
"Perasaanku sangat tidak enak, dimana Arkan ?." Adinda bertanya dengan suaminya.
"Ada apa ? apa yang kau cemaskan ?." Satria menoleh kemudian menatap sang istri.
"Mas, ayo temui Arkan." Adinda mengajak Satria untuk pergi menemui Arkan dikamarnya, namun ia tidak menemukan putranya.
"Des, Desiii." Adinda memanggil Desi terus menerus.
"Ya Nyonya ? ada apa ?." Kata Desi.
"Arkan, Arkan dimana ? kenapa dia tidak ada dikamarnya ?." Tanya Adinda.
"Saya sempat melihat Tuan Arkan pergi beberapa waktu lalu, tapi saya tidak menanyakan kemana beliau pergi." Adinda merasa cemas kemudian mengeluh pada Satria.
"Mas, cari anak kamu. Aku harus tau dimana Arkan, cuma dia yang mengetahui dimana Agatha tinggal. Kita harus bertemu Agatha. Aku sangat khawatir padanya." Ucap Adinda gelisah.
"Tenanglah, aku akan mengutus seseorang untuk mencari Arkan. Kau tak usah cemas." Kata Satria menenangkan Adinda.
Tidak menunggu waktu lama, Satria mendapati keberadaan putranya disebuah rumah sakit.
"Untuk apa ? untuk apa Arkan berada disana ?." Agatha khawatir.
"Sebaiknya kita pergi kesana sekarang agar mendapatkan jawaban." Mereka berdua pergi menaiki mobil.
Setibanya dirumah sakit, Adinda berlari menghampiri Arkan.
"Arkan !." Anak itu menoleh dan terkejut melihat bundanya.
"Bunda, ada apa ? kenapa sampai datang kesini ?." Kata Arkan memegang tangan Adinda.
"Kenapa kau bertanya begitu ? seharusnya Bunda tanyakan ini padamu, kenapa kau disini ? siapa yang sakit ?." Arkan terdiam, melihat wajah Ayahnya yang menahan banyak sekali pertanyaan.
"A-aku disini karena..." Ting, terlihat lampu hijau menyala diruangan operasi.
"Ruang operasi ? tolong jelaskan sesuatu nak." Adinda memohon.
"Tuan, saat ini pasien telah berhasil menjalani operasi. Anda boleh menemuinya sekitar lima belas menit lagi." Dokter tersenyum kemudian ingin pergi.
Sayangnya Adinda tak tinggal diam, ia mencegah dokter tersebut dan menanyakan siapa yang habis dioperasi.
"Dokter, maaf kalau boleh tahu siapa pasien yang berada didalam ?." Tanya Adinda.
"Pasien kami bernama Agatha." Mendengar itu Adinda pun syok, ia jatuh tersungkur dihadapan anak dan suaminya.
"A-apa ?!." Satria terkejut.
"Apa yang terjadi dengan anakku ?." Kata Adinda, air matanya jatuh begitu saja.
"Bunda !." Arkan memegang tangan Adinda lalu berusaha memeluknya.
"Kenapa hal segenting ini tidak diberitahukan pada kami ?! kenapa Arkan ??!! kau tahu betapa aku menyayangi putriku." Kata Adinda menekankan.
"M-maafkan aku, sungguh ! sebenarnya aku tidak mau merahasiakan ini, tapi aku khawatir Bunda akan terluka." Arkan terus memeluk Adinda.
"Arkan, kau benar-benar mengecewakan kami. Bagaimana bisa Agatha menjadi seperti ini ?." Satria menatap putranya penuh amarah.
"Ayah, aku benar-benar tidak bermaksud mengecewakanmu. Kejadian ini diluar kendaliku." Arkan berusaha menjelaskan.
"Agatha, kau pasti sangat kesakitan." Adinda terus menangis membayangkan Agatha.
"Maafkan aku, kau boleh marah hingga membuas sekalipun. Pukul aku, pukul saja." Satria memijat keningnya kemudian mengurungkan emosinya sendiri.
"Jelaskan kenapa ini bisa terjadi." Arkan menjelaskan semua yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Lalu Satria berniat untuk memenjarakan Greg.
"Anak itu harus menerima akibatnya." Ia mengurus seluruh laporan kepada pihak polisi hingga Greg segera dibawa untuk menjelaskan semuanya pada pihak berwajib.
"Aku benar-benar tidak melukainya ! bagaimana bisa aku menyakiti wanita yang aku cintai." Kata Greg pada Satria.
"Jangan membual ! kau layak mendapatkan ini." Satria sudah muak mendengar semua ocehannya.
