Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Seperti coklat


__ADS_3

"Kakak, jangan begitu sinis pada orang lain." Pinta Agatha menatap Arkan.


"Aku tak suka." Jawabnya singkat.


"Lagi pula itu kartuku, sini." Agatha mengambil kartu miliknya dari tangan Arkan.


"Mau eskrim ?." Tanya Arkan.


"Itu." Pria tersebut melihat arah telunjuk Agatha, Hana terdiam seolah tak memperhatikan Arkan.


"Jangan pulang larut, aku menunggumu dirumah." Arkan mengacak rambut Adiknya lalu pergi.


"Itu Kakakmu ? aku pernah melihatnya di foto, tapi tidak menyangka kalau aslinya lebih tampan dari yang aku bayangkan." Ucap Hana.


"Jangan menyukai dia, kau tidak akan mampu meluluhkan hatinya, hanya aku yang bisa." Ia tersenyum bangga.


"Cih, aku pun tak ingin mempunyai pasangan seperti Kakakmu itu, terlalu dingin." Hana memalingkan wajah.


"Lalu, kau ingin yang hangat hangat ?." Agatha tertawa.


"Iya, yang lembut dan penuh kasih sayang." Hana memeluk tangan nya sendiri sambil memejamkan mata.


"Seperti coklat ya, lembut dan penuh kasih sayang." Lagi-lagi Agatha terbahak.


"Konyol !." Teman nya memutar bola mata.


Tak lama, hujan turun sangat deras, sampai-sampai jalanan saja tak terlihat karena tertutup oleh derasnya hujan.


"Kenapa hujan ? Adikku saja belum pulang." Arkan mengoceh dalam mobil, ia melambatkan laju mobilnya.


Didepan ada seorang wanita hendak menyebrang, namun hampir tertabrak oleh Arkan karena tak bisa melihat jalanan dengan jelas.


"Aaaaaaa !." Teriak wanita itu, cepat-cepat Arkan turun untuk memeriksa kondisinya.


"Kenapa masih nekat berjalan ditengah derasnya hujan, kau hampir saja membuatku menabrak." Arkan memarahi wanita tersebut.


"..." Ia diam, sebelum akhirnya jatuh.


"Hei !." Arkan menatap wajahnya.


"T-tolong aku." Ia memegang tangan Arkan sambil memohon pertolongan, Arkan menarik tangan nya lalu berlutut.


"Kau baik-baik saja ?." Pria itu menyadari wajah wanita didepan nya sangat pucat, kemudian matanya tertuju pada luka darah dibagian bahu.


"Ikut aku." Arkan menarik tangan si wanita untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu langsung menuju rumah sakit.


Dirumah sakit, Arkan meminta dokter untuk menangani luka wanita yang ia bawa.


"Tolong bantu tangani luka nya." Ucap Arkan.


"Baik, silahkan ikut suster untuk mengisi data." Arkan setuju.


sesudah mengisi data, Arkan hendak kembali menuju mobil diloby, tetapi Dokter segera memanggilnya.


"Tuan." Ucap Dokter.


"Ada apa ?." Arkan.


"Kami sudah mengobati luka pasien, beliau ingin bertemu dengan anda." Arkan mengangguk sebelum akhirnya pergi meninggalkan sang Dokter.

__ADS_1


"Mau apa mencariku ?." Tanya Arkan dingin, sedingin hujan yang membasahi jalan.


"Terimakasih, berkatmu aku selamat." Wanita didepan nya tersenyum getir.


"Lain kali jangan berjalan ditengah hujan besar, terlebih kau mempunyai luka separah itu." Ucapnya.


"Iya, tak akan diulangi." Setelah melihat si wanita mengangguk, Arkan pun pergi.


"Namaku Rain." Teriak wanita tersebut.


"Seperti hujan." Menoleh sejenak, kemudian pergi tanpa berkata apapun lagi.


Kediaman Anggara, Arkan pulang dengan baju yang basah.


"Lho, kamu kehujanan ? padahal naik mobil." Ucap Adinda.


"Aku sempat keluar mobil, lupa tak memakai payung, Bunda sudah makan ?." Tanya Arkan lembut.


"Sudah, Bunda makan bersama dengan Ayah dan Nenek." Balas Adinda.


"Baguslah, Arkan ke kamar dulu." Adinda mengangguk, Arkan pun pergi.


...


"Sedikit tak asing dengan wajahnya, siapa dia ?." Pikir pria yang ditolak ketika hendak membayarkan pakaian Agatha.


"Tuan Greg, belum lama ada wanita yang mencarimu." Ucap pelayan.


"Apa dia menyebutkan nama ?." Tanya Greg.


"Dia menyebut namanya sebagai Lilian." Balas pelayan lagi.


"Baik, pergilah." Kata Greg.


"Jangan ikut campur." Pinta Greg sinis.


"Wow, suasana hatimu sangat tidak baik." Leonard pergi setelah mengganggu Kakaknya.


"Aku harus cari tahu siapa dia, wajahnya sungguh tak asing, tapi aku tak ingat." Batin Greg.


