Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Cepatlah kembali


__ADS_3

"Apakah keadaanmu sudah benar-benar jauh lebih baik ? atau masih ada yang sakit ?." Satria memegang bahu istrinya dan mengecek beberapa bagian tubuh itu layaknya seorang dokter.


"Aku sudah jauh lebih baik, ada apa ? kenapa sampai bicara disini jika hanya ingin menanyakan hal itu ?." Adinda memandangi wajah Satria dengan cermat.


"Huh, aku harus pergi nanti malam, aku sudah berusaha keras untuk menunda sedikit jadwalnya tapi mereka tidak mau, padahal aku tidak ingin meninggalkanmu." Jawabnya.


"Ya ampun, soal pekerjaan ? tidak apa-apa kok, aku kan ada Mama, ada Kak Selin, ada anak-anak juga." Kata Adinda.


"Tapi aku tidak ingin meninggalkanmu, aku khawatir mereka tidak bisa menjagamu dengan baik." Satria menempelkan dagunya di bahu Adinda, sehingga Adinda mengacak rambut suaminya dengan tawa ringan.


"Memangnya berapa lama kau akan pergi ? dan kemana ?."


"Aku akan pergi selama tiga hari, maaf sekali lagi tapi aku menjalankan bisnis diluar negri, k-kau jangan khawatir, ini hanya sebentar, aku berjanji padamu, aku akan kembali pulang dan melihat wajahmu lagi." Ucap Satria meyakinkan.


"Sebentar atau lama jika soal pekerjaan pun aku tidak masalah Mas, kau bahkan pernah pergi lebih lama dari pada ini, lantas kenapa sekarang kau sangat khawatir ? apa karena masih tentang kejadian kemarin ?." Kata Adinda.


"Tidak juga, memang sepertinya kali ini berat sekali untuk pergi terlalu jauh darimu, jika aku tidak ada, siapa yang akan menjagamu ? dengan siapa kau akan berpergian ?." Satria berpikir keras, kemudian menghubungi seseorang.


"Apa kau sedang sibuk ?." Tanya nya.


"Tidak Tuan, semua pekerjaan telah selesai, apa ada yang ingin anda tanyakan ?." Ucap seorang disebrang telepon.


"Farel, aku baru saja akan menjalankan bisnis keluar negri sekitar tiga hari, kau tahu kan istriku baru saja sembuh, dan aku tidak mungkin meninggalkan nya sendirian, memang banyak sekali orang yang dapat diandalkan jika aku memintanya, tetapi aku hanya percaya padamu. aku tidak bisa menunda pekerjaan ini, dan aku sangat meminta bantuan mu untuk menjaga istriku, kau tak perlu khawatir, aku pasti akan membayar gaji mu berkali-kali lipat jika kau bisa membantuku dengan baik." Pria itu menjelaskan seraya memijit keningnya, sementara Adinda diam sambil memperhatikan suaminya bicara.


"Anda tidak perlu cemas begitu Tuan, saya dengan senang hati membantu jika anda merasa sedikit kesulitan." Jawab Farel.


"Terimakasih, tolong jaga istriku selama aku pergi, soal pekerjaan kau bisa kirimkan semuanya padaku, lakukan semampu mu di kantor, istriku paling penting." Ucap Satria lagi.


"Baik Tuan, semoga berhasil." Kemudian Satria menutup telepon dan berbalik memandang istrinya dengan cemas.


"Mas.."


"Adinda, Mas mau Farel yang menjaga kamu selama Mas pergi, kamu tahu dia orang yang baik, dan aku percaya padanya." Pinta Satria.


"Tapi Mas, tanpa kau meminta dia untuk menjagaku pun, masih banyak orang lain yang akan menjagaku, seperti Mama." Balas Adinda.


"Sayang, kau harus mengerti betapa khawatirnya aku, atau aku tidak akan pergi untuk menjalankan pekerjaan ini." Satria meletakkan ponselnya di atas meja.


"Baiklah, aku akan menyiapkan semua yang kamu perlukan, apa kau juga ingin aku mengantarmu nanti malam ?." Kata Adinda.


