Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
akting Adinda


__ADS_3

sewaktu Adinda sedang asik mengobrol dengan suaminya, mereka pun dikejutkan oleh beberapa orang suruhan Satria yang telah membawa Tari ke apartemen itu, Tari di dorong hingga jatuh ke hadapan bosnya, tetapi Satria hanya mengernyit.


"siapa yang meminta kalian untuk membawa wanita bodoh ini ke rumahku?! aku memang menyuruh kalian untuk membawanya, tapi bukan kesini!." Satria memaki orang-orang suruhan nya, mereka hanya menunduk takut dan segera meminta maaf atas kesalahan yang dia buat, sementara Tari langsung berlutut di kaki Adinda kemudian menangis.


"Adinda tolong maafkan aku hu-hu-hu, aku sama sekali tidak salah, jika dia marah karena ulah Bryan tolong maafkan kami, aku akan berusaha untuk memastikan sepupuku agar tidak mengganggu kalian lagi." ucap Tari, wajah nya mulai pucat, sekujur tubuh itu dibanjiri oleh keringat, padahal dia sudah masuk ke ruangan yang dingin saat ini.


"jangan dengarkan dia, sampai matipun aku tidak akan memaafkan bajingan itu! lagi pula buat apa kau menolongnya tadi? bukan kah lebih baik kalau dia mati? dia tak akan mengganggu istriku lagi." ucap Satria, Adinda memandang Tari dengan kasihan, dan berjongkok untuk memegang bahunya


"aku tahu kau wanita yang baik, aku tahu kau bahkan tidak bersalah, tapi aku tak bisa merubah rasa benci suamiku menjadi rasa iba, soal perkataan dia jangan pernah kau masukkan ke dalam hati, aku berjanji untuk melarang suamiku jika dia berbuat hal bodoh dengan cara mengganti nyawa mu untuk Bryan." Adinda tersenyum lembut kemudian Tari merasa lega, ia memeluk Adinda erat namun Satria mendorong wanita itu menjauh.


"jangan kau sentuh istriku! lihat badan mu sekarang, sangat menjijikan, lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran untuk tetap menjalankan pergantian nyawa itu!." kata Satria, sorot mata tajamnya membuat Tari gemetar ketakutan, ia langsung pergi dari tempat yang dianggap nya neraka.


padahal bagi Adinda, tempat yang ia injak sekarang adalah surga nya, orang lain mungkin akan merasa suaminya sangat kejam, tetapi ia tak akan sekejam itu jika seseorang tidak mencoba membuatnya marah dan murka.


"kau tidak boleh menyakiti siapapun yang tidak bersalah." ucap Adinda lembut, Satria menatap nya dalam-dalam dan mengangguk setuju.


"aku akan melakukan apapun yang kau inginkan." balas Satria


di tempat lain, Selin membantu untuk menyuapi Jonatan, sekian lama dia menemani suaminya, ia belum berani membuka mulut untuk berbicara dengan Jonatan.


"kenapa kau mau merawat ku?." Jonatan memecah keheningan itu dengan bertanya kepada Selin


"k-karena kau adalah suamiku." sahut Selin, wajahnya terlihat sedikit canggung


"suami?." Jonatan mengejek, ia memandang keluar jendela dan melihat gerimis yang mulai turun. "bukan kah kau merawat ku karena kau merasa bersalah atas apa yang kau lakukan?." Selin terdiam, ia menghindari tatapan Jonatan


"kau tahu? betapa aku sangat mencintaimu? tapi kau sama sekali tak bisa melihatnya, kau bahkan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam pernikahan kita, ini semua salahmu Selin, kau yang tak pernah perduli pada suamimu, kau bukan istri yang baik." kata Jonatan, matanya memancarkan kekecewaan dan penyesalan.


"Jonatan aku minta maaf, ini semua memang salahku, aku bahkan tega melukai suamiku sendiri." Selin menangis dihadapan pria itu


"kalau kau tidak gila, mungkin aku tidak akan terluka, Adinda sama sekali tidak bersalah, dia memang ingin membantuku, tapi karena pengaruh alkohol yang begitu kuat, aku sampai membayangkan bahwa dia adalah dirimu, aku tak bisa menghapus bayangmu meski sedetik saja Selin, aku memang pernah mencintai Adinda, tapi aku tidak akan pernah kembali ke masa lalu itu, aku milik mu, kalau kau tidak percaya silahkan cek cctv di rumah, kau buktikan sendiri kebenaran nya." kata Jonatan menjelaskan, lalu Selin kembali murung, ia sadar betapa gila nya dia memperlakukan Adinda, padahal dia tahu kalau Adinda memang tidak segampang itu menggoda laki-laki lain.


belum lagi Selin merasa konyol pada dirinya sendiri, dia ingat jelas pada malam dimana dia meniduri seorang laki-laki yang menyerupai suaminya, ia tak bisa membayangkan ketika Jonatan tahu kalau dia habis melakukan hal kotor itu dengan pria lain.


