
"pulih apa yg kamu maksud?." tanya Adinda bingung
"kau ini sempat kehilangan ingatan mu, tapi kini sudah kembali, aku bahagia sekali sayang." kata Satria
"kehilangan ingatan? benar kah itu?." kata Adinda
"ya, benar. kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya oleh semua orang yang berada disini." ucap Satria
tiba tiba dokter datang memasuki kamar mereka diantar oleh Desi
"maaf tuan saya terlambat tadi jalanan sangat macet sekali." ucap dokter itu
"cepat lah periksa istri ku, apa kah dia benar benar telah pulih dari amnesia nya??." ucap Satria
"baik tuan." dokter itu pun memeriksa keadaan Adinda yg ternyata memang benar bahwa Adinda sudah mendapatkan ingatan nya kembali
"bagaimana dok?." tanya Satria
"saat ini nona sudah baik baik saja tuan, jika dia telah mengingat semua tentang dirinya, itu mengartikan bahwa ingatan nya sudah pulih." ucap sang dokter
"senang sekali melihat nona sudah pulih." ucap Desi
"terimakasih." balas Adinda
"ya sudah, kau antar kan dokter ini keluar." pinta Satria
"baik tuan, mari dok saya antar." kata Desi
...
"sayang, aku lapar." ucap Adinda
"kita makan sekarang, aku akan menyuapi mu." ucap Satria
"kau temani saja biar aku menyuap sendiri." kata Adinda
"tidak, aku akan tetap menyuapi mu, sudah lama sekali aku tidak melakukan nya." kata Satria
"hei, jangan perlakukan aku seperti anak kecil." ucap Adinda menatap Satria
"sudah ayo cepat." Satria menggendong Adinda menuju ruang makan di lantai bawah
"kau selalu bersikap romantis kepada ku." kata Adinda
"sudah selayaknya aku begini, karena aku selalu ingin kamu merasa bahagia ada disisi ku." ucap Satria
ketika sudah berada di ruang makan Satria mengambilkan makanan itu untuk istrinya dan menyuapi istrinya perlahan lahan
"kau tau Sheira?." tanya Satria membuat Adinda mendadak batuk batuk
"uhuuk..uhukk."
"ma-maaf, aku membuat mu kaget, minum dulu." Satria menyodorkan segelas air kepada istrinya
"mengapa kau tanya begitu? kau kembali jatuh cinta pada nya?." tanya Adinda sinis
"bukan begitu sayang, dia itu wanita yg sudah membuat mu menjadi amnesia." ucap Satria
"jadi Sheira? benar benar keterlaluan, lain kali aku akan membalasnya." kata Adinda
"ya ampun sejak kapan istri mungil ku menjadi ganas seperti ini??." ucap Satria mencubit pipi istrinya
"sejak dia membuat aku melupakan segalanya." sahut Adinda kembali menyantap makanan tersebut
****
__ADS_1
ditempat Sheira,
"sampai kapan kau akan mengurung ku disini wanita iblis?!." ucap Tania Anggara
"sampai putra mu datang, dan menikahi ku secara resmi di depan semua orang." balas Sheira membuat Tania tertawa
"hahahaha menikahi mu? jangan mimpi! Satria sangat menghargai istri nya, dan tidak bodoh untuk menilai wanita seperti dirimu!!." kata Tania
"sialan! diam kau! aku tidak meminta mu untuk berbicara sama sekali!!! kau akan tau apa akibat nya jika kau berani melawan ku!! jangan berpikir kau adalah orang tua Satria dan aku bisa dengan mudah menghormati mu! wanita seperti mu tidak pantas untuk dihormati!!." kata Sheira
"kurang ajar!!!! lepas kan tangan ku! aku akan merobek robek mulut busuk mu itu!!!." sahut Tania
"hahahaha, Reno?! cepat kemari!." pinta Sheira
"ya, kenapa?." tanya Reno
"hubungi Satria sekarang juga, dan beritahu kalau wanita tua ini ada di tangan ku!." ucap Sheira
"apa tidak terlalu cepat?." tanya Reno lagi
"hei! aku adalah bos nya! kau harus turuti perintah ku." jawab Sheira
"bos tapi tidak memiliki uang." gumam Reno
"apa kata mu?!." Sheira menatap Reno sadis
"oh tidak, baiklah aku akan menghubungi Satria." ucap Reno yg kemudian diberikan sebuah kartu nama oleh Sheira, kartu nama tersebut adalah milik Satria
tak lama Reno pun menghubungi Satria..
tringg..tringg, Satria menatap layar ponsel nya namun nomor tak dikenal yang tertera di sana
"siapa sayang?." tanya Adinda yg ingin meminum segelas air
"entah lah, kurasa tidak penting." Satria tidak memperdulikan ponsel nya itu, namun terus menerus berbunyi
Satria hanya menatap Adinda dan kemudian setuju untuk mengangkat panggilan itu.