__ADS_1
"Sayang, kau pasti merasakan sakit yang berat ya ? maafkan Bunda ya karena lalai menjagamu." Adinda mengusap wajah Agatha dengan sangat lembut.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri Bunda, kau sudah memberikan yang terbaik." Kata Arkan.
"Tapi kali ini tidak." Air matanya terus jatuh ke wajah Agatha.
"Apa kita harus menunggu lama agar dia bisa tersadar ?." Kata Adinda.
"Entahlah, aku harap Agatha bangun secepat yang dia bisa." Arkan memegangi tangan Adiknya.
Tok..tok
"Arkan.." Rain datang karena diberitahu oleh kekasihnya.
"Agatha, aku sangat terkejut mendengar hal ini. Bagaimana operasinya ? berjalan lancar ?." Arkan mengangguk.
"Syukurlah, semoga ia bisa lekas pulih dan bicara banyak hal lagi." Rain menatap wajah Agatha sedih.
"Kau harus sabar dengan semua hal ini." Rain memegang tangan Arkan, lalu keduanya keluar dari dalam ruangan.
"Siapa yang mengantarmu ?." Arkan menatap Rain.
"Supir taksi, aku sangat khawatir padamu. Aku takut sekali kau menyakiti diri sendiri." Ucap Rain cemas.
"Aku baik-baik saja." Mendengar jawaban itu Rain pun segera memeluk Arkan erat-erat.
"Kau pasti belum makan, ayo duduk disebelah sana." Ia mengajak kekasihnya duduk diujung ruangan, kemudian mengeluarkan rantang makanan untuk ditunjukkan pada Arkan.
"Untukku ?." Kata Arkan.
"Iya, aku sengaja membawa ini karena aku tau kau pasti tidak akan kepikiran soal perut." Rain tersenyum kecil lalu menyuapi pria disampingnya.
"Maaf membuatmu repot." Arkan menatap Rain.
"Tidak, tidak repot. Sebaiknya setelah ini kau pulang dan beristirahat biar aku yang menjaga Agatha." Kata Rain menyarankan.
"Aku tidak akan meninggalkan Agatha." Melihat Arkan yang lelah, Rain benar-benar tidak tega.
"Aku akan lebih baik jika bersama dengan Adikku." Arkan mengunyah perlahan-lahan.
..
Butuh waktu kurang lebih tiga jam sampai Agatha terbangun, karena efek bius dari operasi.
"G-greg." Wanita lemah itu membuka mata dan melihat sekeliling ruangan.
"Sayang, ini Bunda." Adinda memegang tangan putrinya sambil mencium lembut.
"Bunda, Greg, dimana dia ?." Tanya Agatha. Adinda tidak tega jika harus memberitahukan bahwa Greg berada di kantor polisi.
"Greg tidak ada disini sejak kecelakaan itu." Agatha menatap Adinda seakan tak percaya.
"Tidak, Greg ada bersamaku saat kejadian itu. Bunda bohong kan ?." Agatha hampir menangis.
"Bunda tidak bohong, Greg memang tidak datang." Agatha hendak bangun dan melepas infusnya.
"Arkan !!! Arkan !." Adinda khawatir dan memanggil putranya.
"Bunda ! Agatha ??!!." Arkan berlari dari luar memasuki ruangan.
"Agatha hei ! jangan lakukan itu, akan berbahaya jika kau melepasnya." Kata Arkan memeluk Agatha yang marah.
"Kalian semua bohong ! disaat keadaanku lemah sekalipun bahkan tak ada satu dari kalian yang membiarkan Greg ada bersamaku ! bagaimana kalau aku mati ?!!!! apa kalian juga tidak akan mengizinkan Greg menemui jasadku ?! hahh ??!!." Agatha menangis, dan lemas.
"Agatha jangan bicara begitu nak." Adinda menangis.
"Kebahagiaanku tak ada artinya buat kalian ! kata sayang itu bohong ! palsu !." Agatha menjerit-jerit.
"Lepaskan aku ! jangan halangi aku lagi, kau dengar ?!." Agatha menatap Arkan penuh emosi.
"Agatha, aku menjagamu dari kecil, menyayangimu, memberikan semua yang kau mau, kali ini aja menurut lah untuk tetap berada dikasur ini." Agatha mendorong Arkan sampai pria itu terpental kebelakang.
__ADS_1
Kemudian Agatha pergi melewati Adinda yang berusaha memegang tangannya.
Kreekk..
"Agatha ?."
Wanita itu berhenti tepat didepan pintu, memandang wajah seseorang tanpa ekspresi, ditambah darah segar mengalir dari tangannya.