"mau kah kau memaafkan ku?." tanya Selin, matanya berkaca-kaca ketika menyebutkan kata maaf itu.


Jonatan menghela nafas, kemudian meraih tubuh Selin untuk dipeluknya erat-erat.


"aku selalu memaafkan mu dalam soal apapun, kecuali kau berselingkuh, aku tidak akan pernah menerimanya." gumam Jonatan, ia mencium kening Selin lembut, namun Selin merasa jantungnya berhenti ketika dia mendengar ucapan Jonatan, ia tidak mau kehilangan Jonatan, tapi bagaimana kalau dia tahu akan kebodohan malam itu.


...


tring..tring, suara ponsel Satria berbunyi.


ketika dilihat ternyata Tania yang menghubungi nya, ia segera mengangkat telepon itu.


"halo ma, ada apa?." tanya Satria


"ayah! aku rindu kalian." suara menggemaskan itu muncul di sebrang telepon


"oh ya ampun sayang, ternyata ini kau, baiklah ayah dan bunda akan menjemput kamu malam ini, baik-baik di rumah. oke?." Arkan setuju dan membalas "oke ayah."


"Arkan kenapa mas? dia baik-baik saja kan?." tanya Adinda khawatir


"dia baik-baik saja, barusan Arkan berkata kalau dia merindukan kita, jadi aku akan menjemputnya nanti malam." ucap Satria, Adinda hanya tersenyum memikirkan bocah kecil yang manis itu.


"nanti aku akan membawa Desi juga untuk tinggal disini, agar dia bisa membantumu mengurus Arkan, aku tidak mau kau lelah, terlalu bahaya untuk bayi di dalam perutmu." jelas Satria, ia mengelus wajah istrinya dan menuju ruang kerja.


"masih ada beberapa yang harus aku urus, memang sialan! gara-gara bajingan itu, pekerjaan ku jadi terhambat." Satria bergumam sebelum melanjutkan pekerjaan nya di rumah.


malam nya, Satria menjemput Arkan ke rumah Anggara untuk dibawanya ke apartemen.

__ADS_1


"sayang, kau ingin pulang?." tanya Satria lembut, Arkan tersenyum manis dan mengangguk setuju


"ya ayah, aku mau pulang." jawab Arkan


"kalau begitu kita pulang sekarang." Satria menggendong putra kecil nya untuk bergegas menaiki mobil, sebelum itu ia mengobrol sebentar kepada Tania Anggara untuk mengizinkan Desi tinggal di apartemen, Tania tidak masalah, ia pun tak mau menantu yang sudah menjadi anak itu kelelahan.


"hati-hati dijalan." ucap Tania tersenyum hangat


di dalam mobil, Arkan melihat-lihat ke luar jendela, ia beberapa kali tersenyum karena mobil-mobil truk dan bis yang memancarkan lampu-lampu terang di sekelilingnya.


"ayah, aku kangen bunda." kata Arkan, Satria menatap anaknya dengan penuh kasih


"kita akan segera bertemu bunda sayang, jangan khawatir." sesampainya di apartemen, Adinda melihat Arkan berada dalam gendongan suaminya, seketika ia langsung merebut anak itu dengan lembut dan mencium nya berulang-ulang kali.


"sudah makan belum nak? kamu tidak nakal kan? tidak membuat nenek repot kan?." ucap Adinda, Arkan tertawa kecil dan mengedipkan matanya ke arah Adinda


"aku sudah makan bunda, tapi maaf aku sempat membuat nenek marah karena aku pergi mengambil minum sendiri." ucap Arkan polos, Adinda tersenyum mendengar cerita kepolosan anak nya


"sayang, lain kali kau tidak boleh mengambil minum itu sendiri, bagaimana kalau gelas yang kau bawa jatuh? lalu pecahan itu mengenai kakimu? pasti nenek sangat khawatir." Adinda menasihati anak nya yang mungil tersebut, ia mengelus kepala Arkan dan melihat bentolan merah ditangan putra nya


"ini kenapa?!." wajah Adinda panik, lalu Arkan mengusap tangan nya sendiri dan memegang wajah bunda nya


"tidak apa-apa bunda, ini hanya gigitan nyamuk, saat aku bermain tadi, ada seekor nyamuk masuk ke dalam rumah, lalu ia menggigit tangan ku." jelas Arkan, namun tampak nya wajah Adinda semakin khawatir, ia bergegas mencari minyak kayu putih untuk menggosokkan nya ke tangan Arkan


