Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Menginap bersama Greg


__ADS_3

"Ayo pergi." Mereka bertiga berlari sekencang mungkin.


"Rain ?! kau baik-baik saja ? jangan lari kau !." Arkan ingin mengejar ketiganya namun ditahan oleh Rain.


"Jangan, jangan kejar mereka." Ucap Rain memegangi tangan Arkan.


"Rain ! ayo, masuk mobilku." Arkan membantu Rain masuk kedalam mobil.


"Kenapa kau bisa ada disini ? Rubby berkata padaku kalau kau sedang sakit, lalu kenapa malam-malam begini berada diluar ?!." Arkan cemas, sangat cemas.


"Rubby bilang begitu ? apa kau datang kerumah mencariku ?." Tanya Rain.


"Tidak, aku habis pergi bersama Rubby mencari hadiah untuk Adikku, tapi sekarang itu tidak penting, kita bahas saja nanti." Arkan mendekati wajah Rain kemudian memperhatikan bahwa dipipinya terdapat bekas tamparan.


"Rubby bilang dia ingin bertemu temannya, apa itu Arkan ?." Pikir Rain.


Tak menyadari lagi kini wajah Arkan sudah berada tepat didepan matanya.


"A-apa yang kau lakukan ?!." Kata Rain gugup.


"Wajahmu." Arkan menyentuh pipinya dengan lembut tetapi wanita itu tetap meringis kesakitan.


"Kau ditampar ?! dasar brengsek ! jika bertemu lagi, akan ku habisi dia." Arkan meninju setirnya.


"Makasih." Rain menatap Arkan.


"Untuk apa berterimakasih ?." Arkan mengernyit.


"Kau selalu datang menolongku, aku merasa tuhan mengirimkan dirimu padaku untuk menjadi sebuah pelindung." Arkan terkejut, ia melihat betapa tulusnya kata-kata yang diucapkan oleh Rain.


"Are you okay ?." Arkan memandangi wajah cantik wanita didepannya, hampir saja ia tak bisa melepas pandangan tersebut.


"Ah aku minta maaf, kata-kataku mungkin terdengar lancang, anggap saja aku hanya asal bicara." Rain memalingkan wajahnya karena malu.


"Aku sudah katakan kalau aku akan melindungimu, itu sebabnya aku ingin membawamu pulang, keselamatanmu sama sekali tidak terjamin oleh Rubby." Arkan menghela nafas.


"Tapi Arkan, aku tidak bisa menolak sahabatku, dia sangat baik selama ini." Rain murung.


"Malam ini sudah ada tiga orang yang mengganggumu lalu besok lusa dan seterusnya ? akan ada berapa banyak lagi ?." Arkan menatap kedua mata Rain.


"Aku tidak pernah menemukan pria sebaik dan selembut dirimu." Rain menunduk, ia terharu dengan sikap Arkan.


"Bisakah ceritakan padaku, siapa pria yang sering mengganggumu selama ini ?." Kata Arkan, Rain mendadak diam seolah-olah dia menyimpan ketakutan besar untuk mengungkap siapa laki-laki itu.


"Rain, aku sangat berharap kau jujur kali ini, tolong beritahu aku." Arkan memohon.


"Arkan tolong, jangan tekan aku." Rain menahan air mata yang bisa jatuh kapan saja.


"Semua ini demi keselamatanmu Rain." Arkan terus berusaha agar Rain memberitahu siapa orangnya.


"Lebih baik jangan temui aku lagi." Rain membuka pintu mobil dan keluar menjauhi Arkan, pria itu mengejarnya dari belakang.


"Rain ! kenapa sulit sekali untuk mengungkap siapa orangnya ? kau diancam ?." Rain terdiam, hatinya sangat sakit saat mengingat semua hal-hal buruk yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini.


"Kau tidak akan mengerti apapun." Arkan menyadari kalau Rain terlalu lemah jika terus ditekan oleh pertanyaan-pertanyaan rumit.


"Oke, aku akan belajar mengerti, demi dirimu." Ia mendekati Rain lalu memeluknya, Rain sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas pelukan Arkan bersamaan dengan air mata yang berjatuhan.


Arkan mengangkat wajah Rain, kemudian mencium bibir wanita didepannya.


Tak ada penolakan, justru Rain terlihat mendalami peran.


Hingga mendadak terdengar suara petir yang menggelegar, kemudian disusul hujan deras menuruni jalan.


Kini keduanya berciuman dibawah derasnya hujan.


"Rain, izinkan saya melindungi kamu." Kata Arkan menatap Rain.


Rain hanya diam, dia masih memikirkan ucapan Rubby tempo hari.


Arkan hanya melihat senyuman yang manis, namun tanpa jawaban.


.


.


.


"Greg, hujan." Agatha berteriak.


"Kenapa takut ? hujan tidak membunuh kok." Greg tertawa kecil.

__ADS_1


"Bajuku basah, bagaimana gantinya ?." Agatha bingung, karena dia pergi lumayan jauh dari rumah.


