
"Agatha ?! kau baik-baik saja ?." Tanya Greg khawatir.
"Em, ya. Sangat baik." Agatha mengangkat tubuhnya dan membantu Greg berdiri.
"Maaf aku terlalu ceroboh." Kata Agatha tak berani menatap Greg.
"Tidak masalah, tapi lain kali harus hati-hati." Greg mengangkat wajah Agatha dan merapihkan rambutnya lagi.
"Ini pengalaman pertamaku dalam menembak, jadi mungkin rasa senangnya berlebihan." Agatha tersenyum malu.
"Ini juga pengalaman pertamaku mengajarkan seorang wanita." Agatha terkejut.
"Benarkah ?! jadi aku wanita pertama yang kau ajarkan ?! atau jangan-jangan aku juga yang pertama datang kerumah ini ?!." Agatha melotot.
"Benar, hanya kamu." Greg tersenyum, manis sekali.
"Kenapa baru aku ? apa kau tidak mengajak wanitamu datang kemari ?." Agatha.
"Aku belum punya wanita." Perkataan Greg lagi-lagi membuat Agatha tak percaya.
"Bohong ! mana mungkin pria sepertimu tak memiliki wanita satupun." Balasnya.
"Karena menurutku semua wanita tidak ada yang menarik." Greg memandangi wajah Agatha tanpa berkedip.
"Aku ?." Agatha menatap mata Greg.
"Kecuali kau." Agatha tertawa geli, lalu memukul tangan Greg.
"Buaya ! kau pandai sekali merayu." Kata Agatha.
"Argh." Greg sedikit kesakitan, lalu Agatha menghentikan pukulannya.
"A-apa aku memukulmu terlalu keras ?." Greg menggeleng, kemudian membuka jaketnya dan memperlihatkan bekas gigitan yang mulai membengkak.
"I-ini bekas gigitan ku." Agatha menggigit bibirnya sendiri dan memegang tangan Greg.
"Aku tak mengira akan bengkak seperti ini." Greg meringis kesakitan.
"Dimana kotak obat ? biar aku obati lukamu." Agatha berdiri dan menunggu jawaban Greg.
"Tidak usah, nanti pasti sembuh sendiri." Greg menjawab.
"Baiklah akan aku cari sendiri juga." Agatha keluar dari ruang khusus latihan menembak itu dan pergi mencari kotak obat.
"Kau cari apa ?." Leonard sudah menunggu Agatha didekat tangga.
"Kau tau dimana kotak obat ? aku membutuhkannya." Ucap Agatha.
"Aku tau persis dimana kotaknya karena ini rumahku." Leonard tertawa kecil.
"Ayo beritahu aku." Agatha meminta Leonard mengantarkan nya.
"Diatas sana." Leonard menunjuk lemari kecil diatas kepala Agatha, ia berusaha mengambil namun kakinya tak sampai.
"Bisakah kau mengambilkan kotak itu untukku ?." Tanya Agatha.
"Maaf tapi tanganku sedang sakit." Leonard tidak ingin membantu Agatha.
"Kau berjinjit saja." Agatha menurut lalu berjinjit untuk meraih lemari kecil itu.
Tiba-tiba Leonard melingkarkan kedua tangannya dipinggang Agatha.
"Aku memegangimu." Ucap Leonard.
"Maaf, bisakah kau melepasnya ? aku sangat tidak nyaman." Agatha berkata baik-baik tetapi Leonard hampir saja meledakkan emosinya.
"Baiklah." Leonard pergi.
Agatha berhasil membawa kotak obat dan kembali menemui Greg.
"Wajahmu pucat, lelah ?." Tanya Greg, ia memegangi wajah Agatha.
"Tidak, aku baik-baik saja." Agatha ingin berkata jujur tentang kejadian barusan, namun tak jadi karena takut Adik Kakak itu bertengkar.
"Greg berikan tanganmu padaku." Greg menurut dan membiarkan Agatha mengobati lukanya dengan baik.
"Agatha, tanganmu gemetar. Kau yakin baik-baik saja ?." Tanya Greg khawatir.
"Aku yakin." Setelah selesai, Agatha hendak mengembalikan kotak itu lagi ketempat semula, siapa sangka saat berdiri ia justru jatuh lemas dan pingsan.
PRAK !!
"Agatha ! Agatha !!." Greg segera mengangkat tubuh wanita itu kekamarnya, tak lupa ia memanggil Dokter untuk datang memeriksa.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit sampai sang Dokter tiba.
__ADS_1
"Tolong periksa dia." Pinta Greg, Dokter segera memeriksa Agatha dengan teliti.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tuan, Nona ini hanya perlu beristirahat, lagi pula dia hanya kelelahan karena belum makan, sehingga timbul pusing dan mual." Ujar Dokter.