"Tidak, kau tidak perlu mengantarku, sekarang ayo kita bermain dulu dengan Arkan dan Agatha." Pria itu merangkul pinggang istrinya dan menuju ke kamar anak-anak mereka.


"Ayah ! Bunda ! kalian mau kemana ?." Tanya Arkan.


"Sayang, Ayah harus pergi nanti malam, tiba-tiba saja ada pekerjaan yang mendesak, jadi Ayah ingin bermain dulu denganmu sebelum pergi." Ucap Adinda menjelaskan dengan lembut.

__ADS_1


"Ah begitu ya. Ayah ! bawakan aku hadiah jika kau sudah kembali." Pinta si anak kecil.


"Ayah selalu membawakan hadiah untukmu, jadi jangan khawatir, tapi tentu saja ada syaratnya." Arkan segera mendekati sang Ayah dan mengangguk seakan dia hafal dengan syarat tersebut.


"Aku tidak boleh nakal, dan harus menjaga Bunda serta adikku kan ?." Ucapnya.


"Pintar ! itu yang Ayah maksud, jadi jangan nakal ya, kalau Bunda mengadu kepada Ayah tentang kenakalan mu, maka hadiah itu akan Ayah berikan pada orang lain." Ujar sang Ayah.


"Oke ! aku berjanji tidak akan nakal !."


"Agatha, Ayah pasti akan merindukanmu, jangan rewel ya." Satria menggendong dan mencium putri mereka, ia terus mengajak anak-anaknya mengobrol sambil tertawa riang.


Setelah itu anak-anak pun tertidur, Satria dan Adinda kembali ke kamarnya.


"Aku lihat wajah Agatha begitu senang ketika bermain denganmu." Kata Adinda.


"Iya, aku berusaha memberi mereka sedikit kebahagiaan kecil sebelum aku pergi nanti malam." Jawab Satria tersenyum lagi.


"Tapi Mas..." Adinda ingin mengungkapkan sedikit kegelisahan dihatinya, namun ia diam dan tak berkata apapun.


"Ada apa ? kok wajahmu mendadak berubah ?." Pria itu memandangi Adinda untuk meyakinkan ekspresi wajahnya.


"Ah tidak, aku siapkan semuanya dulu untukmu." Adinda segera berdiri dari ranjang, kemudian membawakan beberapa pakaian untuk suami tercinta nya.


"Aku minta sama kamu, jangan lupa waktu saat bekerja, aku benci jika suamiku lalai menjaga pola makan nya." Adinda menegaskan.


Tringg..tring


"Ponsel mu ? siapa yang menelepon malam-malam." Matanya langsung menyorot tajam.


"Belum tahu Mas, aku angkat dulu ya sebentar." Adinda hendak menyingkir sedikit dari Satria, tetapi pria itu menariknya agar mendekat.


"Siapa ? angkat telepon saja sampai menjauh dariku." Kata pria itu lagi.


"Astaga bukan siapa-siapa kok, cuma Monic." Adinda tertawa ringan melihat kecemburuan Satria.


"Monic ? mau apa dia menghubungi mu malam-malam ?." Gumam sang suami. Adinda pun akhirnya menekan tombol hijau dilayar ponselnya.


"Halo Monic, ada apa ?." Kata Adinda.


"Syukurlah kau mengangkat, aku pikir kau sudah tidur." Balas Monic.


"Belum, aku baru saja membereskan pakaian suamiku." Sahutnya.


"Suamimu ? memang kalian mau pergi ?." Monic bertanya.

__ADS_1


"Tidak, hanya suamiku yang pergi, dia ada pekerjaan sedikit diluar negri, ada apa Monic ? apa kau membutuhkan sesuatu ?." Adinda berbicara sambil berbalik dan duduk di ranjang dekat Satria.


"Bisakah kita pergi besok ? lusa nanti aku akan ada acara bersama suamiku, jadi aku mau membeli banyak sekali barang untuk dipakai, kau kan punya selera yang bagus, bagaimana kalau kau saja yang memilihkan barangnya untukku." Pinta Monic.


"Hem begitu ya, tapi anak-anakku..."


