
"Halo Satria." Ucap Monik.
"Kau?." Satria melihat wanita yang berdiri dihadapan nya dengan heran.
"Bisakah aku bertemu dengan Adinda? aku sudah ada janji sebelumnya." Kata Monik tersenyum.
"Benar begitu? istriku didalam, masuklah jika sudah ada janji sebelum bertemu." Satria mempersilahkan wanita itu masuk.
"Hai Adinda.." Monik kegirangan menuju ranjang tidur Adinda.
"Monik, akhirnya kau datang, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Adinda senang.
"Aku pasti datang untuk melihat bayi cantik ini, bagaimana setelah melahirkan anak kedua? apa masih terasa sakit?." Tanya Monik.
"Tidak seperti pertama kali saat aku melahirkan Arkan, terimakasih ya kau sudah jauh-jauh datang kesini, sudah makan belum? kalau belum aku akan meminta Mas Satria untuk membelikan nya." Kata Adinda.
"Syukurlah, ah tidak perlu dibelikan, aku sudah makan sebelum datang kesini, dimana Arkan? dia pasti sudah besar ya? aku membawakan hadiah untuk pria tampan itu." Monik mencari-cari keberadaan Arkan.
"Sayang sekali anak pertamaku tidak berada disini, dia sedang di rumah karena aku khawatir jika dia berlama-lama di rumah sakit, tapi tenang saja, aku tetap menerima hadiahnya ha-ha." Balas Adinda tertawa kecil.
"Aku sempat bertemu Sheira diluar, dia terlihat sangat menyedihkan, air matanya mengalir sepanjang dia berjalan, tapi kenapa suaminya terlihat baik-baik saja saat keadaan wanita itu kacau?." Monik bingung dan langsung bertanya-tanya.
"Entahlah, aku tidak terlalu perduli dengan hubungan mereka, tapi jika dia menangis mungkin penyebabnya karena para pekerja perusahaan Anggara sempat membicarakan dia tadi." Kata Adinda.
"Begitu ya? apa dia sering mendapat kekerasan di dalam rumah tangga nya? aku juga melihat banyak lebam di sekujur tubuh itu, maksudnya ditempat yang mudah terlihat." Jelas Monik.
Adinda segera menjelaskan bagaimana dulu suaminya menolong Sheira dari kekejaman Adi, sehingga Monik mengangguk sambil mendengarkan.
"Sudah-sudah, aku tidak pandai merumpi sebenarnya, tapi ini kau yang mengajak ya?! ha-ha!." Adinda kembali tertawa.
"Kenapa kau mudah sekali hamil? jangan katakan pada siapapun ya, aku ini sebenarnya sedang menjalani proses bayi tabung." Kata Monik.
"Apa?! bayi tabung?!." Adinda terkejut.
__ADS_1
"Sssssh! jangan sampai ada yang mendengarnya, dua tahun lalu aku dilamar oleh pria yang baru saja dekat denganku sekitar tiga bulan terakhir, sampai sekarang aku belum juga diberi kesempatan untuk memiliki anak, sementara mertuaku selalu menanyakan bayi bayi dan bayi, pusing sekali!." Ucap Monik frustasi.
Setelah mereka puas berbincang-bincang, Monik pun pamit pergi meninggalkan Adinda.
"Ternyata kau sedekat itu ya dengan Monik." Ucap Satria.
"Ya seperti itu deh, walaupun dia pernah jahat padaku dulu, setidaknya dia sudah meminta maaf dan segera berubah menjadi lebih baik, bahkan jika di pikir-pikir aku justru berhutang nyawa padanya, maka dari itu kami bisa berteman dengan sangat baik." Jelas Adinda.
"Ah begitu, ya sudah kau langsung istirahat, aku melarang mu untuk bertemu dengan siapapun lagi walaupun sudah membuat janji, dengar?." Pria tampan tersebut mencoba menegaskan.
