
Jonatan dan Selin pun keluar kemudian menutup pintu kamar tersebut.
"Sayang, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kepalamu pusing dan mual?." Satria bergumam seraya memandangi wajah cantik Adinda.
"Aku sangat khawatir denganmu, apa lagi bayi kita." Setelah Satria mengatakan hal itu, ia pun langsung tertidur memeluk istrinya.
...
"Aku sama sekali tidak tega membiarkan mereka berdua sakit seperti ini, terlebih Adinda kan sedang mengandung, aku khawatir sekali dengan kondisi kandungan nya, ya walaupun dokter bilang tidak ada masalah dan hanya membutuhkan istirahat tapi tetap saja, Adinda itu kan wanita yang lembut berhati baik, pasti kalau suaminya seperti ini akan menguras seluruh pikiran nya, kemudian dirinya akan stres karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dia paksakan." Selin mengoceh.
"Selin, kau sadar tidak dengan apa yang kamu lakukan saat ini?." Jonatan bertanya.
"Ah tidak penting, intinya Satria itu harus sembuh, dia tidak boleh sakit, jika dirinya tak kunjung sembuh, kekuatan Adinda pasti melemah, aku dengar juga Desi mau pergi kan?! kemudian siapa yang membantu mereka disaat sulit nanti?!." Ucap Selin lagi.
"Sayang? aku rasa kali ini bukan hanya Adinda yang akan stres karena suaminya sakit, tapi kamu juga yang terlalu banyak berpikir tentang mereka." Sahut Jonatan menarik Selin ke dalam pangkuan nya.
"Eh?! aku terlalu berlebihan ya? tapi aku khawatir sekali lho." Kata Selin.
"Kau harus pikirkan bayimu juga, jangan hanya memikirkan mereka." Ucap Jonatan.
"Hmm, kepalaku jadi ikutan pusing deh." Gumam Selin menghela nafas.
"Ya ampun! sudah kubilang barusan, memang ya ibu hamil itu susah sekali diajak bicara, padahal semuanya demi kebaikan dia sendiri." Kata Jonatan.
"Hei! aku itu tidak susah diajak bicara tau! kau saj..." Jonatan menyentuh bibir kecil itu dengan jari telunjuk nya.
__ADS_1
"Sssh, diam, nanti kepalamu tambah pusing, aku bantu pijit kepalamu pelan-pelan ya." Jonatan meraih kepala Selin kemudian memijitnya perlahan-lahan.
"Kau cocok sekali jadi tukang pijit." Selin berkata tanpa dosa.
"Apa?! aku ini suamimu, aku direktur perusahaan Lee! bagaimana mungkin kau menilai diriku cocok menjadi tukang pijit." Jawab Jonatan tercengang.
"Ya habisnya kau pandai sekali, kepalaku terasa jauh lebih baik setelah kamu membantunya." Ucap Selin.
"Disaat semuanya terlalu sulit untuk aku terima, wajah kamu tetap menjadi satu-satunya alasan mengapa aku bisa tersenyum didalam pahitnya kekecewaan." Gumam Jonatan dalam hati.
"Jonatan? bisakah kau menambah volume pijit mu sedikit? ini enak sekali." Kata Selin.
"Awalnya aku tidak terima dengan keberadaan bayi yang ada didalam kandungan mu sekarang, tapi aku lebih tidak terima kalau kamu nekat membunuh dirimu sendiri hanya karena aku akan menceraikan mu, andai saja kau mengerti Selin, aku benar-benar sangat mencintaimu, aku tidak mau kau terluka sedikitpun, kau bahkan sangat sering sekali membuatku kecewa, tapi aku selalu berusaha memaafkan nya karena aku tidak bisa membiarkan air mata mu terjatuh dihadapan ku." Kata Jonatan lagi dalam hatinya.
"Jonatan?! kamu melamun ya?!." Kata Selin melirik suaminya tegas.
"Ah kamu! kenapa menatap wajahku seperti itu? apa kau memikirkan sesuatu? hmmm, atau kau sedang memikirkan bayi ini ya?." Selin mengelus perutnya dan menunduk dengan wajah murung.
