Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
menuangkan rindu


__ADS_3

sudah tiga hari berlalu, Satria sudah sembuh dari sakitnya, kemudian ia menepati ajakan nya untuk menemui Arkan.


"Bunda!!!!." Teriak Arkan berlari ke arah Adinda.


"Hai sayang! apa kabar nak? maafkan Bunda ya, Bunda baru bisa jenguk kamu sekarang." Kata Adinda.


"Aku baik Bunda." Sahut Arkan.


"Ayah bawakan kamu hadiah." Arkan mendekati sang Ayah kemudian mengambil hadiah itu.


"Buka di kamar ya sayang, setelah itu kemari lagi, Bunda ingin bermain denganmu di taman." Ucap Satria mengacak kepala Arkan.


"Oke Ayah!." Adinda tersenyum melihat putra kecilnya senang, tak lupa ia juga menemui Tania Anggara di kamarnya.


"Mama, bagaimana kabar mu? maaf, lagi-lagi aku selalu datang dalam waktu yang lama, Mas Satria sakit kemarin, tapi sekarang sudah sehat." Ucap Adinda.


"Baik sayang, Mama sudah tahu dari Selin, terimakasih ya nak, kau sudah rela mengurus suamimu disaat dia sedang sakit." Tania memegang tangan Adinda dan menunduk sedih.


"Sudah kewajiban Adinda untuk mengurus Mas Satria, Mama jangan sedih ya, aku janji akan menjaga suamiku apapun yang akan terjadi nanti." Sahut Adinda memeluk Tania.


"Kau memang anak yang baik, Mama tidak salah memilih kamu untuk menikah dengan putra Mama." Jawab Tania.


"Ya sudah, Mama istirahat ya, aku akan menginap selama satu minggu disini, jadi Arkan sepenuhnya menjadi urusanku, aku minta maaf kalau sering merepotkan Mama." Kata Adinda.


"Jangan meminta maaf nak, Arkan adalah cucuku, sudah seharusnya Mama menjaga dia disaat kamu dan Satria sedang tidak ada." Kata Tania, setelah itu Adinda keluar dan menemui Arkan lagi.


"Bunda! ayo, main bersamaku." Ucap Arkan.


"Ayo nak, kita main di taman saja ya, Bunda tidak bisa jauh-jauh." Kata Adinda.


Di taman, Arkan berlari sambil bermain mobil-mobilan, raut wajahnya terlihat begitu gembira, kemudian ia memetik sebuah bunga dan memakaikan nya ditelinga Adinda.


"Bunda cantik kalau memakai bunga itu." Kata Arkan.


"Terimakasih sayang, anak Bunda pintar sekali, jangan lari jauh-jauh ya, kamu dengar Bunda kan?." Tanya Adinda, Arkan pun mengangguk dan kembali berlari.


Ketika dia sedang menarik mobil mainan nya, tiba-tiba dirinya menabrak seseorang.


"M-maaf." Arkan menunduk dan tak berani melihat wajahnya.


"Tidak apa-apa ko Arkan." Seseorang itu berlutut dan memegang bahu Arkan.


"Om Bryan?." Sebut bocah kecil itu.

__ADS_1


"Rindu sekali dengan mu." Bryan memeluk Arkan dan mencium keningnya.


"K-kenapa Om ada disini?." Tanya Arkan polos.


"Om sedang memperhatikan kamu dari sebelah sana, saat kamu bermain sampai kemari, Om rasa itu adalah kesempatan Om untuk bisa menemui kamu." Kata Bryan.


"Arkan!." Adinda memanggil putranya dengan nada sedikit tegas.


"Bunda?." Arkan menatap raut wajah tak suka sang Bunda.


"Bunda sudah bilang, jangan main jauh-jauh! kenapa kamu tidak dengar?." Kata Adinda.


"M-maaf bunda." Arkan menunduk sedih.


"Adinda, jangan terlalu keras pada anakmu, dia sama sekali tidak sengaja melakukan nya." Ucap Bryan.


"Diam kamu! aku tidak akan sekeras ini kalau kamu tidak mencoba mendekati anak ku!." Kata Adinda.


"Aku hanya merindukan Arkan, tapi aku juga merindukanmu." Sahut Bryan.


"Sudah cukup kamu bicara omong kosong! Ayo Arkan kita masuk." Adinda menggandeng putra kecilnya dan bergegas pergi, tetapi Bryan menahan tangan yang mulus itu.


"Berhenti!." Kata Bryan.


"Kesempatan? tidak ada lagi kesempatan sedetikpun untukmu kali ini, kau menyakitiku! kau membawa ku pergi ke bandara! bahkan kau menghamili Kak Selin!." Adinda membentak Bryan, tanpa disadari Arkan sudah berlari ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumah.


