Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Mac Wilson


__ADS_3

"Lihat wajahku." Pinta orang tak dikenal.


"Kau ?!." Agatha menyipitkan mata lalu menunjuk wajahnya.


"Masih ingat ?."


"Kau kan pria yang ingin membayar belanjaan ku." Kata Agatha.


"Greg, itu namaku." Ucap Greg.


"Apa kau juga yang mengirim pesan padaku kemarin ? kalau itu benar, dari mana kau tahu nomor teleponku ?." Ia mengintrogasi pria didepannya.


"Tidak sulit mencari tahu tentangmu, ayo ikut denganku." Ia menarik Agatha lagi, sementara Agatha menepis tangan Greg.


"Lepaskan ! aku sama sekali tidak mengenalmu, tapi kau dengan lancangnya menghubungiku bahkan menarik tanganku seperti ini." Agatha hendak berbalik pergi, kemudian Greg kembali menariknya lagi.


"Kita harus bicara, ini tentang pria yang menolak uangku kemarin." Tentu saja, Agatha tak lupa bahwa Kakaknya kemarin menolak uang dari Greg.


"Kakakku ? kau tahu apa tentangnya ?." Tanya Agatha.


"Ikut aku ke mobil, akan aku ceritakan di suatu tempat." Dengan berat hati Agatha mengikuti Greg kedalam mobilnya, lalu mobil itu melaju dengan cepat.


"Bagaimana dengan supirku ?." Agatha sedikit cemas.


"Jangan khawatir, dia tidak akan melihatku membawamu." Ucap Greg.


"Aku tahu, tapi bagaimana kalau dia menungguku." Greg tertawa kecil, lalu mengacak rambut Agatha.


"Dengar ya, jangan pernah sentuh aku dengan sembarangan." Agatha mengingatkan.


"Galak sekali, mirip dengan Kakakmu." Greg tertawa.


Mereka berdua menuju sebuah Cafe, tak lupa Greg Wilson membayar Cafe tersebut secara khusus agar segera dikosongkan.


"Mereka sedang menikmati makanan nya, kenapa kau begitu ?." Tanya Agatha kesal.


"Agar kau merasa tenang." Balasnya.


"Hah ? kau tahu apa ?." Agatha memalingkan wajah malas.


"Pesan apa saja yang kamu inginkan." Kata Greg.


"Aku tidak lapar, dan tidak haus." Balas Agatha.


"Rumit sekali mengajakmu pergi, kalau lapar jangan salahkan aku." Greg memanggil pelayan dan memesan minuman satu gelas.


"Jadi cepat katakan, apa yang kau tahu tentang Kakakku." Kata Agatha memelototi Greg.


"Terlalu cepat jika aku bicara sekarang, minuman nya saja belum datang." Greg tersenyum.


"Jangan main-main, atau aku akan melaporkan hal ini pada orang yang akan kau bicarakan itu." Kata Agatha mengancam.


"Hei, tenang ! tenang ! aku hanya merasa tak asing dengan wajah Kakakmu, lalu aku meminta bawahan ku untuk mencari tahunya, dari situlah aku mengetahui bahwa dia penerus perusahaan Anggara, yang tak lain adalah Arkan bukan ?." Greg menjelaskan secara perlahan.


"Lalu apalagi ?." Agatha.


"Aku pemilik Mac Wilson." Perkataan Greg membuat Agatha sedikit berpikir.


"Mac Wilson, sepertinya aku pernah mendengar." Greg meledakkan tawa nya, hal itu membuat Agatha terkejut.


"Hahahah, aku yakin semua orang pernah mendengar nama itu, jadi apa kau mengetahuinya ?." Kata Greg.

__ADS_1


"Perusahaan terbesar dalam bidang properti dikota C ?." Sebut Agatha.


"Benar, dan aku tahu kalau perusahaan Anggara bukanlah perusahaan kecil, bagaimana kalau kau membantuku untuk bisa bekerja sama dengan Kakakmu ?." Ucap Greg.


"Dasar payah, mencariku hanya karena kau ingin bekerjasama dengan Kakak ?." Agatha berdiri dari kursinya dan ingin pergi.


"Kau ini, tidak bisakah menahan emosi sebentar ? aku tidak bermaksud begitu." Greg menahan Agatha.


"Lalu apa maksudmu ? kalau kau ingin bekerjasama dengan Kakak, lebih baik berusaha sendiri ! jangan meminta bantuan padaku, semoga ini menjadi pertemuan yang terakhir." Agatha segera pergi.


"Hei ! aku akan mengantarmu." Teriak Greg.


"Tidak perlu susah payah mengantarku, aku bisa menaiki taxi."


Greg melihat dari kejauhan kalau Agatha sudah memberhentikan taxi.


"Oke, baiklah. Tapi aku berharap kita akan segera bertemu lagi." Greg melengkungkan senyumnya penuh percaya diri.


...


"Nona, hari ini anda sudah boleh pulang." Ucap suster.


"Terimakasih. Oh ya, tolong beritahu saya dimana meja administrasi nya." Kata Rain.


"Anda tak perlu khawatir soal administrasi nya lagi, karena Tuan yang kemarin sudah melunasinya." Suster itu segera pergi.


"Dia juga melunasi tagihan rumah sakit ini ?." Rain keluar dari rumah sakit dan langsung menuju rumahnya.


Setibanya dirumah, ada seorang pria yang mengejutkan.


"Senang bertemu denganmu lagi." Ucap pria tersebut.


