya, seseorang mencoba menelepon Satria dengan memberi kabar bahwa Adinda mengalami kecelakaan saat hendak menyebrang jalan.


mendengar hal itu Satria begitu terkejut, ia segera berlari ke loby dan menaiki mobil dengan laju yang sangat cepat.


"ya tuhan, lindungi istriku." kata Satria khawatir, ketika Satria menambahkan kecepatan pada laju mobil itu, tiba-tiba saja ada sebuah mobil dari arah yang berlawanan melaju dengan ugal-ugalan, Satria mencoba menghindari tabrakan itu, hingga akhirnya ia menabrak pembatas jalan, sementara mobil satunya menabrak pohon.


...

__ADS_1


"aawwh." tangan Adinda tersayat ujung pisau saat sedang mengupas buah.


"nona?! tangan anda berdarah, mari saya obati." ucap Desi, Adinda menggeleng dan bergegas ke kamar. ia menghubungi Satria namun tak ada jawaban, lalu dua jam kemudian ponsel Adinda berbunyi.


"halo, dengan siapa?." tanya Adinda


"selamat siang, apakah benar anda keluarga dari tuan Satria Anggara?." tanya orang itu


"benar, saya istrinya, ada apa? dimana suami saya?." ucap Adinda


"maaf nyonya, saat ini suami anda mengalami kecelakaan, dan dua jam yang lalu beliau di larikan ke rumah sakit ini." kata suster


"apa?! dimana rumah sakitnya?! saya akan segera ke sana!." kata Adinda panik, setelah suster memberitahu lokasi rumah sakit itu, ia segera mengambil tas dan meminta Pak Rahman untuk mengantarnya sekarang juga.


sampai di rumah sakit, Adinda berlari ke tempat resepsionis dan bertanya dimana ruangan suaminya.


suster segera mengantarkan Adinda ke ruangan itu, dan Adinda melihat suaminya berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"mas?!." teriak Adinda lalu memegang tangan Satria, mendengar suara sang istri, perlahan ia membuka kedua matanya.


"sayang." gumam nya pelan


"mas, apa yang terjadi padamu? kenapa kau bisa seperti ini?." tanya Adinda menangis melihat suaminya lemas tak berdaya


"aku senang kamu baik-baik saja." jawab Satria tersenyum


"aku tidak apa-apa, ya sudah mas jangan banyak bicara dulu, aku harus bertemu dokter sebentar." ucap Adinda meninggalkan Satria


di ruangan dokter,


"jadi anda adalah nona Adinda? istri dari Satria Anggara?." tanya dokter


"benar dok, saya istri Satria Anggara, jadi bagaimana keadaan suami saya? apakah dia akan baik-baik saja?." tanya Adinda khawatir


"baik, saya akan jelaskan, tuan Satria akan baik-baik saja, untungnya beberapa orang menolong dan membawanya kemari, jika tidak, mungkin kondisinya akan jauh lebih buruk dari yang sekarang." kata dokter


"syukurlah, tapi tidak ada hal buruk yang terjadi kan dok? secara keseluruhan suami saya benar-benar baik-baik saja kan?." ucap Adinda


"benar, tetapi untuk sementara ini saya sarankan agar suami anda tetap dirawat dalam beberapa hari ke depan." kata dokter lagi


"saya setuju, lakukan saja yang terbaik untuk nya." balas Adinda, kemudian setelah berbincang ia pun pergi dan kembali ke ruangan Satria


"mas, kau harus ceritakan semuanya padaku nanti, oh ya, aku juga sudah menyetujui saran dokter untuk merawat mu beberapa hari ke depan disini." kata Adinda


"tapi sayang, mas harus pulang, besok ada meeting penting dengan klien besar mas." kata Satria


"tidak! aku akan meminta Farel untuk menggantikan nya nanti, dan aku minta sama kamu untuk jangan memikirkan masalah kantor, aku mau kamu sembuh mas." pinta Adinda


"hmm baik, mas akan mengikuti semua keinginan kamu." jawab Satria


"bagus, aku akan menghubungi Farel sebentar lagi." ucap Adinda


"sayang, mas mau kamu tidak membicarakan hal ini pada mama, kau katakan saja padanya kalau kita sedang berada di Villa Rose." ucap Satria


"iya mas, aku juga tidak tega mengatakan hal ini, tapi kamu harus cepat sembuh ya.." kata Adinda memegang tangan suaminya

__ADS_1


"sepertinya ada yang ingin mencoba menjebak ku melewati Adinda." gumam Satria dalam hati


__ADS_2