"Dengar Mas, aku istirahat sekarang, kau jangan lupa makan ya." Adinda tersenyum kemudian memejamkan matanya.
...
Beberapa hari telah berlalu, kini Adinda sudah kembali ke rumah dengan bayi keduanya.
"Cantik sekali ya anakmu, sama seperti Selina saat dulu masih bayi." Ucap Selin.
"Tentu saja cantik, kau lihat kan Kak betapa cantiknya aku." Kata Adinda tertawa kecil.
"Benarkah?."
"Ha-ha, mungkin saja itu efek kehamilan kedua serta setelah melahirkan." Ucap Selin.
"Bunda!!!." Arkan berlari bersama Selina.
"Hai sayang, ada apa nak?." Tanya Adinda.
"Aku dan Selina habis membuat boneka kecil ini untuk Adik Agatha." Kata mereka berdua.
"Wah lucunya, terimakasih banyak anak-anakku." Adinda mengusap kedua kepala anak kecil itu dengan sangat lembut.
"Bunda, kapan Adik Agatha besar?." Arkan bertanya.
__ADS_1
"Sayang, Adikmu akan segera besar, berjanjilah pada Ayah untuk selalu menjaga Agatha saat besar nanti." Kata Satria.
"Ayah, Bunda, aku berjanji akan menjaga Adik Agatha." Adinda tersenyum hangat saat mendengar putra kecilnya mengucap sebuah janji didepan dirinya dan Satria.
"Lucunya Adikku." Arkan mencolek pipinya lembut sambil tersenyum girang.
"Apa anak Bunda yang tampan ini sudah makan?." Arkan mengangguk.
"Sudah Bunda, Nenek yang menyuapiku makan." Kata Arkan lagi.
"Ya sudah, belajar ya nak dikamar, ajak Selina belajar juga, Bunda harus ke kamar bersama Adikmu." Pinta Adinda.
"Baik! aku akan belajar!." Arkan membawa buku tulis dan langsung mengajak Selina pergi ke kamar.
"Sayang, kau bahkan belum makan dari tadi, jadi biarkan aku menjaga Agatha, dan kamu makanlah." Pinta suaminya.
"Mas, Agatha akan menangis jika aku melepasnya, tidak perlu khawatir, saat putri kita tidur aku pasti akan makan." Balas Adinda meyakinkan.
"Tidak, Mas tidak mau melihat istri Mas sibuk mengurus bayi tanpa makan, kau tunggu disini, Mas akan ambilkan makan siang ya." Satria melangkah pergi untuk mengambil sepiring nasi.
tiga menit kemudian ia kembali dan langsung duduk dihadapan Adinda.
"Maaf ya aku jadi merepotkan mu." Kata Adinda.
"Sayang, jangan berkata seperti itu, ini kewajiban ku sebagai seorang suami, lagi pula kau sibuk begini kan karena ulahku dimalam hari." Mendengar perkataan Satria yang sedikit gila, Adinda pun meledakkan tawa.
"Jangan lakukan itu lagi ya Mas, dua saja sudah cukup bagiku." Jawab Adinda seraya tertawa kecil.
"Bagaimana tidak melakukan nya lagi? kau sangat menggodaku setiap malam." Ucap Satria.
"Apa kau tega membahas hal ini didepan bayi kecil?." Tanya Adinda.
"Berhentilah mengalihkan pembicaraan, katakan padaku bahwa kau juga merindukan nya kan?." Adinda semakin malu, sampai dia memalingkan wajah dari hadapan Satria.
__ADS_1
"Ayo buka mulutmu, setelah dua bulan nanti kau harus bersiap melayaniku lagi." Sambil membuka mulut, Adinda juga mencubit pipi Satria dengan keras dan tertawa geli.
"Aku tidak tahu apa yang akan Arkan dan Agatha katakan saat besar nanti jika dia mengetahui Ayahnya yang mesum ini." Kata Adinda.