
Adinda bersandar ke ranjang dengan manis, begitu pula Satria yang dengan senang hati memijit kaki istrinya lembut.
"bagaimana? apa kakimu merasa enakan?." Satria menatap istrinya
"hmm, ya! kakiku jauh lebih baik dari sebelumnya, terimakasih ya Mas, kau sudah repot-repot memijit kakiku seperti ini." Adinda memegang tangan Satria, pria itu hanya tersenyum seraya memberikan susu buatan nya.
"kau pasti sudah mengalami banyak sekali masalah akhir-akhir ini, minumlah agar kau merasa sedikit lebih rileks, nanti aku akan mengajakmu pergi agar kita membuang jauh-jauh soal permasalahan ini." Adinda mengangguk kemudian meminum susu di gelas itu.
ditempat lain,
"hei! lepaskan aku dari sini!." ucap Emily, dia terus berteriak tanpa henti pada orang-orang penjaga.
"berisik! tutup mulutmu! atau aku akan beritahu kepada Tuan Satria kalau kau bosan hidup!." mendengar itu Emily pun terdiam, ia menatap Jack yang kelaparan.
"Jack, kau baik-baik saja?." Emily khawatir namun Jack merasa jijik dengan wanita didepan nya.
"aku tidak sudi diperhatikan denganmu! kau rela memberi tubuhmu kepada orang brengsek itu!." Jack marah, lalu Emily terdiam.
"tapi kan Jack, semua itu aku lakukan demi keberhasilan misi kita." jawab Emily
"diam! kau memang wanita menjijikan! aku menyesal jatuh cinta pada orang sepertimu." Jack melirik Emily dengan malas, lalu tiba-tiba ia ditampar oleh wanita yang baru saja dikatakan menjijikan.
PLAKKK!
"kurang ajar kamu Jack! aku begini karena kamu! kamu juga kan yang memintaku untuk balas dendam! kau yang menghasut aku untuk membalas semuanya!!!." Jack pun tidak terima dengan perlakuan Emily, dia segera memukuli wanita itu tanpa ampun, sampai-sampai wajah Emily babak belur.
...
beberapa bulan berlalu, kehamilan Adinda sudah memasuki bulan ke empat, hal itu membuat Satria jauh lebih berhati-hati menjaga istrinya.
"sayang, kita akan berkunjung ke rumah menemui mama hari ini." ajak Satria, Adinda pun merasa senang.
"iya Mas, aku sangat ingin bertemu mama, dia pasti sangat merindukan Arkan, iya kan Mas?." Adinda menatap anak nya yang masih tidur lelap
"iya sayang, mama pasti merindukan kita semua, apa lagi Arkan." ucap Satria seraya mengelus perut istrinya dengan lembut.
di kediaman Anggara.
__ADS_1
"Selin, sepertinya ada yang tidak beres, kita harus ke dokter sekarang." Jonatan mengajak Selin pergi ke dokter namun Selin menolak.
"tidak usah Jonatan, aku baik-baik saja kok." ucap Selin meyakinkan
"bagaimana kalau aku tidak percaya? dari awal aku memperhatikan mu yang terus mual-mual sepanjang hari, apa itu wajar Selin?! kau bilang kalau kau masuk angin namun nyatanya tidak kunjung sembuh! apa kau sedang mencoba membodohi aku?." Jonatan marah, Selin menunduk takut.
"ayo ikut aku!." Jonatan menyeret Selin masuk kedalam mobil, kali ini Selin tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menurut dengan permintaan Jonatan.
"kalau kau takut pasti ada apa-apa denganmu! kau tidak pandai berbohong Selin!." bagaimana tidak pandai, Selin mampu menutupi kehamilan nya selama dua bulan, tapi mungkin saja hari ini semuanya akan terbongkar!
"Jonatan, bisakah kau pelan kan mobilnya sedikit? aku sangat pusing." Selin mengeluh, lalu Jonatan semakin curiga.
setibanya di rumah sakit, mereka bertemu dengan Adinda dan Satria.
"hei! sedang apa kamu disini?." tanya Satria kepada Selin, lalu Selin menjawab dengan gugup.
"a-aku akan periksa." Adinda bingung dan langsung mendekati Selin.
