
"Jeremy, apa itu adalah.."
"Benar, ini rumahku. Sekarang kita akan masuk kedalam melewati gerbang itu." Jeremy tersenyum, melajukan mobilnya perlahan-lahan. Didepan gerbang sudah ada banyak sekali penjaga yang siap membuka.
Mereka semua menunduk hormat melihat kedatangan mobil Jeremy.
"Luar biasa, kau pasti orang hebat ya." Mendengar pujian Agatha, pria itu tertawa.
"Tidak, aku tidak hebat tanpa bantuan mereka semua." Jeremy mengusap kepala Agatha sampai anak itu tak tahu berkata apa.
"K-kenapa tidak membawaku ke apartemen kemarin ?." Kata Agatha.
"Tempat itu sudah tidak layak untukmu, jadi tinggallah disini selama yang kau mau." Balas Jeremy.
Sambil berbincang, akhirnya mereka tiba didepan pintu rumah yang sangat tinggi.
Jeremy turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Agatha.
"Selamat datang Tuan." Kata beberapa pelayan seraya berdiri didepan pintu itu.
"Aku punya tamu spesial, tolong layani dia dengan sangat baik." Pinta Jeremy.
"Selamat datang Nona, senang melihat anda." Ucap Pelayan.
"Terimakasih." Agatha tersenyum senang.
"Langsung saja diantar ke kamar, carikan view terbaik." Perintah Jeremy lagi.
"Baik Tuan akan saya siapkan." Mereka mencari kamar dengan suasana versi terbaik, masing-masing berpikir bahwa tamu yang Jeremy bawa saat ini adalah orang penting.
"Agatha, kamarku ada dilantai empat. Jika butuh sesuatu kau bisa hubungi pelayan. Kalau ingin bertemu denganku kirim pesan ya, agar aku datang kemari." Jeremy tersenyum dan pergi.
"Nona, ayo ikut kami." Dua pelayan membawa Agatha menuju lift kemudian naik ke lantai lima.
"Maaf boleh aku tahu siapa nama kalian, pelayan disini sangat banyak. Aku agak pusing jika harus mengenalnya satu-satu." Ucap Agatha.
"Nama saya Diandra, Nona." Kata pelayan disebelah kirinya.
"Saya Kinan." Dari sebelah kanannya.
"Aku panggil apa ya supaya kesannya tidak terlalu canggung." Agatha bingung.
"Panggil nama saja, Tuan selalu memanggil kami dengan sebutan nama." Ia mengangguk sebagai tanda setuju.
__ADS_1
"Memangnya disini ada berapa lantai ?." Pertanyaan Agatha membuat kedua pelayan tersenyum.
"Hanya ada lima lantai Nona, anda tidak perlu khawatir karena kami selalu ada disetiap lantai." Kinan menjelaskan.
"Aku benar-benar tidak percaya rumah Jeremy sebesar ini." Agatha melamun, sampai pintu lift terbuka.
"Mari saya antar." Diandra membukakan pintu di kamar ketiga.
"Jika butuh bantuan kami bisa langsung tekan tombol sebelah sana. Itu sudah terhubung secara otomatis agar kami bisa mendengar suara panggilan." Agatha semakin takjub.
"Em sebentar, bisakah kau dan Kinan saja yang menjaga didekat sini ? maksudku, aku sudah mengenal kalian, rasanya aneh kalau harus memanggil pelayan tanpa mengenalnya." Permintaan Agatha dianggukkan pada Diandra dan Kinan.
"Selamat beristirahat, semoga hari anda selalu menyenangkan." Mereka pergi.
"Sangat menarik !." Agatha langsung membaringkan tubuhnya dikasur.
"Greg, andai saja kau disini. Semua akan lebih menyenangkan." Ketika dirinya sedang memikirkan Greg, suara ketukan pintu terdengar.
"Ya Kinan, masuk saja." Dipikirnya itu adalah pelayan.
"Sepertinya kalian sudah berkenalan." Jeremy membuat Agatha terkejut.
"Ah maaf, aku pikir kau.."
"Kau begitu baik padaku, a-aku sangat berterimakasih karena diizinkan tinggal lalu..."
"Aku hanya ingin kau berada ditempat yang aman. Aku berani menyerahkan nyawaku jika tinggal disini membuatmu bahaya." Agatha betul-betul terpana.
"Jeremy." Ia memeluknya.
