Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Acara Laos


__ADS_3

"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah membebani Adikmu." Rain berdiri dan bicara pada Arkan.


"Kau mengenalnya Rain ?." Tanya Agatha.


"Agatha, aku permisi." Rain pergi menuju keluar.


"Rain tunggu !." Agatha hendak mengejar lalu ditarik oleh Arkan.


"Aku benci dibantah !." Arkan mengeraskan suaranya sampai Agatha diam tak berani bicara.


Arkan keluar mengejar Rain, kemudian menepuk pundaknya.


"Rain, tunggu." Ucap Arkan, Rain berbalik dan langsung menerima kartu nama yang diberikan oleh pria didepan nya.


"Untuk apa ?." Tanya Rain.


"Aku yang akan menjamin keselamatanmu, hubungi aku jika ada hal buruk terjadi." Arkan segera pergi.


"Kau terlalu sulit untuk ditebak." Gumam Rain memperhatikan punggung Arkan yang semakin menjauh.


"Kenapa diam ? pergi dan masuk kedalam kamar." Pinta Arkan, Agatha sama sekali tidak bergerak, hatinya kesal.


"Kenapa ? tidak terima dengan perkataanku ? kalau iya cepat katakan, sulit sekali mengatur wanita, mungkin kau lebih senang jika sama sekali tidak diperhatikan." Arkan pergi, Agatha semakin terkejut mendengar ucapan Kakaknya.


'Mungkin kau lebih senang jika sama sekali tidak diperhatikan.'


Ia berlari, memeluk Arkan.


"Jangan katakan itu ! aku ini Adikmu, tahu ?." Kata Agatha hendak menangis.


"Takut tidak diperhatikan ? atau takut aku tak mau bicara lagi padamu ?." Tanya Arkan lembut.


"Takut semuanya." Arkan melihat Agatha menangis, ada sedikit tawa yang pecah, lalu tangan nya bergegas menggendong Agatha masuk ke dalam kamar.


"Ada baiknya kau beristirahat dibandingkan menangis." Kata Arkan.


"Aku sayang Kakak." Suara manja yang keluar dari mulut sang Adik menarik perhatian Arkan untuk mencium keningnya.


Cup ! :*


"Aku lebih menyayangimu." Arkan tersenyum kemudian pergi.


Malam hari, Arkan mendadak menghadiri sebuah acara yang digelar meriah oleh kolega bisnis perusahaan Anggara.


"Kau datang sendiri Tuan ?." Tanya Laos, pemilik acara tersebut.


"Ya, hanya sendiri." Jawab Arkan.


"Dimana wanita mu ? apa kau tidak ingin membawanya kemari ?." Kata Laos.


"Aku tidak memiliki wanita." Sahut Arkan sambil menenggak segelas minuman ditangan kanannya.


"Benarkah ? kalau begitu kebetulan sekali, Rubby ! cepat kemari." Panggil Laos.


"Ada apa ?." Ucap Rubby sopan kepada saudaranya.


"Perkenalkan ini temanku, Arkan. Dia direktur perusahaan Anggara." Rubby menunduk sambil tersenyum.


"Halo Tuan, saya Rubby." Kata wanita itu.


"Arkan." Balasnya singkat.


"Ayo Rubby, temani dia berkeliling disini." Pinta Laos yang segera disetujui oleh Rubby sendiri.


"Tuan, ayo kita lihat sekeliling rumah ini." Arkan mengangguk setuju, sebenarnya dia ingin sekali menolak, namun merasa tak enak pada Laos.


"Ini tempat Kak Laos latihan memanah, lalu ini tempat untuk latihan menembak, kemudian yang ini untuk ia bersantai ketika merasa bosan." Jelas Rubby.


"Sudah lama tinggal disini ?." Tanya Arkan.


"Tidak Tuan, hanya sebentar, namun aku tahu semua hal yang berada disini." Rubby tersenyum.


Mereka berdua sibuk mengobrol, kemudian Arkan meminta Rubby untuk menunggu sebentar.


"Kau tunggu disini, aku akan meletakkan gelas disana." Arkan berjalan menuju meja minuman, ia hendak mengembalikan gelas bekasnya minum tadi.


