
4hari berlalu..
Satria bangun lebih awal dari istrinya, ia melihat Adinda sedang tidur pulas.
mungkin dia lelah karena semalam Arkan sedikit rewel. pikir nya
Satria segera bangun menuju kamar mandi dan berpakaian, 1jam kemudian saat ingin berangkat tak lupa dia mencium kening sang istri dan juga putra kecil nya.
"sayang, ayah berangkat dulu ya, jangan nakal nakal sama bunda, nanti bunda kamu kecapean." gumam Satria mengusap lembut pipi Arkan
di kantor, kedatangan Satria tentu nya langsung disambut dengan sopan oleh semua karyawan nya
"selamat pagi tuan Satria." kata para karyawan
"pagi pak Satria." ucap beberapa lain nya
"selamat pagi dan selamat datang kembali, tuan Satria." ucap Farel
"bagaimana? tidak ada masalah kan pada perusahaan?." tanya Satria
"tentu saja tidak ada tuan, maaf kalo saya lancang, bagaimana kabar nona Adinda tuan? apa dia sudah pulih?." kata Farel
"oh ya istriku sudah baik baik aja sekarang, maka dari itu saya bisa datang ke kantor hari ini, bisa tolong bawakan saya laporan keuangan beberapa bulan terakhir?." pinta Satria
"baik tuan."
💢
di kediaman Anggara
"hoaaaaaam." Adinda membuka mata nya
"Satria sudah berangkat? ko ga bangunin aku sih." ucap Adinda
Adinda segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka nya lalu kembali menemui Arkan yang masih tertidur.
__ADS_1
"hu kamu tidur terus, cepat besar ya anak bunda." Adinda mencium putra nya
3menit setelah itu
"Desi?." panggil Adinda
"iya nona, ada apa?." tanya Desi
"suami saya jalan jam berapa? ko dia ga bangunin?." tanya Adinda
"tuan jalan dari pagi nona, maaf saya tidak tahu kenapa tuan tidak membangunkan nona Adinda." jawab Desi
"oh gitu ya sudah, ini tolong siapin air hangat untuk Arkan ya, kamu urus dulu, saya mau mandi sebentar." ucap Adinda
"iya nona."
selang 30menit
Adinda sudah selesai mandi, begitupun Arkan, ia segera mengajak putra nya keluar menuju taman belakang.
Dinda terus mengajak Arkan mengobrol, sampai tiba tiba ponsel nya berdering
terlihat nomor tidak dikenal pada layar ponsel nya, lalu Adinda mengangkat panggilan itu
"halo?." ucap Adinda
"halo Din, sudah lama tidak mendengar kabar mu." terdengar suara laki laki yang tak asing di telinga Adinda
"maaf, anda siapa ya?." tanya Adinda
"loh kamu lupa? aku Reno." ucap laki laki itu
Adinda sempat berpikir sejenak untuk mengingat ingat siapa itu Reno, tak lama kemudian..
"Reno Abraham?." ucap Adinda
__ADS_1
"yes that's right, ternyata kamu ga lupa sama aku." kata Reno
"untuk apa kamu hubungin aku? lalu dari mana kamu dapet nomer ini?." tanya Adinda
"kamu ga perlu tau sih dari mana aku dapet, yang paling penting kabar kamu sekarang gimana?." ucap Reno
"please deh Ren, to the point aja, mau kamu apa?." balas Adinda
"hahaha kamu ga berubah ya Din, dari dulu masih sama, selalu bikin aku gemas." sahut Reno
"kalo ga ada keperluan penting aku matiin telfon nya." ucap Adinda
"eh jangan, ini penting, tolong temui aku di cafe tempat dulu kita sering bertemu." pinta Reno
"harus banget ya bertemu sama kamu? kenapa ga ngomong di sini aja mumpung kita lagi telfonan?." ucap Adinda
"ga bisa Din, ini penting banget, aku tunggu di cafe sekarang." Reno segera memutuskan panggilan tersebut
"h-halo?? Reno???!." sebut Adinda
"ko malah dimatiin sih? aku kan belum selesai ngomong." gumam nya
Adinda segera masuk ke dalam dan meminta Desi menjaga Arkan
"Des, tolong jaga Arkan ya, saya mau keluar sebentar." ucap Adinda
"baik nona." Desi membawa Arkan ke kamar
temuin ga ya? kalo engga pasti dia penasaran bakal hubungin aku terus, tapi kalo aku temuin ko ngerasa ragu ya. pikir Adinda
"mau kemana Din?." tanya Selin yang keluar tiba tiba dari kamar nya
"eh kak Selin, ini aku ada urusan sebentar, duluan ya kak." Adinda keluar rumah dan memesan taksi
"lho Adindaa?! ko pergi nya ga diantar pak Rahman sih, buru buru banget gitu." ucap Selin
__ADS_1