***


"Diluar hujan, kau mau menunggu sampai berhenti atau kita lanjutkan ?." Tanya Agatha.


"Sebaiknya berhenti saja, aku takut sesuatu yang buruk terjadi kalau kita menerobos hujan itu." Hana duduk disebelah Agatha sambil bermain ponsel.


"Minggu depan adalah ulang tahunku, kau tidak lupa kan ?." Tanya Agatha.


"Tentu saja tidak, semua orang bahkan sudah tau kalau itu hari ulang tahunmu." Hana.


"Beri aku hadiah istimewa ya, tidak usah mahal, yang penting berkesan." Agatha tertawa kecil.


"Harinya saja belum tiba sudah minta hadiah, entah ngidam seperti apa Bundamu dulu." Hana menepuk jidatnya lagi.


"Ini peringatan tau." Jawab Agatha dengan mata menyipit.


"Omong-omong, apa kau melihat wajah pria tadi ?." Tanya Hana.


"Siapa ?." Agatha mengernyit.

__ADS_1


"Pria yang baru saja ingin membantumu, lihat tidak ?." Hana melihat Agatha mengangguk.


"Tampan ya ? kurasa dia cocok untuk menjadi pasanganmu." Hana tertawa.


"Jangan bercanda ! aku sendiri bahkan tak pernah memiliki hubungan apapun terhadap pria, bagaimana bisa mempunyai pasangan ?." Agatha mendecak, kemudian melihat jam tangan nya.


"Aku yakin, suatu hari kita pasti bisa bertemu pria itu lagi." Hana terkekeh.


"Hana, tidak usah bahas yang aneh-aneh, sekarang pikirkan saja bagaimana masa depanmu, apa kau akan tunduk selamanya di kaki sang Nenek ?." Agatha.


"Apa kau tidak lelah menjalani hidup dengan penuh keseriusan ?." Hana menatap wajah Agatha, sementara Agatha menoleh dengan kebingungan.


"Apakah selama ini aku menjalani hidup dengan bercanda ?." Kedua nya sama-sama tertawa.


"Hahahaha ! lucu ya."


Sewaktu hujan berhenti, Agatha pun kembali pulang bersama teman nya.


ia mengantar Hana sampai ke depan rumah, lalu memutar mobilnya menuju kediaman Anggara.


jarak nya cukup jauh, sehingga ditengah perjalanan hujan lebat itupun datang lagi.


"Aku tak bisa melihat apapun ! sial." Agatha menghentikan mobilnya ditepi jalan.


"Sebaiknya tunggu sebentar disini, sampai hujan mulai reda." Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil memejamkan mata.


entah sudah berapa lama Agatha menunggu, namun hujan tak kunjung berhenti, akhirnya ia pun menyalakan mesin mobil.


"Ada apa ini ? kenapa mesin nya mati ?!." Agatha panik, ia segera keluar untuk memastikan mesin nya.


"Aku tidak terlalu paham, hubungi Kak Arkan saja deh." Agatha masuk kedalam mobil kemudian menghubungi Kakaknya.


"Ada apa ?." Tanya Arkan disebrang telepon.


"Mobilku mati, posisinya lumayan jauh dari rumah, jalanan nya juga sangat sepi, boleh bantu aku ?." Kata Agatha.


"Beritahu aku dimana lokasimu, kunci pintu mobil dan jangan keluar sebelum aku datang." Arkan mengaskan Adiknya.


"Oke, baik." Ia menutup panggilan, lalu mengirimkan lokasi terkini. tak lupa dirinya mengunci pintu mobil dan berdiam diri didalam.


Tidak butuh waktu lama bagi Arkan untuk segera tiba.


ia mengeluarkan payung dan langsung menghampiri mobil sang Adik.


Tok..tok, Agatha membuka pintu lalu mendekap dalam pelukan Kakaknya.


"Kenapa basah kuyup ? bukan kah aku sudah minta untuk jangan keluar ?." Kata Arkan.


"Maaf, aku hanya melihat mesinku saja sebentar." Agatha sangat kedinginan.


"Masuk, aku akan meminta orang untuk mengurus mobilmu." Ucap Arkan seraya menutup payungnya dan masuk kedalam.


"Rasanya dingin sekali." Agatha menggigit bibirnya keras-keras.


dengan penuh inisiatif, Arkan mematikan AC mobil, lalu membuka jaket untuk dipakaikan ke Agatha.


"Kau bisa sakit kalau kehujanan begini, jika Ayah dan Bunda melihatmu, entah apa yang mereka katakan nanti." Arkan merapihkan rambut Agatha yang basah lalu mengusap wajahnya.


"Aku tidak ingin mereka melihatku, kau tahu caranya kan ?." Kata Agatha.

__ADS_1


"Ya, kau masuk lewat belakang, aku akan mengalihkan perhatian mereka, setelah itu masuk kamar, berendam air hangat, lalu beristirahat. mengerti ?." Arkan.


"Mengerti ! terimakasih."


__ADS_2