Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
jalan jalan bareng Arkan


__ADS_3

beberapa jam kemudian..,


"lama lama bosan juga cuma diam aja di kamar, aku keluar aja deh sama Arkan." Adinda menuju kamar Arkan dan membawa nya pergi keluar menuju taman


"Arkan main disini aja ya sama bunda." kata Adinda membantu Arkan untuk berjalan kecil, karena usia nya yang sudah menginjak 1 tahun, Arkan pun sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit


"da da." kata Arkan


"kamu lihat apa nak?." ucap Adinda menatap tangan Arkan yang sedang menunjuk nunjuk ke arah atas


"kamu lihat balon ya? iya nanti kita beli ya sayang sama ayah." kata Adinda


"yayah." ucap Arkan


"semoga nanti Arkan jadi anak yang baik ya, jadi laki laki yang bertanggung jawab, buat bunda sama ayah bangga." gumam Adinda


"kamu disini nak?." tanya Tania Anggara yang datang tiba tiba


"eh mah, iyaa aku disini." jawab Adinda tersenyum


"Arkan, sudah makan belum cucu nenek." tanya Tania menunduk ke arah Arkan


"sudah ma, Arkan sudah makan tadi disuapin Desi." kata Adinda


"syukurlah, sesekali ajak suami mu berjalan jalan, bawa Arkan ke taman anak anak, dia pasti senang." pinta Tania


"iya mah, lain kali aku akan ajak Satria untuk jalan jalan sama Arkan." kata Adinda


"nah gitu, jangan cuma sibuk sama pekerjaan nya aja, tapi harus kasih waktu untuk keluarga juga." ucap Tania


"iya mah, akhir akhir ini kan Satria memang kelihatan sibuk banget, mungkin aja dia lagi pusing ngurusin pekerjaan di kantor makanya tidak sempat berjalan jalan dengan ku dan Arkan." ucap Adinda


"mama tahu, tapi kamu jangan diam saja, jika begini terus Satria bisa melupakan kalian sebagai harta yang paling berharga." kata Tania


"gak mungkin lah ma Satria kaya gitu, aku yakin dia kali ini emang sibuk, kalau kesibukan nya selesai dia pasti ajak aku pergi ko, mama tenang aja ya." kata Adinda


"ya sudah, mama ajak Arkan ke kakek nya ya, kata nya mau makan siang ditemani Arkan." ucap Tania lagi


"oh ya sudah ma kalau begitu." jawab Adinda tersenyum

__ADS_1


menjelang sore hari, Satria pun pulang ke rumah.


ia segera mencari keberadaan istri nya seperti dulu


"istri ku mana?." tanya Satria pada Desi


"seperti nya di dapur tuan." jawab Desi, Satria segera menaruh tas nya di ruang santai dan menghampiri Adinda di dapur


"kau sedang apa sayang?." kata Satria memeluk Adinda dari belakang


"eh Satria, kamu sudah pulang? aku cuma lagi bikin jus aja, kamu mau? biar aku bikinin." kata Adinda


"kenapa ga nyuruh pelayan aja? nanti kamu kecapean lho." kata Satria


"ya ampun sayang, masa sih buat jus aja kecapean, gak mungkin kan." ucap Adinda berbalik menatap suami nya


"hmm, ya sudah temani aku ke kamar." pinta Satria


"manja dasar, ko tumben jam segini sudah pulang?." tanya Adinda seraya berjalan bersama suami nya menuju kamar


"iya, pekerjaan ku sudah beres jadi bisa pulang cepat." ucap Satria


"di bawah, biarkan saja nanti Desi yang akan bawa kemari." ucap Satria


"kamu tau tidak? sewaktu aku membawa Arkan ke taman, dia melihat balon yang terbang di atas, dia tunjuk tunjuk itu, gimana kalo kita ajak dia jalan jalan terus beli balon nya?." jelas Adinda


"hmm baiklah, 1jam lagi kita pergi, kamu siapkan diri mu dan Arkan ya." pinta Satria kemudian mengecup kening sang istri


"okee."


1jam kemudian,


"aku dan Arkan sudah siap." ucap Adinda


"ya sudah, kita jalan." Satria menggendong Arkan dan menggenggam satu tangan istri nya menuju mobil


di tempat hiburan anak anak, Arkan di lepaskan agar dapat bermain dengan leluasa


"cepat sekali ya Arkan sudah bisa jalan, padahal rasanya baru kemarin aku melahirkan." kata Adinda

__ADS_1


"iya benar, waktu terasa begitu cepat." jawab Satria


"Sat? sebenarnya kamu sama Wina itu ada hubungan apa?." tanya Adinda membuat Satria bingung


"maksud mu?." ucap Satria


"waktu itu, kau membela dia sekali, sampai sampai aku terkalahkan, dia istimewa untuk mu?." ucap Adinda


"sayang, tidak ada yang lebih istimewa dari istriku sendiri, aku membela nya saat itu karena aku pikir kau yang salah telah menampar nya tanpa alasan." ucap Satria


"tapi Satria aku punya alasan kenapa aku tampar Wina, kala itu dia bilang kalau dia akan menggantikan posisi ku, dia akan merebut mu dari tangan ku Sat." kata Adinda geram, mata nya kini berkaca kaca


"Adinda, sini peluk aku." Satria menarik Adinda ke dalam pelukan nya


"aku tidak bisa jika harus kehilangan mu." kata Adinda


"tidak sayang, kau tidak akan kehilangan ku, lagi pula kenapa kau harus percaya jika Wina akan menggantikan posisi mu, kau ingat tidak? waktu itu kau mampu menghadapi Sheira, kenapa sekarang sama Wina kau lemah?." tanya Satria


"itu beda Sat, aku mampu menghadapi Sheira karena kamu mendukung ku, tapi kemarin saat aku ingin menghadapi Wina kau justru membela nya dan malah memaki ku, istri mana yang tidak lemah melihat suami tercinta nya lebih membela wanita lain." ucap Adinda


"maafkan aku ya, kau tidak usah takut posisi mu akan tergantikan." kata Satria membelai lembut rambut istri nya


"aku mau minta satu permintaan, aku harap kamu bisa penuhin itu." kata Adinda


"apa sayang katakan, aku pasti mengabulkan nya." ucap Satria


"kamu pecat Wina ya?." ucapan Adinda membuat Satria menatap istri nya lekat lekat


"apa kata mu?." kata Satria menaikan alis nya, hal itu membuat Adinda mendadak takut jika suami nya marah besar dengan apa yang dia mau


"ka-kalau kamu keberatan gapapa ko." ucap Adinda mulai berdiri untuk beranjak pergi, namun tertahan oleh tangan suami nya


"hei sayang, ko ngambek sih? aku kan udah bilang aku pasti kabulkan apapun yang kamu mau." ucap Satria


"artinya? kamu mau pecat Win..."


"iya, aku akan pecat dia, kamu jangan berfikir apa apa lagi ya, bisa stres nanti." ucap Satria memeluk istri nya


"makasih ya kamu mau turutin permintaan aku." ucap Adinda

__ADS_1


"sudah seharusnya sayang." kata Satria


__ADS_2