
beberapa jam kemudian Adinda terbangun dan menyadari kalau suaminya sudah tidak ada di kasur itu, cepat-cepat ia pergi mandi dan mencarinya.
"kamu dimana mas?." panggil Adinda
"ayah, itu adalah suara bunda." bisik Arkan, mereka berdua sedang mengumpat di samping lemari kaca yang tak jauh dari dapur untuk mengejutkan Adinda, benar saja ketika Adinda berjalan ke arahnya mereka langsung melompat dengan riang
"dor!." kata Arkan tertawa melihat ekspresi keterkejutan sang ibu
"ya ampun kalian!." melihat anak dan suaminya tertawa lepas saat berhasil membuat dirinya kaget, ia juga melirik ke arah baju Arkan dan Satria yang penuh dengan noda-noda merah
"sayang, kenapa bajumu kotor begini?." tanya Adinda melembut kepada anaknya
"tomat." Arkan menunjukkan tangan nya yang dari tadi menyembunyikan tomat itu di belakang tubuh mungil nya
"kau bermain tomat?!." kata Adinda membelalakkan mata
"ya bunda, ayah yang mengajariku." kata Arkan polos, sementara Satria menatap istrinya dengan senyuman konyol
"mas! kenapa kamu ajak Arkan bermain tomat? lihat bajunya jadi kotor begitu." ucap Adinda, ia segera menggendong putranya untuk dibawa ke dalam kamar mandi
"dia bilang kalau dia bosan bermain robot, jadi aku tak punya pilihan lain selain mengajaknya bermain tomat." jawab Satria, ia mengikuti Adinda dari belakang
"sayang, buka dulu bajunya, kita pergi mandi." pinta Adinda, Arkan segera menuruti perintah sang ibu dan masuk ke dalam bak besar yang berisi air hangat
"bunda, jangan marah padaku dan ayah, kami hanya bermain." Arkan memohon dengan mata berkedip-kedip, tatapan polosnya membuat Adinda tersentuh, lalu ia mengurungkan niatnya untuk memarahi Satria
"kali ini kau lolos!." gumam Adinda berbisik ke telinga Satria
__ADS_1
selesainya mereka mandi, Adinda mengajak Arkan menonton televisi, dan membaca buku-buku cerita.
"bunda, bolehkah aku meminta sesuatu." ucap Arkan
"apa nak? apa yang kamu inginkan?." tanya Adinda membelai lembut rambut putranya
"aku sangat ingin bermain di taman, kalian ingin menemaniku?." tanya Arkan, sebuah kilatan cahaya permohonan muncul dimata bocah kecil itu, tanpa berpikir panjang Adinda menjawab dengan mantap
"kita pergi ke taman yang kau inginkan besok, bunda dan ayah akan menemani kamu di sana." jawab Adinda
"benarkah? hore!." sahut Arkan senang, ia mendekati Adinda dan mencium pipi ibunya
"terimakasih bunda, aku senang sekali." kata Arkan
"jangan senang dulu, ayah punya satu syarat kalau kau ingin ke sana besok." ucap Satria, Arkan segera menatap ayah nya dengan bertanya-tanya
"syarat nya, malam ini kau harus tidur cepat, kalau kamu tidur kemalaman nanti kita terlambat datang ke taman besok." kata Satria
"baik! aku akan tidur sekarang, selamat tidur ayah, selamat tidur bunda." gumam Arkan tersenyum lalu mencium pipi ayah nya dan memeluk ibunya, kemudian mereka berdua mengantar Arkan ke kamar
"selamat tidur nak, kami menyayangimu." balas Adinda mencium kening putranya dan menarik selimut tebal untuk menutup tubuh mungil itu, setelah melakukan kegiatan seorang ibu, Satria segera menariknya keluar dari dalam kamar
"mau apa sih mas?!." tanya Adinda memelototi suaminya
"temani aku meminum teh di ruang santai." pinta Satria, Adinda memutar bola matanya dengan malas, dan hendak berbalik menuju kamar
"sayang..." gumam Satria, sekali lagi dia menarik pinggang wanita itu hingga mendekap dalam pelukan nya
__ADS_1
"jangan membuatku semakin kesal, aku belum memberimu pelajaran karena mengajari Arkan bermain sayuran!." kata Adinda sinis, Satria bingung ingin tertawa atau bersedih melihat ekspresi istrinya
"aku sudah menjelaskan nya padamu, tolong maafkan, aku janji tak akan mengajarinya lagi." sahut Satria, nafasnya hangat menyentuh kulit Adinda sampai ke lapisan yang paling terdalam
"baiklah, aku akan menemanimu meminum teh." kata Adinda, buru-buru Satria tersenyum dan mengajaknya duduk di sofa
"besok kita mau membawa Arkan ke taman mana?." tanya Satria
"terserah, yang jelas aku akan membawanya kemanapun dia mau." jawab Adinda
"hmm, kau mau teh?." segelas teh itu diulurkan ke hadapan Adinda
"tidak, aku mual." sahut nya membuat Satria menghentikan perbuatan meminum teh itu, ia segera beralih ke arah Adinda dan menanyakan nya tanpa henti
"kau mual? kau mau muntah? kau ingin aku memanggil dokter?." tanya Satria
"mas, berhenti menanyakan hal itu, aku tidak sungguh-sungguh." hembusan nafas lega terdengar dari diri Satria
"baguslah, tapi kalau kau merasa sesuatu yang tidak enak, segera katakan padaku, oke?." pinta Satria, cepat-cepat Adinda mengangguk, tak lama ponsel Satria bergetar
"tunggu sebentar, aku harus menjawab telepon." kata Satria
"jawab lah, aku akan menunggumu disini." sahut Adinda, lalu Satria segera mengangkat telepon itu dengan jarak yang tak begitu jauh dari istrinya, seperti biasa ia mengobrol tentang pekerjaan di kantor, sekian lama dia teleponan, ketika hendak berbalik dirinya melihat Adinda sudah bersandar di sofa dengan mata tertutup, artinya dia sudah tidur.
bagaimana tidak mengantuk? menunggu suami menjawab telepon kurang lebih setengah jam, niatnya menemani meminum teh jadi menemani bertelepon.
Satria tidak tega kalau harus membangunkan istrinya, jadi ia menggendong tubuh itu dan dibawanya ke dalam kamar, Satria menyelimuti istrinya sebagaimana istrinya menyelimuti Arkan tadi, setelah itu ia mengecup bibir Adinda dan mengucapkan sesuatu dengan sangat lembut
__ADS_1
"selamat tidur sayang, aku sangat mencintaimu." gumam Satria membelai rambut panjang istrinya dan ikut tertidur di samping Arkan