"halo?." ucap Satria
"halo bro, masih kenal dengan suara ku?." ucap Reno di sebrang telepon
"sialan! mau apa kau?. ucap Satria seraya mengangkat segelas air untuk diminum nya
"tenang, aku hanya memberikan informasi penting." ucap Reno
"jangan main main dengan ku!!." jawab Satria
"orang tua mu yg bernama Tania Anggara sedang berada ditangan ku, jadi cepat lah kemari, hahaha." ucap Reno membuat Satria menyemburkan air yg hendak dia minum tadi
Adinda begitu terkejut melihat respon suaminya yang seperti sangat kaget dan emosi, ia segera beranjak dari kursi makan nya dan mengelus pelan dada suami nya.
"dimana kau sekarang?!!!." tanya Satria seraya mengepalkan salah satu tangan nya
"di hutan, tempat istrimu memberanikan diri untuk masuk, silahkan kemari, pintu rumah kami terbuka lebar untuk tamu terhormat seperti mu, hahaha." ucap Reno yg segera mematikan panggilan nya
"brengsek!!!! berani berani nya dia berurusan dengan ku! awas saja!." Satria meninju meja itu tanpa sadar dan membuat Adinda jauh lebih kaget dari sebelum nya
"oh sayang, maaf aku membuat mu kaget." kata Satria mengelus rambut istrinya
"ada apa? mengapa kau terlihat begitu marah saat mengangkat panggilan barusan??." tanya Adinda
"mama diculik, dan ternyata pelaku nya adalah Reno, aku harus pergi, kau jangan kemana mana, aku mencintai mu." Satria mengecup kening istrinya dan pergi
"mama diculik? ya ampun, Satria kau pergi disaat langit sudah mulai gelap begini." Adinda berniat untuk mengikuti suami nya
__ADS_1
"tidak bisa dibiarkan!!." kata Satria menancapkan gas pada mobil nya
Adinda segera mengeluarkan mobil di garasi dan melajukan dengan cepat untuk menyusul Satria.
selang 30menit kemudian, Satria sampai di sebuah hutan yg sempat dimasuki oleh istri nya, ia menghubungi Farel terlebih dahulu
"Farel, kembali sekarang juga ke hutan yg tadi kau datangi." ucap Satria
"baik tuan." balas Farel
Satria segera keluar dari dalam mobilnya dan berjalan cepat memasuki hutan
"apa yg dilakukan suami ku?!." gumam Adinda yg ikut keluar dari mobil dan menuju dalam hutan
"mau kemana dia?." gumam Adinda pelan
kemudian setelah sampai di suatu rumah yg berada ditengah tengah hutan, Satria segera mendobrak pintu tersebut dengan sangat keras.
"keluar kalian!!." ucap Satria
"wah wah wah, tamu terhormat kita sudah datang." ucap Reno diiringi tepuk tangan
"berhenti bermain main dengan ku! sekarang cepat beritahu dimana orang tua ku!!." kata Satria
"selamat datang Satria." ucap Sheira yang datang tiba tiba
"kau?!! tak ada puas puasnya!!!." ucap Satria
"kau mau wanita tua itu selamat bukan??." ucap Sheira tersenyum sinis
"mau apa kau?!!!." tanya Satria
"nikahi aku, maka aku akan membebaskan wanita tua itu." jawab Sheira
Adinda yg mendengar itu dari balik dinding hanya tercengang
"wanita gila!." gumam Adinda pelan
"jangan gila kau!!!!! kau tidak pantas menjadi istriku!!!!." ucap Satria
"baiklah, Reno bawa wanita itu kemari." ucap Sheira, kemudian Reno segera menyeret Tania ke hadapan Satria
"aku akan mencekik nya jika kamu tidak mau menikahi ku!!!." ucap Sheira menahan Tania dengan tangan Tania yang masih terikat
"jangan dengarkan dia nak." ucap Tania
"diam kau!!!! cepat Satria! beri aku jawaban jika kau sayang dengan wanita ini." kata Sheira
"aku tidak akan menikahi mu!! lepaskan orang tua ku!." ucap Satria
Sheira mencengkeram leher Tania kuat kuat sampai Tania hampir sulit bernafas
"jangan lakukan itu!!!!!." Satria ingin mendekati Tania dan Sheira namun di halang oleh Reno
"beri aku jawaban!." pinta Sheira
"baik, aku akan berikan kamu jawaban, tapi lepaskan dia." ucap Satria
"aku tidak akan melepaskan nya sampai kau berkata ya dan menanda tangani surat perjanjian ini." Sheira melemparkan surat tersebut agar Satria membaca nya
Satria mulai membaca surat itu dan tiba tiba hati nya sangat bimbang, dia tidak mau menyakiti istrinya, tapi dia juga tidak ingin kehilangan wanita yang melahirkan dirinya.
"Satria sadarlah!! jangan berpikir bahwa kau akan menerima surat perjanjian itu." ucap Tania yang hampir menangis
Satria terlihat begitu frustasi saat ini, Adinda hanya berusaha berpikir untuk menolong mama Tania
__ADS_1
"tidak! aku tidak akan membiarkan Sheira merebut suami ku!." Adinda berlari memasuki pintu belakang
"jangan nak, jangan lakukan itu, lebih baik mama mati ditangan wanita licik ini dari pada kau harus menuruti permintaan nya." ucap Tania menjatuhkan air mata