
Dirumah sakit, Zheng baru saja tiba dan menemukan Marry duduk manis disana.
"Untuk apa lagi kau datang ?." Tanya Zheng.
"Bukankah kau sudah tau jawabannya ? Aku datang untuk calon suamiku, jadi jangan pernah berikan aku pertanyaan yang sama." Balas Marry.
"Sini kau !." Zheng menarik tangan Marry keluar ruangan.
"Lepaskan !!!!." Ucap Marry tak terima.
"Jangan sesekali kau mengelabui Tuan Hardest ! Apa yang kau lakukan hari ini, itulah yang akan menghancurkanmu dikemudian hari." Ia menekankan kalimatnya sampai Marry tak mampu berkata-kata.
"Dasar brengsek ! Aku telah susah payah mengambil hatinya, lalu kau menceramahiku seolah semua ini tidak benar ?!!." Marry berteriak.
"Memang apanya yang benar ?!! kau salah Marry ! Kau tidak pantas lagi menginjakkan kaki dihadapan Jeremy !." Kata Zheng.
"Beraninya kau !." Melihat Marry naik pitam, Zheng pun segera memanggil security untuk membawa wanita itu pergi.
"Awas kau ! Akan aku balas !." Teriak Marry dikejauhan.
Zheng kembali masuk kedalam ruangan dan duduk disebelah Jeremy.
"Cepatlah sadar, aku mempunyai firasat yang buruk. Entah akan diapakan istrimu nanti oleh Tuan Hardest." Ucap Zheng menghela nafas.
...
"Kakak ipar, aku lapar. Bolehkah buatkan aku makanan ?." Kata Liam.
"Ada koki handal disini, pinta dia untuk memasak makananmu." Agatha berbalik lalu Liam mencegahnya.
"Kakak ipar ! Kenapa kau sangat dingin padaku ?." Liam bertanya seperti bocah tak punya akal.
"Lalu kau mau aku bagaimana ? Aku ini istri Jeremy, dan tidak pantas jika melayani pria yang bukan anak kecil lagi sepertimu." Kata Agatha kemudian lekas pergi.
"Cih, baru kali ini ada wanita yang tak segan menolakku padahal aku sudah begitu lembut bicara padanya." Liam tersenyum sinis.
"Agatha."
"Ada apa Ayah ?." Ia berhenti tepat didepan Hardest.
"Kamar itu, sebaiknya kau pindah saja." Ucap Hardest tak menatap Agatha sedikitpun.
"Apa maksudnya ?." Agatha bingung.
"Kamarmu, Ayah menyukainya dan kau cari kamar lain saja." Hardest segera pergi setelah mengatakan hal tersebut.
"Huh, tak bisa bicara apapun. Baiklah." Agatha kembali ke kamar kemudian memindahkan semua barang-barangnya ke kamar lain.
Hardest pun tak memperbolehkan pelayan membantu menantunya.
"Tuan, kami diperintahkan untuk menempatkan Nona Agatha dikamar itu, jika tidak maka..."
"Kalian berani membantah ya ? Sudah bosan ? pintu keluar disebelah sana." Hardest bicara tanpa perasaan.
"M-maaf Tuan !." Para pelayan pergi meninggalkan pria tua itu.
"Kakak ipar ! kau pasti lelah melakukan semua ini sendiri, biarkan aku membantumu." Ucap Liam.
"Tidak, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." Agatha membereskan semua barang didalam kamar barunya, sampai merasa lelah dan pusing.
"Kakak ipar." Liam memegang bahu Agatha namun ia langsung menepis tangannya.
"Liam ! Jangan pernah sentuh aku dengan tanganmu." Kata Agatha, Liam hanya terkekeh lalu meminta maaf.
"Maafkan aku."
"Sekarang pergi, jangan menggangguku." Agatha meminta Liam keluar dari kamarnya, kemudian ia pun langsung merebahkan tubuh diatas ranjang.
"Aku yakin ada sesuatu diantara Jeremy dan Ayahnya."
