
Dua hari kemudian, di perusahaan Anggara.
"kalian semua! cepat kemari!." ucap Emily, semua pekerja terkejut dan langsung menuruti perintah yang mereka anggap istri bos nya.
"mulai hari ini, aku yang akan mengendalikan perusahaan! aku direktur nya!." kata Emily sambil tertawa
"(...)" semua orang bingung hingga saling bertukar pandang, begitu juga dengan Farel yang melihat cara wanita di depan nya berpakaian.
"Nona?! sebenarnya apa maksud anda?!." kata Farel menatap tajam, dia tahu itu bukan Adinda karena belakangan ini Satria sudah menjelaskan.
"hei! kau ingin dipecat ya?! kau menantang aku, hah?!." Emily memelototi Farel dengan keji
"Nona, jangan pecat Tuan Farel, dia adalah orang kepercayaan Tuan Satria." kata karyawan lain, kemudian Emily melirik Farel dari atas sampai ujung kaki.
"sini! ikut aku!." Emily menariknya ke dalam ruangan Satria yang kini menjadi miliknya.
"cepat beritahu aku apa sandi nya!." kata Emily, Farel mendengus sebal, lalu tak menjawab sedikit pun.
"memangnya kau siapa meminta sandi bos ku." ucap Farel menatap Emily jijik
"oh jadi kau berani melawanku ya, bagaimana kalau aku membayar mu dengan permainan panas di kamar itu selama satu jam." Emily menunjuk kamar di dalam ruangan itu sambil menggoda Farel, namun Farel sama sekali tak memperdulikan nya.
"cih! sangat menjijikan! menjual tubuh hanya untuk password!." kata Farel, kemudian Emily hanya tersenyum licik mendengar itu sebelum Farel melanjutkan ucapan nya..
"ups! tapi sepertinya kau bukan menjual tubuh mu, karena kau memberiku secara gratis, sayang sekali wanita cantik sepertimu ini rela di tiduri hanya untuk hal tidak berguna." Farel tertawa mengejek, Emily jelas sangat marah, dia menarik kerah Farel kemudian menatap wajah nya.
"kau bilang apa barusan?! hah?! kurang ajar! mau aku memberikan tubuhku kepada siapapun, itu sama sekali tidak ada urusan nya dengan mu! kau tidak berhak berbicara demikian! kau tidak tahu masalah sesungguhnya!." wanita itu menatap Farel dengan wajah menggelap
"aku berhak berbicara! karena kau baru saja menawari tubuhmu itu padaku! kasihan sekali ya, aku pikir-pikir sudah berapa ratus orang yang mencicipi tubuh mu. wow, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau aku adalah orang yang ke lima ratus untuk melakukan nya hahaha." Farel terus mengejek tanpa ampun, lalu Emily pun memalingkan wajah nya, entah sejak kapan air mata itu terjatuh.
"kalau saja dia tahu bahwa aku hanya memberikan tubuhku kepada satu orang, yaitu Anderson, sampai tiba-tiba aku hamil dan keguguran! tapi semua ini sudah terlambat! tubuhku sudah terlalu kotor untuk mengelak ucapan itu, bahkan sebelum nya aku dan Jack juga hampir melakukan hal sedemikian."
"iya! kau adalah orang ke lima ratus yang akan menaiki tubuhku, jadi ayo lakukan, setelah itu kau harus memberi sandi nya!." Emily menarik Farel ke dalam kamar tersebut, Farel mendorong Emily ke ranjang setelah itu ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba Emily berlari dan mengunci pintu itu.
"hei wanita! apa-apaan kamu!." Farel berusaha mengambil kuncinya, tetapi Emily menjatuhkan kunci itu keluar jendela sehingga kunci tersebut terjun ke bawah.
"brengsek! wanita gila!." ucap Farel, ia menggedor-gedor pintu kamar untuk meminta pertolongan namun sayang sekali ruangan Satria kedap oleh suara, jadi tak ada satupun orang yang mampu menolongnya.
