Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
cemburu


__ADS_3

di cafe tempat Satria berada sekarang suasana nya bisa dibilang ramai, tetapi selalu ada tempat untuk pengusaha terkenal seperti dirinya.


"silahkan tuan, ini dia menu makanan kami hari ini." kata pelayan menyerahkan buku menu kepada Satria


"saya akan memanggilmu nanti." jawab Satria meminta pelayan itu pergi dan ia mengambil ponsel dari sakunya lalu menghubungi istri tercinta


"halo mas, kau pasti sedang makan di cafe karena ini adalah jam istirahat." ucap Adinda seolah hafal dengan kegiatan suaminya selama di kantor


"kau sangat tahu apa saja yang aku lakukan walaupun kamu tidak melihatnya, jadi sayang apa kau sudah makan?." tanya Satria perhatian


"tentu saja aku sudah makan, aku yang memasak menu makanan hari ini, dan mama sangat menyukai nya." kata Adinda senang


"syukurlah, dimana Arkan? apa dia sedang tidur?." tanya Satria


"Arkan ada di kamarnya mas, baru saja aku menemani nya bermain dan saat ini dia sedang belajar mengenal angka bersama Desi." ucap Adinda


"wah bagus sekali, setelah pulang nanti, aku akan memberikan hadiah untuknya." kata Satria penuh cinta dan kehangatan, lalu ia berbicara sekali lagi dan menutup ponselnya.


ia memesan makanan lalu memakan nya dengan tenang, kemudian setelah selesai ia segera kembali ke kantor perusahaan.


"t-tuan!." ucap seseorang tergagap


"ada apa?! kenapa wajah mu pucat?." tanya Satria menaikan alisnya


"d-disini baru saja terjadi perkelahian antara preman dengan tuan Farel!." kata karyawan tersebut


"apa?!." Satria segera menuju ruangan Farel, lalu mengecek keadaan nya


"Farel! apa yang terjadi disini?!." kata Satria tegas, lalu Farel menunduk dengan takut


"saya juga tidak mengerti tuan, tiba-tiba saja beberapa preman mencoba menerobos masuk, dan mengacak-acak semua meja karyawan, ia juga membawa sekretaris Emily." ucap Farel panik, ia takut Satria marah besar


"bagaimana bisa semua itu terjadi?!." Satria bergegas pergi ke gerbang depan untuk melihat para penjaga di sana.


"bangun! cepat bangun!!!!!." ucap Satria menendang kaki beberapa penjaga itu, lalu penjaga tersebut sadar dan segera berlutut dihadapan Satria


"mengapa kalian malah sibuk tidur disini?!!!!! sementara kantor mengalami kekacauan akibat kalian lalai mencegah preman-preman itu masuk!!!!." kata Satria, para penjaga itu menyaksikan kemarahan Satria dengan tubuh yang gemetar, keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.


"m-maafkan saya tuan, s-saya sudah berusaha untuk mencegah nya tetapi mereka lebih kuat dari pada saya." kata penjaga itu

__ADS_1


"b-benar tuan, maafkan kebodohan kami." sahut penjaga lain


"dasar bodoh! mulai hari ini bereskan semua barang-barang kalian!!! dan jangan pernah kembali ke perusahaan ini!!!." kata Satria emosi, ia meninggalkan penjaga tersebut yang sedang memohon kepadanya agar tidak dipecat.


disisi lain, Emily meminta para penjahat itu untuk mengirimkan lokasi mereka saat ini, ia tahu Satria akan datang untuk menyelamatkan nya.


benar saja, Satria datang menaiki mobil mewah yang berwarna perak itu, aura ketampanan nya sangat terlihat dan mempesona, tetapi Emily sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki yang sekarang menjadi bos nya itu! semua yang ia lakukan semata-mata hanyalah untuk balas dendam.


"jangan lupa, serang laki-laki itu bahkan sampai dia lumpuh sekalipun!." pinta Emily pada para preman itu, kemudian ia kembali bersikap seolah dirinya sedang di sandra.


"tuan! tolong saya!." teriak Emily, ketika Satria keluar dari dalam mobil, Emily sedikit terkejut karena ternyata Satria tidak datang sendiri melainkan datang bersama dengan Farel.


"sial! laki-laki itu selalu mengintil seperti buntut tikus!." gumam Emily kesal, namun baginya tak masalah, yang terpenting Satria harus celaka!


Farel melawan ketiga preman itu dengan begitu hati-hati, sementara Emily terlihat ditinggal sendirian dengan kedua tangan terikat oleh kursi, Satria mendekati Emily, berusaha ingin menolongnya namun tiba-tiba seseorang memukul dirinya dari belakang dengan kayu, Satria terjatuh dan sedikit kesakitan, tetapi ia bangkit lalu melawan preman itu.


ketika preman itu jatuh dan merasa tak berdaya, Satria segera membuka tali yang terikat pada tangan Emily.


"t-tuan!." teriak Emily kemudian memeluk Satria, ia berpura-pura merasa sangat takut, Satria sangat terkejut saat Emily memeluknya, ia tidak tahu kalau Emily diam-diam ingin menancapkan sebilah pisau ke punggung Satria, namun sayangnya Farel berhasil menangani preman itu dan berlari menghampiri Satria, cepat-cepat Emily melempar pisau itu menjauh agar keduanya tak mencurigai rencana Emily yang sebenarnya.


