Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Perintah Satria


__ADS_3

"Saya akan mengecek keadaan pasien terlebih dahulu."


Jeremy memundurkan diri, lalu mengambil ponsel dari sakunya.


"Ada apa Tuan ? jika anda merasa kesulitan saya siap membantu." Ucap Fran.


"Tolong kau bereskan semua pekerjaanku dikantor, aku tidak akan datang hari ini." Jeremy segera mematikan telepon.


"Aneh, tidak biasanya dia seperti ini." Fran menggelengkan kepala lalu menjalankan tugas dari atasannya.


"Bagaimana Dok ?." Tanya Jeremy.


"Tuan, sebaiknya pasien dirawat dirumah sakit ini, agar beliau mendapatkan penanganan secara lebih intensif." Ucap Dokter.


"Lakukan apa saja yang terbaik." Ucap Jeremy.


Dikediaman Anggara,


"Aku benar-benar harus memberi perhitungan pada Greg !." Arkan menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Greg.


"Arkan, Bunda benar-benar takut hal buruk terjadi pada Adikmu." Adinda menangis karena khawatir.


"Kau jangan khawatir, Agatha sudah besar. Dia pasti bisa menjaga diri." Satria menenangkan istrinya.


"Kau harus bisa mengontrol emosimu, tidak baik mengambil tindakan disaat kau sedang marah." Selina mengelus punggung Arkan.


"Dia sangat lancang ! berani membawa kabur Adikku melewati selembar tali." Arkan benar-benar tak terima.


"Aku rasa kau tidak perlu cemas, jika pria itu mencintai Adikmu, dia pasti menjaganya dengan baik." Kata Selina.


Disisi lain, Greg terbangun dan melihat tempat tidur sudah kosong.


"Agatha ? kau dimana ?." Greg segera mencari wanitanya.


"Agatha ?." Panggilnya lagi, ia menyadari kalau wanita itu sudah tak berada disini.


"Apa mungkin kau sudah pulang ?." Greg menghubungi Agatha namun ponselnya tidak aktif.


"Kenapa perasaanku gelisah begini, apa Agatha benar-benar sudah pulang ?." Greg mengambil jaketnya lalu pergi memasuki mobil untuk mengunjungi rumah Agatha, sekedar memastikan bahwa dia berada disana.


"Agatha kenapa ponselmu tidak aktif ? kau membuatku sangat khawatir." Greg menambahkan kecepatan laju mobilnya.


Satu jam kemudian, Greg sampai didekat kediaman Anggara.


dengan penuh keberanian ia turun, lalu mendekati pagar.


"Aku harap kau benar-benar berada didalam." Ucap Greg.


"Anda siapa ?!." Tanya satpam.


"Maaf, apa Agatha berada didalam ?." Tanya Greg.


"Sepertinya Nona Agatha belum pulang, karena itu Tuan Arkan sedang marah besar didalam." Greg sangat terkejut, dia kebingungan kemana Agatha pergi.


Dari dalam Arkan memperhatikan Greg yang sedang mengobrol dengan satpam.


Arkan memberikan aba-aba kepada yang lain untuk tidak memperbolehkan Greg keluar dari rumah ini selangkah kakipun.


"Baik, kalau begitu terimakasih." Greg hendak pergi, tetapi ditahan oleh satpam lainnya.


"Tunggu Tuan !." Greg menoleh kemudian melihat Arkan berjalan tegak kearahnya.


"Untuk apa kau kemari ? katakan dimana Agatha ?!." Tanya Arkan.


"Aku datang kemari justru untuk menanyakan hal ini padamu, apa Agatha sudah kembali ?." Ucap Greg.


"Brengsek !." Arkan meninju Greg.


"Kau yang membawanya semalam ! lalu bertanya padaku tentang Agatha ?!." Arkan menarik kerah Greg.


"Aku tidak menyembunyikan Adikmu sedikitpun, saat aku terbangun dia sudah tidak berada ditempatnya." Penjelasan Greg semakin membuat Arkan marah.


"Berani kau menidurinya ?!!!!." Ucap Arkan meninju Greg lagi.


"Arkan hentikan ! aku sama sekali tidak macam-macam pada Adikmu ! aku bukan pria brengsek yang suka memainkan wanita ! aku mengajaknya pergi hanya untuk memberi hadiah." Greg menjelaskan lagi.


"Greg, ini peringatan terakhir ! kalau kau berani mendekati Agatha lagi, akan aku pastikan kau mati ditanganku." Arkan sangat marah sampai tak sadar menahan air mata.


"Usir dia !." Perintah Arkan kepada satpam.


"Arkan ! akan ku buktikan kalau aku mencintai Adikmu walaupun nyawa taruhannya !!!!." Teriak Greg.