Pelayan yang sedang membawakan kue tak sengaja terpeleset dan menyenggol tubuh Rubby, wanita itu berdiri tepat ditepi kolam renang, sehingga ia jatuh dan masuk ke dalam kolam itu.

__ADS_1


"Hei ! dia jatuh !." Teriak semua orang.


Laos sama sekali tak mengetahui bahwa saudaranya tercebur ke dalam kolam karena ia sedang sibuk mengurus tamu-tamu yang baru saja datang.


"Astaga Nona ! bagaimana ini." Pelayan merasa panik.


Arkan mendengar semua orang berteriak, dengan cepat berbalik dan menyelam ke dalam air.


Rubby sama sekali tak bisa berenang, entah berapa banyak air yang sudah tertelan karena kini dia mulai merasa lemas dan kehabisan nafas.


Arkan mengangkat tubuh Rubby lalu meletakkan nya ditepi kolam, ia memanjat dan menekan dada wanita itu.


"Rubby ! Rubby bangun." Arkan masih berusaha untuk mengeluarkan air dari dalam tubuh Rubby.


"Kau dengar aku ? ayo, buang airnya." Pelayan mendekati Arkan dan menyarankannya untuk memberi Rubby nafas buatan.


"Tidak, pasti ada cara lain." Arkan tidak ingin melakukan saran dari pelayan tersebut.


"Tuan, tidak ada cara lain !." Arkan memejamkan mata berharap menemukan jawaban, namun ia menyadari kalau Rubby sudah sangat lemah.


"Tuan ! nafasnya melemah." Ucap Pelayan lagi.


Tak banyak berpikir, Arkan segera memberikan nafas buatan itu pada Rubby.


"Waaah !!!." Orang-orang bersorak ramai karena melihat pemandangan yang begitu romantis.


"Bukankah itu Tuan Arkan ?." Ucap seseorang.


"Benar ! dia pemilik perusahaan Anggara." Sahut orang-orang itu.


"Rubby, aku sudah melakukan yang terbaik, tolong buka matamu." Arkan memegangi tangan Rubby yang dingin.


"Uhukk ! uhuukkk..." Rubby memuntahkan air didalam tubuhnya, kemudian memeluk Arkan.


"Kau baik-baik saja, sungguh. Tak perlu takut." Arkan mengangkat Rubby yang masih dalam keadaan lemas.


"Tolong beritahu aku dimana kamar Nona Rubby." Pinta Arkan.


"Akan saya tunjukkan." Pelayan itu memberitahu dimana letak kamar Rubby.


"Ini kamarmu ?." Kata Arkan menatap Rubby, ia hanya mengangguk.


"Tuan, bajumu basah." Ucap Rubby.


"Tidak masalah, yang penting kau selamat." Arkan hendak pergi kemudian Laos datang.


"Apa yang terjadi ?!." Ucap Laos panik, Rubby segera menjelaskan apa yang terjadi barusan.


"Tuan, kau menyelamatkan saudaraku, terimakasih ! terimakasih banyak !." Laos memeluk Arkan.


"Tidak perlu berterimakasih, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan." Jawab Arkan tersenyum.


"Kau bisa memakai pakaianku, ayo." Laos ingin mengajak Arkan berganti pakaian.


"Tidak usah, aku akan segera pulang." Rubby merasa bersalah karena sudah membuat Arkan basah kuyup.


"Tuan, maafkan aku." Kata Rubby.


"Tidak apa-apa, lekas pulih ya, aku pamit dulu." Arkan pergi meninggalkan acara tersebut.


"Dia manis sekali." Rubby terharu.


"Kau menyukainya ?." Tanya Laos.


"Apakah dia bisa menyukaiku ?." Rubby menoleh ke arah Laos.


"Kau taklukan hatinya, aku dengar dia pria yang dingin, namun kelihatan berbeda denganmu." Laos memegangi dagunya.


"Akan aku coba." Rubby tersenyum lembut.


"Aku harus cepat pulang dan mengganti pakaian ini." Arkan menunduk memperhatikan seluruh pakaian nya, sementara itu ia tak sengaja menabrak seorang wanita.


"Ugh ! Anda baik-baik saja ?." Ucap si wanita yang hendak membantu Arkan.


"Aku baik-baik saja." Arkan berdiri dan mendadak terkejut saat melihat wajah didepan nya.


"Rain ? kau disini ?." Tanya Arkan.

