Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
berita


__ADS_3

kemudian Satria bergegas menuju kamar mandi untuk berendam di dalam bath tub, Adinda terkejut karena suaminya tiba-tiba pergi mandi sementara dirinya masih belum mengenakan pakaian sehelai pun.


ia tahu Satria pasti sangat kesal karena kesenangan nya terganggu, lalu Adinda mencoba menghampiri laki-laki yang sedang badmood itu.


"sayang, kenapa kamu berhenti?." ucap Adinda manja, ia berusaha membuat suaminya untuk kembali dalam suasana hati yang baik. Adinda berlutut di hadapan bath tub, lalu berkata lembut.


"mas, kamu yakin tidak ingin menjawab pertanyaan ku?." tanya Adinda, namun Satria tetap diam, tanpa basa-basi lagi Adinda bergegas memakai handuk dan ingin pergi keluar, tetapi Satria segera menahan nya.


"s-sayang... mau kemana?." tanya Satria menarik Adinda mendekat


"aku mau keluar, berganti pakaian lalu pergi dari kamar ini." jawab Adinda


"jangan pergi dulu, mas belum selesai." ucap Satria menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam bath tub


2jam kemudian, mereka berdua sudah lengkap berpakaian, Adinda segera menaiki ranjang dan menyalakan televisi.


"aku lihat berita dari kemarin masih dengan hal yang sama." ucap Adinda seraya memakan cemilan ditangan nya.


"berita apa? mas bahkan belum sempat membaca berita." jawab Satria


"tentang kematian Anderson yang tertembak mati akibat ulahnya sendiri." kata Adinda lagi, setelah mendengar kata-kata istrinya, Satria sedikit tercengang.


"Anderson.." gumam nya pelan, walaupun begitu Adinda tetap mendengar Satria menyebut nya


"kau mengenali pria itu mas?." tanya Adinda


"aku tidak begitu mengenalnya, tapi aku tahu siapa dia, dulu sebelum aku memegang kendali perusahaan Anggara dia mencoba mengajak papa untuk menjalani sebuah bisnis, tetapi papa menolak karena Anderson sangat licik dalam dunia bisnis, dia bisa saja memiliki keinginan untuk menguasai seluruh aset perusahaan Anggara secara perlahan-lahan, karena dia tidak bisa memenuhi syarat yang papa berikan kala itu, makanya papa merasa ada keanehan dengan ajakan pria tersebut." ucap Satria menjelaskan, ia sembari berpikir apakah kematian Anderson ada sangkut pautnya dengan Tio Anggara, sebab kematian mereka sangat dekat jaraknya, belum lagi Anderson memang tinggal di negara tempat Tio tinggal.


"baguslah, orang licik seperti dia memang pantas mati, aku memang tidak tahu dia siapa, tetapi saat mendengar ceritamu barusan ketika dia berusaha membodohi papa, aku sangat membencinya." kata Adinda, lalu ia mematikan televisi karena muak mendengar setiap berita tentang Anderson


"sayang, aku akan mencari tahu tentang kematian Anderson, aku minta kamu untuk selalu menjaga diri, aku tidak mau kamu dalam bahaya, jika perlu aku akan meminta asistenku untuk selalu menjagamu selama aku sibuk menggali penyebab semua ini." ucap Satria mengelus kepala istrinya


"aku akan menjaga diriku, tapi mas harus janji untuk menjaga diri mas juga." balas Adinda membelai pipi Satria


"kamu tenang saja, mas akan selalu menjaga diri untukmu dan anak kita." kata Satria tersenyum, lalu ia pergi keruang kerja nya dibawah, dan menelusuri media.


ia mencari-cari tentang perusahaan Anderson, bahkan sampai ke keluarganya.


"kenapa tidak ada berita sama sekali tentang semua ini? media hanya mengetahui kalau Anderson mati akibat ulahnya sendiri, mereka bodoh atau apa? masa tidak tertulis apa ulah yang dilakukan Anderson." kata Satria penasaran


selama Satria berada di ruang kerja, Adinda turun kebawah untuk bermain bersama putra kecilnya.


"halo sayang." ucap Adinda menggendong Arkan ke dalam pangkuan

__ADS_1


"bunda." jawab Arkan senang, Selin tersenyum dan membawa putrinya juga ke hadapan Adinda


"Adinda, aku mau minta maaf atas kejadian tadi." ucap Selin, namun Adinda bingung mendengar maaf Selin.


"atas dasar apa kak Selin meminta maaf padaku?." tanya Adinda, lalu Selin berbisik dan mereka berdua tertawa bersama


"pantas saja wajah mas Satria berubah menjadi murung dan malas." kata Adinda


"Selina, kamu sudah makan?." tanya Adinda pada putri Selin


"tentu saja, aku habis menyuapi mereka berdua, banyak sekali makan nya." kata Selin gemas


"Arkan, tadi makan disuapi oleh tante ya." ucap Adinda di anggukkan putranya


"bunda, dimana ayah?." tanya Arkan memperhatikan sekitar


"ayah sedang bekerja, kamu main nya sama bunda aja ya sayang, kalau ayah sudah selesai pasti dia akan menemanimu bermain juga." balas Adinda memeluk Arkan


"untung nya Jonatan tidak sesibuk Satria, jika iya aku akan memakinya sepanjang hari." kata Selin, lalu Jonatan berdeham, hal itu membuat Selin terkejut dan tersenyum polos


"kalian berdua sangat cocok." kata Adinda diiringi tawa


saat sudah malam, Arkan dibawa Adinda ke kamarnya, ia sudah berkata bahwa Arkan akan tidur bersama dirinya malam ini.


