
Marry tersenyum menyeringai.
Tak lama setelah itu ia segera pulang diantar oleh supir pribadi Jeremy.
"Marry, hati memang tidak bisa bohong. Aku masih memiliki cinta untukmu, tidak tega melihatmu terus memohon tanpa jawaban." Jeremy sangat bingung.
Malamnya,
Jeremy sudah siap untuk pergi ke club, dia tak lupa mengecek ponsel supaya bisa melihat apakah Agatha mengirim pesan atau tidak.
"Apa anak ini masih tertidur dikasurnya ?." Sambil memandangi room chat Agatha, wanita itu tiba-tiba mengirim pesan.
Tring..
"Ha ? dia langsung membaca pesanku ? dia pasti khawatir deh karena aku belum chat juga." Kata Agatha.
[ ROOM CHAT AGATHA ]
"Aku pikir kau belum bangun." Tulis Jeremy.
"Sudah bangun dari tadi, kau tega mengunci pintunya." Balas Agatha, ia sengaja meledek.
"Astaga ! kenapa kau tidak memberitahu pelayan kalau pintunya aku kunci dari luar ? cepat panggil." Kata Jeremy.
"Ha-ha, aku bercanda kok. Sudah dibuka oleh Kinan sejak aku bangun tadi." Agatha memberi emoticon senyum.
"Baguslah, kau diam dulu sebentar ya. Aku mau pergi." Balas Jeremy.
"Pergi ? jam segini ?." Tulis Agatha.
"Iya, aku mau ke club bersama temanku." ( Pesan telah dibaca )
*****
"Jeremy mau ke club ? padahal aku pernah bilang jangan datang lagi. Untuk apa dia kesana ?." Agatha tidak mau pria itu mabuk-mabukan.
"Tapi aku tidak punya hak apapun untuk melarang, bagaimana ya caranya ?." Ia mengoceh sendiri.
Tiba-tiba terlintas pikiran aneh yang membuatnya bergerak untuk menahan Jeremy pergi. Ia yakin ini akan berhasil.
"Jeremy, maaf ya. Aku harus bohong kali ini. Kakakku saja tidak pernah mabuk, masa kau mabuk sih." Pikir Agatha.
Ia menekan tombol yang diberitahukan pelayan tadi. Agatha juga dengan sengaja menjatuhkan gelas ke lantai sampai pecah.
"Aku harus berpura-pura jatuh sambil berusaha meraih tombol ini." Anak itu duduk dilantai memasang wajah lemah.
Beberapa pelayan datang, lalu melihat Agatha terduduk lemas dilantai.
"Dian ! tolong beritahukan hal ini pada Tuan Jeremy sekarang !." Pinta Kinan yang menghampiri Agatha.
"Nona ?! anda baik-baik saja ?!!." Kinan sangat khawatir.
Sementara itu Diandra menghubungi Tuannya.
"Ada apa ? aku sedang buru-buru. Jangan hubungi kalau tidak penting !." Kata Jeremy.
"N-nona Tuan ! Nona !." Mendengar pelayannya panik, ia segera bicara.
"Kenapa ?! ada apa dengan Agatha ??!!." Jeremy menuju pintu kamar untuk bergegas keluar.
"Nona jatuh !."
__ADS_1
Dia langsung berlari menaiki lift membawa seluruh kekhawatirannya.
"Agatha ! ada apa denganmu."
Setibanya dikamar, matanya langsung menuju pada anak itu.
"Kenapa tidak diangkat ke kasur !!! bodoh sekali kau !." Jeremy mengatai Kinan.
"M-maaf Tuan, Nona hanya ingin dibantu oleh anda." Jeremy segera meminta Kinan pergi dan menggendong Agatha ke kasur.
"Kenapa bisa begini ??!." Pertanyaannya lembut namun nadanya tegas.
"Kepalaku sakit, a-aku hanya mau minum." Jeremy mengambilkan minum untuk Agatha.
"Panggil pelayan dong, jangan sampai kau jatuh seperti ini." Mendengar Jeremy marah, ia hanya tersenyum kecil.
"Minumnya dekat ko, tidak perlu pelayan." Kata Agatha.
"Aku panggil dokter, kau tunggu sebentar." Agatha justru memegangi tangan Jeremy kemudian menggeleng.
"Kenapa ?." Agatha menyandarkan kepalanya didepan dada Jeremy.
"Temani aku saja, tidak usah panggil dokter. Aku sudah membaik." Balasnya karena takut kebohongan ini terbongkar.
"Tapi aku khawatir, sebentar saja kok, nanti aku temani lagi." Agatha tetap menggeleng.
"Oke, baik. Aku disini." Jeremy setuju.
Disisi lain, Marry sudah dandan cantik sesuai keinginan Jeremy dan duduk anggun disofa rumahnya.
"Sebentar lagi Jeremy akan benar-benar menjadi milikku." Ia tersenyum senang.
"Agatha bukan siapa-siapa, dia tidak akan bisa melawanku." Marry tertawa geli.
"Kau kemana sih ! kenapa lama sekali !." Ia memegangi ponselnya, kemudian berusaha menghubungi Jeremy.
