Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
tidak pernah makan daging


__ADS_3

Tak diduga Adinda dan Satria sama-sama tertidur pulas di atas ranjang yang empuk dan luas.


entah berapa jam mereka memejamkan matanya sampai tiba-tiba Jonatan berteriak memanggil nama mereka berdua.


"Adinda!!!! Satria!!!." Pekik Jonatan.


"M-mas, kenapa Jonatan memanggil seperti itu ya?." Adinda membuka mata dan duduk perlahan-lahan.


"Arkan jatuh !!!." Teriak Jonatan lagi, mendengar hal itu sontak Satria pun melompat dari kasur dan berlari ke depan, Adinda yang terkejut segera menyusulnya.


"Dimana anakku?!." Tanya Satria.


"Kemari, lihat! Kaki anakmu terluka." Ucap Jonatan.


"Sayang, kenapa nak? kau jatuh ya?." Kata Adinda.


"Bunda, Ayah, maaf ya. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian kok, tapi dia saja yang berteriak memanggil namamu." Jawab Arkan sambil menunjuk wajah Jonatan.


"Sudahlah, ikut Ayah ke kamar, kita obati luka itu sama-sama." Satria menggendong putra kecilnya kedalam kamar.


"Des, bagaimana Arkan bisa terjatuh? apa kau tidak memperhatikan nya?." Tanya Adinda.


"Maaf Nona, saya sedang membereskan mainan Arkan, tetapi ia malah pergi begitu saja." Balas Desi sedikit terbata-bata.


"Harusnya kau menjaga anakmu, bukan menjaga Satria, biarkan saja pria bodoh itu marah, lagi pula kalau sudah begini dia akan bicara apa padamu." Ucap Selin.


"Jaga mulutmu, bilang saja kau iri kalau suamimu tidak seromantis aku kan?!." Pria tampan dan gagah itu memelototi Selin.


"Romantis?! apanya yang romantis?! kau itu manja! lihat! karena mu Arkan jadi terluka." Ucap Selin.


"Dasar wanita irian!." Ejek Satria.


"Bunda, ayo ikut aku ke kamar, lukaku sudah diobati oleh Ayah." Ajak Arkan seraya menarik tangan Adinda.


"Jangan meminta istrimu untuk menemanimu tidur lagi! sekarang baru Arkan yang jatuh, bagaimana kalau nanti Agatha yang jatuh." Kata Selin.


"Kalau Agatha jatuh, kau penyebabnya !." Satria marah dan menatap sinis.


"Sayang, pergilah ke kamar, Bunda akan menyusul." Adinda berkata sambil memegangi kepalanya.


"Bunda kenapa? Bunda sakit ya?." Arkan bertanya khawatir.


"Sayang, kau kenapa?!." Satria memegang tubuh Adinda.


"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit, pergilah ke kamar, aku harus membawa Agatha kembali bersamaku." Pinta Adinda lagi.


"Baiklah, panggil aku jika terjadi apapun." Satria segera pergi menuju kamar dengan putra kecilnya.


"Kak maafkan aku ya kalau sudah membuatmu kerepotan, aku akan mengambil Agatha, sekali lagi terimakasih karena kau sudah menjaganya." Ucap Adinda yang merasa tidak enak kepada Selin.


"Tidak masalah, aku benar-benar tidak merasa direpotkan, tetapi tolong pikirkan lagi, kau tidak bisa memanjakan Satria secara terus menerus, ingatlah kau sudah mempunyai dua anak dan itu bukan hal yang mudah diselesaikan." Kata Selin.


"Aku memanjakan nya karena dia suamiku, lagi pula Mas Satria tidak sering melakukan hal demikian, jadi kau tidak perlu khawatir." Jawab Adinda kemudian pergi seraya membawa Agatha di pelukan nya.


"Adinda terlalu membenarkan suaminya, untung saja Jonatan tidak seperti itu." Kata Selin.


"Memangnya kalau aku seperti itu, kau mampu bertingkah seperti Adinda yang memanjakan suami? setiap hari saja kau sibuk bermain ponsel, bagaimana bisa jadi Adinda." Jonatan berkata dengan wajah jengkel.