"tidak masalah mas, pergilah dan berhati-hati besok." jawab Adinda, lalu ia menggantikan pakaian Arkan dengan pakaian tidur, lalu ia mengelus-elus kepala Arkan sampai akhirnya bocah itu tertidur


"tidak sulit ternyata meniduri anak ini." kata Satria tersenyum gemas dan mencium kening putranya


"beruntungnya aku memiliki anak seperti dia." kata Adinda tersenyum, ia menatap Arkan sejenak sebelum akhirnya mencium kening itu juga.


indah nya memiliki keluarga yang lengkap........


"besok kamu jangan pergi kemana-mana, tunggu mas di rumah sampai pulang." pinta Satria pada istrinya


"iya mas, aku akan menunggumu sampai pulang." jawab Adinda lalu mereka membaringkan tubuhnya dan tidur seraya memeluk Arkan bersama


pagi-pagi Satria bangun, seperti biasa dia akan segera pergi mandi lalu merapihkan dirinya, ia melihat istrinya masih tertidur memeluk putra kecil itu.


"kalian berdua adalah segalanya, tolong jangan pernah pergi dari hidupku walaupun hanya sedetik saja." gumam Satria menatap keduanya, ia juga mencium kening istri dan putra kecilnya pula. dibawah Satria menemui mama nya sedang duduk menikmati secangkir teh hangat, Satria duduk sejenak dan mengajak mama nya berbicara.


"selamat pagi ma." kata Satria


"pagi nak, apa kamu akan pergi ke kantor?." tanya Tania Anggara

__ADS_1


"iya ma, aku harus ke kantor hari ini, mama baik-baik ya di rumah, jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan." ucap Satria, ia mencium kening mama nya dan pergi.


di kantor, Satria datang dan disambut kehormatan oleh para karyawan, seperti biasa Satria hanya berjalan dan menatap ke depan tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. ia segera menaiki lift dan keluar saat sudah mencapai ruangan nya.


Satria segera memperhatikan kertas-kertas dan buku yang ada di atas meja tersebut, lalu sekretaris Emily masuk.


"permisi tuan, saya ingin memberitahu kalau dua hari ke depan ada meeting penting dengan klien besar kita, saya harap anda dapat mengatur waktu untuk bisa datang." ucap Emily, suaranya sangat lembut, begitu juga pakaian nya yang sangat rapih disertai senyum menawan membuatnya terlihat jauh lebih baik dari sekretaris sebelumnya.


"saya akan mengatur waktu untuk itu, silahkan pergi." balas Satria, ia baru saja ingin membuka laptopnya tetapi seseorang datang membawakan teh panas untuk Satria, saat orang itu hendak menuju meja bos nya, kaki Emily berusaha menyandung office girl tersebut agar minuman nya tumpah dan mengenai meja Satria yang penuh berkas-berkas penting, namun siapa sangka justru office girl itu sangat pintar sehingga menumpahkan nya ke samping dan mengenai Emily sendiri.


"aaaaahhh!!." teriak Emily kepanasan, Satria terkejut dan mengerutkan alisnya


"bagaimana kau bisa menumpahkan teh itu padaku?." ucap Emily berusaha tenang, ia tak mau memperlihatkan keganasan nya, apa lagi dihadapan Satria.


"m-maaf bu, saya tidak sengaja, saya tersandung." kata office girl itu, ia segera membereskan teh yang tumpah dan berusaha membantu membersihkan teh itu dari pakaian Emily


"ah tidak, tidak perlu, saya bisa mengatasinya sendiri, jangan khawatir." kata Emily, ia ingin melihat Satria memaki office girl itu namun nyatanya tidak sama sekali


"lain kali kau harus hati-hati dalam bekerja." ucap Satria, lalu office girl tersebut kembali mengucapkan kata maaf dan segera pergi


"kenapa kamu masih diam? apa tanganmu kepanasan?." tanya Satria


"t-tidak tuan, saya permisi." Emily keluar ruangan dengan wajah merah, emosinya meluap, jelas sekali tangan nya kini sangat terasa panas dan melepuh


"dasar sialan! awas kamu!." kata Emily menatap office girl itu dengan jijik


setelah jam makan siang tiba, Satria keluar dari dalam ruangan dan menaiki lift, di dalam lift dia bertemu dengan Emily, sepertinya dia sudah berganti pakaian.


"siang tuan." ucap Emily namun tak dijawab oleh Satria


"pria sombong! bisa-bisanya dia mengabaikan ucapakan ku! lihat saja, aku akan balas semua perbuatan mu dan juga keluargamu!." ucap Emily jengkel dalam hati


"aah." Emily sengaja merasa kesakitan dihadapan Satria, tetapi Satria tidak menatapnya sama sekali, ia justru memutar bola matanya dengan malas.


"tuan, sepertinya tangan saya sedikit terbakar, apakah ada obat untuk mengatasinya?." kata Emily


"saya seorang direktur, bukan seorang dokter, lebih baik kau tanyakan perihal itu pada yang ahli." jawab Satria dingin


"t-tapi tuan..." ucap Emily gugup


"karena kamu memaksa, akan saya jawab, pakailah obat pet probitix plus." mendengar jawaban Satria, Emily sangat terkejut, bahkan obat yang disarankan oleh Satria adalah obat mencret, saat pintu lift terbuka Satria segera pergi.


"kurang ajar!." gumam Emily mengepalkan tinjunya

__ADS_1


__ADS_2