"Jangan khawatir begitu, aku bisa siapkan seribu pakaian untukmu ganti." Kata Greg.


"Gila kamu." Agatha mencubit telinga Greg dan tertawa lepas.


"Bahagia ?." Tanya Greg.


"Sangat bahagia, makasih sudah membawaku ke tempat seindah ini." Ucap Agatha tulus.


"Aku senang kau bisa menikmati keindahan disini, semoga tahun depan aku masih bisa melakukan nya bersama denganmu." Kata Greg.


"Hahaha, kadang harapan itu bisa menyakitkan loh. Hati-hati ya !." Agatha tertawa.


"Agatha." Greg mendekati wanita itu.


"Ya ? ada apa ?." Agatha melihat wajah Greg agak gugup ketika ingin bicara.


"Kita kembali besok saja ya ?." Agatha mendadak diam, ia menatap Greg dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kau mau macam-macam ya padaku ?! aku bisa laporkan polisi jik..." Greg menutup mulut Agatha dengan jari telunjuknya, kemudian ia menghela nafas panjang.


"Huh, sebenarnya aku hanya masih ingin bersamamu, tidak terlintas sekalipun pikiran yang macam-macam." Kata Greg.


"Aku tidak percaya tuh." Agatha melipat tangan nya didepan dada.


"Lagi pula hujan nya terlalu deras, dan sudah larut malam." Greg bersandar dipagar.


"Memangnya kenapa kalau hujan deras ? kita juga berada didalam mobil, tidak akan kebasahan kan ?." Agatha menyipitkan mata.


"Iya, ayo ganti baju lalu pulang." Menyadari ada sebuah kekecewaan diwajah Greg, wanita itu segera melompat girang ke dalam dekapan pria dihadapannya.


"Marah ya ? jangan dong, kita menginap disini kok, sampai besok. Sesuai keinginanmu." Ucap Agatha.


"Pulang saja." Greg melepaskan Agatha dan berjalan mendahului wanita tersebut.


"Greg ! tunggu du... aawh !." Ia terjatuh dan menginjak potongan kaca ditanah.


"Agatha !." Greg berbalik, lalu melihat kaki Agatha yang mengeluarkan darah.


"Aawh sakit." Lukanya terasa perih karena terguyur hujan.


Tanpa basa basi, Greg menggendong Agatha masuk kedalam villa.


"Kau meninggalkanku." Agatha mengerutkan keningnya.


"Sudah kubilang kita pulang saja, lagi pula untuk apa menetap disini." Kata Greg.


"Aku mau memenuhi keinginanmu, karena malam ini kau sudah memberiku banyak sekali kesenangan." Kata Agatha.


"Padahal aku juga tidak memaksakan itu, ah yasudah lah. Sekarang sudah begini harus bicara apa ?." Greg meniupi lukanya, ia melihat Agatha memejamkan mata karena menahan sakit.


"Aku bantu ke kamar ya." Agatha mengangguk, lalu Greg menggendong nya sekali lagi menuju kamar.


"Sebaiknya kau ganti pakaian, aku juga akan mengganti pakaianku." Greg keluar.


"Tidak boleh Agatha, jangan pikirkan apapun tentangnya." Agatha memegangi kepala.


"Buang jauh-jauh pikiran itu, mana mungkin kau jatuh cinta." Agatha kembali mengingat momen kebersamaan dengan Greg, dimana ia terjatuh saat sedang latihan menembak.


"Jatuh cinta ? aku bahkan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, jadi mungkin saja hanya karena dia pria yang baik dan juga menyebalkan, maka dari itu aku menyukainya." Gumam Agatha lagi, dia segera mengganti pakaian nya yang basah.


melihat banyak sekali baju wanita didalam lemari, wajahnya tersenyum.


"Greg menyiapkan semua ini untukku ?." Katanya.


"Agatha, sudah selesai ganti bajunya ?." Tanya Greg didepan pintu kamar.


"Sebentar !." Agatha cepat-cepat memilih pakaian untuk dikenakan.


"Masuklah." Ucap Agatha.


"Karena sudah malam sebaiknya kita tidur." Mendengar perkataan Greg, Agatha seketika terdiam.


"Kenapa ?." Tanya Greg.


"A-apa kau akan tidur bersamaku ?." Ucapnya.


"Aku akan tidur dikamar sebelah, kau tidak perlu khawatir, dalam keadaan seperti apapun aku tak akan memanfaatkannya." Greg tersenyum, ia mengelus lembut kepala Agatha sebelum kembali keluar.


"Tenang Agatha, kau tidak boleh goyah. Mungkin ini karena aksi pertamamu yang berhubungan dengan pria. Semua orang tau, aku tak pernah pergi dengan pria manapun secara berduaan." Agatha membaringkan diri diatas ranjang sambil menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


"Greg sama sekali tidak seperti William, jika keadaan seperti ini, bisa saja dia memakanku. Cih, menyeramkan !." Kelelahan mengoceh, akhirnya ia tertidur.


