Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
pendarahan


__ADS_3

ketika Satria sudah selesai makan siang, ia segera kembali menuju kantor.


saat kaki nya baru saja melangkah masuk, tiba tiba seseorang menabrak nya.


"aaagh." kata seseorang tersebut tersungkur ke lantai


"kau?." gumam Satria


"ma-maafkan saya tuan, maafkan saya." kata orang tersebut yang tak lain adalah Sofie


"mama?!! mama baik baik saja?." kata Rey berlari menyusul mama nya


"ayo Rey, kita pergi dari sini." ucap Sofie meninggalkan Satria yang kebingungan di sana, Satria melihat mata Sofie yang sembab seperti habis menangis


"aneh sekali wanita itu, selalu ceroboh dengan banyak hal." kata Satria menggaruk kepala nya yang tak gatal


di ruangan Satria,


"permisi tuan, tadi saya sudah mengambil beberapa berkas yang sudah anda tanda tangani." kata sekretaris nya


"oh ya, saya minta tolong beritahu Farel untuk bawakan saya segelas teh kemari." kata Satria


"baik tuan, akan saya beritahu kepada tuan Farel." ucap sekretaris berlalu pergi.


tak lama kemudian Farel pun datang membawa segelas teh untuk bos nya itu.


"ini tuan teh yang anda mau." kata Farel


"duduk lah." pinta Satria, kemudian Farel menuruti permintaan atasan nya


"ada apa tuan?." tanya Farel


"3hari ke depan mungkin aku tidak akan datang ke kantor, karena aku berencana ingin mengajak istri ku pergi, kau bisa kan menjalankan tugas ku? aku akan siapkan beberapa body guard untuk perusahaan ini, agar kalau nanti orang brengsek itu datang lagi, dia tak akan bisa masuk apalagi menyentuh mu." kata Satria


"tentu saja bisa tuan, saya akan menjalankan tugas itu sebaik mungkin, berlibur lah bersama nona Adinda dengan ketenangan tuan." kata Farel


"terimakasih Farel, kalau begitu kau boleh pergi." ucap Satria


"baik tuan." Farel pun keluar dari ruangan Satria menuju ruangan nya


di tempat lain,


sosok Rey sedang menenangkan mama nya agar tidak terus terusan bersedih.


"mama, mama jangan nangis lagi ya, Rey sedih kalau liat mama nangis." kata Rey polos


"iya sayang mama tidak nangis lagi, Rey mau es krim?." tanya Sofie


"mau ma, mama punya uang?." tanya Rey


"ada nak, tadi mama diberi uang sama paman." kata Sofie tersenyum

__ADS_1


"yeay senang sekali membeli es krim." kata Rey bersorak senang, seketika Sofie pun melamun, ia meratapi kisah hidup nya yang kini semakin sulit


"mama kenapa melamun? pasti lagi pikirin om om baik itu ya." kata Rey menggoda mama nya


"oh ya ampun sayang, mana mungkin mama memikirkan om om itu." kata Sofie


"tapi Rey senang kalau mama bisa dekat dengan om baik, karena dia super hiro Rey, dia bisa menolong Rey waktu tadi, artinya dia bisa menghapus kesedihan mama." ucap Rey


"sssttt, Rey jangan bicara seperti itu ya sayang, tidak sopan, bagaimana kalau paman marah dengan perkataan Rey?." kata Sofie memegang tangan putra nya


"hmm baik ma." Rey pun tertunduk dengan wajah cemberut nya


apa yang dikatakan Rey memang benar, dia bahkan jauh lebih baik dari pada ayah nya sendiri, hhh mana mungkin suami ku bisa melindungi aku dan Rey, dia saja lebih mementingkan wanita lain dibanding aku, istri sah nya. gumam Sofie dalam hati


.


.


.


.


di kediaman Anggara,


"Des, kau ikut aku ya? aku ingin belanja bahan keperluan dapur di supermarket, aku mau masak untuk suami ku." kata Adinda


"baik nona, saya akan bersiap terlebih dahulu." Desi pun merapihkan diri kemudian merapihkan Arkan


"saya akan meminta pak Rahman menyiapkan mobil." kata Desi berlalu pergi


di supermarket, Adinda mengambil beberapa bahan yang ia perlukan untuk makanan suami nya, ia meminta Desi membantu membawakan belanjaan itu


"Desi maaf ya aku jadi merepotkan." kata Adinda malu


"ah tidak nona, jangan sungkan, ini sudah menjadi pekerjaan saya." ucap Desi


dari kejauhan, Adinda melihat anak kecil yang sedang menaik turun di area tangga tanpa melihat jarak langkah kaki nya yang tak sampai, Adinda pun berlari kecil seraya membawa Arkan di dalam dekapan nya, ia segera memegang tangan anak itu