"jadi bagaimana?." Emily mulai mendekati Farel kemudian memperlihatkan belahan gunung itu agar Farel merasa tertarik, pada kenyataan nya Farel tetap menghindar, ia mendorong Emily lagi dan lagi, dia merasa sangat bodoh! bagaimana mungkin ada kejadian wanita memperkosa laki-laki, begitu memalukan!
"jalang! mundur kau!." Farel berteriak, lalu mencekik leher wanita itu agar dia berhenti menggila.
"aaah! Farel lepaskan! uhuuukk..uhuukk!." Emily menendang perut pria dihadapan nya dengan kencang, lalu membuka bajunya sendiri.
Farel bingung harus melakukan apa, lalu dia memajukan dirinya dan menarik kaitan bra Emily sampai terbuka, wanita itu kini telanjang, hanya tersisa rok pendek yang melekat di paha itu.
"kau benar-benar mengajak ku gila bersama ya?! baik lah, ayo kita mulai!!." Farel membanting Emily ke atas ranjang, kebetulan sekali dia belum menikah, jadi belum pernah merasakan bagaimana bersenang-senang dengan perempuan.
Farel membuka rok pendek itu dan menarik CD nya, wajah Emily seketika merah merona, dia merasa malu namun tetap melakukan aksinya.
"rasakan ini!." Farel langsung memasuki milik nya ke dalam milik Emily, mereka juga sambil melakukan aksi ciuman panas untuk menambah kegairahan masing-masing.
Farel melakukan nya dengan kasar, sangat kasar! sehingga Emily memegang bahu Farel seraya mendesah kecil.
"aaah, bisakah kau pelan-pelan sedikit? semuanya akan terasa nikmat jika kau merendahkan kecepatan mu." Emily memejamkan mata kemudian tiba-tiba wajah Farel berubah menjadi wajah Anderson, dia berkhayal.
"kau pikir aku akan menuruti mau mu?! aku akan terus melakukan nya dengan kasar bahkan sampai kau mampus! jalang tidak pantas hidup!." Farel melanjutkan kekerasan nya, Emily berteriak sambil memanggil nama Anderson, sepertinya wanita itu sangat kesakitan sekarang.
lama sekali Farel melakukan nya, Emily sudah tidak tahan sampai-sampai dia pingsan! kemudian Satria dan Adinda datang ke perusahaan.
__ADS_1
"N-Nona?! bukan nya anda bera-" sebelum para pekerja tercengang, Adinda segera menjawab dengan mantap.
"dia penyusup!." ucap Adinda, lalu mereka berdua berjalan ke arah ruangan Satria, semua orang melihat ke arahnya dengan panik, sepertinya pasangan suami istri itu sangat marah.
"Farel?!." panggil Satria, ketika Farel mendengarnya ia pun langsung menjawab
"Tuan! saya disini! tolong saya! kunci nya telah dibuang oleh wanita sinting ini!." kata Farel berteriak
kemudian Satria mencari kunci cadangan dan segera membuka nya, saat melihat Emily berbaring di atas ranjang dengan memejamkan mata Adinda merasa terkejut.
"d-dia mirip sekali denganku." gumam Adinda menutup mulutnya tak percaya
"ya memang, aku bahkan ketipu dengan semua akal busuknya!." Satria frustasi kemudian melirik Farel dengan serius
"apa yang kau lakukan padanya? kenapa dia bisa tidur disitu?." ucap Satria
"saya hanya bermain-main Tuan, ini semua karena dia yang terus menekan saya untuk memberitahu sandi komputer anda." kata Farel
"lalu?! apa kau memberitahunya?!." Satria melotot
"t-tidak sama sekali Tuan! saya bersumpah!." balas Farel, lalu Satria kembali mengecek isi komputer itu dan semua data perusahaan nya aman terkendali.
"memangnya kau siapa berani menguasai perusahaan ku?." Satria bergumam dengan wajah sinis dan menyeringai
"Mas, lalu bagaimana kalau dia tidur begitu?." Adinda bertanya, seketika pikiran jahat muncul di otak Satria.
