Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Demi jebakan


__ADS_3

"Ayah, kau tidak bisa melarangku begitu.." Satria pun pergi.


"Ayah tunggu ! Ayah !." Arkan menahan Agatha agar tak mengejar Satria lagi.


"Kak ! tolong katakan pada Ayah kalau semua ini hanya kesalahpahaman saja. Greg tidak seburuk itu ! Greg orang yang baik. Aku mohon." Agatha merengek pada Arkan, namun pria itu tak ingin membantunya.


"Kali ini kau harus menuruti keinginan Ayah, semua hanya demi kebaikanmu." Kata Arkan.


"Kau tidak mengerti, kau tidak tahu rasanya. Hentikan semua ini Kak, bahkan hewan saja belum tentu mengikuti semua keinginan majikannya." Agatha menangis sambil berlutut.


"Agatha sayang, Bunda tahu betapa beratnya semua ini untukmu, tapi jika bersama Greg hanya membuat keberadaanmu dalam bahaya, maka kami akan melarang keras untuk itu." Adinda mencium kening Agatha.


"Bunda, aku mohon. Apa aku harus berlutut dikakimu agar kau bisa membiarkan aku bertemu Greg lagi ?." Ucap Agatha memegangi kaki Bundanya.


"Sayang, keputusan bukan ditangan Bunda, tapi ditangan Ayahmu." Adinda pergi.


"Kakak, tolong ! harus pada siapa aku meminta bantuan ? kenapa semuanya jahat padaku ? kenapa cuma aku yang tidak boleh bahagia ?." Agatha terus menangis kencang.


"Kalian semua keluar, biar Nenek yang menenangkan Agatha disini." Arkan dan Selina keluar.


"Nenek, bantu aku Nek. Aku ini cucu Nenek kan ?!." Agatha menangis dipangkuan Neneknya.


"Anak manis, kau benar-benar terlihat malang. Nenek sudah tua, tidak bisa berbuat banyak untukmu. Hanya bisa memberimu nasehat, jika kalian berjodoh maka sejauh apapun dipisahkan akan tetap kembali bersatu dengan sendirinya." Ucap Tania.


"Aku menyukai pria itu, aku jatuh cinta dengan perlakuannya." Agatha menangis lagi dan lagi.


"Hapus air matamu nak, tidak baik menangis terus menerus." Tania Anggara berusaha menghapus air mata dipipi Agatha.


"Nek, aku benar-benar wanita yang tidak beruntung." Agatha bersandar pada Tania.


"Sabar sayang, selalu ada jalan untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai. Seperti kau dan Greg." Tania tersenyum, lalu meminta Agatha beristirahat.


...


"Rain, aku boleh masuk ?." Ucap Rubby.


"Boleh, siapa yang melarang ? hehe." Rain mengajak Rubby duduk dikasurnya.


"Aku datang kemari karena mau meminta maaf." Ucap Rubby.


"Minta maaf ? kenapa ? kau tidak melakukan kesalahan apapun." Balas Rain.


"Aku tau Arkan adalah orang baik, dia tidak mungkin melukaimu, hanya saja kemarin aku sangat kesal karena semenjak Arkan hadir, kau lebih sering menghabiskan waktumu untuk pria itu dibandingkan aku shabatmu sendiri." Rubby menunduk malu.


"Yaampun Rubby, aku benar-benar tidak bermaksud begitu kok, maaf ya kalau aku terlalu sibuk dengan duniaku." Rain merasa bersalah karena sudah berpikir buruk tentang sahabatnya.


"Hem, bagaimana kalau besok kita pergi bersama ? menikmati hari yang selama ini terlewatkan." Rubby tersenyum manis.


"Kemana ?." Tanya Rain.


"Club." Rubby memegang tangan Rain sebagai tanda permohonan.


"Kau mau kan ? aku tidak mau merasa tersaingi oleh Arkan, dia lebih banyak mendapatkan waktumu." Ucap Rubby lagi.


"Baiklah, kita pergi kesana. Tapi kau harus berhenti cemburu pada Arkan ya ? hahaha." Mereka berdua saling tertawa.