"awas nak!!!." kata Adinda menarik anak kecil tersebut, BRUGHH! kemudian mereka pun terjatuh bersama


"aaaaghhh." keluh Adinda pelan, Desi pun berlari meninggalkan belanjaan yang ia bawa dan segera menolong Adinda


"nona?!!! anda baik baik saja?!." kata Desi membantu Adinda


"tidak, tolong ambil anak ku, dan bantu anak itu Des, aku bisa mengurus diriku sendiri." kata Adinda mementingkan putra kecilnya dan anak yang tadi ia tolong terlebih dahulu


"Rey!!!!!." teriak Sofie di kejauhan seraya berlari mengarah ke Rey


"nona, anda harusnya lebih berhati hati!! jangan lalai dalam menjaga anak mu apalagi yang masih kecil seperti ini! bagaimana kalau dia terjatuh dan kepalanya pecah?!!." kata Desi tersulut emosi karena melihat nona Adinda jatuh akibat menolong putra wanita itu


"Des, jangan, tidak perlu marah marah begitu, kita bisa bicarakan baik baik." kata Adinda

__ADS_1


"maafkan saya nona tapi bagaimana kalau tuan tau nona terjatuh?." ucap Desi dengan raut wajah takut


"tidak, dia tidak akan tahu kalau kau tidak bicara pada nya, sayang kamu gapapa kan?." tanya Adinda ke anak kecil itu


"Rey tidak apa apa tante, maaf ya Rey membuat tante jatuh." kata Rey


"lain kali tidak boleh seperti itu ya, berbahaya sayang." kata Adinda lembut


"mama." ucap Rey memeluk mama nya


"nona, maafkan kelakuan anak saya, saya benar benar bodoh menjaga nya." kata Sofie menunduk


"tidak apa apa, kau harus menjaga anak mu dengan benar, jangan sampai dia terluka karena kamu gagal menjaga nya." kata Adinda


"iya nona saya minta maaf, apa anda baik baik saja?." kata Sofie, Adinda hanya mengangguk dan tersenyum, sebenarnya ia menahan sakit karena perutnya terbentur lantai tadi


"nona?! darah itu?!." ucap Desi panik


"astaga, kaki mu berdarah, apa kau sedang hamil?!." ucap Sofie khawatir


Adinda menatap kakinya yang mengucur sedikit darah, lalu ia dibantu oleh Sofie untuk duduk di kursi


"sini, sebaiknya anda duduk dulu, saya akan hubungi ambulan." ucap Sofie namun di cegah oleh Desi


"jangan! ini semua karena anak mu! aku akan menghubungi suami nya." kata Desi menghubungi Satria


di kantor, tringgg...tringg


"halo Des, ada apa?." tanya Satria


"t-tuan, nona Adinda sepertinya mengalami pendarahan, bisakah anda datang kesini? saya dan nona berada di supermarket jalan xxx." ucap Desi


"apa?! istriku pendarahan?! aku ke sana sekarang!!." kata Satria segera menaiki mobil menuju alamat yang Desi berikan


"Des, kenapa kamu menghubungi suami ku, bagaimana kalau dia sangat khawatir dan mengebut di jalan?." ucap Adinda takut


"tidak nona, tuan berhak tau hal ini, terutama wanita ini! dia harus di marahi dengan tuan karena membuat nona celaka!." kata Desi kesal


"Desi, aku tidak pernah melihat mu semarah ini kepada orang lain." kata Adinda bingung


tak lama Satria pun datang dan menemui Adinda di dalam supermarket.


"om baik?!." kata Rey senang, namun Satria tidak terlihat perduli, justru dia segera menghampiri Adinda yang sedang duduk dengan wajah menahan sakit


"m-mas?!." gumam Adinda


tuan Satria? jadi? nona ini adalah istri bos kakak ku. kata Sofie dalam hati, ia merasa sangat bersalah dengan Adinda


"sayang? kenapa semuanya bisa seperti ini?! kita ke rumah sakit sekarang." ucap Satria yang langsung menggendong istri nya dengan wajah panik


Satria tidak menatap ke arah Rey dan Sofie sedikit pun, ia hanya fokus pada istri tercinta nya yang kini sedang hamil muda.

__ADS_1


"aku tidak menyangka, pria yang kelihatan sangat baik terhadap anak ku bisa memasang wajah sedingin itu kepada Rey saat mengetahui kondisi istri nya? ya tuhan, andai dulu suami ku seperhatian diri nya, pasti aku sangat bahagia." kata Sofie yang melihat Satria pergi membawa istri nya


__ADS_2