
Greg diam memperhatikan Arkan, lalu Arkan segera pergi menuju kamar.
"Kakak kenapa ya ?." Kata Agatha.
"Mungkin ada sedikit kendala diluar sehingga menyebabkan wajahnya berubah 180°." Jelas Greg.
"Biasanya dia tak pernah membawa masalah dari luar kedalam rumah." Agatha kebingungan.
"Mungkin sesuatu yang penting sehingga menjadi pikiran sampai tiba dirumah." Agatha menatap Greg, ia mendekati wajahnya, dekat dan lebih dekat.
"Jika ingin menciumku maka jangan disini." Greg berbisik.
"Dasar sok tau ! memang kau pikir sepenting apa masalahnya sampai dia pulang dalam keadaan marah ?!." Geregetan ingin meninju wajah Greg.
"Permisi." Seorang wanita datang dengan koper ditangan nya.
"Agatha.." Ia tersenyum dan memeluk Agatha penuh ketulusan.
"Kak Selina ?." Agatha terkejut, wajahnya tak mengeluarkan ekspresi apapun selain datar.
"Iya, ini aku." Selina tersenyum senang.
"Dimana Nenek dan Bunda ?." Agatha masih tetap diam, terlalu sulit untuk membuka suaranya.
"Kau dengar aku kan ?." Selina melambaikan tangan didepan wajah Agatha.
"Selina ? kau datang.." Tania memeluk Selina penuh kasih sayang, kemudian mencium pipinya.
"Kami sangat merindukanmu." Kata Tania lagi.
"Aku juga sangat merindukan Nenek dan yang lain juga." Pelayan datang lalu membawakan koper Selina ke dalam kamar yang telah disediakan.
Agatha kembali duduk disofa tanpa berkata apa-apa.
"Dia siapa ?." Tanya Greg berusaha mengajak Agatha bicara.
"Aku tak menyangka dia akan datang lagi." Ucap Agatha.
"Maksudmu ?." Greg sama sekali tak mengerti.
"Greg, bagaimana kalau kita keluar saja ? menemaniku shoping misalnya." Greg setuju dan langsung mengajak Agatha pergi.
"Kau baik-baik saja ?." Greg memperhatikan wajah Agatha dengan cermat.
"Sedikit."
Selina mengetuk pintu kamar Arkan, dan keluarlah pria itu.
"Selina ?!." Arkan terkejut, Selina segera memeluk Arkan.
"Aku rindu sekali padamu." Arkan membalas pelukan nya dan mengusap kepala itu.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang hari ini ? aku bisa menjemputmu." Ucap Arkan.
"Aku sengaja datang kemari karena Agatha sebentar lagi ulang tahun. Arkan, lima tahun aku pergi, sekarang aku benar-benar melihat wajahmu." Selina hampir menangis.
"Aku senang kita bertemu lagi, menetaplah disini, bersamaku dan Agatha." Pinta Arkan.
"Akan aku pikirkan." Selina terus memeluk Arkan.
"Agatha sudah melihatmu ?." Selina mengangguk lalu memasang wajah sedih.
"Dia sama sekali tak mengatakan apapun atas kedatanganku. Arkan, aku rasa kejadian kita dimasalalu masih membuatnya sakit hati dan membenciku hingga saat ini." Selina menundukkan kepalanya.
"Aku yakin Agatha sudah dewasa sekarang, dia tidak mungkin membencimu." Arkan berusaha meyakinkan Selina.
"Aku harap benar begitu." Selina tersenyum.
"Sudah makan ? kalau belum ayo masak bersama lagi." Dengan senang hati Selina menyetujui ajakan Arkan, mereka berdua bergegas menuju dapur dan membuat masakan enak.
"Aku dengar Selina datang ya." Adinda melihat ke dapur lalu memeluk anak itu.
"Yaampun nak, Bunda rindu sekali padamu." Adinda menciumi Selina.
"Aku juga merindukan Bunda." Selina mencium pipi Adinda.
"Kau datang sendiri ? dimana Mama mu ?." Adinda bertanya.
"Mama sedang sibuk, jadi aku datang sendiri." Kata Selina.
"Sudah ya, hentikan pelukan nya, masakanmu bisa hangus kalau didiamkan." Ketiganya tertawa.
Lalu Adinda kembali ke kamar, sementara Arkan dan Selina melanjutkan masakannya.
"Ingat tidak dulu kau sering memoles wajahku seperti ini ?." Selina mencontohkan kejadian jaman dulu kewajah Arkan.
"Mulai ya jailnya !." Arkan membalas, wajah mereka kini belepotan tepung.
Seusai memasak, satu keluarga itu makan bersama, tapi tidak dengan Agatha.
__ADS_1
"Dimana Agatha ? bukan kah dia disini tadi ?." Arkan mencari Adiknya.
"Entah, mungkin dia pergi lagi bersama teman nya." Sahut Adinda, Arkan mengernyit sebelum kembali makan bersama.
*
*
*
*
"Rubby, terimakasih ya sudah mengizinkan aku tinggal disini bersamamu, aku berharap hidupku kedepannya menjadi jauh lebih baik." Rain tersenyum senang.