Setelah Rain setuju, Rubby pun pergi.


ia keluar mengendarai mobil untuk mencari tahu secara cepat siapa mantan pacar Rain.


"Rumah gubuk itu ! ya ! aku yakin pasti akan mendapatkan sebuah petunjuk." Rubby menuju rumah lama Rain.


Setibanya disana, ia segera masuk dan menggeledah benda apapun.


seperti maling.


"Biasanya sesuatu yang penting akan disimpan di laci, lemari, ah ya ! dibawah kasur." Rubby mengangkat kasur Rain sedikit lalu menemukan selembar foto.


- Rain berpelukan dengan pria tampan -


"Tampan juga, tapi siapa dia ? apakah ini benar-benar mantannya Rain ?." Rubby membalik lembaran foto tersebut.


kemudian melihat sebuah tulisan berupa nama mereka.


"Leora, Leonard dan Rain." Sebut Rubby, diam diam ia tersenyum.


"Aku harus cari tahu keberadaan pria ini." Rubby membayar seseorang untuk menemukan pria didalam foto tersebut dalam waktu satu jam kedepan.


dia berani membayar mahal demi mewujudkan rencananya.


satu jam kemudian,


"Halo bos, saya sudah menemukan orangnya." Ucap suruhan Rubby.


"Bagus, cepat kirim lokasinya. Saya akan kesana sekarang." Rubby menerima pesan lokasi dan langsung menuju titik tersebut.


Tak butuh waktu lama, dia menemukan rumah besar yang berisi mobil-mobil mewah.


"Tidak disangka, mantan pacar Rain bukan orang sembarangan." Rubby segera memasuki gerbang besar itu.


"Anda dilarang masuk." Kata penjaga gerbang.


"Panggil Tuan kalian, aku punya sedikit perlu." Pinta Rubby.


"Tidak sembarang orang bisa bertemu Tuan kami." Ucapnya.

__ADS_1


"Cepat panggilkan, atau aku akan menginjak kaki kalian sampai..." Tin..tin.


Suara klakson muncul dari arah belakang, cepat-cepat penjaga membuka gerbang agar mobil Tuannya dapat masuk.


"Nah gitu dong." Rubby berlari menyusul mobil yang melaju ke arah halaman.


"Tangkap wanita itu !." Rubby dikejar tiga orang penjaga.


"Yaampun, mereka sangat keterlaluan !." Rubby berlari kencang, berusaha mendekati mobil didepannya.


"Hei Nona ! berhenti kau !." Kata para penjaga.


"Berhenti Nona !."


Greg keluar dari dalam mobil dan melihat kebelakangnya.


"Ada apa ini ?!." Ucap Greg terkejut.


"T-tolong aku ! mereka benar-benar kelaparan !." Rubby bersembunyi dibalik punggung Greg.


"Tuan, dia penyusu...."


"Kenapa lari-lari begini ? kalian kan bisa tanya baik-baik mau apa dia datang kemari." Greg menghalangi penjaga untuk mendekati wanita yang kini berlindung dibalik tubuhnya.


"Maaf Tuan, Nona ini memaksa." Kata penjaga.


"Sekarang pergi, biar ini menjadi urusanku." Mereka menyetujui perintah Greg lalu melihat wajah Rubby.


"Maaf, aku membuatmu repot." Rubby menatap Greg tanpa henti.


"Sedang apa disini ? mencari siapa ?." Tanya Greg.


"Kau tampan sekali, tapi aku bukan mencarimu." Greg mengerutkan kening.


"Leonard ! aku mencarinya, kau tahu siapa dia ?." Tanya Rubby.


"Dia Adikku, ada apa ?." Tanya Greg membuat Rubby tercengang.


"K-kau Kakaknya ?." Kata Rubby.


"Sebaiknya kau tunggu dihalaman belakang biar aku meminta Leonard datang menemuimu." Ucap Greg hendak pergi.


"Di halaman belakang ? kenapa tidak diruang tamu ?." Tanya Rubby.


"Hanya ada satu wanita yang diperbolehkan masuk kedalam rumahku." Balas Greg dingin.


"Wow." Rubby tak percaya, namun dia segera menunggu dihalaman belakang.