"sini nak, bunda obati tangan nya, berani nya dia menggigit tangan mu, kalau bunda melihatnya nanti, akan bunda pukul dia sampai mati." apa yang Adinda katakan justru membuat Arkan tertawa geli, Satria pum tercengang, karena melihat kekhawatiran yang begitu berlebihan di wajah istrinya


"kenapa kamu menertawai bunda? apa kamu pikir bunda sedang bercanda?." tanya Adinda


"sayang, bagaimana Arkan tidak tertawa mendengar perkataan mu, itu hanyalah seekor nyamuk, dan kau memandangnya bagaikan macan." kata Satria ikut tertawa


"tapi mas, aku tidak membiarkan apapun terjadi pada anak kita, aku tidak mau nyamuk itu menghisap darahnya, bagaimana kalau anak kit...." Satria menutup bibir itu dengan jari telunjuk nya, lalu Arkan melihat mereka berdua dengan mata kebingungan


"mas! ada Arkan lho!." Adinda memelototi suaminya, kemudian Satria hanya menggaruk kepala yang tak gatal itu


Satria tersenyum, lalu memeluk istrinya dari belakang.


"sayang, besok aku harus ke kantor, kau disini baik-baik ya bersama Arkan dan Desi." kata Satria


"iya mas, aku akan baik-baik di sini." Adinda setuju dan mulai tertidur.


besoknya, seperti biasa Adinda bangun tanpa adanya Satria.


ia melihat hari sudah hampir siang, kemudian Adinda menuju toilet untuk membasuh wajahnya dan pergi ke luar.


"Arkan, kamu sudah bangun nak?." tanya Adinda melihat putranya yang sedang menonton film kartun di dalam televisi, tepatnya di ruang santai.


Desi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sebagai tanda hormat kepada nyonya muda keluarga Anggara.


"ya bunda, lihat! tikus kecil itu lebih pintar dari pada kucing nya!." Arkan menunjuk televisi kemudian tertawa riang, Adinda merasa nyaman melihat tawa itu.


"suamiku jalan jam berapa Des?." tanya nya lagi


"sepertinya tuan muda jalan pukul tujuh nona." sahut Desi, Adinda segera meninggalkan ruangan itu dan langsung menuju dapur.


"kenapa tiba-tiba aku ingin sekali makan yang asam?." gumam Adinda, ia mengelus perutnya dan mengerutkan alis.


"anak bayi, apakah kamu yang menginginkan nya?." tanya Adinda kepada perutnya itu, lalu ia kembali berpikir


"ah sudahlah, aku minta saja Mas Satria membelikan mangga muda untuk ku sepulang kerja." Adinda mencari ponselnya tetapi tak kunjung ketemu, ia baru ingat kalau ponselnya berada di tangan Bryan kala itu, dia lupa belum membeli ponsel yang baru.


"Desi, bisakah aku meminjam ponselmu?." tanya Adinda, Desi terlihat sedikit gugup, namun ia memberikan ponsel itu kepada Adinda

__ADS_1


di kantor, ponsel Satria berdering.


Emily yang baru saja tiba di ruangan itu melihat layar ponsel bos nya menyala, sementara Satria sedang keluar tanpa membawa ponsel nya.


tertulis nama Desi di sana, kemudian Emily mengernyit.


"apakah seorang Satria bisa selingkuh? mengapa ada nama wanita lain di ponselnya? mau apa wanita itu menelepon?." Emily bertanya-tanya sebelum dia mengambil ponsel itu dan menjawab nya dengan lantang.


"jangan ganggu suamiku, dia sedang bekerja dan tak dapat diganggu! dasar jalang!." Emily mengatakan hal tersebut kemudian mematikan telepon nya, mendengar hal itu Adinda langsung kaget dan mengerutkan alis.


"Emily! bisa-bisanya kau mengaku sebagai istri Satria Anggara, lalat ini harus diberi pelajaran." ia tahu kalau suara tadi adalah suara Emily, ia berpikir bahwa Emily salah menebak seseorang, seketika Adinda tersenyum mengejek dan mengembalikan ponsel itu kepada Desi.


Adinda pergi mandi dan berpakaian rapih, kali ini penampilan nya terlihat begitu cantik dan elegan.


ia memasuki mobil yang terparkir di loby, lalu menaiki nya untuk menuju perusahaan Anggara.


"Tuan, ini berkas-berkas yang anda minta." ucap Emily


"pergi." Satria mengusir Emily dengan jijik, Satria sangat kesal atas kejadian tempo hari dimana Adinda di dorong sampai jatuh oleh Emily, sehingga ia ingin memecat wanita itu tetapi Adinda melarangnya.


tak lama, setelah Emily keluar dari dalam ruangan, ia melihat seorang wanita bak malaikat datang dan berjalan ke arahnya.


semua pekerja menunduk hormat kepada wanita yang cantik itu, segera saja Emily mengepalkan tinju dan ingin sekali meludahi wajah Adinda.


