
"Aku tidak pernah kehilangan akal, aku harus membuat seribu cara agar bisa memisahkan Jeremy dari wanita itu." Ucap Marry.
.
.
.
.
.
Memasuki sore, Jeremy melihat Agatha melamun di balkon kamar.
"Kau memikirkan apa ?." Tanya Jeremy.
"Tidak, aku tidak memikirkan apapun." Ia tersenyum.
"Masih sulit ya untuk terbuka denganku ? padahal aku senang kalau kau menceritakan hal sekecil apapun." Kata Jeremy.
"Aku tidak punya banyak hal untuk diceritakan." Agatha tertunduk.
"Mungkin masa-masa kecilmu ?." Jeremy melihat Agatha menatap jauh.
"Akan ku ceritakan yang masih teringat." Ucap Agatha.
"Dulu aku membeli satu tangkai balon, lalu salah satu temanku datang memecahkannya. Aku menangis, sampai Kakak datang dan memarahi mereka. Kakak juga mengganti balonnya menjadi sepuluh tangkai, dia bilang sepuluh balon itu akan membuatku teringat betapa besar usahanya membahagiakanku." Jeremy tersenyum.
"Usahanya benar-benar nyata, aku percaya dia mencintaimu lebih besar dari yang kau bayangkan." Kata Jeremy.
"Kakak selalu menuruti semua permintaanku, setiap kakiku terluka dia bersedia menggendongku dipunggungnya." Jeremy melihat air mata jatuh diwajah Agatha.
"Kau tidak bisa menutupi kerinduan itu Agatha, hubungi dan temui Arkan sekarang." Pinta Jeremy.
Agatha menatap ponselnya, tanpa disangka Arkan justru mengubungi dia lebih dulu.
"Kakak." Dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.
"A-ghata." Suara beratnya membuat Agatha syok.
"Kak ! Kakak kenapa ?!." Tanpa sadar dia menangis sambil terus menanyakan keberadaan Arkan.
"Jeremy ! Jeremy tolong cari Kakakku." Wanita itu segera memohon pada suaminya.
"Ayo cari sekarang !." Mereka berdua bergegas pergi menuju kediaman Anggara dan menanyakan keberadaan Arkan.
...
"Bunda ! Kakak dimana ?." Kedatangan Agatha yang tergesa-gesa membuat Adinda bertanya-tanya.
"Arkan pergi ke kantor pagi ini, harusnya sih jam segini sudah pulang, mungkin sebentar lagi." Kata Adinda.
Agatha segera pergi tanpa bicara apapun lagi, ia menelusuri jalan ke kantor bersama suaminya.
"Lewat sini ! Kakak biasanya lewat tempat ini." Tak jauh dari mereka, ada banyak sekali orang berkerumun.
"Jeremy stop, aku harus memastikan keramaian itu." Mereka berdua turun lalu melihat mobil Arkan dari kejauhan.
"Kakak !!!!." Agatha berlari menyelinap kedalam keramaian dan menemukan Arkan tergeletak penuh darah dipunggungnya.
"Jeremy ! bawa Kakak kerumah sakit !." Agatha menangis sambil membantu Jeremy memapah Arkan masuk ke dalam mobil.
"Kak, kenapa bisa begini.." Ia terus memeluk Kakaknya.
"Jeremy lebih cepat !." Ia menuruti permintaan Agatha untuk melajukan mobilnya lebih kencang.
Dirumah sakit, suster segera membantu mereka untuk memasuki ruangan.
"Dokter tolong Kakak saya." Agatha hendak masuk kedalam ruangan tersebut namun ditahan oleh suster.
"Maaf sebaiknya anda menunggu diluar agar kami bisa memberikan penanganan cepat."
"Saya harus masuk, saya Adiknya, dia membutuhkan saya." Agatha memaksa.
"Agatha hei, sabar ya. Kita tunggu hasilnya disini." Jeremy berusaha menenangkan istrinya itu.
"Jeremy, Kakak ! Kakak terluka." Ia menangis kencang.
"Sssttt, kau kuat tidak boleh menangis." Jeremy memeluk Agatha erat sekali.
"Tidak boleh, Kakak tidak boleh lemah." Agatha terus memukul bahu Jeremy.
"Jangan menangis, Arkan akan baik-baik saja. Kau tahu dia sangat kuat, apa lagi dengan keberadaanmu disini." Ucap Jeremy.
Didalam dokter menyuntikkan beberapa cairan untuk mencabut pisau yang tertancap dipunggungnya.