"Cepat pergi, sebelum Tuan Arkan menghabisimu." Ucap para satpam.


"Lepaskan !." Satpam itu memundurkan diri dari Greg.


"Agatha ! kau dimana sebenarnya ?!." Greg frustasi.


Kembali lagi dirumah sakit, Agatha sudah sadar ia langsung memalingkan wajah dari Jeremy.


"M-maaf." Ucap Jeremy.


"Aku membuatmu takut." Agatha sama sekali tak menjawab.


"Dokter bilang kau harus dirawat sementara disini, agar lekas sembuh." Agatha menatap matanya.


"Tidak perlu ! katakan pada Dokter itu kalau aku tak butuh penanganan apapun !." Ucap Agatha tegas.


"Bukankah itu lebih baik ?." Kata Jeremy.


"Bukan urusanmu." Agatha bangun dan ingin meninggalkan ruangan.


"Hei, kau belum sembuh." Jeremy hendak memegang tangannya namun Agatha menolak.


"Jauhkan tanganmu, aku bisa bergerak sendiri." Agatha keluar dari dalam ruangan dengan tubuh sempoyongan, ia menuju pintu depan rumah sakit.


Jeremy mengikuti Agatha dari belakang, lalu melihat wanita itu hampir terjatuh lagi.


dengan sigap ia menangkapnya, membantu secara penuh hati-hati.


"Aku sudah bilang jauhkan tanganmu." Ucap Agatha lagi.

__ADS_1


"Kau masih lemah, tidak seharusnya keluar dari rumah sakit seperti ini."


"Apa pentingnya bagimu ? aku begini karena kau !." Agatha menunjuk wajah Jeremy.


"Maaf, sekali lagi aku katakan maaf. Biar aku mengantarmu pulang." Jeremy menatap wajah Agatha.


"Aku tidak butuh kamu." Agatha menepis tangan Jeremy dan berjalan keluar.


"Dasar tidak tahu diuntung." Jeremy kesal.


dirinya kini melihat Agatha berjalan sembarangan, tak melihat sisi kanan dan kiri.


sampai ada sebuah motor melaju cepat dari arah kanan dan ingin menabrak Agatha.


"Hei minggir !!!!!." Jeremy berlari kemudian memeluk Agatha untuk melompat ke lain arah.


"Aaaaaaaaaahg." Badannya terbentur, tetapi tak merasakan sakit.


ia melihat kalau ternyata tubuh Jeremy menahannya dari bawah.


"Apa kau memiliki hobi ditabrak ?." Ucap Jeremy menghela nafas.


"Motor itu yang salah ! dia tidak melihatku !." Ucap Agatha kesal.


"Kau yang tidak melihatnya." Jeremy mengetuk kening Agatha dengan telunjuknya, kemudian meminta wanita itu bangun.


"Dasar, semua pria sama saja ! sukanya menabrak !." Jeremy mengerutkan wajah, lalu menarik paksa Agatha.


"Masuk mobilku." Pinta Jeremy.


"Lepaskan ! kau itu penculik yang sedang menyamar ya ? penasaran sekali padaku." Agatha berusaha melepaskan tangannya.


"Untuk apa menculik wanita bodoh sepertimu ? semua orang yang mati itu ingin hidup, tapi kau yang hidup malah ingin mati." Wanita disebelahnya menatap sinis.


"Aku akan membuat perhitungan padamu." Agatha menunjuk wajah Jeremy.


"Kau wanita satu-satunya yang berani menunjuk wajahku seperti itu." Kata Jeremy.


"Hah ! kau pikir dirimu ini siapa ? presiden ?." Agatha menertawakan pria yang sedang memegang setirnya.


"Siapa namamu ?." Tanya Jeremy.


"Kau tidak perlu tau namaku siapa, tidak ada gunanya." Jawab Agatha.


"Ada."


"Apa ?."


"Untuk dimasukkan kedalam daftar rumah sakit jiwa, karena selalu ingin membunuh dirinya sendiri dengan cara ditabrakkan ke orang lain." Agatha kesal lalu menggigit tangan Jeremy.


"Aaaarghh !."


"Siapa juga yang ingin membunuh diri sendiri ?! seharusnya kau yang masuk kedalam rumah sakit jiwa karena ingin membunuhku tadi." Agatha mencubit lengan Jeremy.


"Siapa namamu ?." Tanyanya lagi.


"Tidak bosan ya menanyakan hal yang sama secara terus menerus ?!." Agatha memelototinya.


"Tetap saja lebih dari satu." Jeremy menghela nafas lagi, ia tak tahu bagaimana menghadapi wanita gila ini.