"Sama-sama, kau tidak usah khawatir karena aku akan menjagamu disini, tidak akan ada orang sembarangan masuk untuk menyakiti teman baikku." Rubby tertawa kecil.
"Kau tahu kenapa Arkan datang ?." Tanya Rain.
"Apa kau sedekat itu padanya sampai memanggil dia hanya dengan sebutan nama ?." Ucap Rubby.
"Ah ya maaf, maksudku Tuan Arkan." Kata Rain.
"Aku tidak tahu kenapa dia datang, kau harus berhati-hati padanya Rain. Dia bukan orang sembarangan." Ucap Rubby, Rain hanya bisa tersenyum.
"Kau selalu mengingatkanku, bahkan ini sudah yang kedua kalinya, jangan khawatir aku akan selalu berhati-hati." Balas Rain.
"Kau jangan mau bila didekati orang itu, tidak tahu lagi akan ada berapa banyak masalah kalau kau berhubungan dengannya." Rubby memegang tangan Rain.
"Tapi yang kulihat dia adalah orang baik, hanya saja agak dingin tapi aku yakin ada alasan dibalik semua itu." Rain menatap Rubby serius.
"Semua orang akan berlomba-lomba menjadi baik saat mereka menginginkan sesuatu, tapi ketika sudah didapatkan belum tentu kebaikan nya akan menetap." Sepertinya Rain merasa kalau Rubby sangat khawatir secara berlebihan.
"Aku akan mendengarkan temanku." Rain memeluk Rubby.
"Maafkan aku Rain, hanya saja kali ini aku tak bisa mengalah padamu." Batin Rubby.
...
"Kau ini kenapa ?." Greg bertanya.
"Jangan tanya aku ! lebih baik kau diam saja." Agatha membalasnya dengan kecut.
"Dasar setengah waras, meminta untuk ditemani namun bersikap tak sewajarnya padaku." Oceh Greg ditengah jalan.
"Kedatangan dia bisa menghancurkan keluargaku." Ucap Agatha.
"Menghancurkan ?." Greg bingung.
"Hei, jangan menangis. Kau bisa ceritakan semuanya padaku." Greg berusaha melepaskan kepalan tangan Agatha.
"Dia pernah merebut Kakakku Greg, dia mengambil Bundaku, Ayahku dan juga Nenekku." Greg melihat air mata Agatha yang terus berjatuhan melebihi tangisan ditaman kota.
"Lalu ? kenapa kau bicara kalau dia merebut keluargamu ? apa mereka tak memperdulikanmu sama sekali setelah wanita itu datang ?." Tanya Greg.
"Bukan begitu, tapi mereka semua jadi lebih dekat dengannya dibandingkan aku, bahkan dia selalu berhasil mendapat perhatian Kakakku, kau tau ? aku benci wanita yang mengambil hati Kakak." Mulutnya bergetar, menahan jeritan yang bisa meledak kapan saja.
"Agatha, kau tidak boleh begitu. Kakakmu akan punya pasangan di waktu yang akan datang nanti, jika itu terjadi, apa kau akan membenci pasangan nya juga ?." Ucap Greg.
"Aku tidak perduli, siapapun yang akan menjadi pasangan Kakak nanti, aku akan selalu membencinya." Kata Agatha.
"Lalu apa kau mau jika kau mendapati suami kemudian Kakakmu membenci suamimu ? kau sangat mencintainya, tapi Kakakmu terus menyiksa badannya bahkan hal itu dilakukan didepan matamu ?." Perkataan Greg membuat Agatha terdiam.
"Tidak ingin." Agatha menangis sangat keras.
"Sudah-sudah, kau ini bukan anak kecil lagi, jangan menangis terus." Greg mengusap kepala Agatha kemudian menghapus tangisnya.
"Boleh peluk ?." Greg terkejut lalu mengizinkan Agatha memeluknya erat.
"Jika Kakak tak memperhatikan aku lagi, apa kau mau menggantikan nya ?." Greg semakin dibuat gila oleh wanita dipelukannya sekarang.
"Aku akan menggantikan nya, jangan sedih lagi ya." Greg membalas pelukan itu lalu merapihkan rambut Agatha yang terlihat berantakan.
"Sekarang mau kemana ? Mall ? kembali ke taman kota ? atau kerumahku ?." Tanya Greg.
"Rumahmu pasti membosankan." Agatha mengejek sambil mengusap air matanya.
"Siapa bilang ? dirumahku itu lengkap, ada banyak sekali permainan." Ucap Greg.
"Benarkah ? kalau begitu kita kesana sekarang." Greg senang karena Agatha sudah mulai gembira.
"Punggungmu masih sakit ? maaf ya." Agatha menggeleng lalu tersenyum malu.
"Maaf juga." Keduanya sudah tak canggung lagi untuk sekedar mengobrol.
Setibanya di rumah Greg, semua pelayan menyambut Agatha dengan sopan.
"Rumahmu besar sekali." Agatha melihat sekeliling, rasanya seperti menjadi ratu didalam istana megah.