Pria yang kini berdiri didepan pintu memeluk Agatha, erat.
"Kau harus tenang, aku janji akan membantumu bertemu Greg. Dengan satu syarat, kembalilah ke kasur." Kata Jeremy.
"Aku tidak suka dibodohi." Sahut Agatha.
"Apa aku terlihat sedang membodohimu ?." Agatha menatap Jeremy kemudian menangis.
"Aku gagal memilikinya." Kata Agatha sambil meremas lengan Jeremy.
"Belum, belum gagal. Masih ada cara asal kau bersedia untuk sabar." Jeremy menggendong Agatha naik keatas kasur lalu memanggil dokter.
Saat Agatha kembali ditangani oleh dokter, Arkan segera menemui Jeremy diluar.
"Apa yang kau katakan pada Adikku ?." Tanyanya.
"Hanya membuatnya sedikit lebih tenang, bicara dengan Agatha harus penuh kelembutan. Tidak bisa kasar, apalagi sembarangan." Ucap Jeremy.
"Kenapa kau seakan-akan jadi lebih tau sifat Adikku ? kau bukan siapa-siapa, jangan pernah berpikir cara yang kau lakukan bisa mengambil hati Adik dan keluargaku." Mendengar ucapan Arkan, Jeremy hanya tertawa.
"Kau pikir aku akan memikat Adikmu ? kau tidak tahu caranya bicara dengan benar pada Agatha, sehingga dia mampu melawanmu. Coba sekali saja kau turunkan sifat buruk itu, dan belajar menerima apapun yang dikatakan oleh Agatha. Dia pasti akan lebih mudah dikendalikan." Sejenak Arkan berpikir, sebelum akhirnya dokter memanggil Jeremy.
"Tuan Jeremy, ada baiknya anda menemani pasien didalam, ia terus memanggil." Ucap dokter.
"Hei, percayakan dia padaku." Arkan hanya diam tak menjawab sepatah katapun, lalu Jeremy masuk dan melihat kondisi Agatha.
"Bagaimana ? sudah membaik tangannya ?." Jeremy memegang tangan Agatha dan meniupnya perlahan-lahan.
"Masih sakit, tapi jauh lebih baik sekarang." Agatha tersenyum kecil.
"Bunda senang kau tetap berada disini." Agatha memalingkan wajahnya tak ingin melihat Adinda.
"Sebaiknya Bunda pulang dan beristirahat, aku akan baik-baik saja bersama Jeremy disini." Kata Agatha.
"Benar, aku akan menjaga Agatha sepenuh hati." Adinda melihat sebuah tanda yang diberikan oleh Jeremy, akhirnya ia pulang dan mempercayakan putrinya kepada pria tersebut.
"Kenapa pergi sendiri ? harusnya beritahu aku, kau membuatku khawatir." Kata Jeremy.
"Aku takut telat untuk menemuinya, cintaku tidak boleh sia-sia. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta." Jawab Agatha.
"Bagaimana kita lupakan tentang Greg dalam waktu sementara, dan fokuskan kesehatanmu agar bisa pulih kembali." Agatha mengangguk.
"Kau benar-benar akan menemaniku disini ? bagaimana pekerjaan..."
"Jangan khawatirkan pekerjaanku, kau tahu aku ini bukan sekedar cecunguk. Aku punya banyak orang kepercayaan untuk melakukan semua tugasku. Kau paling penting sekarang." Kata Jeremy.
"Kau yang membawaku kesini ?." Jeremy mengangguk.
"Aku membawamu kesini pada saat kecelakaan itu terjadi, aku sangat khawatir melihat kondisimu." Padahal Greg yang membawanya, tapi Jeremy terpaksa berbohong agar bisa membuang Greg jauh-jauh dari pikiran Agatha.
"Makasih sudah menyelamatkan nyawaku, aku berhutang padamu." Jeremy tersenyum, lalu mengusap kepalanya.
"Lekas pulih ya, kita sudah merencanakan memasak kue bersama." Agatha tertawa kecil.
"Hehe, kau pasti menunggu momen itu." Kaya Agatha.
"Benar, aku sangat menunggunya. Aku ingin tahu seperti apa rasa kue yang akan kau buat nanti."
Mereka berdua terus mengobrol, menceritakan banyak hal sampai Agatha lelah dan akhirnya tertidur pulas.
"Kalau Marry memang bukan yang terbaik untukku, aku berjanji akan membatalkan pernikahan itu. Dan kau yang akan menggantikannya."
"Aku akan membuatmu jatuh cinta, juga memberikan kebahagiaan tiada henti untukmu."
__ADS_1