"K-kau ! pergi ! jangan dekati aku ! pergi kau !." Rain berteriak seakan-akan dia sedang melihat hantu.


"Pergi ! aku bilang pergi !!!!." Rain segera membuka pintu dan hendak masuk untuk menguncinya, tapi tubuhnya ditarik dengan amat keras.


"Jangan macam-macam ! dari mana kau ?!." Rain gemetar ketakutan, dia terus menangis.


"Lepaskan aku, aku- aku sama sekali tidak mengerti maksudmu." Rain merintih kesakitan.


"Pembohong ! kau habis mengobati lukamu kan ? masih punya uang ya rupanya ?." Katanya lagi.


"Leonard stop !!!!! pergi dari sini atau aku akan melaporkanmu ke polisi." Rain menjerit.


"Hahaha, sudah berani mengancam, kau ingat sejak kemarin kau berusaha melaporkanku lalu apa yang terjadi ?." Leonard tertawa.


"Biarkan aku tenang Leonard, kau bisa mencari wanita lain jika kau ingin." Wanita didepan nya berlutut pasrah.


"Aku tak akan pernah membiarkanmu hidup dengan tenang ! kau satu-satunya wanita yang menolak ku dengan sombong ! memangnya kau secantik apa ? cuih !." Leonard meludahi wajah Rain.


"Kau tidak ada bedanya dengan sampah !." Leonard mendorong Rain sampai terbentur dinding, ia juga mengunci Rain dengan kedua tangan nya sehingga wanita itu tak mampu bergerak.


"Masih ingin melawan ?." Tanya Leonard.


"Aku bersumpah akan membalasmu !." Ucap batin Rain.


Kediaman Wilson,


"Dimana Leonard ?." Tanya Greg pada pelayan.


"Tuan Leonard belum lama pergi Tuan, tapi saya tidak tahu kemana." Pelayan.

__ADS_1


"Yasudah, siapkan makan sore." Pinta Greg.


"Baik Tuan."


Greg tersenyum sepanjang waktu karena memikirkan Agatha.


sebenarnya membicarakan Arkan itu hanya sebuah alasan, agar dia bisa bertemu lagi dengan wanita yang ditemuinya kemarin.


"Tidak bosan melihat wajahmu, sekalipun terbentuk dengan penuh amarah." Greg tersenyum lagi, seolah dia mendadak jadi gila sekarang.


***


"Aku menyesal ikut dengannya ! dia berbicara seolah-olah pembahasan itu sangatlah penting, padahal ternyata payah !." Agatha terus mengoceh didalam taxi.


Tring...Tring


"Halo Kak." Ucap Agatha yang baru saja menjawab panggilan Arkan.


"Kau dimana ? Rio memberitahuku kalau dia tidak bisa menemukanmu dimana pun." Kata Arkan.


"Aku berada di taxi, menuju rumah." Jawab sang Adik.


"Taxi ?! kau dari mana ?." Agatha memijat kepalanya karena bingung harus menjawab apa.


"Habis ada urusan sebentar, Rio sedang pergi ke toilet jadi terlalu makan waktu untuk menunggunya kembali." Kata Agatha asal.


"Benarkah ? kalau begitu hati-hati, kirimkan foto supirnya padaku, nomor mobilnya juga, biar kalau dia macam-macam sudah pasti akan aku habisi." Arkan mengepalkan tinjunya.


"Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja, sampai ketemu dirumah Kak." Agatha menutup panggilan.


"Supir Taxi saja bisa dihabisi oleh Kakak, apa lagi pria seperti barusan, ah siapa namanya ? Greg ! ya, mungkin dia akan menjadi daging gepeng." Kata Agatha.


.


.


.


"Lihat ! mereka seperti sedang bertengkar." Kata para tetangga yang melihat Rain juga Leonard.


"Ayo kita kesana." Ketiga orang itu mendatangi rumah Rain, Leonard yang menyadarinya segera melepaskan Rain, lalu melingkarkan tangan nya dipinggang wanita itu.


"Diam atau kau akan aku bunuh !." Bisik Leonard, Rain sangat gemetar ketakutan.


"Tuan, apa ada masalah ? kami melihat anda sedang bertengkar." Kata salah satu orang yang menjumpai mereka berdua.


"Ah tidak, tadi hanya ada kesalahpahaman saja, jangan khawatir." Leonard tersenyum, sangat manis.


"Begitu ya, lalu kenapa wajah Nak Rain penuh air mata ?." Katanya lagi.


"Rain hanya terharu karena aku baru saja melamarnya." Balas Leonard.


"Wah benarkah ? aku baru tahu kalau Rain punya pasangan setampan ini, jangan lupa undang kami ya Rain." Para tetangga itu tersenyum senang kemudian pamit pergi.


"Kau jahat Leonard ! kau jahat !." Rain memukuli Leonard dengan lemah, namun pria didepan nya hanya terkekeh.


"Aku punya penawaran terakhir, kau terima aku atau aku tak akan pernah membiarkan laki-laki manapun memilikimu." Ucap Leonard.


"Kau tidak cinta padaku ! semua yang kau lakukan semata-mata hanya karena obsesi." Kata Rain.


"Aku cinta padamu Rain ! aku cinta !." Leonard menekan bahu Rain, ia terus mengatakan cinta padanya.

__ADS_1


"Bukan ! jangan katakan lagi !." Rain mendorong Leonard dengan sekuat tenaga, lalu ia masuk kedalam kamar serta mengunci pintu.


"Wanita brengs*k !."


__ADS_2