"Leonard, apa kau baru saja pulang ?." Tanya Greg.


"Aku habis dari kantor, atasanku tidak datang karena mendadak ada urusan penting, jadi aku kembali cepat." Balas Leonard.


"Siapa kau ?." Tanya Leonard dihalaman belakang.


"H-hai." Rubby melihat wajah Leonard yang tak kalah tampan dari Kakaknya.


"Aku Rubby, maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin bertanya, apa kau benar-benar mantan pacar Rain ?." Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Leonard merenung.


"Untuk apa datang jika hanya menanyakan hal itu ?." Kata Leonard.


"Leonard, aku sangat butuh bantuanmu." Ucap Rubby memohon.


"Bantuan ? bantuan apa ?." Tanya Leonard.


"Rain merebut calon suamiku, kau harus membantuku untuk memisahkannya." Kata Rubby.


"Apa ?! Rain merebut calon suamimu ?." Tanya Leonard tertawa.


"Aku serius." Balas Rubby.


"Aku tahu dia bukan orang seperti itu." Leonard tersenyum.


"Aku tidak main-main." Rubby memegang tangan Leonard, sampai pria itu merasa salah tingkah.


"Apa bayarannya jika aku membantumu ?." Tanya Leonard.


"Uang ! berapapun yang kau mau." Leonard kembali tertawa.


"Uangmu tak sebanding dengan uangku, aku tidak butuh berapapun nominalnya." Katanya.


"Lalu apa ? mobil ? motor ? rumah ?." Jelas Rubby.


"Kamu." Leonard mengelus dagu Rubby dengan hati-hati.


"Jangan bercanda ! aku ini calon istri orang !." Kata Rubby.


"Terserah, kalau masih mau dibantu maka bayar aku dengan dirimu." Rubby merasa cemas dan tak tahu harus bagaimana.


"Seharusnya dari awal aku tidak datang kemari." Rubby hendak pergi kemudian ditangkap Leonard.


"Hentikan ! lepaskan aku ! dasar gila." Leonard membawa Rubby kedalam ruang bawah tanah.


"Lepaskan aku Leonard ! tolong ! tolong !!!!!!." Rubby berteriak, namun pria yang menggendongnya hanya tertawa.


"Didunia ini tidak ada yang gratis, jika kau menginginkan bantuan maka puaskan dulu aku." Leonard mengunci ruang bawah tanah tersebut, disana juga terbentuk seperti kamar pada umumnya, namun sangat luas.

__ADS_1


ruangan itu biasa dipakai untuk menyakiti Rain dulu, menyiksanya tanpa henti, bahkan melecehkannya ditempat yang tidak diketahui siapapun.


"Leonard lepaskan ! jangan macam-macam ! aku adalah calon istri pria yang berpengaruh ! kau bisa mati ditangannya." Leonard sama sekali tak memperdulikan hal itu, dia membanting Rubby diatas ranjang lalu segera menaikinya.


"Ayolah, lakukan saja dengan baik. Hanya sebentar." Leonard memaksa Rubby untuk menerima perlakuannya.


Dia menekan kedua tangan Rubby keatas, lalu menarik tali bajunya dengan sebuah gigitan.


"Leonard hentikan ! apa ini yang kau lakukan terhadap Rain ?!." Ucap Rubby.


"Tidak perlu tau, itu bukan urusanmu." Leonard membuka baju wanita didepannya, Rubby terus memberontak sampai dia kelelahan.


Leonard dengan puas membuat tubuh Rubby mendapati banyak sekali bekas kemerahan.


jika dihitung mungkin pada bagian dada terdapat bekas kemerahan sebanyak dua puluh.


Rubby yang awalnya menolak tiba-tiba saja mengikuti ritme permainan panas itu.


"Aku akan memuaskanmu sampai kau sendiri yang benar-benar ingin berhenti." Ucap Rubby membisikkan Leonard.


"Benarkah ?!." Leonard terpana.


"Dengan satu syarat." Leonard mencium Rubby lalu mendengarkan syarat itu.


"Hancurkan Rain besok malam, aku akan membuatnya mabuk total sehingga tak sadar dengan siapa dia ditiduri." Pinta Rubby.