"Baik kalau begitu terimakasih." Dokter pun pergi, Leonard segera masuk kedalam kamar Greg dan menanyakan keadaan Agatha.
"Bagaimana kondisinya ? apa dia baik-baik saja ??." Seraya ingin memegang tangan Agatha.
"Sudah kubilang jangan menyentuhnya !." Greg menarik Leonard dan mendorong Adiknya sampai terbentur dinding.
"Pergi !." Pinta Greg, Adiknya menurut.
"Aku sampai lupa belum mengajaknya makan ! Greg, bodoh sekali kamu." Ia meninju wajahnya sendiri.
Tidak lama setelah itu Agatha sadar dan melihat Greg berada disampingnya.
"Ini dimana ya ?." Tanya Agatha.
"Kamarku." Wanita itu melompat mundur.
"Jangan takut, aku tak menyentuhmu sekalipun, ada CCTV dipojok sana." Agatha melihat sisi yang ditunjuk oleh Greg.
"Maaf membuatmu repot." Agatha.
"Mau makan apa ? sebut saja." Agatha menggeleng, Greg tetap merayunya agar mau makan.
"Kasihan badanmu kalau tidak makan, nanti kurus loh." Kata Greg.
"Mau sup saja, tanpa nasi." Pinta Agatha.
"Pakai nasi, sedikit." Greg memaksa.
"Oke, hanya sedikit." Pelayan segera membawakan sup yang diinginkan Agatha, serta nasi dipiring satunya.
"Kau tidak makan juga ?." Agatha mengunyah makanan sambil bertanya pada Greg.
"Kau saja yang makan, aku tidak lapar." Greg terus memandangi Agatha.
Dua jam kemudian, ditempat lain.
Arkan merasa khawatir karena sudah malam Adiknya belum juga kembali.
"Aku tidak mengerti kenapa Agatha sampai belum pulang begini, ponselnya sama sekali tidak aktif." Ucap Arkan.
"Dia tidak tahu ya betapa khawatirnya aku, Bunda dan Ayah." Arkan kesal.
"Kita tunggu saja sampai dia kembali, setelah itu baru tanya kemana dia pergi sampai pulang malam seperti ini." Saran Selina.
Keduanya sama-sama sedang menunggu Agatha pulang, dibelakang ada pelayan membawa segelas kopi hangat untuk diberikan pada satpam dipagar. Pelayan itu tak sengaja tersandung dan menumpahkan kopi ditangan Selina.
"Aaawh !." Selina terkejut dan meniupi tangan nya.
Arkan marah pada Pelayan yang menumpahkan kopi disertai datangnya Agatha dari luar pagar, ia sengaja tidak ingin Greg mengantarnya sampai dalam, namun Greg masih menunggu sampai Agatha masuk.
"Kau bisa kerja tidak ?! kalau tangannya terluka apa kau mau bertanggung jawab ?!." Arkan memaki Pelayan, tak seperti biasanya.
"Arkan, jangan kau marahi dia seperti itu, kasihan." Kata Selina.
Agatha melewati Arkan, berharap ditegur namun sepertinya tak menyadari kalau sang Adik sudah pulang.
dia justru sibuk meniupi tangan Selina.
Agatha berjalan cepat kedalam.
"Arkan ! itu Agatha !." Kata Selina, Arkan segera menoleh ke belakang dan melihat Agatha berjalan menuju kamar.
Ia berusaha mengejar, sayang sekali Agatha lebih dulu masuk kedalam kamar dan menutup serta mengunci pintunya sekuat tenaga.
BRAKKKKK ! Cekrek.
"Agatha ! buka pintunya." Kata Arkan.
"Agatha ! Kakak ingin bicara. Cepat buka pintunya !." Arkan hampir naik pitam.
"Pergi dan jangan ganggu aku." Teriak Agatha.
"Kau ini sama sekali tidak berubah !." Arkan menendang pintu dan pergi, sementara Agatha didalam menangis.
"Kakak menjadi kasar karena Kak Selina, hiiksss..hiksss."
Besoknya, pagi-pagi Arkan mendatangi kamar Adiknya, pintu itu masih terkunci rapat.
"Agatha, belum bangun ya ?." Tanya Arkan.
"Bagaimana ? kau sudah bicara dengannya ?." Selina datang.
__ADS_1
"Belum, bagaimana tanganmu ? sudah membaik ? maaf semalam aku tak bisa bantu mengobatinya." Arkan merasa bersalah, Selina hanya tersenyum penuh rasa mengerti.
"Adikmu lebih penting dari pada aku." Katanya.
"Basi ! kau sangat menyukai apa yang dimiliki orang lain." Gumam Agatha didalam.
"Agatha, Kakak harus bekerja, kau baik-baik ya dirumah, sepulang nanti kita bicara." Arkan pamit pergi ke kantor.