Tak lupa membersihkan luka tersebut.
"Dok, luka tusukannya cukup dalam." Kata suster.
"Pasien kehilangan banyak darah, kita harus melakukan transfusi."
Karena stok darah yang dibutuhkan sedang kosong, terpaksa harus mencari pendonor darah.
"Permisi Nona, pasien mengalami pendarahan dan beliau kehilangan banyak darah, kami perlu melakukan transfusi, namun sangat disayangkan karena darah yang kami butuhkan dirumah sakit ini sedang kosong." Ucap Suster.
"Apa golongan darah Kakak ?." Agatha bertanya penuh khawatir.
"A negatif, apa anda memiliki darah yang sama ?." Agatha semakin menangis sambil menggelengkan kepalanya.
"Bunda ! Kakak memiliki golongan darah yang sama dengan Bunda." Ia hendak menghubungi Adinda.
"Saya, ambil darah saya." Agatha menoleh, melihat Jeremy memberikan darahnya untuk Arkan.
"Kau memiliki golongan yang sama ?." Jeremy mengangguk.
__ADS_1
"Baik kita periksa terlebih dahulu, mari ikut saya." Sebelum ia mengikuti suster, tak lupa mencium kening istrinya.
"Jangan khawatir, Kakakmu akan segera pulih." Agatha sangat bersyukur, tapi dia juga mengkhawatirkan Jeremy.
Setelah mereka dipindahkan dalam satu ruangan yang sama, akhirnya transfusi darah dilakukan.
'Aku sudah berjanji untuk membahagiakannya, jika suatu hari aku gagal membuatnya jatuh cinta, maka aku ingin dia tetap mengingat diriku melalui darah yang mengalir ditubuh Kakaknya.'
Sudah beberapa jam berlalu, dokter mendatangi Agatha untuk memberitahukan bahwa pemindahan darah telah berhasil dilakukan.
"Syukurlah ! lalu bagaimana keadaan keduanya sekarang dok ?." Kata Agatha.
"Kedua pasien sudah dalam kondisi stabil, anda boleh menemuinya." Dengan hati senang, Agatha masuk kedalam ruangan dan melihat Arkan juga Jeremy yang terbaring bersebelahan.
"Kakak, semoga kau cepat sadar." Ia memegang lembut tangan Arkan kemudian menciumnya.
"Jangan hanya melihat Kakakmu saja, ayo kesini." Suara Jeremy yang lemah membuat Agatha menoleh.
"Jeremy, aku sungguh berterimakasih karena kebaikanmu." Agatha mengusap kepala Jeremy sambil tersenyum menangis.
"Jangan menangis, aku sudah katakan Kakakmu akan baik-baik saja." Justru perkataan itu membuat tangisan Agatha semakin kencang.
"Kau benar-benar pria yang baik, aku tidak tahu harus bagaimana lagi membalasnya." Kata Agatha.
"Membalasnya cukup dengan cintai aku semampumu." Agatha tersenyum sambil memeluk Jeremy.
"Aku akan berusaha untuk itu."
Beberapa waktu berlalu, kini langit mulai gelap.
Jeremy masih setia menemani Agatha menunggu Kakaknya bangun.
"Sebaiknya kau pulang, istirahat dirumah akan lebih baik." Agatha memegang wajah Jeremy.
"Aku mau disini menemanimu." Jeremy tersenyum kecil sambil memegangi tangan istrinya.
"Aarghh."
"Kakak !." Agatha melepas genggaman Jeremy kemudian menghampiri Arkan.
"K-kau disini ?." Ucap pria itu.
"Iya aku disini, untuk Kakak." Agatha memegang tangan Arkan sambil mengusapnya lembut.
"Apa yang terjadi ? kenapa kau membiarkan orang lain melukaimu ?." Arkan melihat wajah Agatha sangat cemas.
"Entahlah, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia bergerak begitu cepat sampai menusuk punggungku." Jelas Arkan.
"Aku tidak mau kehilanganmu, tidak akan." Kata Agatha.
"Kau lihat kan sekarang diriku baik ? karena aku kuat." Ia terkekeh.
"Kuat apanya ! kalau Jeremy tidak memberikan darah itu untukmu, kau pasti bisa mati." Arkan mengernyit, lalu melihat kearah Jeremy.
"Kau sengaja ya melakukan ini karena ingin mendapat restu dariku ?! dasar payah !." Arkan mengoceh padahal tubuhnya masih terluka.
"Kakak jangan bicara begitu." Agatha khawatir.