"Aku merasa beruntung sekali bertemu denganmu, walaupun dengan cara sedikit menyebalkan. Tapi kita harus membuat akhir yang baik bukan ? aku ingin sekali memiliki Kakak sepertimu." Jeremy senang, meskipun Agatha meminta Kakak sepertinya bukan kekasih.
"Aku berjanji akan menjagamu, kau boleh menganggapku sebagai Kakak." Mendengar itu Agatha segera melompat kesenangan.
"Kalau kau mengizinkan aku menjadi Adikmu, itu artinya aku boleh manja padamu kan ?." Anak itu tertawa, Jeremy pun sama.
"Boleh, kau boleh melakukannya. Asalkan kau membuat satu loyang kue yang enak untukku." Jeremy tersenyum.
"Oke ! setuju. kita akan buat itu bersama." Agatha memperlihatkan kebahagiaan diwajahnya, membuat Jeremy sedikit tenang.
"Istirahat ya, jangan main." Perintah Jeremy membuat Agatha tertawa geli.
"Ih ! aku bukan anak kecil sungguhan, masa kau bilang begitu sih." Jeremy langsung menatap Agatha dari dekat dan menggelitikinya.
__ADS_1
"Hahahaha, geli tau ! hahaha hentikan ! kau benar-benar mirip Kakakku." Agatha terus tertawa.
"Sudah-sudah, aku pergi." Ucap Jeremy.
"Jangan lupa kembali lagi ya ! aku pasti merindukan kekonyolanmu itu." Kata Agatha.
Pria itupun keluar, lalu mendapat informasi dari pelayannya bahwa Marry datang dan menunggunya diruang tamu.
Jeremy bergegas mengunci pintu Agatha dari luar dan pergi meninggalkan lantai itu.
Ia tak bermaksud jahat, hanya saja tak mau melihat Marry bertemu Agatha karena mereka pasti akan bertengkar.
"Suara apa itu ?." Agatha mendatangi pintu kemudian tak bisa membukanya.
"Haha, Jeremy benar-benar mengunci pintu ini. Dia pasti tak mau aku keluar berjalan-jalan, dia takut aku akan sakit lagi, dokter bilang aku tidak boleh lelah. Baiklah Jeremy, aku akan tidur beristirahat." Agatha membaringkan tubuhnya dan menenggelamkan mata.
Jeremy memberi perintah pada pelayan siapapun yang melihat Agatha harus diam menutup mulutnya.
Dilantai bawah,
"Kenapa datang tiba-tiba ?." Tanya Jeremy.
"Hei, suprise dong ! harusnya kamu senang aku datang." Marry mengecup pipi Jeremy.
"Belakangan ini aku sedang sibuk, kau tak perlu susah payah mencariku. Terlalu banyak pekerjaan yang tertinggal." Kata Jeremy.
"Sibuk ? maksudmu sibuk mengurus Agatha ? si wanita jalanan itu ?." Marry tertawa.
"Tutup mulutmu, aku tidak suka melihat kau menghina seseorang." Jeremy menduduki sofa.
"Sayang, pernikahan kita sebentar lagi. Kenapa sibuk terus sih ? kita harus mempersiapkan segalanya. Gaun, pesta dan..."
"Tidak usah terlalu memikirkan. Semuanya akan menjadi urusanku." Jawab Jeremy.
"Kau ingat kan ? cincin seperti apa yang aku mau ?." Marry memegangi lengan Jeremy.
"Tidak perlu diulang, aku ingat." Marry kesal karena jawaban Jeremy sangat dingin.
"Malam ini ke club bersamaku ya ?." Pria itu menoleh, lalu melihat Marry memohon dengan wajah melasnya.
"Kau selalu menunjukkan ekspresi seperti itu." Ia tak bisa menolak apapun permintaan Marry jika melihat wajahnya penuh permohonan.
"Akan aku hubungi jika bisa, pekerjaanku masih banyak." Lagi-lagi Marry mendekati Jeremy kemudian memeluknya.
"Aku tahu kau menyayangiku, lebih dari apapun. Kau juga pernah bilang bahwa pekerjaan tidak penting dibandingkan aku." Ucap Marry.
__ADS_1
"Baiklah, nanti malam kita pergi. Kau bersiap yang cantik ya, aku akan menjemputmu." Wanita itu girang karena Jeremy menyetujui ajakannya.
'Aku tahu, kau sangat mencintaiku. Bahkan tak pernah bisa menolak apapun jika aku sudah memohon. Jeremy, akan ku buat kamu mabuk malam ini. Supaya tidak ada alasan lagi untuk menghindari pernikahan kita. Aku harus hamil anakmu.'