"Kau suka ?." Tanya Greg.
__ADS_1
"Suka !."
"Kau akan mendapatkannya suatu hari nanti." Begitu Agatha menduduki sofa, Leonard datang.
"Aku dengar suara wanita disini." Ucap Leonard pada Kakaknya.
"Jangan berani dekat-dekat dengannya atau aku akan menghabisimu." Bisik Greg.
"Wah-wah, ada yang sedang jatuh cinta." Leonard tertawa, ia mengintip siapa wanita yang dibawa oleh Greg, kemudian mendapati wajah Agatha dibalik sofa.
"Kau kan ??!." Agatha terkejut, lalu ia mengernyit.
"Siapa ya ?." Tanya Agatha.
"Kau wanita yang aku selamatkan malam hari itu." Ucap Leonard, tanpa meminta izin lagi ia segera duduk disebelah Agatha dan menceritakan kejadian waktu lalu.
"Modus apa lagi ini ?!!." Greg kesal dan menarik Leonard dari sofa.
"Pergi dan jangan ganggu kami." Agatha segera berdiri dan melihat Leonard memohon untuk gabung dalam obrolan.
"Greg, sebaiknya ajak saja dia. Lagi pula tidak ada salahnya kan ?." Ucap Agatha.
"Agatha, dia tidak perlu ikut dalam urusan kita. Biar saja cecunguk ini pergi dan mencari kesenangannya sendiri." Greg mendorong Leonard.
"Begitu ya, yasudah ayo pergi sesuai rencana." Agatha hanya tersenyum kepada Leonard dan menggandeng Greg.
"Permainan nya disana, kau suka yang seperti apa ?." Tanya Greg.
"Aku suka semua permainan." Setelah memasuki ruangan yang besar dan luas, Agatha takjub. Ia tak percaya bahwa ada permainan sebanyak ini didalam rumah Greg.
"Ini benar-benar luar biasa." Agatha sangat senang sehingga berlari kecil melihat semua permainan itu, ia langsung memilih dan memainkannya.
"Greg ayo cepat kesini." Agatha mengajak Greg bermain bersama.
"Aku senang kau menyukai permainanku." Greg tersenyum.
"Kau tidak main juga ? permainan apa yang paling kau sukai ? jika ada disini aku akan menemanimu bermain." Kata Agatha.
"Menembak." Mereka berdua pergi ke permainan tembakan.
Greg memainkan game tersebut dengan sangat berhati-hati, namun dia sama sekali tak pernah meleset menembakkan pelurunya.
"Kau hebat ! tapi lebih hebat jika pakai yang asli." Agatha tertawa, Greg hanya senyum kecil kemudian mendekati Agatha.
"Aku ada yang asli, kau ingin melihat kehebatanku ?." Agatha terdiam, menelan salivanya.
"Kau serius ?." Greg mengangguk lalu menarik Agatha keluar dari zona bermain.
"Ini tempat khusus aku berlatih." Greg mengisi peluru kedalam pistol lalu menarik pelatuknya dengan perlahan, dan....
DORRRRR ! Tepat pada sasaran.
"Untuk apa kau berlatih seperti ini ?." Tanya Agatha menghampiri Greg.
"Untuk berjaga-jaga, karena hidupku tak seindah yang kau lihat." Balas pria tersebut.
"Apa kau akan menembakkan peluru itu pada orang-orang yang berusaha melukaimu ?." Tanya Agatha, Greg mengangguk.
"Jika Kakak melukaimu maka kau akan menembaknya juga ?!." Matanya sinis, membuat Greg tertawa geli.
"Kau ini selain manis juga lucu, mana mungkin aku menembak Kakakmu." Greg masih saja tertawa.
"Jangan sakiti Kakakku, dengar ?!." Agatha memelototi pria didepannya.
"Mau coba ?." Tanya Greg.
"Aku tidak bisa, kau pasti akan menertawakan ku." Greg meraih pinggang Agatha, dan memeluk nya dari belakang. Wanita itu diam tak bergerak, terkejut dengan apa yang dibuat Greg.
"Fokus dan jangan pikir macam-macam. Pegang pistol ini." Agatha memegangnya sedikit gemetar.
"Aku takut Greg." Wanita itu terlihat gelisah.
"Ada aku, sekarang tarik nafasmu dalam-dalam. Anggap saja didepan kau sedang melihat seseorang yang paling kau benci." Agatha mendengarkan Greg, lalu ia terbayang wajah Selina.
"Satu..dua..tiga, Tarik pelatuknya !."
DORRRRRR !!! Agatha memejamkan mata, tak berani melihat saat peluru itu melayang karena takut tidak tepat sasaran.
"Kau berhasil !." Ucap Greg.
"Sungguh ?!!." Agatha membuka mata dan melihat bahwa apa yang dikatakan Greg benar !
"Yeay !! aku bisa !." Agatha melompat kegirangan dan tak sengaja memundurkan diri sehingga mengenai Greg.
"Haaaaa!."
Mereka berdua kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
BRUGH !!!!
Tubuh Greg tertindih tubuh Agatha.