"Aku tidak perlu restumu, lagi pula ini semua aku lakukan demi membahagiakan Agatha. Aku tahu kau juga menjadi sebagian hidupnya, dan aku tak akan membiarkannya kehilangan itu." Kata Jeremy memperjelas.
"Sial, kau pasti ingin berusaha lebih baik dari pada aku." Arkan mendecak kesal.
"Kak, kata dokter kau tidak boleh banyak bicara." Agatha mengingatkan.
"Suamimu duluan, dia membuatku kesal." Balasnya.
"Berterimakasih lah pada Jeremy, dia menolong hidupmu." Arkan menatap Agatha serius.
"Demi Adikku, terimakasih." Jeremy tersenyum melihat tingkah laku Arkan.
"Tentu saja kau harus membalas budi suatu hari nanti." Jeremy tertawa kecil.
"Kau mengharapkan imbalan ?! brengsek." Arkan hendak menimpuk Jeremy memakai benda terdekatnya, namun Agatha melarang itu.
"Haha, aku bercanda." Kata Jeremy.
"Aku belum memberitahu hal ini pada siapapun, aku takut Bunda khawatir." Ucap Agatha.
"Jangan katakan hal ini, Ayah mungkin tidak akan tinggal diam melihatku ditusuk seseorang. Keselamatannya jauh lebih penting dari pada nyawaku." Balas Arkan.
"Bagaimana dengan Rain ?." Pria itu terdiam.
"Rain bisa menangis sepanjang waktu jika melihatku seperti ini." Arkan menggelengkan kepala.
"Baiklah, hanya aku dan Jeremy." Agatha meletakkan ponsel.
Tengah malam, Jeremy menyadari kalau Agatha tidur sambil duduk disebelah Kakaknya.
Ia bergegas memindahkan wanita tersebut ke atas sofa agar sedikit lebih nyaman.
Diam-diam Arkan mengintip perlakuan lembut Jeremy untuk Adiknya.
Sesaat ia tersenyum sebelum kembali berpura-pura tertidur.
"Sepertinya aku akan gagal membuatmu jatuh cinta dalam waktu dekat. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa melihatmu berbaikan dengan Arkan. Aku yakin dia bisa menjagamu selama tiga hari itu." Jeremy menghela nafas panjang seolah menyerah karena dia pikir waktunya selama satu minggu akan habis dirumah sakit ini.
Arkan melihat pria tersebut mencium kening Agatha dan menyelimutinya.
'Selalu ada hal baik setelah yang buruk, mungkin Jeremy datang terlambat tapi malam ini aku percaya dia akan menjadi pria terbaik dihidupmu setelah Ayah dan aku Agatha.' Sebut Arkan dalam hati.
Besok pagi, 5 hari sebelum keberangkatan Jeremy.
"Jeremy, kau tidur tanpa selimut." Agatha mengalihkan selimutnya untuk pria itu.
"Dia menjagamu semalaman, padahal aku yang sakit." Kata Arkan.
__ADS_1
"Kakak sudah bangun ?." Ia mengangguk.
"Kau tidak sadar saat dia mencium keningmu ? benar-benar menggelikan. Bagaimana bisa berbuat romantis didepan orang sakit ? tega sekali." Arkan bicara seakan-akan dia jijik melihat semua itu, padahal sebenarnya dia sangat senang karena pria yang dinikahi oleh Adiknya bukan seorang bajingan.
'Dia tidak pernah lupa mencium keningku setiap ingin tidur.' Agatha diam-diam tersenyum.
"Kau bisa pulang hari ini, aku tidak tahan dengan bau badan suamimu kalau terus menginap dikamarku." Kata Arkan.
"Bau badan ?." Agatha langsung mendekati hidungnya ketubuh Jeremy.
"Bau apanya ?! dia wangi bahkan saat tidak mandi sekalipun." Kata Agatha memelototi Arkan.
"Yang benar saja ! hidungmu pasti ada kesalahan, cepat pulang." Arkan berusaha membantu Jeremy untuk membuat Adiknya jatuh cinta.
"Aku akan pulang sendiri, mengambil pakaian agar bisa mandi disini." Agatha berdiri hendak mengambil tasnya.
"Jeremy !." Arkan sengaja mengeraskan suaranya supaya Jeremy terbangun.
"Apa ? kenapa ?." Ia langsung membuka mata padahal nyawanya belum terkumpul.
"Temani Agatha pulang." Jawab Arkan.
"Kau- kau mau pulang ?." Jeremy memegang tangan Agatha.