"Jangan khawatir ! bawa saja mereka ! aku akan menjaga Arkan, dan kau menjaga Agatha, gimana ?." Ucap Monic lagi.


"Akan aku pikirkan." Kata Adinda.


"Ayolah, bantu aku, aku tidak mau terlihat seperti wanita udik, kumohon, carikan aku pakaian dan barang-barang yang bagus." Monic memohon.


"Iya Monic, aku harus izin dengan suamiku dulu, besok aku kabari ya." Adinda menutup telepon dan meletakkan nya dimeja.


"Mau apa dia ?." Tanya Satria.


"Monic meminta bantuan ku untuk memilihkan nya beberapa barang karena dia ada acara lusa nanti, bolehkah aku pergi membawa anak-anak ?." Adinda bertanya perlahan.


"Bersama anak-anak ? apa kau bisa menjaganya ? mungkin kau akan sibuk membantu Monic, aku sedikit khawatir jika kau pergi sendirian." Satria memegang keningnya dan meminta Desi serta Selin untuk menemani istrinya pergi.


"Aku janji akan menjaganya, tidak akan lalai sedikitpun." Kata Adinda.


"Aku tahu ini urusan wanita, aku tidak mungkin meminta Farel untuk menemanimu pergi, jadi aku akan meminta Desi dan Selin pergi bersamamu, ya ?." Satria memegang tangan Adinda kemudian mengecup punggung tangan tersebut.


"Menurut lah, ini semua demi dirimu, aku hanya ingin kau baik-baik saja." Adinda segera mengangguk dan tersenyum senang.


"Terimakasih karena mengizinkan aku pergi ! kau memang yang terbaik."


Beberapa jam kemudian, Satria telah bersiap untuk pergi, ia juga membawa koper untuk dimasukkan ke dalam mobilnya.


"Hati-hati selama diperjalanan, jangan lupa beri kabar pada istrimu, cepatlah pulang dan jangan lupakan makan." Ucap Tania Anggara.


"Baik Ma ! aku akan mendengarkan nasihatmu." Satria tersenyum senang, lalu ia mendekati istrinya lagi, sambil memegang tangan nya, meraih pinggang nya, dan mengecup bibir itu dihadapan ibunya.


"Kau harus menjaga dirimu dengan baik, jika membutuhkan apapun, mintalah pada Farel, ingat Adinda, kau tidak boleh pergi sendirian, kau harus pergi bersama Farel, aku hanya percaya padanya, berjanjilah untuk menungguku sampai kembali." Kata Satria lembut.


"Aku berjanji akan selalu menunggumu, kau juga jaga diri baik-baik ya, makanlah yang teratur, aku akan menuruti semua perkataan mu, termasuk pergi bersama Farel kemanapun yang ingin ku tuju." Adinda memeluk suaminya kemudian membenamkan wajahnya dipundak yang harum tersebut.


"Cepatlah kembali, aku akan merindukanmu." Ia mengeratkan pelukan nya dan terus membenamkan wajah itu, walaupun hatinya sedikit gelisah, Adinda juga berusaha untuk menghilangkan nya.


"Aku akan memberikan suatu hal yang tidak akan pernah bisa dilupakan saat aku pulang nanti." Suara bisikan yang begitu lembut membuat hatinya jauh lebih tenang, dan wanita itu mencium bibir Satria dalam beberapa waktu.


"Aku mencintaimu ! aku sangat mencintaimu." Ujar Adinda.


"Aku juga mencintaimu sayang, segera aku hubungi ketika aku sampai, aku pergi dulu." Satria melepaskan pelukan nya dengan enggan, lalu ia berjalan menuju mobil, tak lama langkah kakinya terhenti, sedikit menoleh ke belakang dan kembali memeluknya lagi.

__ADS_1


"Kau belahan jiwaku, tolong jaga dirimu ya." Dengan cepat Adinda mengangguk, dirinya melepaskan pelukan itu dan membiarkan Satria masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati dijalan Mas, semoga usahamu berhasil !." Keduanya saling melambaikan tangan dan tersenyum.


__ADS_2