Hampir seharian penuh Agatha sama sekali tak keluar, Adinda dan Satria mengira anaknya mungkin saja lelah dan butuh waktu untuk istirahat.
"Dihari ulang tahunnya, aku ingin memberi Agatha toko roti sesuai dengan apa yang dia inginkan." Kata Adinda berbicara pada suaminya.
"Aku harap Agatha bisa lebih dewasa lagi di tahun sekarang." Satria memijit kepala secara perlahan.
"Iya Mas, aku juga ingin putriku bersikap begitu." Adinda.
Sore hari Arkan pulang, ia berharap saat masuk segera menemukan wajah Adiknya, tetapi tak kunjung bertemu.
"Dimana Agatha ?." Tanya Arkan.
"Nona Agatha belum keluar kamar dari pagi tadi Tuan." Balas Pelayan.
"Baiklah." Arkan meletakkan tas diatas sofa lalu menuju kamar Agatha.
"Agatha ? kau dengar Kakak ?." Ucap Arkan.
"Tolong buka pintunya, Kakak perlu bicara." Arkan menggedor pintu itu.
"Agatha, jangan sampai kau membuat kesabaranku habis." Arkan membuka pintu ternyata pintu itu sudah tak terkunci.
"Agatha." Ia masuk ke dalam dan mencari Adiknya.
"Cepat bicara." Pinta Agatha.
"Hei, kau ini membuatku takut." Arkan memeluk Agatha kuat-kuat.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan." Sang Kakak menyadari kalau Adiknya terlihat acuh tak acuh.
"Sayang, ada apa denganmu ? jangan cemberut begini, nanti cantiknya hilang." Arkan merapihkan rambut Agatha dan mencubit pipinya.
"Aku beri waktu lima menit untuk bicara, katakan atau aku akan menyuruhmu keluar." Arkan semakin terkejut.
"Jadi tidak sayang lagi padaku ?." Kata Arkan berusaha menggoda Adiknya.
"Sisa empat menit." Kata Agatha.
"Tidak mau bertemu aku lagi ?." Ia terus mengulang perkataannya.
"Tiga menit." Arkan diam.
"Dua menit." Pria itu tetap diam.
"Satu menit, sekarang silahkan pergi." Agatha menunjuk pintu kamarnya dengan sopan.
Geregetan melihat tingkah laku sang Adik, Arkan langsung menciuminya.
"Adikku sayang, jangan marah ya." Arkan memeluk Agatha, kemudian mendekapnya selembut mungkin, dan menaruh semua kasih sayangnya pada anak itu.
"Maaf kalau Kakak salah bicara padamu, jangan menjauh begini, kau tau kan kalau aku sangat sayang padamu." Ucap Arkan.
"Lebih sayang Kak Selina dari pada aku, itu lebih tepat." Agatha melepaskan pelukan nya dan pergi ke balkon.
"Agatha, jangan berkata begitu." Arkan menyusulnya dan memeluk lagi.
"Ada apa ? cemburu lagi ? kau kan tau kalau Kakak tidak pernah membagi rasa sayang sebesar ini pada siapapun selain kau." Ucapnya.
"Bohong ! dari dulu selama ada Kak Selina, aku itu bagaikan angin ! Kakak tidak bisa melihatku ! hanya bisa merasakan keberadaan nya." Agatha bicara sambil menerka-nerka.
"Kau bicara apa ? aku tidak pernah berpikir begitu." Arkan menjelaskan baik-baik.
"Aku melihat wajahmu kesal ketika pulang tadi. Kak ?! kau tak pernah membawa masalah apapun dari luar ke dalam rumah ! bahkan kau juga tak menggubris keberadaanku. Saat Kak Selina datang, kau mengumbar senyuman untuknya ! dari dulu selalu begitu !." Agatha terus mengoceh sambil menangis.
"Aku pikir kamu sudah dewasa, ternyata belum." Ia menghela nafas dan mengajak Adiknya duduk bersama diranjang.
"Kalaupun aku menginjak umur dua puluh lima tahun, aku tetap menjadi anak kecil !." Arkan tertawa.
"Tapi itu masih terlalu jauh, umurmu baru saja dua puluh satu." Kata Arkan.
"Sekarang Kakak pergi dan jangan ganggu aku, urus saja tangan Kak Selina." Agatha membaringkan tubuhnya dikasur dan menutupi wajah dengan selimut.
"Jadi aku boleh mengurus Selina ? janji tidak menyesal ya ?." Arkan berdiri dari ranjang.
"Apapun itu aku tidak perduli lagi !." Kakaknya hanya tersenyum, ia tahu dari dulu sikap Agatha memang seperti ini pada Selina, dia tak ingin Arkan lebih dekat dengan wanita lain dibandingkan dirinya.
"Aaargh, d-dadaku." Arkan memegangi dadanya yang mendadak sakit.
__ADS_1