
'ARKAN DIKA ANGGARA'
'ZELINE AGATHA'
"Sekarang kau mengertikan bagaimana caranya mengelola bisnis ?." Tanya Satria.
"Aku tahu, Ayah tak perlu khawatir lagi, aku akan menjalankan nya sebaik mungkin." Arkan tersenyum.
"Baguslah, yasudah kau istirahat sekarang." Satria menepuk bahu putranya lalu pergi.
"Kau sudah pulang ?." Agatha datang tiba-tiba.
"Ya, baru saja." Arkan segera masuk kedalam kamarnya.
"Kadang baik, kadang menyebalkan." Agatha menuju kamar, baru saja duduk ponselnya sudah berbunyi.
"Ada yang penting ?." Ia menempelkan ponsel tersebut ditelinga nya.
"Kami akan kumpul malam ini, jangan lupa datang ya." Ucap teman Agatha.
"Malam ini ?! oh ya ampun, aku lelah sekali." Agatha membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Ayolah, kau sangat sulit ditemui, malam ini saja ikut denganku untuk bersenang-senang."
"Beritahu lokasinya nanti malam, aku akan datang." Ia mematikan telepon lalu memejamkan mata sejenak.
"Rasanya malas, tapi aku tahu ini tak bisa ditolak, mereka pasti akan mencari seribu alasan agar aku mau menemuinya." Kata Agatha.
Saat malam datang, Agatha bersiap dikamarnya, tak lupa memoles wajah cantik itu dengan makeup yang cukup natural.
ketika selesai dirinya langsung bergegas menuju mobil dihalaman depan.
"Agatha ingin kemana malam-malam begini." Pikir sang Nenek, dia melihat cucu perempuan nya menaiki mobil dari jendela kamar.
...
"Agatha mana ?." Tanya Jess pada Hana.
"Aku datang sendiri, mungkin sebentar lagi dia datang." Jawab Hana.
"Hai ! maaf ya terlambat." Agatha memeluk teman nya satu persatu.
"Sendiri aja nih ?." Ucap William.
"Pastinya dong, tidak mungkin aku datang membawa Kakakku." Ia tertawa kecil.
"Lama banget loh kita tidak berkumpul." Ucap Jess.
"Iya sih, tapi mau bagaimana ? semua orang pasti punya kesibukan mereka masing-masing." Balas Erlita.
"Aku sebenarnya ada jadwal kantor malam ini, tapi demi kalian bolos dulu satu hari." William tertawa.
"Hahaha ! tukang bolos." Ledek Hana.
"Dia juga sering mengajakku bolos bersama saat sekolah, tapi aku terus menolaknya." Kata Roy.
"Bagus ! sudah seharusnya kau menolak kan ? pikiran dia itu sudah tidak karuan dari lahir." Ucap Adinda, yang lain mendengarnya tertawa geli.
__ADS_1
"Kau bisnis apa ?." Tanya William.
"Ingin mengembangkan toko roti, aku pandai membuatnya." Ucap Agatha percaya diri.
"Benarkah ? lain kali kita harus masak bersama, iya kan teman-teman ?." Semua orang mengangguk.
"Tumben ya bar nya kosong." Kata Hana.
"Belum waktunya Hana, tidak usah dimasalahkan." Jawab Jess.
"Tunggu disini, aku akan mengambil beberapa botol wine." William pergi, sebelum akhirnya kembali membawa minuman alkohol tersebut.
"Ayo minum." Pinta William.
"Kalian minum saja, aku tidak pandai minum alkohol." Ucap Agatha.
"Agatha, kita kesini untuk bersenang-senang loh, ayo minum dong." Ajak Jess.
"Jangan dipaksa dong Jess, nanti dia muntah." Ucap Hana.
"Tidak akan, ayo minum, aku menjamin nya." Jess menyodorkan gelas itu pada Agatha.
"Dikit juga tidak masalah kok." Roy.
Dengan terpaksa Agatha menenggak wine tersebut, matanya terpejam karena rasanya sangat aneh.
"Aku lebih suka Red Velvet dibandingkan ini." Perkataan Agatha membuat semua teman nya tertawa.
"Tempat nya berbeda." Sahut William.
Mereka terus minum wine itu tanpa henti, bercerita banyak hal, tertawa bersama, sampai tak sadar sudah berapa kali Agatha disodorkan gelas tersebut.
"Seperti gempa bumi." Agatha memegang kepalanya.
"Sunami ? apa langit diluar sudah terbelah ?." Tanya Jess.
"Hah ? langit selembut donat ya sampai terbelah ?." Hana bicara sebelum ia pingsan disofa.
Agatha berdiri dengan penuh usaha agar kakinya berjalan dengan seimbang, ia hendak memasuki toilet.
William melihat Agatha berjalan didepan nya, sehingga dia secara tak sadar mengikuti wanita itu.
"Sayang, mau kemana ?." Kata William memeluk Agatha dari belakang.
"Hem, toilet." Kepala Agatha sangat sakit, ia berjalan sampai menabrak dinding.