"Soal yang mudah, asalkan jika itu berhasil maka kau akan memberiku imbalan." Senyum Leonard menggoda.


"Seperti ini ?." Rubby menggoyangkan tubuhnya dengan sangat manis.


"Ssshshhhhh, kau membuatku kacau." Leonard menambah kecepatan permainan itu sampai mereka berdua berada dipuncak tertinggi.


"Bagaimana ? apa aku bisa memuaskanmu ?." Rubby memakai bajunya.


"Sangat ! terimakasih atas waktunya, mau ku antar pulang ?." Leonard mencium punggung tangan Rubby.


"Tidak perlu, aku bisa pulang dengan taksi." Saat Rubby hendak berdiri, Leonard mendorongnya keatas ranjang lagi.


"Boleh aku menciummu sekali lagi ?." Wanita itu mengangguk, kemudian mereka berciuman sampai Rubby mulai berkeringat.


"Sampai ketemu besok !." Rubby melambaikan tangan dan pulang.


"Sial ! aku harus mengorbankan diriku sendiri demi menjebak Rain ! ini konyol."


"Dasar wanita rendahan." Pikir Leonard tersenyum licik.


Ditempat Jeremy, setelah sampai pria itu segera menuju kamarnya tanpa kembali lagi ke kantor.


"Wanginya, sama sekali tidak bisa aku lupakan." Jeremy menghela nafas, kemudian memejamkan mata.


Tok..tok.


terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk." Jawab Jeremy.


"Sayang, aku datang." Ucap Marry memasuki kamar Jeremy.


"Dari mana kau tahu aku sudah tiba dirumah ?." Tanyanya.


"Hanya feeling, aku yakin jika tidak mendatangi kantor pasti kau akan segera pulang." Marry tersenyum lalu mengelus punggung Jeremy.


"Bisakah kau keluar karena aku ingin beristirahat." Kata Jeremy memandangi Marry.


"A-apa aku begitu mengganggumu ? biasanya kau tidak pernah seperti ini, jika kau lelah maka tidur saja, aku bisa menemanimu." Ucap Marry lembut.


"Tapi aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri." Mendengar ucapan prianya, Marry merasa sedih.


"Kau benar-benar tidak menghargai kedatanganku, aku harap kita masih bisa bertemu lagi." Marry berdiri dan hendak keluar namun Jeremy sepertinya merasa bersalah atas sikapnya barusan.


"Mar, maaf. Maafkan aku." Ia memeluk Marry dan mencium keningnya.


"Kau tidak pernah membuatku merasa diasingkan seperti ini." Marry menunduk.


"Aku benar-benar lelah, sampai tidak bisa mengendalikan diri." Jeremy terus memeluk wanitanya, dia merasa sangat bersalah.


"Kau bisa ceritakan apapun padaku." Marry menatap mata Jeremy.


"Aku tak sengaja menabrak seorang wanita, dengan adanya kejadian itu membuat kepalaku pusing." Kata Jeremy, Marry sedikit terkejut.


"Lalu apa wanita itu melukaimu ?." Tanya Marry.


"Bukan dia, tapi aku. Aku yang melukainya." Marry sangat gelisah, dia melihat wajah Jeremy sangat khawatir dan bersalah.


Tidak biasanya dia memikirkan seseorang sampai seperti ini.


"Jeremy, lupakan saja. Kau tidak perlu mengingat bagaimana kau melukai wanita itu. Kau hanya perlu memikirkan dirimu sendiri." Jeremy melihat wajah Marry.


"Kau benar, terimakasih sudah mengingatkanku."


"Kau tunggu disini, aku akan buatkan air hangat untukmu mandi dan juga segelas kopi." Marry tersenyum.


"Baik."


Jeremy dan Marry sudah menjalani hubungan selama enam tahun, dia sangat mencintai wanita itu. Tak pernah satu kali pun mengabaikannya.

__ADS_1


Tapi hari ini, Jeremy benar-benar merasa bodoh. Entah kenapa selalu memikirkan Agatha, Agatha dan Agatha.


"Wangi yang sama dengan ibuku."


__ADS_2