"Keluargaku tidak boleh mengetahui hal ini, atau pernikahanku bersama Jeremy tidak akan bisa dipertahankan." Gumam Agatha lagi.
Malam hari, Agatha merasa haus dan keluar mengambil minum.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Liam datang dan memeluk Agatha dari belakang.
Agatha berbalik dan langsung menampar seseorang dibelakangnya.
PLAKKKKK !
"Aaargh." Liam merasa kesakitan, dan yang paling mengejutkan setelah itu..
Hardest datang hingga menampar kembali wajah Agatha.
"Aaagh." Agatha terkejut, merasa gemetar.
Liam melihat wajahnya hampir menangis.
"Ayah ! Kau tidak perlu menamparnya seperti barusan !." Kata Liam marah.
"Aku benci melihat kau mendapatkan perlakuan kasar." Hardest menatap Agatha sangat tajam.
"Kau, tidak sepantasnya menampar anakku." Kata Hardest.
"Ayah, Liam diam-diam memelukku ! Apa itu pantas ?!." Jawab Agatha.
"Untuk apa dia memelukmu malam-malam begini ?! Kau pikir dirimu sangat layak mendapatkan kedua hati putraku ?!." Balas Hardest.
"Mana mungkin aku bohong, jelas-jelas Liam sendiri yang melakukannya." Agatha bersikeras.
"Hei ! Kau menuduhku !." Liam mendorong Agatha begitu kasar.
"Aku berusaha membelamu didepan Ayah tapi kau malah menuduhku seperti itu." Kata Liam lagi.
"Kau tidak malu ya ? Sudah punya suami tapi masih menggoda adik iparmu." Hardest menarik Agatha dan menguncinya didalam kamar mandi.
"Ayah ! Ayah jangan lakukan ini ! Buka pintunya !." Agatha menggedor-gedor pintu tersebut.
"Ayah buka !!!!." Agatha terus berteriak.
"Bagaimana ini, aku tidak membawa ponselku ! Harus bagaimana ?!." Agatha panik.
Berjam-jam Agatha tak tidur, tubuhnya kedinginan.
"Aku tidak bisa diam terus." Agatha bangun dan kembali menggedor pintu kamar mandi.
"Tolong ! Siapapun yang ada diluar, buka pintunya !." Kata Agatha.
"Heiii ! Buka !!! Kinan !!!!! Tolong aku Kinan ! Aku terjebak disini." Ucap Agatha berteriak ditengah malam.
"Kau tidak usah berteriak, aku menjagamu disini !." Jawab Liam santai.
"Liam ! Buka pintunya ! Aku kedinginan, sungguh !." Balas Agatha.
"Apa ? Kau kedinginan ? hubungi saja suamimu agar menolongmu sekarang, dia juga tak akan mampu." Kata Liam.
"Aku mohon ! Buka pintunya." Liam justru sengaja mematikan lampu kamar mandi agar Agatha kegelapan.
"Aaaaaaaghk !!! Liam ! Bedebah kau ! Buka pintunya Liam !!." Agatha menjerit-jerit seperti kehilangan akal.
"Liam nyalakan lampunya !!! Aku takut !." Ia mendengar suara Agatha gemetar, sehingga tertawa menyaksikannya.
"Tidur saja sampai pagi, lalu aku buka." Jawab Liam.
"Ayo buka pintunya sekarang ! aku harus apa agar kau mendengarkanku ?!!!." Agatha terus memegangi pintu karena sangat takut.
"Ah, pertanyaan yang bagus ! Kau mau aku mendengarkanmu kan ?." Kata Liam.
"Asal kau membiarkan aku keluar ! Cepat katakan !." Pinta Agatha.
"Temani aku tidur." Perkataan singkat namun membuat Agatha marah dan muak.
"Brengsek ! Kau lupa bahwa aku kakak iparmu ?!." Liam tersenyum.
"Terserah, jika menolak kau tahu kan kalau malam ini kau tidur dimana ?." Ucap Liam.
