
sewaktu mereka sedang asik bercanda, tiba-tiba Adinda mengalami mual, ia menutup mulutnya dan hendak memuntahkan sesuatu.
"Adinda?! kamu kenapa?! kamu mual sayang?." wajah Satria panik, ia langsung memegang bahu Adinda.
"Mas, aku mual sekali." ucap Adinda, kemudian Satria menaikkan kaki Adinda ke atas ranjang untuk segera bersandar, lalu ia mengambilkan air hangat.
"ini, kamu minum dulu." Satria membantu istrinya meminum segelas air tersebut, akan tetapi rupanya Adinda merasa pusing, dengan cepat ia menyandarkan kepala wanita yang dia cintai ke depan dada nya.
ia memeluk wanita itu, kemudian mengusap kepalanya.
"Tuan William!." Satria memanggil William dengan keras sehingga William datang terburu-buru
"ada apa?." William melihat ke arah Adinda yang lemas, dan langsung membelai kening itu.
"nak?! kamu baik-baik saja?! apa yang terjadi?." tanya William khawatir
"Dad, kepalaku sakit sekali, mual." kata Adinda
"Tuan William, bisakah saya meminta tolong kepada anda agar menghubungi dokter untuk segera datang kemari?." Satria menatap dengan memohon
William segera menghubungi dokter dan tak lama dokter itu pun datang.
Satria menemani dokter itu memeriksa kondisi istrinya saat ini, namun dokter hanya tersenyum.
"baik, menurut pemeriksaan tidak ada hal yang buruk terjadi dengan istri anda, rasa mual dan pusing itu sangat wajar bagi ibu hamil, jadi saya harap anda bisa lebih memperhatikan kondisi nya, sering-sering lah makan sayur karena itu sangat sehat untuk tubuh beliau, saya akan tuliskan resep vitamin nya." dokter itu menulis sesuatu di kertas kemudian memberikan nya pada Satria
"terimakasih, aku senang mendengar bahwa istriku baik-baik saja." kata Satria tersenyum, lalu ia segera menghampiri Adinda dan kembali menyandarkan kepala itu di dadanya.
"jangan khawatir ya sayang, kamu baik-baik saja." kata Satria
"Mas, bisakah kau tinggal disini untuk semalam saja?." tiba-tiba permintaan Adinda membuatnya kaget, ia adalah suami sah nya! jadi bagaimana mungkin seorang istri meminta izin untuk suaminya tetap tinggal? memang sudah seharusnya suami menemani istrinya apalagi dia yang sedang hamil muda.
__ADS_1
"Adinda, kau akan tinggal denganku selamanya, ingat itu oke?." Satria mengelus wajah cantik istrinya dan mencium kening itu lembut
setelah beberapa jam ke depan, Satria berhasil membuat istrinya tertidur lelap, kemudian ia melepaskan genggaman itu lalu pergi keluar.
Satria menitipkan Arkan kepada Rose dan William, dia berjanji untuk segera datang lagi setelah urusan nya selesai.
sementara di sisi lain, Emily sudah menunggu didepan kantor selama beberapa menit, entah apa yang dia pikirkan karena saat ini dirinya memakai baju yang sangat seksi, seluruh karyawan menatapnya terkejut, mereka semua tidak percaya pada penampilan istri bosnya sore ini.
"Nona? maaf kalau sedikit lancang, apakah kau diizinkan memakai pakaian ini dengan Tuan Satria?." Farel bertanya dengan bingung, namun Emily tak menjawab melainkan hanya tersenyum sinis.
"bukan urusan mu!." balas Emily, Farel tercengang.
"ekhmm." Satria berdeham, kemudian Farel pergi.
Emily bahagia melihat kehadiran Satria dihadapan nya lalu mereka pergi ke suatu tempat untuk membalik namakan saham perusahaan itu.
saat semuanya beres, Emily mengecup wajah Satria dengan lihai sebelum dia tersenyum menyeringai.