__ADS_1


"Ah ya ! kau Kakak dari Agatha." Ucap Rain.


"Arkan, itu namaku." Rain mengangguk lalu melihat bahwa seluruh badan Arkan basah kuyup.


"Kenapa basah begini ? kau bisa masuk angin, ayo ikut aku." Rain menarik tangan Arkan dan menghampiri pelayan.


"Permisi, bisakah anda memberitahu kami dimana ruang ganti ? salah satu tamu dari acara ini kebasahan dan pakaiannya harus segera diganti." Kata Rain.


"Disebelah sana Nona." Pelayan menunjuk dengan sopan.


"Ayo." Arkan diam dan tak menolak sekalipun.


"Pakai yang ini, lain kali jangan terlalu ceroboh, bagaimana bisa baju basah kuyup seperti sekarang ?." Arkan langsung mengganti pakaian baru dan kembali menemui Rain.


"Terimakasih sudah membantuku." Arkan dan Rain sama-sama tersenyum.


"Jangan sungkan, aku pasti akan membantu setiap orang yang sedang kesulitan." Rain.


"Lukamu ? bagaimana keadaan nya ?." Tanya Arkan.


"Hem, sudah lumayan, berkatmu juga aku mendapatkan penangan medis dengan baik." Kata Rain.


"Apa kau mempunyai hubungan dengan Tuan Laos ?." Arkan.


"Tidak, aku hanya pernah berteman baik dengan saudaranya, Rubby. Dia mengundangku." Sebut Rain.


"Begitu ya, kalau begitu selamat bersenang-senang, aku harus pulang sekarang." Kata Arkan hendak pamit.


"Kau sibuk ?." Rain menghentikan Arkan.


"Tidak juga, aku hanya tidak tahan pergi ke pesta sendiri." Balas Arkan.


"Kenapa tidak mengajak pasanganmu ?." Mendengar pertanyaan Rain, Arkan terdiam. Dengan begitu Rain menyadari apa yang dia katakan.


"Maaf, aku terlalu lancang. Kalau begitu silahkan, jangan lupa untuk tetap hati-hati dijalan." Rain tersenyum.


"Hari ini kau baik-baik saja kan ?." Mereka keluar dari ruang ganti dan berjalan bersama.


"Aku baik-baik saja." Rain.


"Baguslah, kalau kau merasa terancam langsung hubungi aku saja." Kata Arkan dibalas anggukan oleh Rain.


"Terimakasih."


Rubby melihat wajah Rain dengan samar dari kejauhan, lalu ia berlari menyusul wanita itu.


"Rain !." Panggil Rubby.


"Rubby ! sudah lama tak jumpa." Rain memeluk Rubby.


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini ?." Rubby memegang kedua bahu Rain sebelum ia menyadari bahwa pria disebelahnya adalah Arkan.


"Tuan ? kau mengenal temanku ?." Tanya Rubby kebingungan.


"Hanya sedikit. Karena kau sudah bertemu temanmu, aku akan pulang." Arkan berbicara pada Rain.


"Iya, kau bisa pulang sekarang. Hati-hati ya !." Ucap Rain.


Setelah pria itu pergi, Rubby mendadak diam sebelum akhirnya angkat bicara.


"Sejak kapan kau mengenal Tuan Arkan ?." Tanya Rubby.


"Ceritanya lumayan panjang, akan aku ceritakan lain kali." Balas Rain.


"Rain, jangan main-main. Dia itu bukan pria sembarangan." Rubby mengingatkan.


"Aku tahu itu, bahkan aku pernah mendatangi rumahnya." Sahut Rain yang membuat Rubby syok.


"Benarkah ?!." Matanya membulat.


"Aku lihat kau sangat antusias, apa kau menyukainya ?." Rain meledek Rubby, hampir tak mampu menjawab, kepalanya menggeleng. Ia berusaha tidak menunjukkan rasa suka tersebut.


"Ah begitu." Kemudian keduanya menyantap makanan dan minuman yang tersedia diatas meja besar.


"Lebih baik kau jangan dekati Tuan Arkan." Ucap Rubby.


"Kenapa ?." Rain meletakkan makanan nya karena penasaran dengan jawaban Rubby.

__ADS_1


"Dia sebenarnya bukan pria yang baik."


__ADS_2