
"Aku mau Arkan mendapatkan istri sepertimu ketika dirinya sudah dewasa." Ucap Satria.
"Kamu ini bicara apa sih Mas? Arkan bahkan masih sangat kecil, dan kau sudah berkata tentang istri." Jelas Adinda.
"Ya aku tahu, tapi kita butuh perencanaan." Balas suaminya.
"Kita bisa bahas itu saat putra kita sudah dewasa, untuk sekarang ini jangan bicarakan apapun yang belum dia pahami, aku tidak mau anakku berpikir terlalu jauh sebelum waktunya." Kata Adinda.
"Iya sayang, Mas akan bahas lagi setelah mereka tumbuh."
....
"Adinda, bolehkah aku membantumu menjaga Agatha?." Tanya Selin.
"Boleh Kak, sebenarnya aku sedang tidak sibuk, tapi kalau kau mau menjaga anakku boleh saja, aku akan menyiapkan Mama makan, terimakasih sebelumnya." Adinda tersenyum sambil menyerahkan bayi kecil ditangan nya.
"Akan ku beritahu ketika dia menangis." Kata Selin.
"Mama, Adinda membawakan makanan untukmu." Ucap Adinda mengetuk pintu kamar Tania.
"Ma..." Panggilnya lagi.
"Ma, Mama didalam kan?." Adinda menempelkan telinga nya ke pintu, namun tak terdengar suara apapun, jadi dia segera membuka pintunya dan masuk.
"Mama?! Ada apa Ma?!." Suara cemas terdengar ditelinga Tania.
"Sayang, Mama baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Jawab Tania.
"Wajah Mama pucat, aku panggilkan dokter ya, Mama tunggu disini." Tania menarik tangan Adinda lalu menggelengkan kepala.
"Tidak Adinda, kau tidak usah memanggil dokter, Mama hanya pusing sedikit saja." Tania tersenyum, berusaha meyakinkan menantu kesayangan nya.
"Tapi Ma.."
"Sayang, jaga saja Agatha, kau tidak boleh lalai menjaganya, dia adalah cucuku yang cantik." Jelas wanita paruh baya itu.
"Kalau begitu Mama makan ya, aku sudah memasak makanan kesukaan Mama, jangan buat aku semakin khawatir." Mohon Adinda.
"Baiklah, Mama akan segera makan, kamu cepat kembali ke kamar dan temani Agatha ya." Perintah mertua.
"Kak Selin sudah menjaga anakku, tolong beritahu aku apapun yang Mama inginkan, dan jangan bohong, kalau kepala Mama semakin sakit aku akan segera panggil dokter tanpa penolakan." Adinda berkata lembut.
"Sayang, Mas pulang." Suara suaminya terdengar dari luar kamar.
"Adinda, jangan katakan apapun pada Satria, Mama percaya sama kamu." Ucap Tania.
__ADS_1
"Hmm ya, baik." Adinda keluar dan mencari keberadaan Satria.
"Mas sudah pulang?." Ia tersenyum ramah.
"Sudah sayang, dimana Agatha? apa kau dan Arkan sudah makan?." Kata Pria tampan tersebut.
"Agatha sedang bersama Kak Selin, aku dan Arkan sudah makan kok, sekarang dia sedang bermain dihalaman belakang dengan Desi." Kata Adinda.
"Bagus, kalau begitu sekarang aku punya waktu berdua denganmu." Satria menggendong Adinda menuju kamar.
"Kamu mau apa?! a-aku masih dalam..." Belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Satria sudah lebih dulu berbicara.
"Apa yang kau pikirkan? aku tidak akan macam-macam kok, aku hanya rindu suasana berdua seperti ini, kau ingat tidak? saat dulu Arkan dan Agatha belum ada, kita selalu punya waktu bersama." Ucap nya serius.
"Lho Mas? apa kau berpikir bahwa saat ini kita tidak mempunyai waktu berdua?." Adinda memegang wajah sang suami dan menatapnya lekat.
"Katakan padaku, apa kau sedang memiliki masalah? apa yang terjadi di kantor? apa ada penurunan saham? atau apa? ada karyawan yang membuatmu marah?." Adinda terus bertanya, namun Satria segera memeluk wanita itu dan mendekapnya erat.