"wanita sepertimu sangat tidak layak mendapati kedudukan ratu!." gumam Emily, suaranya sangat kecil sampai-sampai tak seorangpun dapat mendengarnya


"hei kau!." Adinda berkata dengan nada dingin dan sorotan mata tajam.


"i-iya nona, ada apa?." tanya Emily, ia jijik berpura-pura lembut pada wanita dihadapan nya saat ini, tapi dia harus mempertahankan reputasi nya.


"apa kau tuli? atau bahkan buta? dari tadi aku mengajakmu bicara disini." ucapan Adinda membuat para pekerja menoleh ke arah Emily dengan sinis.


"ma-maafkan saya, bisakah anda mengulangi pembicaraan itu lagi?." Emily bertanya namun Adinda tersenyum mengejek


"dasar tuli, sudah pergi sana, tidak ada guna nya mengulang pembicaraan lagi dengan orang seperti mu." Adinda memajukan langkah nya dengan santai, Emily kesal sehingga terlintas pikiran kotor untuk mengulurkan kaki agar wanita sombong itu jatuh tersungkur.


"Aaaah!." Adinda tahu kalau Emily akan menyandung nya, jadi ia langsung pura-pura tersandung padahal ia menendang kaki itu secara sengaja sampai Emily meringis kesakitan.


"sayang!." Satria membuka pintu ruangan dan melihat Adinda hampir terjatuh, untungnya ia segera menangkap tubuh istrinya.


"Mas.." wajah Adinda berubah menjadi muram, ia melirik Emily dengan tanda-tanda tertentu, Satria langsung melihatnya dengan sadis, dan memarahi wanita itu didepan semua orang.


"apa kau mencari mati?! berani-berani nya kamu menyandung istriku dengan sengaja?!!." Satria memelototi Emily dan berkata dengan dingin


"tapi saya tidak sengaja Tuan." Emily mencoba mempertahankan harga dirinya agar tidak jatuh didepan orang banyak


"Mas, jangan memaki dia, ini salahku, aku yang telah membuat kekacauan di kantor ini, aku juga sudah memarahi Emily, mungkin itu alasan mengapa dia telah menyandung ku." Adinda berbicara lembut, tatapan nya melemah seolah habis diserang oleh serigala berbulu domba.


"kau sama sekali tidak bersalah, siapa yang berani menyalahkan mu disini? kau adalah istriku, jika ada yang berani menyalahkan mu maka aku akan memecatnya!." Satria membuat Adinda terpana, namun ia melanjutkan akting nya


"ku harap bayi kita baik-baik saja, jangan sampai dia terkena serangan jantung saat aku hampir jatuh tadi." ucapan Adinda membuat Satria sangat khawatir dan kembali memaki Emily, namun Adinda berusaha menenangkan nya


"jangan marahi sekretaris mu terus menerus, dia tidak akan betah bekerja disini jika terus di maki." kata Adinda


"aku memang mau dia keluar dari kantor ini!." balas Satria, Emily merasa dirinya akan meledak, ia salah kalau mengira Adinda wanita yang bodoh dan lugu, ia bisa lebih licik bahkan dari dirinya sendiri.


"aku tadi sempat menelepon mu, namun seseorang telah mengangkat nya, ia berkata bahwa dia adalah istrimu, aku sengaja menghubungi mu memakai ponsel Desi karena ponsel ku hilang kemarin, hatiku sakit, kau sedang tidak mengkhianati aku kan Mas disini?." pertanyaan Adinda membuat Satria terkejut setengah mati, ia bahkan tidak tahu siapa yang berani mengaku-ngaku menjadi istrinya.


"aku akan cek cctv nanti, sekarang kau masuk dulu ke dalam, pasti kau ingin mengatakan sesuatu padaku kan sampai harus datang kesini." ucap Satria membawa Adinda masuk ke ruangan nya, sementara Emily mematung dan mendapat ejekan sana sini.


tangan nya mengepal, matanya memerah, ia sangat murka kepada Adinda, wanita itu ternyata sangat licik, dia pandai berakting untuk menjatuhkan nya.

__ADS_1


Emily harus bertindak cepat, kalau tidak, dia akan kalah dengan sikap Adinda yang jauh lebih pemberani.


"sabar ya sayang, sebentar lagi dendam ayahmu akan segera terlaksana." Emily tersenyum licik seraya memegangi perutnya yang rata.


__ADS_2