"Tidak ko sayang, aku sama sekali tidak memikirkan apapun, aku hanya senang melihat kau berada didepan ku saat ini." Kata Jonatan.
"Aku tahu kok kamu bohong, aku mau minta maaf sekali lagi, aku benar-benar khilaf, a-aku.." Lagi-lagi Selin menjatuhkan air mata nya disaat mengingat hal itu kembali.
"Hei? siapa yang menyuruhmu menangis? sini sayang, kau tidak perlu minta maaf ya, aku sudah berjanji padamu, terutama pada diriku sendiri untuk menerima bayi itu, aku menganggapnya sebagai anak ku, aku yang membuatnya, bukan orang lain, oke?." Jonatan membelai kepala Selin kemudian mencium keningnya.
"Kalau kau tidak menyukai bayi ini, aku bisa menggugurkan nya kok, aku akan melakukan itu demi hidup bahagia bersamamu." Selin menangis tanpa henti sambil mencengkram dress nya kuat-kuat.
__ADS_1
"Hus! tidak boleh bicara begitu, membunuh bayi yang tidak bersalah adalah sebuah dosa besar! kau tega melakukan nya? sudah ya, jangan menangis." Jonatan tersenyum lalu menyentuh perut istrinya.
"Adik bayi, beritahu Mama mu ya, jangan menjadi wanita yang cengeng, Papa bingung nanti kalau Mama kamu nangis harus bagaimana menghentikan nya." Jonatan bicara dengan perut rata itu dengan penuh kasih, lalu Selin tersenyum sambil memukul bahu suaminya.
"Kau selalu saja bersikap konyol disaat aku sedih." Kata Selin.
"Istirahat, aku gendong kamu." Jonatan mengangkat tubuh Selin dan pergi ke kamar utama.
beberapa jam berlalu, Adinda terbangun dan melihat Satria yang ternyata sedang terlelap disebelahnya.
"Kasihan kamu Mas, kenapa harus sakit?." Adinda memegang kening Satria lalu mengusap pipinya.
"Syukurlah demam mu sudah mulai turun, cepat sembuh ya sayang, aku tidak bisa melihatmu seperti ini." Kata Adinda, tepat disaat dia sedang mendekatkan wajahnya ke arah pria itu, Satria pun terbangun dan melihat kedua mata istrinya yang berlinang air mata.
"Sayang?! k-kamu sudah bangun? bagaimana?! masih mual? aku sangat khawatir." Kata Satria memeluk Adinda.
"Aku baik-baik saja kok Mas, maaf ya kalau aku membuatmu khawatir, aku senang demam mu sudah mulai turun, jangan sakit lama-lama ya? Aku tidak tega melihatnya." Ucap Adinda.
"Mas janji akan berusaha sembuh, Mas tidak mau merepotkan mu, kalau kamu sakit terus aku juga sakit, lalu siapa yang menjaga kamu?." Satria memegang tangan istrinya dan mencium punggung tangan tersebut.
"Kamu mau makan? atau minum sesuatu? biar aku ambilkan untukmu." Kata Adinda.
"Tidak, tidak usah, sudah ya? jangan banyak beraktivitas, Mas sangat khawatir." Satria meraih tubuh istrinya dan menyandarkan kepala wanita itu didepan dadanya.
"Aku minta kamu untuk tidak berdiri ditengah hujan seperti tadi pagi lagi, aku kenal persis siapa suamiku, kamu tidak akan kuat berdiri ditengah hujan yang lebat, lagi pula ada apa sih Mas? kamu tidak biasanya seperti ini lho." Adinda merasa cemas.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa sayang, Mas janji tidak akan berdiri ditengah hujan lagi." Pria itu mengulurkan jari kelingking nya dan dikaitkan dengan jari kelingking milik Adinda.
"Kalau Mas mengingkari janji yang telah Mas buat sendiri, aku akan marah dan tidak mau lagi bicara dengan Mas sampai Mas sadar tentang kesalahan yang sudah Mas lakukan." Satria mengangguk setuju dengan ancaman istrinya lalu mengusap lembut kepala itu.