"Ah !." Tubuhnya terjatuh, William pun jatuh bersamanya.
"Aku mendengar suara itu, keluarkan lagi." William memegang pipi Agatha.
"Hem." Agatha tak mampu bicara, rasanya sudah sangat mual.
"Ayo sayang keluarkan suaramu lagi, itu terdengar menyenangkan." William menekan tangan Agatha, wanita itu mendorong-dorong William agar menjauh.
"Panas ! air, aku butuh air." Agatha mendorong William lagi, namun pria itu justru semakin mencengkram nya dengan kuat.
"Hewan apa ini ?." Agatha menyangka ada hewan yang menggigit tangan nya, padahal William yang menekan nya sangat kuat.
"Sakit ! pergi ! pergi !." Agatha bergurau.
"Bajingan ! kau apakan wanita ini !." Seorang pria datang dan langsung meninju William sampai pingsan.
__ADS_1
"Nona, kau baik-baik saja ?." Pria itu ingin membantu Agatha berdiri, tetapi ia malah menyandarkan kepalanya didepan dada pria tersebut.
"Nona, kau terlalu banyak minum alkohol." Ia menepuk wajah Agatha berulang kali untuk menyadarkan nya.
"Air." Kata Agatha meminta air.
"Baik, tunggu disini, jangan kemana-mana." Pria itu ingin pergi mencari air lalu saat baru saja hendak berdiri, Agatha kembali menariknya.
"Hoeeek." Pria langsung terkejut, ia melihat bajunya kini basah akibat dimuntahkan.
"Nona ?! Nona ?! kau dengar aku ?." Tanya si pria.
"Hubungi Kakakku, tolong." Setelah bicara demikian Agatha pun pingsan.
"Belum sempat memberitahuku siapa Kakaknya sudah pingsan duluan." Dia membuka dompet Agatha kemudian menemukan alamatnya disana.
Sang pria segera mengangkat tubuh itu dan keluar menuju mobil.
Mereka berdua melaju sangat cepat, sementara itu dikediaman Anggara, Arkan sibuk mencari Adiknya dikamar.
"Dimana Agatha ? malam-malam begini apakah dia tetap keluar ?." Gumam Arkan.
"Arkan, beberapa jam yang lalu Nenek melihat Agatha pergi mengendarai mobil." Ucap Tania.
"Pergi ? dengan siapa ?." Tanya Arkan.
"Nenek hanya melihat dia pergi sendiri." Balas Tania.
"Keterlaluan anak itu." Arkan berjalan cepat keluar, saat buka pintu matanya melihat sebuah mobil yang sedang diperiksa didepan gerbang.
Arkan memberikan kode kepada satpam agar memberikan mobil itu jalan.
"Mobil siapa ini ?." Arkan memperhatikan mobil hitam yang kini berhenti tepat didepan nya, tak lama keluarlah seorang pria dari dalam, lalu ia membuka pintu disebelahnya.
Terlihat jelas dan sangat jelas ! itu Adiknya.
Arkan mengepalkan tinju dan menarik kerah pria tersebut.
"Apa yang kau lakukan pada Adikku ?!!!!." Emosi Arkan sangat tersulut karena ia melihat Agatha pingsan didalam mobil.
"T-tunggu sebentar ! jangan salah paham." Pria itu berusaha meredamkan emosi Arkan.
"Aku menemukan Adikmu didalam bar, aku melihatnya dengan jelas kalau dia sedang dipaksa oleh seorang laki-laki, dia bahkan menjerit kesakitan karena tangan nya ditekan oleh orang itu, aku yang membantunya." Arkan mengernyit, sebelum akhirnya dia kembali angkat bicara.
"Jangan main-main padaku, apa buktinya kau menyelamatkan dia ?!." Kata Arkan marah.
"Kau bisa melihat CCTV disana, ini kartu namaku, kau bisa mencariku dan melakukan apa saja yang kau inginkan jika aku berbohong." Arkan mengambil kartu nama itu, lalu melewatinya dengan malas.
Ia menggendong Agatha masuk kedalam, tak lupa meminta orang yang menyelamatkan Adiknya untuk pergi.
"Kau bisa pergi, tapi jika aku tak menemukan bukti apapun didalam rekaman CCTV itu, sampai ujung dunia pun akan aku cari jejakmu." Suara yang dingin dan mendominasi keluar dari mulutnya.
"Baik, aku akan pergi."
Dikamar, Arkan meletakkan Adiknya penuh hati-hati. ia juga mencium aroma alkohol yang sangat kuat.
"Gadis nakal ! setelah kau bangun, akan aku beri pelajaran." Arkan membukakan high heels Agatha, dan ia membuatkan segelas susu agar menghilangkan mabuknya.
"Ayo Agatha minum." Arkan memaksa mulut yang tertutup itu untuk minum.
"Jangan lakukan ini lagi, aku akan mencari orang yang berusaha melecehkan Adikku." Dengan tangan terkepal, ia mencium kening Agatha lalu menyelimuti nya.
__ADS_1
"Leonard Anwilson." Yang tertulis dalam kartu nama.