"A-aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukan nya, aku mabuk Adinda, semua itu karena aku terlalu mencintaimu." Kata Bryan.


"Bukan cinta Bryan! tapi kau terobsesi!!!." Ucap Adinda.


"Aku cinta sama kamu, dua bulan lebih aku berusaha melupakan nya karena ingin bertanggung jawab kepada Selin, nyatanya dia tak mau menikah denganku, dan aku juga tidak bisa menghapus cinta ini." Balas Bryan memegang tangan Adinda.


PLAKKK!!!! Adinda menampar wajah pria tampan tersebut dengan begitu keras.


"Bagaimana mungkin Kak Selin mau menikah denganmu! sementara dia hanya mencintai suaminya!!!! kau adalah pria yang jahat!!! tega-teganya kau membuat Kak Selin hamil! dia hampir saja bercerai karena perbuatan bodoh mu!! kau pria menjijikan!." Kata Adinda menegaskan.


"Aku memang menjijikan, tapi beri aku kesempatan untuk bisa menuang rasa rinduku." Ucap Bryan.


"Pergi!." Pinta Adinda, Bryan memohon sampai berlutut namun Adinda tetap memintanya pergi.


"Pergi Bryan! pergi!!!!." Teriak Adinda.


"Aku mohon, jangan usir aku." Pinta Bryan.

__ADS_1


"Sudah kubilang pergi!!!!!." Saat emosi Adinda mulai memuncak tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, sehingga kakinya menjadi lemas dan hampir terjatuh, namun Bryan menangkap tubuh itu dengan jarak yang sangat dekat.


"Perutku.." Rintih Adinda.


"Hei?! kau baik-baik saja?! k-kita ke dokter ya?!." Bryan panik dan hendak membawa Adinda pergi namun Satria datang.


"Berhenti!." Kata Satria.


"S-satria?!." Bryan tercengang, ia melihat wajah Adinda yang sudah kesakitan, karena lemas kepalanya tersandar di dada Bryan, hal itu membuat Satria marah dan terbakar oleh rasa cemburu.


"Aku sudah bilang, jangan temui pria ini!." Kata Satria membentak Adinda, rupanya dia bersikap seolah tak tahu kalau istrinya sedang kesakitan.


"Kamu ini suami macam apa?! istri sedang kesakitan tapi kau malah membentak-bentak dirinya!!!." Ucap Bryan.


"Lepaskan dia! aku yang berhak memeluk tubuh istriku!." Satria mengambil alih tubuh mungil yang sedang lemas tersebut ke dalam pelukan nya.


Kemudian ia menggendong Adinda masuk ke dalam.


"Mas, a-aku sama sekali tidak berniat untuk menemui dia, tapi di..." Satria segera memotong pembicaraan itu dengan nada tak bersahabat.


"Aku tidak perduli! yang jelas dari awal aku sudah katakan kalau aku melarang keras pertemuan kalian!." Satria marah.


"Tapi Mas semuanya tidak seperti yang kam.." Adinda berusaha keras menjelaskan sambil memegang perutnya yang sakit, namun Satria bersikeras mempertahankan kemarahan nya.


"Sudahlah, kamu sekarang memang tak bisa dipercaya, kalau kau tidak mau mendengarkan Mas lagi, ya sudah terserah dirimu saja." Satria keluar meninggalkan Adinda tanpa menoleh sedikitpun.


"Mas!." Adinda mengejar suaminya sampai ia terjatuh di lantai.


"Aaah!." Adinda menangis sambil memegang perutnya lagi, tetapi Satria tidak juga kembali untuk menolongnya.


"Kamu salah paham Mas." Suara lemah itu muncul dari mulut Adinda.


ia berusaha berdiri sekuat tenaga tetapi terlalu sakit, sehingga dirinya memilih bersandar di dinding seraya duduk dilantai.


"Semoga kamu baik-baik saja ya nak." Adinda mengelus perut itu sambil membuang nafas.


...


"Semoga Adinda baik-baik saja, aku tidak mau sampai ia terluka, awas saja kalau Satria tidak becus menangani istrinya, aku akan mengambil dia dari tangan pria bodoh seperti Satria Anggara itu." Gumam Bryan mengepalkan tinjuan.


Satria pergi menaiki mobil untuk mencari angin, dia sangat kesal dan cemburu melihat Adinda yang terima begitu saja saat berada di pelukan Bryan.


"Lagi-lagi Bryan berani menampakkan wajahnya didepan ku!." Kata Satria.

__ADS_1


"Adinda juga! sudah tahu aku sangat membenci pria itu, tapi dia dengan senang memeluk Bryan!." Gumam nya lagi.


__ADS_2