"Farel, bawa seember air kemari." Farel segera menuruti perintah bos nya dan langsung membawa air itu, Satria memasuki kamar dan menyiram air tersebut ke wajah Emily.
"bangun kau brengsek!." kata Satria, Emily segera terbangun karena air membanjiri seluruh tubuhnya.
"sialan kalian! apa-apaan ini?! kau juga?! bukan kah kau suamiku?! kenapa kau melakukan ini? dasar bodoh!." Emily memeluk tubuhnya yang basah, namun tiba-tiba suara seseorang menggetarkan hati Emily.
"A-Adinda?! k-kau hidup?! bagaimana bisa?!." gumam Emily memundurkan dirinya hingga membentur dinding.
"kau kaget ya? rupanya niat sekali kau menjebak ku, bahkan ingin membuang ku ke sungai agar aku mati?! iya kan?!!!." Adinda memelototi Emily dengan ganas
"kenapa kau masih hidup?! dasar wanita sialan!." Emily berusaha memukul Adinda namun ditahan oleh Satria.
"jangan pernah sakiti istriku! atau kau akan mati!." Emily kaget, tetapi Adinda meminta Satria diam karena ini akan menjadi urusan nya berdua dengan Emily.
"apa kau tahu Emily? saat kau menyuruh pria itu menculik ku, aku bahkan hampir diperkosa! mereka melecehkan ku dengan segala hal! kau tahu betapa sakitnya diperlakukan hina seperti itu?!." Adinda memaki Emily yang terdiam membeku
"perkosa?! Jack?! apa kau mau main gila dengan wanita ini?." Emily tertegun sesaat, sebelum dia kembali menatap Adinda yang terus memandangi wajah nya
"aku tidak perduli! mau kau diperkosa sampai mati pun, aku sama sekali tidak perduli! kalian semua pembunuh!." ucap Emily frustasi
"hah?! pembunuh kau bilang?! bukan kah pembunuh sebenarnya itu adalah kau?! aku tidak akan biarkan diriku mati begitu saja di tangan wanita rendahan seperti mu! bahkan jika aku mati karena hal lain, aku pasti akan membawamu ikut bersama ku ke dalam kematian yang sesungguhnya!." Emily gemetar ketakutan, aura kegelapan saat ini sepenuhnya ada pada Adinda, bukan lagi di dirinya.
"bukan kah lucu?! mana mungkin orang mati bisa hidup lagi! ck!." Emily membuang muka
"oh gitu ya? buktinya aku bisa hidup lagi dari kematian ku kemarin, kau ingin mencoba?." Adinda melangkahkan kakinya lebih dekat pada Emily, lalu Emily hanya bisa mundur lagi dan lagi sampai akhirnya dia jatuh ke arah jendela, tangan nya tergantung di sana, ia berteriak meminta tolong namun sepertinya diantara pasangan suami istri dan asisten perusahaan tidak ada niat ingin membantu.
"nikmati saja waktu mu, mungkin ini akan menjadi yang terakhir bukan? hahaha." Adinda tertawa lalu menarik Satria pergi.
"kau baik-baik saja sayang? kenapa tidak cerita tentang dirimu yang hampir diperkos..." Adinda menutup mulut itu dengan jari telunjuk nya kemudian berkata dengan lembut
"hampir saja, tapi itu tidak terjadi, aku baik-baik saja Mas, jangan khawatir. oke?." Adinda tersenyum hangat lalu Satria mengangguk
"bajingan! dimana wanitaku?!." tiba-tiba Jack muncul dan langsung menerjang Satria
__ADS_1
"hei bodoh! lepaskan aku!." Satria menendang Jack dengan kasar
"hentikan!." Adinda menatap Jack dengan jijik, lalu menampar pria itu, PLAKKK!!
"berani nya kau memukul suamiku?! hah?! memang nya kau siapa?!." Adinda mendorong Jack, pria itu menyeringai kemudian menarik Adinda dan menyandra nya.