"Emily! kau akan baik-baik saja." kata Satria, kemudian dia mengisyaratkan Farel untuk mengurus Emily


waktu sampai di rumah, Adinda terkejut melihat pakaian suaminya yang sedikit kusut, wajahnya lesu seperti habis menjalani tugas berat, belum lagi ia pulang terlalu cepat.


"mas, apa yang terjadi dengan mu?." kata Adinda, ia membantu membawakan tas suaminya dan mencopot dasi yang Satria kenakan


"aku tidak apa-apa sayang, jangan khawatir. dimana Arkan?." tanya Satria mencari-cari putra kecilnya


"ayah." sebut Arkan, ia berlari menghampiri ayahnya, melihat kelucuan dan kepolosan sang anak, Satria segera menggendong Arkan kedalam pelukan nya.


"Arkan, gendong sama bunda aja ya nak? ayah kamu pasti capek." kata Adinda mengkhawatirkan suaminya


"sayang, aku baik-baik saja, biarkan aku menggendong nya sebentar." kata Satria kemudian di anggukan pelan oleh istrinya


"ayah punya hadiah buat kamu, ayo kita membukanya di kamar." ajak Satria pada Arkan, mereka menuju kamar atas diikuti oleh istrinya


saat dibuka betapa bahagia nya Arkan melihat mainan itu, sebuah robot besar yang bisa dikendalikan dengan remot, Adinda hanya tersenyum melihat keduanya.


"oh iya, mas juga membelikan nya untuk Selina." kata Satria

__ADS_1


"biar aku yang akan memberikan nya pada Selina." ucap Adinda ingin mengambil hadiah itu namun Satria melarang nya


"tidak usah, aku akan meminta Desi untuk memberikan nya ke Selina, sekaligus membawa Arkan bermain." kata Satria, kemudian tak lama Desi datang mengambil Arkan dan hadiah tersebut


"mas akan pergi mandi sebentar." ucap Satria ingin bangkit dari ranjang tetapi Adinda mencegahnya


"aku bahkan belum selesai bicara, tapi mas sudah ingin meninggalkan ku." balas Adinda tanpa menatap suaminya


"Adinda, mas sudah katakan kalau mas baik-baik saja." ucap Satria berjongkok dihadapan istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang, Satria memegang tangan Adinda dengan lembut.


Adinda memperhatikan suaminya dan mencium aroma parfum yang tak biasa.


"tatap mataku dan katakan kalau mas sedang tidak berbohong." ujar Adinda, tetapi Satria diam dan tak berani menatapnya, seketika Adinda melepas genggaman suaminya dan bergegas pergi


"Adinda?! bukan seperti itu maksudnya." kata Satria meneriaki istrinya, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu segera pergi mandi agar tubuhnya merasa sedikit lebih segar.


setelah mandi Satria mencari istrinya, dan menemukan Adinda berada ditepi balkon. Satria memeluk tubuh mungil Adinda dari arah belakang dan berkata dengan nada yang sangat lembut


"sayang, maafkan aku." ucap Satria, hal itu membuat Adinda menghela nafasnya panjang dan menatap Satria dalam-dalam


"katakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya?." ucap Adinda, lalu Satria menjelaskan nya


"apa sesulit itu mas menceritakan nya padaku? apa aku tidak layak mengetahui masalahmu?." tanya Adinda, bola matanya seketika menggenang air mata, entah kenapa perasaan nya sekarang jauh lebih sensitif dari pada sebelumnya


"hei, dengarkan aku, aku hanya tidak ingin kamu khawatir akan hal itu, jangan menangis ya." ucap Satria memegang pipi Adinda dengan kasih


"lalu, kenapa pakaianmu sangat bau parfum wanita? apa yang kamu lakukan mas?!." kata Adinda, Satria sangat terkejut mendengar kata-kata istri tercintanya


"a-aku, aku hanya menolong wanita itu tetapi ia justru memeluk tubuhku, tapi kau tenang saja, aku sama sekali tidak membiarkan dia bertahan lama." kata Satria mencoba meyakinkan istrinya, detik itu juga Adinda pergi menjauh, ia merenung sembari duduk di ranjang tidur.


"sayang, mas kan sudah menjelaskan nya padamu, tolong jangan marah." kata Satria, Adinda menatapnya dengan sedih lalu menangis


"mas kenapa menerima pelukan itu, mas tahu kalau aku sangat cemburu, mas tahu aku sangat sensitif tentang wanita yang selalu ada dalam setiap kegiatanmu." ucap Adinda, ia merasa kepalanya saat ini sangat pusing dan rasa mual mulai menyelimuti tubuhnya.


Adinda mulai menutup mulutnya dengan tangan, dan memuntahkan sesuatu yang tak bisa dikeluarkan.


"Adinda! kamu kenapa?!." Satria memegang wajah pucat Adinda dengan khawatir, lalu perlahan-lahan Adinda mencengkram bahu suaminya dan memejamkan mata, Satria menyadari hal yang dialami istrinya, ia ingin mengambil segelas air hangat namun Adinda pingsan


"sayang! sayang!!!." panggil Satria, ia menaikkan tubuh Adinda ke ranjang dengan benar dan menghubungi dokter kepercayaan Anggara untuk datang

__ADS_1


__ADS_2