"Kalau kau tidak mau menyebutkan namamu, aku akan menggeledah dompetmu." Agatha syok, dia menatap tajam pada pria itu.


"Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tindakan pemaksaan." Sahut Agatha.


"Dari tadi yang kau omong hanya polisi, polisi dan polisi." Jeremy menghentikan mobilnya kemudian memegang tangan Agatha.


"Mau apa kau !." Jeremy mengeratkan cengkramannya, membuat Agatha ketakutan.


"Aku akan mencari dompetmu, dimanapun letaknya."


"Hei ! b-baik ! hentikan, aku akan memberitahu namaku." Kata Agatha.


"Siapa ??."


"Agatha, itu namaku." Jeremy tersenyum sambil mengangguk-angguk, ia kembali menjalankan mobilnya dengan baik.


"Ingin makan ? anggap saja ini permintaan maafku karena sudah menabrakmu tadi." Agatha kesal.


"Kau pikir dengan sepiring nasi bisa membayar semua rasa sakit ku ?!!!." Ucap Agatha.


"Lalu harus membayar dengan cara apa ?." Kata Jeremy.


"Kau harus jadi pelayanku." Mendengar perkataan tersebut Jeremy mendadak menghentikan mobilnya.


"Aduh ! jangan berhenti mendadak begitu dong !."


"Pelayan ? Hahahahaha, aku suka rela membayar dua puluh pelayan di rumahku dan aku harus menjadi pelayanmu ? jangan berharap." Jeremy tertawa geli.


"Dua puluh ? hem, sepertinya kau hampir menyamai rumahku." Agatha menggaruk dagunya yang tak gatal.


"Memang ada berapa ?." Tanya Jeremy.


"Lima belas, hanya beda lima saja." Sahut Agatha.


"Wow." Jeremy takjub.


"Cepat jawab, jika kau tidak mau masuk penjara maka jadilah pelayanku." Agatha melihat mata Jeremy.


"Tidak sulit, aku hanya ingin membuka toko roti dan kau harus membantuku untuk semua itu." Ucap Agatha lagi.


"Toko roti ?." Jeremy menoleh.


"Ya."


"Akan aku pikirkan, karena banyak sekali pekerjaan yang lebih penting dibandingkan toko kecilmu." Kata Jeremy.


Mereka berdua sibuk berbincang, hingga seketika turunlah hujan.


saat tiba didepan pintu gerbang, mobil Jeremy distop oleh para penjaga.


Tok..tok

__ADS_1


"Turunkan kacamu." Perintah satpam.


"Aku tidak suka diperintah." Ucap Jeremy mengerutkan alis.


"Ayo buka saja, biarkan aku bicara padanya." Balas Agatha.


"Tuan, ada kepentingan apa kau...Nona ? anda sudah pulang ?." Tanya satpam tersebut.


"Tidak perlu banyak tanya, buka gerbangnya !." Agatha menunjuk gerbang itu.


"B-baik." Cepat-cepat gerbang itu dibuka, dan mempersilahkan mobil Jeremy masuk.


Dari dalam Arkan mendengar suara mobil berhenti didepan pintu.


ia segera berjalan menghampiri mobil tersebut.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan payung untukmu." Jeremy keluar membawa payung, kemudian membukakan pintu untuk Agatha.


"Hati-hati." Ucap Jeremy.


"Terimakasih." Agatha berbalik dan melihat wajah Arkan.


PLAKKKK ! Sebuah tamparan yang amat keras mendarat dipipi Agatha.


Jeremy terkejut, tak menyangka melihat seorang laki-laki sangat berani menampar perempuan. Ia mengepalkan tangan, lalu menatap wajah Arkan.


"Apa begini caranya bersikap pada wanita ?!." Ucap Jeremy.


"Bukan urusanmu." Arkan menarik tangan Agatha, memaksanya masuk kedalam.


"Lepaskan tangannya ! siapapun kau, tidak sepantasnya melakukan hal ini." Jeremy menarik Agatha.


"Aku yakin kau tidak tuli ! sekarang cepat pergi karena ini bukan urusanmu !." Arkan menyeret Agatha dan menutup pintu itu rapat-rapat.


"Kak sakit !." Ucap Agatha.


"Beraninya kau pergi diam-diam ?! apa kau sekarang sudah menjadi anak yang liar Agatha ??!! dimana tahtamu ?!." Arkan memaki Adiknya tanpa berpikir lagi.


"Apa aku salah pergi dengan pria yang aku sukai ??!! sementara Kakak bisa bebas mendekati wanita yang tidak jelas asal usulnya itu !." Entah kenapa Arkan merasa sangat kesal sehingga menamparnya sekali lagi, hal itu membuat Agatha benar-benar menangis.