"hei lepaskan! keterlaluan kau!." teriak Adinda
"lepaskan istriku! kau tidak berhak menyentuhnya sedikitpun!." Satria sangat marah dan murka
"dimana Emily?! setelah kau mengatakan keberadaan nya, maka aku akan melepaskan wanita bodoh ini!." ucap Jack
"Emily ada di ruangan ku! lebih baik kau tolong dia sebelum wanita itu mati! lepaskan istriku!." ucap Satria, mendengar ucapan tersebut, Jack segera berlari menuju ruang Satria kemudian melihat Emily menggantung di jendela.
"Mas?! kamu baik-baik saja?." tanya Adinda memegang tangan suaminya, lalu Satria menatap sinis
"apa-apaan kamu?! kenapa kau menanyai keadaan ku padahal keadaanmu jauh lebih buruk?!." Satria menggendong Adinda ke dalam mobil kemudian mengemudikan nya ke apartemen
"Jack?! bantu aku, hiikss...hikss." Emily menangis, tangan nya merah karena tak kuat menahan terlalu lama
"sabar Emily, aku akan menyelamatkanmu." setelah Jack bisa menyelamatkan Emily, keduanya saling memeluk, Jack mencium kening wanita dihadapan nya dan membelai lembut.
"a-aku mencintaimu! dan tidak mau kehilangan mu!." kata Jack
"dasar payah! jatuh cinta itu sama wanita yang benar dong! masa mau saja sih mempunyai wanita rendahan seperti dia? hahaha." Farel mengejek, lalu Jack menarik kerah nya
"apa kau bilang?!." Jack emosi
"jangan buang-buang tenaga kawan, kau sangat bodoh kalau mengiranya sebagai wanita baik dan menawan, bisa kau tanya berapa kali dia berhubungan intim dengan seorang laki-laki tak dikenal hanya untuk mendapatkan hal sepele." ucap Farel memutar bola matanya
"Emily? apa maksud pria itu?." Jack bertanya dengan lembut, lalu Emily menjawab dengan ragu
"a-aku, aku telah... hu-hu-huuu.." Emily menangis dan bersujud kepada Jack
"tolong! jangan marahi aku! ampun Jack!." ucap Emily
"apa yang kamu lakukan Emily?." Jack mengangkat tubuh Emily dan menangkup wajahnya
"a-aku sudah melakukan hal tidak senonoh itu pada pria ini, itu semua aku lakukan karena komputer Satria dikun...." Jack terkejut dan langsung berwajah gelap
"apa?! kau melakukan nya?! dan dengan pria ini?!!!!!." Jack sangat marah besar! dia telah menantikan hari itu sekian lama namun yang mendapatkan adalah Farel?!
"Jack ampun Jack! maafkan aku! a..." BUGHHHH!!!! Jack meninju wajah Emily sampai babak belur, Farel terkejut di buat nya.
"brengsek! kenapa kau tega memukul wanita?!!!!." Farel melotot
"bukan urusan mu! dia pantas mendapatkan ini!." BUGHHHH!. Lagi-lagi Jack meninju Emily dan kini tepat di bagian perutnya.
"aaaah! sakit Jack!." Emily menangis sambil meringis kesakitan
"hei stop!!!!!!." Farel memukul Jack tanpa kata-kata lagi, kemudian Emily pingsan, Jack panik sementara Farel hanya menatap wanita itu dengan alis berkerut.
di sisi lain,
"hoeeeekk, hoeeeek." Selin mengalami mual selama dua hari ini, Jonatan selalu menanyakan keadaan nya namun Selin tak menjawab.
"Selin, cepat katakan sebenarnya kamu ini kenapa?! muntah-muntah begitu seperti orang hamil saja!." Jonatan mendengus
"apa?! hamil?! tidak kan, tidak mungkin!." Selin bergumam sambil memejamkan mata
__ADS_1
"apanya yang tidak mungkin?! bisa saja kau memang hamil, tapi tunggu dulu! mungkin kau hanya masuk angin biasa, mana mungkin kau hamil, setelah Selina lahir kau bahkan tak pernah mau disentuh sama sekali." ucap Jonatan, Selin mulai panik dan berusaha untuk mendatangi dokter di rumah sakit secara diam-diam.