"Lebih baik aku tidur disini dalam keadaan gelap dari pada menemanimu tidur !!!!." Kata Agatha keras.
__ADS_1
"Baik, aku pergi sekarang ya. Tidak ada kesempatan kedua, bersenang-senanglah dengan kamar barumu." Liam bergegas pergi.
"Liam !!!!!!." Agatha pun akhirnya terduduk lemas dilantai.
Berteriak hanya akan membuang tenaga, namun tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain meminta pertolongan dari luar.
Besoknya, Zheng mendatangi kediaman Jeremy karena harus mengecek kondisi Agatha.
Namun saat dibuka pintu kamarnya, yang dia lihat adalah Hardest !
"Tuan ! Maafkan saya." Zheng menunduk hormat.
"Keluar." Pinta Hardest.
"Dimana Nona ?." Zheng mencari ke segala kamar namun tak menemukan Agatha, hanya Liam yang mendadak muncul didepannya.
"Sudah lama tidak berjumpa Zheng." Ucap Liam membuat Zheng terkejut.
"Kau disini juga ?!." Tanya Zheng.
"Bukankah kau sudah tahu sejak dulu bahwa kemanapun Ayahku pergi, aku pasti berada disisinya." Liam menyeringai.
"Haha, benar. Kau kan seekor buntut yang terus mengikuti pemiliknya." Zheng tertawa kecil, hal itu membuat Liam mengepalkan tangan.
"Beraninya kau menghinaku ?!." Ucap Liam.
"Takut ? Aku bekerja untuk Jeremy, bukan untukmu. Jadi tidak ada aturan bahwa aku harus takut padamu kan ?." Zheng terkekeh.
"Dasar sialan !." Liam tak bisa membalas ucapan Zheng karena kehabisan kata-kata. Lalu teringat bahwa semalam dia mengunci Agatha didalam kamar mandi.
"Aku tahu kau pasti tak akan bisa menjawabku." Kata Zheng.
"Aku ingin memberitahumu hal menarik." Liam tersenyum manis, membuat Zheng berpikir.
"Kau pasti datang mencari istri Tuanmu itu kan ? hahaha." Liam tertawa kencang.
"Hei ! Jangan main-main padanya !." Zheng menarik kerah Liam.
"Tidak tidak, aku tidak main-main. Hanya menyentuhnya sedikit." Ucap Liam memperagakan kata sedikit itu.
"Katakan dimana kau menyembunyikannya ?!." Zheng dibuat marah oleh Liam.
"Tenanglah dulu, apa kau ingin minum teh bersamaku sambil menikmati pemandangan ditaman ?." Kata Liam.
"Argh ! Tak ada gunanya bicara denganmu." Zheng mendorong Liam lalu berbalik untuk mencari Agatha.
"Dikamar mandi ! Ayah menguncinya disana." Zheng berhenti sesaat sebelum akhirnya berlari kearah kamar mandi.
"Nona !." Zheng membuka pintu, namun pintu itu terkunci.
"Sial, dimana kuncinya ?!." Tak ada waktu untuk mencari, ia pun bergegas mendobrak pintu tersebut.
Dugh !!!
Dughhhh !!!!
Brakkkkkkk !!!!
Pintu akhirnya terbuka, Zheng melihat Agatha tergeletak dibawah.
"Nona !." Tak banyak bicara, Zheng langsung menggendong Agatha dan dibawa kekamar.
Ia juga memanggil dokter.
Setelah diperiksa, Agatha dinyatakan baik-baik saja, tak ada terjadi luka ataupun lebam ditubuhnya. Ia hanya terkena serangan panik attack.
Zheng berjanji untuk menjaga Agatha sampai Jeremy kembali dari luar negri.
Tapi kemarin, dia melupakan tugasnya karena tak bisa melawan Hardest.
"Aku akan memberitahu semua ini pada Jeremy saat dia pulih." Gumam Zheng.
...
__ADS_1
"Dok ! Pasien sudah sadar !."