"Sebentar saja kok, kau tidak usah ikut. Aku dengar kau menjagaku semalaman." Anak itu tersenyum.
"Aku khawatir badanmu sakit karena tidur disofa, apa sebaiknya kita bawa kasur kesini ?." Mendengar hal tersebut Arkan pun tercengang.
"Kau gila ya ?! aku akan meminta security mengusirmu." Arkan kesal.
"Ayo pergi sebelum Kakakmu berubah menjadi monster ganas." Jeremy menarik tangan Agatha keluar.
Dilobby, saat keduanya berjalan menghampiri mobil mereka, tiba-tiba dari arah lain ada kendaraan melaju kencang hingga ingin menabrak Agatha.
"Sayang awas !." Jeremy mendekap tubuh istrinya sambil memundurkan langkah lebih cepat.
Agatha memejamkan mata karena takut, sebelum akhirnya menyadari sebuah kehangatan mengelilingi dirinya.
Jeremy mengambil sebuah benda dari dalam mobil, lalu menarik pelatuk itu hingga peluru melayang tepat menuju ban mobil yang kencang tadi.
Kemudian ia berlari menghampiri mobil tersebut, menggedor jendelanya tanpa perasaan.
"Keluar kau !." Kata Jeremy.
"M-maaf Tuan, saya bersalah ! saya tidak sengaja." Seorang pria muda turun dari mobil tersebut.
"Dasar bocah ! jangan menyetir kalau belum pandai menguasai ! istriku hampir saja celaka !." Jeremy menekankan.
"Maaf Tuan !." Jeremy menarik anak itu keluar.
"Minta maaf pada istriku. Jika dia memaafkanmu kau bisa pergi, tapi kalau tidak..." Bocah tersebut panik hingga berlutut dihadapan Agatha.
"Maafkan saya Nyonya ! saya bersalah ! tolong maafkan saya." Ucapnya.
"Aku memaafkanmu, tapi jangan lakukan hal seperti itu lagi." Agatha tersenyum, cepat-cepat ia kabur memasuki mobil.
"Kau baik-baik saja kan ?." Jeremy memegang bahu Agatha untuk memeriksa kondisinya.
"Kau tercipta dari apa sih ?." Agatha tersenyum.
"Ha ? aku ?." Jeremy bingung.
"Jeremy, sepertinya kakiku terkilir." Agatha memegangi salah satu kakinya sambil meringis.
"Benarkah ?! biar aku bantu." Pria itu langsung mengangkat Agatha padahal mobil mereka didepan mata.
"Hahaha, aku bercanda tau ! kau baik banget sih." Jeremy mengernyit seraya memperhatikan wajah istrinya.
"Jadi kau pura-pura ? baiklah." Tanpa menurunkannya, ia justru berputar-putar ditempat itu sampai Agatha tertawa geli.
"Hahaha Jeremy stop ! kita bisa jatuh." Agatha memegang bahu Jeremy dengan erat.
"Aku akan berhenti sampai kau memohon." Balasnya lagi.
"Aaaaaaaa, Jeremy aku mohon berhenti." Mereka berdua tertawa riang sampai benar-benar jatuh karena pusing.
Brughhh.
"Aawh." Wanita itu tergeletak dipinggir mobil bersama Jeremy.
"Dasar payah." Kata Jeremy menggelitiki Agatha tanpa henti.
"Hahahaha sudah berhenti dulu, ayo pulang." Keduanya memasuki mobil kemudian melaju perlahan.
Sesampainya dirumah, Agatha mengambil beberapa pakaian untuk dibawa kerumah sakit.
"Pakaianku tiga, kenapa kau hanya satu ?." Kata Jeremy.
"Aku lupa belum memindahkan seluruh pakaianku kemari." Jawab Agatha.
"Benar juga, beli saja." Kepalanya menggeleng sebagai tanda bahwa ia menolak.
"Tidak usah, jangan terlalu banyak membuang-buang uang mu hanya demi membelikan aku pakaian." Ucap Agatha.
"Uangku tidak akan habis bahkan jika membeli seribu pakaian dalam sehari." Balas Jeremy.
"Sudah, jangan pikirkan pakaianku lagi. Omong-omong kau istirahat dulu saja, nanti sore baru berangkat." Pinta Agatha.
"Oke." Ia berjalan lenggang menuju lift, dan Agatha menyusulnya.
Kini mereka berdua berada dikamar yang sama, saling sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Tiba-tiba saja, Agatha berteriak histeris.
"Aaaaaaaaaaaa !."
__ADS_1