
Bryan segera menghubungi Adinda tanpa ragu-ragu, agak lama untuk mendapat jawaban dari wanita itu, namun akhirnya tetap di angkat.
"ya? ada apa?." ucap Adinda, suara lembut itu membuat hati Bryan teriris-iris
"bisakah kita bertemu sebentar? hanya sebentar?." tanya Bryan, cara bicaranya sangat lemas seperti sedang sakit
"untuk apa? aku sedang menemani suamiku di rumah, kalau kau sakit hubungi dokter, jangan hubungi aku." balas Adinda
"aku mohon, temui aku sebentar saja." nada Bryan penuh permohonan, Adinda bingung harus menjawab apa
"oke, tapi aku akan datang bersama suamiku." ucap Adinda, Bryan senang karena Adinda mau menemuinya namun tetap ada kesedihan karena Adinda datang bersama pasangan nya.
setelah panggilan ditutup, Adinda meminta Satria untuk mengantar nya menemui Bryan.
"mau apa lagi pria itu?." ucap Satria dingin
"aku belum tahu jelas apa yang dia inginkan, tapi sepertinya dia ingin bicara hal yang penting, karena nadanya begitu memohon, kau mau kan mengantarku?." tanya Adinda, matanya berkedip-kedip ke arah suaminya yang tampan tersebut
"baiklah, tidak ada pilihan lain selain mengantarmu bertemu dengan nya." mereka berdua mandi dan bergegas pergi.
Adinda mendapat sebuah pesan lokasi dari Bryan, kemudian ia segera menuju ke tempat itu.
"Bryan?." panggil Adinda, ia mendekati pria itu, wajahnya terlihat sedikit pucat, sepertinya ia benar-benar sakit.
"kau mau apalagi dengan istriku? tidak puas kah kau mengganggunya selama ini?." tanya Satria sinis
"biarkan aku bicara dengan nya sebentar." pinta Bryan, matanya seperti sedang memohon izin ke Satria agar dia dapat berbicara empat mata dengan Adinda
"ya sudah cepatlah bicara." jawab Satria, kemudian Bryan menarik Adinda untuk ikut dengan nya, tetapi Satria menahan dengan wajah emosi
"apa yang kau lakukan?! aku sama sekali tidak mengizinkan mu berbicara empat mata dengan istriku!." ucap Satria
"apakah aku harus menurunkan sedikit harga diriku untuk memohon padamu?." tanya Bryan
"aku tidak perduli, kau tidak boleh..." tiba-tiba ponsel Satria berdering, lalu ia mengangkat telepon itu dan ternyata tentang pekerjaan yang sangat penting, ia diminta untuk datang ke kantor sekarang juga oleh Farel.
"Adinda ayo kita pergi." ucap Satria, namun Bryan menahan tangan Adinda dengan kuat
__ADS_1
"lepaskan tangan istriku!." kata Satria dingin, kemudian Adinda melirik ke arah Bryan sebentar, ia melihat wajah kesedihan itu di wajah tampan nya
"mas, sebaiknya kamu ke kantor sekarang, setelah urusan mu beres kau bisa menjemput ku lagi disini, tetapi kalau memakan waktu lama untuk mengurusnya aku akan pulang dengan taksi." ucap Adinda, seketika ia melirik Bryan dengan tajam dan langsung mengangguk setuju karena ia tak bisa berdebat terlalu banyak, Farel sangat membutuhkan nya di kantor sekarang, jadi dia mencium kening istrinya dan membelai wajah itu lembut.
"kau tunggu disini sebentar, hanya sebentar, aku akan menjemput mu, jangan kemana-mana." kata Satria
"pergilah, aku akan selalu menunggumu disini." balas Adinda tersenyum hangat
"aku percaya padamu." Satria membalas senyuman itu kemudian menatap Bryan dengan dingin dan berkata "kalau kau macam-macam dengan istriku, kau akan tahu akibatnya!." Bryan mengangguk perlahan dan melihat punggung Satria yang semakin lama menjauh, lalu ia masuk ke dalam mobil dan pergi.
"jadi, hal apa yang membuatmu harus bicara empat mata denganku?." tanya Adinda penasaran
"aku mencintaimu Adinda, aku sangat mencintaimu." ucap Bryan, mendengar perkataan itu Adinda mulai tercengang
"kau mengambil waktuku hanya untuk ini?!." Adinda memelototi Bryan, seketika Bryan langsung memeluk wanita dihadapan nya
"lepaskan! Bryan lepas!." pinta Adinda, ia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Bryan menjauh tetapi tak kunjung berhasil, Bryan justru semakin mengencangkan pelukan nya
"Adinda, maafkan aku, aku salah." Bryan meminta maaf atas perbuatan nya semalam, namun sebaliknya Adinda hanya bingung dengan apa yang dikatakan Bryan
"apa maksudmu, lepaskan aku!." ucap Adinda
"jangan begini, katakan padaku ada apa Bryan?!." sahut Adinda, ia ingin cepat-cepat terlepas dari pelukan itu.