"Kau ini berpihak pada siapa sih sebenarnya ? Adinda atau istrimu ?." Wanita itu kesal.

__ADS_1


"Pertanyaan mu sangat tidak penting." Gumam Jonatan kemudian berbalik ke ranjang seraya berbaring.


.


.


"Arkan, sini sayang." Pinta Adinda.


"Ya, bunda." Pria kecil tersebut mendekati ibunda nya dan langsung bersandar.


"Apa lukanya masih sakit ? katakan jika iya, Bunda akan membawamu ke dokter." Tanya wanita itu lembut.


"Tidak, ini tidak sakit sama sekali, aku juga tidak mau merepotkan Bunda dan Ayah." Sahut Arkan.


"Apapun yang terjadi padamu, itu tidak akan pernah membuat kami kerepotan sayang." Kata Adinda cemas.


"Benar kata Bunda, Ayah tidak pernah merasa direpotkan, jadi katakan apakah lukanya masih sakit atau tidak ?." Ucap Satria menegaskan.


"Tidak Ayah, lukaku sudah sembuh, lihat ini." Arkan memukul lukanya perlahan-lahan.


"Jangan dipukul ! Ayah percaya padamu pria kecil." Satria segera memangku Arkan dan mencium keningnya.


"Kau harus lebih berhati-hati saat bermain nak, Bunda tidak mau melihat kau jatuh lagi, mengerti ?." Kata Adinda.


"Aku mengerti." Arkan mencium pipi sang Bunda sekaligus kening nya.


"Kau memang terbaik ! Bunda sangat senang memilikimu." Adinda mengacak rambut Arkan dengan lembut.


"Aku janji sama Ayah dan Bunda, kalau nanti sudah besar, aku akan membuat kalian berdua bangga padaku." Kata Arkan tertawa kecil.


"Anak pintar ! jangan kecewakan Ayah ya." Satria mencubit hidung Arkan.


"Sesudah tidur nanti, kita keluar berjalan-jalan ya." Ucap Satria.


“Baik ayah!." Arkan langsung tertidur di samping Adinda, ia memeluk Bundanya, dan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Bunda.


sewaktu bocah kecil itu pulas, Adinda meninggalkan nya dikamar bersama dengan Satria dan Agatha.


"Mas, aku temui Mama dulu ya." Ucap Adinda, Satria pun mengangguk setuju kemudian menjaga Arkan dan Agatha.


Dikamar Tania Anggara,


"Mama, bagaimana keadaan nya ? sudah membaik ? apa perlu memanggil dokter ?." Tanya Adinda lagi.


"Tidak perlu sayang, Mama sudah jauh lebih baik, terimakasih sudah mengkhawatirkan Mama." Balasnya.


"Ma, sebenarnya apa yang sedang Mama pikirkan ? ada aku disini, Adinda akan menemani Mama sampai kapan pun itu." Kata wanita itu dengan nada lembut.


Air mata Tania pun dengan cepat terjatuh, hatinya sangat sakit ketika melihat menantu kesayangan nya punya perhatian yang sangat besar untuk dirinya.


"Mama sangat merindukan Papa." Kata Tania tak kuasa menahan air mata.


"Jadi Mama sampai pusing seperti itu karena merindukan Papa ? Ya ampun Ma, maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa mengerti." Adinda segera memeluk Tania dan berusaha menenangkan nya.


"Bagaimana kalau kita mendatangi Makam Papa besok ? aku janji, aku akan mengantar Mama ke sana." Ajak Adinda.


"Benarkah ? apa Mama tidak membuatmu merasa kerepotan ?." Tania mengerutkan alis dan menghapus tangisnya.


"Tidak sama sekali, aku ini juga anak Mama, bukan hanya Mas Satria saja, mana mungkin aku kerepotan, lagi pula hal barusan tidak sebanding dengan perjuangan Mama dan Papa saat dulu menemukan aku dijalan." Kata Adinda tersenyum hangat.

__ADS_1


"Sayang, terimakasih banyak, Mama betul-betul beruntung memiliki kamu disini, jika tidak, Mama mungkin menyerah untuk semuanya." Tania kembali menangis.