Sementara itu Greg dikamar belum bisa memejamkan matanya, dia terus tersenyum bahagia.


"Aku tidak pernah menemukan wanita seperti Agatha, kebanyakan yang terlihat mereka hanya memandang materiku, bahkan berusaha menggodaku agar bisa jatuh hati padanya." Ucap Greg.


"Agatha berbeda, tanpa melakukan apapun aku tetap jatuh cinta dengannya." Greg mengacak rambutnya sendiri. Jika dinilai, mungkin dia sekarang seperti orang gila dimabuk asmara.


Beberapa jam berlalu, tepat pukul satu malam.


Suara petir semakin besar, membuat Agatha terbangun dan penuh ketakutan.


"Kakak !!!!." Ia berteriak kencang sambil menutupi telinganya.


Greg yang belum tertidur segera berlari mengecek kamar Agatha.


"Hei ! kenapa ? ada apa ?." Greg segera memegang bahu Agatha yang gemetar.


"T-tidak, aku baik-baik saja. Hanya terkejut." Sahut wanita itu.


"Yasudah, kalau begitu aku kembali ke kamar." Katanya seraya berjalan menuju pintu kamar Agatha untuk keluar.


Tiba-tiba seluruh lampu di villa itu mati, sehingga membuat Agatha kembali menjerit.


"Greg !!!!." Ia bangun dari kasurnya dan berlari ke sembarang arah, untung saja dia tidak menabrak dinding, melainkan menabrak Greg yang masih berdiri didepan pintu.


"Ugh !." BRAKKKK, mereka berdua terjatuh.


Tubuh Agatha kini berada dibawah Greg, karena suasana sangat gelap mereka tak bisa melihat apapun melainkan hanya bisa merasakan hembusan nafas yang begitu dekat.


"Greg, ini kau ?." Tanya Agatha gugup, ia meraba wajah Greg hingga turun ke tubuhnya hanya untuk memastikan kalau didepannya adalah orang, bukan setan.


Greg memegang tangan Agatha ketika sedang meraba beberapa bagian tubuhnya.


"Kau sedang menggodaku ya ?." Tanya Greg.


"Cih ! aku hanya memastikan kau itu orang atau setan." Jawab Agatha membuat Greg mengernyit.


"Apa ada setan setampan diriku ?." Sahutnya percaya diri.


"Greg cepat bangun, aku takut tahu." Agatha mengoceh.


"Berani tidur sendiri ?." Tanya Greg.


"T-tidak." Agatha mengikat rambutnya lalu mencari ponsel untuk menyalakan senter.


"Aku akan cari lilin untuk menerangi kamarmu." Greg mengambil lilin dari ruang tengah dan menyalakannya untuk Agatha.


"Sekarang mau tidur saja, aku akan menjagamu disini." Kata Greg.


"Apa kau belum tidur dari tadi ?." Ucap Agatha.


"Belum mengantuk." Padahal Agatha melihat jelas kalau mata Greg saat ini sudah sayu.


"Sofa hanya ada diluar, kau tidak mungkin tidur dilantai hanya untuk menemaniku." Kata Agatha menggigit bibirnya sendiri.


"Tidak masalah, aku bisa pakai karpet dan selimut disini." Greg menggelar karpet dibawah dan meletakkan bantal, ia berbaring dengan nyaman.


"Aku tidak nyaman melihatmu tidur disana." Ucap Agatha.


"Kalau begitu aku tidur disofa luar." Greg hendak menggulung karpet yang baru saja dipasangnya, tetapi Agatha mencegah itu.


"Maksudku bukan begitu, sebaiknya kau tidur dikasur saja. A-aku bukan modus ya ! tapi aku merasa kasihan saja padamu kalau harus tidur dikarpet." Agatha memalingkan wajah karena malu.


"Hem, baiklah kalau itu mau mu." Greg membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


"Tapi ingat ! jangan melewati batas ini. Kalau sampai kau melewatinya, aku akan sangat marah padamu." Agatha segera berbaring dan memejamkan mata.


"Baiklah, sesuai keinginan Tuan Putri." Greg tersenyum kecil lalu memandangi wajah Agatha ketika wanita itu tertidur.


Puluhan menit Greg tak bosan, sampai akhirnya ia mengantuk dan hampir tertidur.


Entah apa yang terjadi, Agatha memeluk guling pembatas lalu menjatuhkan nya kebawah karpet.


Tak ada lagi batas diantara mereka.


Greg sama sekali belum menyadari kemana guling itu, ia sudah sangat mengantuk.


Dari belakang Greg merasakan sebuah pelukan dari tangan yang hangat.


"Padahal dia sendiri yang bilang untuk tidak melewati batas itu, namun dia juga yang melanggarnya." Greg tersenyum kemudian berbalik untuk melihat wajah Agatha.

__ADS_1


Cantik, secantik bunga yang sedang bermekaran.


"Kau akan menjadi milikku suatu saat." Greg mencium kening Agatha serta memeluknya juga.


__ADS_2