Tring..tring
"Siapa ?." Tanya Agatha pada pria disebelahnya.
"Temanku, bisa kau menunggu sebentar ? aku ingin mengangkat telepon nya." Ia mengangguk.
[ Panggilan terhubung ]
"Kau dimana ?! aku sudah lama menunggu. Tidak biasanya kau telat begini." Terdengar nada keras keluar dari mulut Marry.
"M-marry aku benar-benar minta maaf. Aku tidak jadi pergi karena ada urusan mendadak." Kata Jeremy.
"Apa ?! tidak jadi ?! tega sekali kau, aku menunggumu sejak dua puluh menit yang lalu namun tiba-tiba dengan mudahnya bilang tidak jadi ?." Marry benar-benar marah, tak lama ia menyadari bahwa bicara dengan Jeremy tidak bisa memakai nada tinggi.
"Aku sungguh minta maaf, kita akan pergi lain waktu."
"Kau jahat, kau tidak sayang lagi padaku." Wanita itu segera menutup telepon, lalu tersenyum menyeringai.
"Aku yakin setelah ini dia pasti datang menemuiku. Jeremy, aku tahu kau lemah. Jangan sembarangan buat janji, dan jangan panggil aku Marry kalau tidak bisa menguasaimu."
.
.
.
__ADS_1
"Lama sekali bicaranya." Agatha tersenyum kecil.
"Tidak juga, aku hanya meminta maaf karena mengingkar janji." Jeremy mengusap kepala Agatha.
"Mau makan tidak ?." Tanya Jeremy lagi.
"Bagaimana kalau kita makan bersama ? aku yang masak." Pinta Agatha.
"Hei, ada banyak sekali koki handal disini. Tidak perlu repot-repot, lagi pula kau masih sakit." Ucap pria didepannya.
"Itu artinya kau tidak mengizinkanku masak ? atau tidak mau makan bersama ?." Agatha cemberut.
"Kita makan bersama, tapi tidak usah masak. Aku akan meminta pelayan membawakan makanan terbaik." Jawab Jeremy.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Agatha.
"Tentang ?." Jeremy sambil menekan tombol untuk memanggil pelayannya.
"Tentang Greg. Kau janji akan membantuku untuk bertemu dengannya." Agatha memasang wajah sedih.
Tok..tok
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu ?." Tanya Pelayan.
"Buatkan makanan untukku dan Agatha." Pelayan mengangguk dan pergi.
"Jeremy ? kau dengar kan ?." Agatha memastikan.
"Aku dengar. Sebaiknya jangan memikirkan itu dulu, kau harus sembuh agar aku bisa membantumu. Kita bisa mencari ke seluruh tempat untuk menemukan Greg." Tak puas dengan jawaban Jeremy, Agatha hanya menghela nafas.
"Aku sangat merindukannya." Kata Agatha.
"Seberapa besar ? bisa kau jelaskan ?." Jeremy meledek.
"Besar sekali, bahkan lebih besar dari rumah ini." Jawabnya.
"Jika aku menjadi Greg, apa yang akan kau lakukan ?." Agatha segera menunjukkan kerinduannya pada Jeremy.
Ia memeluk Jeremy, melingkarkan tangannya pada leher pria itu.
"Greg, aku benar-benar merindukanmu. Berhari-hari aku memikirkanmu, menanyakan bagaimana hidupmu, bahagia atau tidak." Tiba-tiba saja Agatha menangis, Jeremy merasakan air mata itu.
"Kau sangat merindukannya ?." Agatha mengangguk, Jeremy segera memeluk erat tubuh Agatha dan membelai kepalanya.
"Agatha, kau perlu mengetahui satu hal. Bahwa setiap laki-laki yang mencintai pasangannya, dia akan tetap tinggal meskipun badai besar datang." Menyadari perkataan Jeremy, Agatha memandangi wajahnya penuh kesedihan.
"Apa itu artinya Greg tidak mencintaiku ? apa Greg hanya bermain-main padaku ?." Lagi-lagi air mata jatuh tak terhentikan.
"Greg tidak mungkin meninggalkanmu seperti sekarang." Kata Jeremy.
"Greg pergi karena Kakak, dia yang membuat hal itu terjadi." Agatha sangat membenci Kakaknya.
"Bukan, jika saja Greg tidak menyerah dia pasti bisa mendapatkan restu dari keluargamu. Kau tahu artinya berjuang ? kita tidak menemukan perjuangan itu di diri Greg." Ucap Jeremy membuat Agatha semakin menangis.
"Greg tidak mencintaiku, bodoh sekali. Aku bodoh karena percaya padanya." Kata Agatha.
"Kau harus menemukan seseorang yang lebih baik." Jeremy memeluknya lagi.
"Tapi sebelum itu kau harus menepati janjimu untuk membantuku menemukan Greg, aku harus bicara dan menyelesaikan semua ini." Agatha benar-benar lemah, seperti anak kecil yang sedang kehilangan ibunya.
"Aku membantumu."
__ADS_1
'Membantumu melupakan Greg.'