"Jangan berkata seperti itu lagi ya, Adinda sangat menyayangi Mama, rasanya lebih besar dari pada diriku sendiri, lain kali kalau Mama memikirkan sesuatu lagi, langsung saja ceritakan padaku, apapun itu pasti aku dengarkan." Adinda mencium pipi Tania dan menyuruhnya beristirahat.


"Mau makan lagi ? biar aku ambilkan." Tanya Adinda.


"Tidak, Mama sudah kenyang, terimakasih ya." Tania tersenyum melihat perhatian itu.


"Baiklah, beritahu aku apapun yang Mama butuhkan, aku tinggal dulu ya." Adinda keluar dari kamar dan bertemu dengan Selin.


"Ada apa? kau bicara apa dengan Mama Tania ?." Tanya Selin penasaran.


"Ah tidak kok, aku hanya berusaha menenangkan nya saja, dia terlihat sangat sedih karena memikirkan Papa." Balas Adinda.


"Gitu ya, kalau begitu aku....." Tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah, namun pelayan sedang sibuk dengan urusan nya masing-masing, sehingga Selin dan Adinda membukakan pintu secara bersamaan.


"K-kamu ??!." Ucap Selin, ia hendak menutup pintu besar itu namun seseorang dihadapan nya lebih kuat menahan nya.


"Apa yang kau lakukan ! cepat pergi !." Usir Selin.


"Adinda, sudah lama tidak bertemu." Kata Bryan.


"A-apa ?." Adinda terkejut dengan sikap Bryan.


"Kau sudah melahirkan ya ? dimana bayinya ? bolehkah aku menjenguk dia ?." Tanya Bryan.


"Pergi ! untuk apa mencari Agatha ! dia bukan anakmu ! anakmu sudah mati !." Kata Selin emosi.


"Kak, tolong suruh dia pergi ya, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman lagi diantara aku dan Mas Satria, sudah terlalu banyak selama ini." Adinda berbalik pergi kemudian memanggil Jonatan untuk membantu Selin mengusir Bryan.


"Keterlaluan, untuk apa dia datang ?!." Jonatan bergegas keluar.


Adinda menuju kamar kemudian melihat suaminya sedang mengajak Agatha bercanda.


"Bayi kecil itu sangat anteng ya ? pantas saja tidak menangis, ternyata Ayahnya mengajak bicara." Adinda tersenyum senang dan melihat ke arah Agatha.


"Dia hampir menangis, tapi tidak lagi karena aku menemaninya." Jawab Satria.


"Agatha, sayang, jika Ayahmu bicara yang tidak tidak, tolong jangan didengarkan ya." Ucap Adinda.


"Apanya ?? aku bicara normal kok." Balas pria itu.


"Artinya kau pernah bicara tidak normal ya ?." Adinda tertawa kecil kemudian Satria mengelitiki istrinya sampai tertawa kencang.


Wanita itu juga terpental ke sofa, mereka saling bercanda dan ingin berteriak, namun Satria menutup mulut istrinya dengan telapak tangan.


"Arkan sedang tidur, jangan lupa." Kata Satria.


"Kamu jangan lakukan itu ! geli tau tidak !." Adinda hendak memelototi suaminya tetapi kembali tertawa kecil dan menggigit pundak Satria.


"Aaaarghhhh!." Satria memegang pundaknya, lalu menggendong Adinda sambil berputar-putar.


"Hahahaa lepas, aku pusing nih." Adinda mengeratkan pelukan nya karena tidak mau terjatuh.


"Tidak pernah makan daging ya, mau aku belikan ?." Kata Satria.


"Mas, cepat berhenti ! kita bisa jatuh." Satria langsung menghentikan putaran nya, dan sempoyongan, mereka berdua jatuh ke lantai sambil tertawa geli.


"Dasar gila, aku sangat mual." Ucap Adinda.

__ADS_1


"Tidak mual lagi, dengan ini..." Satria mencium bibir Adinda hingga mereka sama-sama tergeletak dilantai.


__ADS_2