"..." Ia memegang pipinya, dan menunduk.


"Jaga ucapanmu ! jangan pernah membandingkan Rain dengan pria bodoh itu ! ingat Agatha, aku telah memberitahu pada Greg bahwa sekali lagi dia berani mendekatimu, maka aku tak segan-segan membunuhnya." Ucap Arkan menekankan.


Agatha mulai merasa pusing, ia berusaha berpegangan dengan Arkan.


Arkan bingung, kemudian melihat ada darah yang keluar dari hidung Adiknya.


"Agatha ??!!." Arkan memegang wajah Agatha, tiba-tiba wanita itu jatuh kedalam pelukan sang Kakak.


Ia menggendong Adiknya kedalam kamar, kemudian menghubungi Dokter.


Semua keluarga berada disana, mengkhawatirkan kondisi putri kesayangan mereka.


Hanya menunggu sepuluh menit, Dokter pun datang.


"Biar saya periksa dulu kondisinya." Dokter itu mengecek keadaan Agatha.


Rupanya rasa pusing yang dia alami karena bekas kecelakaan beberapa jam lalu.


Hidung yang berdarah juga karena tubuh Agatha sangat kelelahan.


"Akan saya berikan obat khusus, sebaiknya Nyonya dan Tuan lebih memperhatikan Nona Agatha lagi." Saran Dokter.


"Terimakasih banyak Dokter, saya pasti lebih memperhatikan dia." Adinda menangis melihat putrinya terbaring diatas kasur.


Arkan keluar dari dalam ruangan, diikuti oleh Selina.


"Aaaargh ! kau sangat bodoh Arkan ! kenapa dengan mudahnya memukul Adikmu sendiri ! Adik kesayanganmu !." Pria itu mencoba meluapkan emosinya dengan cara meninju dinding berulang kali.


"Arkan sudah, jangan lakukan ini." Selina memegang tangan Arkan, melihatnya penuh hati-hati.


"Tidak boleh melukai diri sendiri, bagaimana bisa mencintai orang lain jika diri sendiri saja tidak bisa kau cintai." Jelas Selina.


"Aku sudah menampar Agatha sebanyak dua kali dengan tangan yang sama, aku begitu kejam padanya." Arkan menangis.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, jika dia sadar nanti kau bisa langsung meminta maaf." Kata Selina.


"Dia terlalu lemah, aku sangat mencintainya. Lebih dari diriku sendiri !." Arkan menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menyesal.


"Arkan sudah, sekarang hapus air matamu, kita tunggu sampai Agatha bangun." Selina membantu Arkan berdiri.


"Aku harus meminta maaf padanya."


Dikamar, Arkan mengelus kepala sang Adik berkali-kali.


dia mencium keningnya, mencium punggung tangannya karena merasa menyesal.


dia tak mau kehilangan wanita didepannya ini.


"Kau segalanya bagiku Agatha, tidak akan ada cinta yang lebih besar dari pada aku mencintai Bunda dan dirimu." Ia terus memegangi tangan Agatha.


"Kak." Arkan menoleh dan melihat Adiknya kini telah sadar.


"Kau sudah bangun ? Aku benar-benar menyesal karena sudah kasar padamu, tolong maafkan aku." Arkan menciumi tangan Agatha.


"Tadi aku sempat ditabrak mobil." Semua orang dikamar itu merasa terkejut, lalu saling bertanya.


"Dimana ?! siapa yang berani menabrakmu ?." Ucap Adinda sangat khawatir.


"Apa kau sudah diperiksa setelah ditabrak tadi ? dimana yang sakit ? beritahu aku." Arkan memegangi kening dan bahu Agatha.


"Aku sudah diperiksa oleh Dokter, hanya luka kecil saja. Orang itu sudah bertanggung jawab atas kesalahannya." Jelas Agatha.


"Agatha, kau wanita yang baik. Tidak semua wanita seperti dirimu, tolong mengerti kalau aku tidak mau Adikku hancur akibat permainan seseorang." Arkan menangis dihadapan sang Adik.


"Kak, kita sama sekali tidak membahas Greg disini. Tolong, beri aku kebebasan untuk menjalani hidupku sendiri." Ucap Agatha.


"Greg tidak menjagamu, ini buktinya. Kau tertabrak karena dia tak bisa menjagamu." Balas Arkan.


"Bukan salahnya, aku yang ingin pulang sendiri karena takut Kakak khawatir mencariku kesana kemari." Kata Agatha.

__ADS_1


"Jauhi Greg." Suara Satria benar-benar membuat seluruh orang didalam ruangan terdiam.


__ADS_2