"aku telah melakukan kesalahan besar, semua itu terjadi karena rasa cintaku yang tak kunjung dibalas denganmu." ucap Bryan, ia menunduk dan tak berani menatap Adinda
"kesalahan? kesalahan apa?." Adinda semakin bingung
"kau tak perlu tahu apa kesalahan nya, aku sendiri bahkan sangat marah dengan apa yang terjadi." Bryan mulai menatap perut Adinda yang masih rata, lalu mengelus perut itu, Adinda terkejut oleh perbuatan Bryan sampai-sampai ia merasa nafasnya berhenti ketika perut itu dipegang
"aku selalu membayangkan dimana akan ada waktu untuk kita bisa bersama seumur hidup, lalu kau mengandung anak ku dan melahirkan nya ke dunia, sudah lama aku kehilangan cinta itu, namun ketika dia datang kenapa justru ditempat yang salah, kenapa aku mencintai istri orang." tatapan Bryan muram, sepertinya dia sangat sedih melihat dirinya sendiri
"apa kau tidak mau mencoba untuk membuka hati pada orang lain? lupakan saja aku, lupakan cinta itu Bryan." ucap Adinda
"kau pikir akan semudah itu menghilangkan rasa cinta? bagaimana kalau aku menyuruhku lupakan saja suamimu? dan kau harus belajar mencintaiku?." mendengar hal itu Adinda langsung diam, ia tahu kalau cinta memang tidak semudah itu dihilangkan, ia ingat bagaimana dulu Satria menyakitinya berkali-kali namun ia tetap mencintai pria tersebut.
"aku bukan seorang penjahat, namun kenapa sepertinya aku sangat tidak layak memiliki kebahagiaan bersama dengan wanita?." Bryan frustasi, matanya memerah, dan Adinda menyadari hal itu, selain melihat kedua matanya yang merah, Adinda juga melihat bekas kemerahan yang terletak di bagian leher.
__ADS_1
Adinda menyentuh bagian itu, dan menatapnya serius, Bryan awalnya senang saat tangan mungil itu menyentuh tubuhnya, namun wajah dia kembali muram karena Adinda pasti sudah melihat bekas kemerahan itu.
"apa yang kau lakukan Bryan?." kata Adinda, ia menatap Bryan cemas dengan kening berkerut
"ikut aku ke mobil, aku akan menceritakan semuanya padamu." Bryan menggandeng tangan Adinda dan membawanya ke dalam mobil, ia mengunci mobil itu tanpa sepengetahuan Adinda.
"katakan, apa yang kamu lakukan? kenapa ada beberapa bekas kemerahan di lehermu? apa kau telah macam-macam pada wanita la...." ia tak mau mendengar tebakan Adinda, jadi ia langsung mencium bibir itu, Adinda memukul nya keras-keras dan berusaha lari untuk membuka pintu mobil, namun pintunya terkunci, ia terjebak di dalam bersama laki-laki yang sangat mencintai dia.
"Bryan jangan lakukan ini! hmmphh." Adinda mencoba menggigit bibir pria dihadapan nya tetapi Bryan seolah tak perduli walaupun ada sedikit darah mengalir di sana.
setelah ia mencium bibir Adinda dengan gila, ia memaksa Adinda untuk meminum sebotol air, memang airnya air biasa tapi Adinda tahu kalau di dalam nya ada yang aneh, kemudian ia menolak tetapi Bryan menenggakkan air tersebut ke dalam mulut Adinda dengan paksa, akhirnya Adinda pasrah menelan air itu, setelah melihat Bryan tersenyum ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Satria, tetapi Bryan mengambil ponsel itu dan menyimpan nya disaku.
pada saat yang bersamaan, Adinda pingsan, Bryan langsung mengemudikan mobilnya ke rumah.
ia menggendong Adinda yang pingsan itu ke dalam, dan meletakkan nya di atas ranjang, ia mencium wanita itu berkali-kali sampai tidak merasa bosan sedikitpun.
Bryan mengeluarkan ponsel nya dan menelepon seseorang,
"siapkan penerbangan untuk ku." pinta Bryan
"penerbangan? mau kemana kamu?." tanya Tari bingung
"aku akan ke Negara F untuk tinggal di sana selamanya." ucap Bryan membuat Tari terkejut, ia tahu apa uang dimaksud oleh pria itu, pasti dia akan membawa Adinda ke luar negri.
"gila! kamu gila! lebih baik kau kembalikan Adinda pada suaminya, kau bisa mati kalau cari masalah! ini sama saja kasusnya dengan penculikan!." Tari marah kepada Bryan namun Bryan tak perduli, setelah penerbangan nya siap ia langsung menggendong Adinda ke dalam mobil dan menuju bandara.
sementara Tari menaiki mobil untuk melaju ke perusahaan Anggara, ia berharap ada seseorang yang dapat menghentikan Bryan walaupun misalnya bukan Satria.
Tari berlari tergesa-gesa memasuki kantor itu lalu segera mengatakan kepada resepsionis untuk bertemu Satria sekarang juga, awalnya Satria tak bisa diganggu karena sedang mengerjakan beberapa hal tetapi ketika Tari berkata ini tentang istrinya Satria langsung menemui Tari.
"siapa kau? dan mau apa? kenapa kau membawa-bawa nama istriku?." tanya Satria sinis
"gawat! Bryan telah membawa istrimu ke bandara! aku adalah sepupunya! kalau kau tidak menghentikan hal itu, kau akan kehilangan Adinda selamanya!." ucap Tari, wajah Satria saat ini menjadi gelap, aura nya mulai dingin, ditambah lagi dengan tatapan iblis, melihat hal itu Tari sedikit gemetar, namun dia menghilangkan ketakutan nya.
"bajingan!." Satria berjalan gagah menuju keluar kantor dan langsung bergegas ke bandara dengan kecepatan penuh, seisi perusahaan tak ada yang berani berbicara saat melihat Satria berjalan dengan amarah hang penuh kebencian.
"semoga dia sampai di waktu yang tepat." Tari berdoa dan lekas pergi
__ADS_1
sepanjang jalan Satria menyumpahi Bryan dan berkata tidak akan pernah memaafkan nya seumur hidup! rupanya kali ini ia sangat murka saat tahu istrinya ingin di bawa kabur dengan pria bajingan yang tak tahu malu.