"kau sakit? kenapa tidak memberitahu kami? kami baru saja akan pergi ke sana setelah mengecek kandunganku pada dokter." Adinda menatap Selin khawatir.
"ada apa Tuan? apakah istri anda mengalami sakit?." tanya dokter, Jonatan menggelengkan kepala dan berkata dengan serius
"periksa dia sekarang juga, aku ingin tahu apakah dia hamil atau tidak." mata Selin mulai memerah, tubuhnya gemetar, dia sangat takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, namun saat dokter sedang memeriksa Selin, ponsel Jonatan berbunyi, ia keluar sebentar untuk mengangkat telepon nya.
"Nona, ternyata dugaan suami anda benar, kau positif hamil." dokter itu tersenyum lembut sambil memberi selamat kepada Selin, tetapi Selin justru menutup mulut dokter itu.
"jangan katakan apapun pada suamiku, aku mohon, bilang padanya kalau aku hanya masuk angin biasa! tolong aku, jika dia tahu aku hamil, kita akan bercerai!." Selin memohon pada sang dokter, awalnya dokter itu menolak tetapi karena melihat wajah Selin yang hampir menangis akhirnya ia setuju.
"kalau begitu baik, saya akan merahasiakan kehamilan anda." setelah pembicaraan itu selesai Jonatan masuk dan menatap dokter yang berdiri didepan Selin.
"bagaimana? benarkan kalau istri saya hamil?." tanya Jonatan.
"tidak Tuan, istri anda tidak hamil, dia hanya masuk angin biasa." perkataan dokter membuat Jonatan kaget, namun dia puas karena ternyata dugaan nya salah.
"kau sudah memastikan nya? tidak bercanda kan?." Jonatan menatap dokter, lalu dokter mengangguk dan pergi.
"kau dengarkan sayang, aku sama sekali tidak hamil, aku mual karena memang masuk angin." ucap Selin meyakinkan
__ADS_1
mereka keluar dari ruangan dan saling memeluk.
"maafkan aku ya, aku sudah berprasangka buruk padamu, aku percaya kalau kau tidak mungkin macam-macam dibelakang ku." entah kenapa mendengar hal itu rasanya hati Selin seperti ditusuk sebilah pisau, sangat sakit!
"maafkan aku sudah berbohong lagi dan lagi, aku hanya menghindari perpisahan yang akan kamu berikan nanti kepadaku." gumam Selin dalam hati.
dikediaman Anggara, kedatangan Satria dan Adinda sangat disambut hangat oleh Tania.
ia menyiapkan makanan yang banyak sekali.
"akhirnya kalian datang." ucap Tania
"mama! aku senang bertemu denganmu." Adinda memeluk Tania dengan lembut kemudian mencium pipinya.
"kau baik-baik saja Adinda? bagaimana kabarmu?." kata Tania
"baik ma, mama sendiri apa kabar? maaf ya, aku dan Mas Satria datang lama sekali." ucap Adinda sedih, kemudian Tania tersenyum.
"mama sangat mengerti, terimakasih karena kalian menyempatkan waktu untuk datang kesini." Tania mempersilahkan Adinda duduk dimeja makan.
"kebetulan mama masak sangat banyak, silahkan dimakan ya, semoga kamu suka." kata Tania lagi
"masakan apapun yang mama berikan pada kami, kami pasti menyukainya." sahut Satria tersenyum, Arkan pun berteriak memanggil nenek saat melihat Tania.
"halo cucuku, apa kabar?." Tania mencubit hidung Arkan dengan lembut kemudian menggandeng tangan nya.
"ayo ikut nenek ke kamar, nenek punya hadiah untukmu." Tania mengajak Arkan ke kamarnya lalu memberikan kotak hadiah.
"kami pulang." suara Jonatan dan Selin secara bersamaan.
"hai, kau sudah sampai disini ya? sejak kapan?." tanya Selin
"aku baru saja sampai." Adinda menjawab kemudian tersenyum.
"tubuhmu tambah gemuk ya Selin, seperti orang hamil saja." ucapan Satria membuat Selin mendadak kaku, kenapa Satria menebak nya tepat pada sasaran.
"istriku tidak hamil, dia baru saja periksa ke dokter di rumah sakit tadi."
__ADS_1