"Aku baik-baik saja, bisakah kau membiarkan Agatha bersama Selin sebentar? aku mau kau menemaniku istirahat disini." Cepat-cepat Adinda mengangguk dan mengelus kepala Satria, ia memeluknya lalu menepuk-nepuk halus seperti sedang menidurkan bayi.
"Jangan tinggalkan aku, kau hanya perlu diam disini." Perintah suami.
Beberapa menit berlalu, Selin datang membawa Agatha.
"Adinda, anakmu sudah tidu...."
"Baiklah, aku akan letakkan Agatha di sana, memang laki-laki yang satu ini, luar biasa!." Selin memasuki kamar perlahan-lahan.
"Terimakasih ya, maaf sekali lagi kalau merepotkan." Ucap Adinda.
"Tidak usah sungkan, kita ini keluarga." Selin tersenyum hangat sebelum dia mencubit tangan Satria yang sedang tertidur.
"Aaargh!." Pria itu terusik lalu membuka mata.
"Sayang, jangan berisik, anak kita sedang tidur." Kata Adinda.
"Oaaaa..oooaaa." Agatha tiba-tiba kembali terbangun.
"Bunda!!!!." Arkan berteriak memanggil Bundanya.
"Ya ampun nak, Sayang tunggu ya aku harus menggendong Agatha." Adinda berusaha melepas Satria tapi pria itu menahannya kuat-kuat.
"Bunda!! dimana kau menyimpan mainan ku?!!." Teriak Arkan lagi.
"Selin! cepat bawa Agatha ke kamarmu, ajak dia bermain di sana." Pinta Satria dengan mata setengah terpejam.
__ADS_1
"Hei Bunda! apa kau tidak mendengar kalau aku sedang memanggilmu?." Tanya Arkan yang tiba-tiba muncul dibalik pintu.
"Hai sayang, maaf tapi..." Satria segera menjawab pertanyaan putra kecilnya.
"Anakku, bisakah kau mencari mainan itu sendiri? ah ya! mintalah pada Desi untuk membantumu, tolong jangan ganggu Bunda dan Ayah." Ucap Satria.
"Hmm, baik Ayah maafkan aku." Arkan menunduk hormat lalu pergi.
"Lho Mas?! mau kemana?!." Tanya Adinda.
"Mengunci pintu."
Krekkk, setelah pintu itu terkunci, ia segera kembali ke kasur dan mendorong Adinda untuk berbaring bersamanya.
"Mas, kamu jangan begini dong, kasihan anak-anak." Kata Adinda.
"Aku hanya minta waktumu sebentar, apa itu sulit Adinda?." Pertanyaan itu membuat istrinya diam tak berani menjawab.
"A-aku akan menemanimu disini, tapi setelah itu aku harus mengurus anak-anak." katanya.
"Baik, pergilah sekarang dan urus anak-anak itu." Satria melepaskan tangan nya dan berbalik ke arah lain seraya menutup wajah dengan bantal.
"M-mas..."
"Jangan panggil aku, cepat urus anak-anakmu." Satria terlalu mengantuk sampai dia tidak menyadari apa yang dia katakan, Adinda terkejut bahkan ia berusaha menyentuh tangan suaminya lagi.
"Aku minta maaf Mas, jangan marah padaku, kemari lah." Pinta Adinda.
"Tidak usah." Walaupun jawaban nya seperti itu Adinda tetap menarik suaminya hingga berbalik menatapnya lagi.
Cup!
Wanita cantik dengan anak dua yang masih terlihat seperti bidadari mencium kening suaminya.
Satria tersenyum sesaat sebelum akhirnya kembali tidur.
"Aku disini Mas, aku akan temani kamu tidur." Kata Adinda.
...
"Kenapa Agatha bersamamu?." Tanya Jonatan.
"Orang tuanya sedang sibuk berpacaran, kau tahu? Satria itu sangat manja ! dia tidak bisa melihat istrinya selalu sibuk dengan anak, padahal anak itu buatan nya sendiri." Kata Selin.
"Ya, aku mengerti bagaimana posisi Satria, dia pasti merindukan masa-masa berdua, dia pasti rindu istrinya." Jelas Jonatan.
__ADS_1
"Kasihan Adinda, mengurus tiga bayi, yang satu bayi kecil, yang satu bayi sedang, dan yang satu lagi bayi besar." Mereka berdua tertawa sambil membicarakan hal itu.