"apa maksudmu?." Satria melirik tajam
"kau tahu? bahwa aku sekarang adalah pemilik perusahaan yang sesungguhnya! aku bos nya Satria! aku bos nya! hahahaha!." Emily kembali tertawa sebelum Satria menatapnya jijik.
"aku tidak mengerti tentang siapa yang bodoh sebenarnya." Satria berkata dengan dingin sebelum akhirnya pergi menaiki mobil, Emily tidak perduli maksud dari kata-kata itu, dia jelas sangat menikmati waktu dimana dia akan memegang seluruh kekuasaan di perusahaan.
"aku akan membuat mu lebih hancur dari hidupku Satria!." ucap Emily, ia datang ke dalam kantor Anggara dan mengutak-atik komputer di ruangan Satria, tapi sayang sekali komputer itu telah dikunci dan Satria belum memberitahunya sama sekali.
"kurang ajar! beraninya dia mengunci komputer ini?!." Emily kesal, ia melempar barang-barang disekitarnya
...
"Mom, Dad." sebut Adinda memanggil kedua orang tua angkatnya
__ADS_1
"ya sayang, kau membutuhkan sesuatu?." tanya Rose yang datang secara tiba-tiba
"Mom, dimana suamiku? kenapa dia tidak menemani aku disini?." Adinda mengerutkan alis
"Satria sedang ada urusan di luar, dia berjanji akan segera kembali untuk mu." ucap Rose meyakinkan Adinda, kemudian Adinda diam dan menatap ke arah lain
"apakah kamu sedang mengurus wanita itu Mas? apakah kamu membiarkan dia menyentuhmu?." seketika hati Adinda sakit saat memikirkan nya, lalu ia beranjak dari kasur hendak ingin keluar namun kepalanya langsung terasa pusing lagi sehingga Rose membantunya untuk duduk di sofa kamar.
"kau masih kurang stabil, tetaplah disini dan jangan kemana-mana." kata Rose, kemudian Adinda menurut.
Angeline sedang mengajak Arkan bermain di halaman, sepertinya Angeline sangat menyukai bocah kecil yang menggemaskan itu.
"anak kecil, apakah kau menyayangi ibumu?." tanya Angeline
"sangat, aku sangat menyayangi bunda." jawaban Arkan terdengar polos sehingga membuat Angeline merasa gembira melihatnya
"panggil aku kakak! namaku Angeline." kata Angeline tersenyum lembut
"kakak Angeline!." sebut Arkan menatap wanita itu lalu Angeline menggendong nya untuk bermain
malam-malam Satria tiba di kediaman William dan langsung menemui istrinya.
"kenapa lama sekali? apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?." tanya Adinda, lalu Satria segera menceritakan semuanya
"lalu apakah dia macam-macam padamu? atau justru sebaliknya?." mata Adinda meredup, ia sangat ketakutan dengan jawaban Satria
"tidak sayang, jangan terlalu dipikirkan, mulai malam ini, dan sampai seterusnya, aku akan selalu menemani kamu." kata Satria lembut, hal itu membuat Adinda sedikit lebih tenang dan nyaman.
"kau membuatku sangat takut, aku tidak mau kehilangan suamiku yang berharga ini, kau hidupku Mas, jika bukan karena kamu yang selalu berusaha membuatku tersenyum dari dulu, mungkin aku tak akan menemukan kebahagiaan dititik manapun." gumam Adinda, Satria mengerti saat ini Adinda sedang hamil jadi perasaan nya jauh lebih sensitif dari wanita normal pada umum nya, bahkan kadang yang normal pun masih sering berperasaan sensitif apalagi ibu hamil ini.
"jangan takut sayang, kamu selalu menjadi satu-satunya di hatiku." Satria mengangkat istrinya ke atas ranjang dan mengunci pintu, Arkan tidur bersama Angeline di kamar nya, jadi Satria dan Adinda tak perlu mengkhawatirkan itu lagi.
__ADS_1